Teka-teki kehamilan mellisa

902 Words
Setelah keluar dari ruang dokter, langkah Yuni tergesa-gesa. Ia ingin cepat pulang, menahan amarah yang hampir meledak. Wajahnya tegang, matanya berkilat penuh kekecewaan. Di dalam hati, Yuni bergemuruh. "Mellisa... kenapa kamu bisa sebodoh itu? Kenapa sampai menyerahkan dirimu begitu saja? Pa... Ma... maafkan aku. Aku gagal menjaga adikku. Semua ini akan jadi aib keluarga kita..." Surya berjalan di belakangnya, wajahnya pucat pasi. Setiap kata dokter tadi terus terngiang di telinganya. Ia menunduk, takut tatapan Yuni menangkap rahasia yang ia sembunyikan. Udara di koridor rumah sakit terasa sesak. Tak ada yang bicara, hanya langkah kaki yang berat. Mereka bertiga membawa pulang bukan hanya kabar kehamilan, tapi juga awal dari badai besar yang akan menghancurkan segalanya. Di sepanjang perjalanan menuju ke rumah Yuni tak bicara banyak, sedangkan Surya pun jantungnya berdegup kencang, timbul dalam pikirannya, "Mellisa hamil? Kenapa secepat ini.. ini tak mungkin! Apa Ia pernah berhubungan dengan teman kampusnya?" Lamunan itu tersentak ketika teriakan Yuni melingking tajam di telinga. "Awas! Ada orang nyebrang!" Dengan reflek Surya mengerem laju mobil, terhenti pas di depan orang itu. Surya meminta maaf, sementara orang itu hanya melintas tanpa banyak bicara. Surya mengusap keringat dingin yang mengucur deras sambil berkata dalam hati, "Untung ngga ketabrak... kalau iya bisa runyam urusannya." Yuni menatap Surya sambil mengomel, "Mas! Fokus nyetir mobilnya!" "Maaf, yang... aku tadi melamun ngga fokus," jawab Surya gugup. Sesampainya di rumah, Mellisa yang lemah berusaha berjalan sendiri. Surya berada di belakangnya, sigap kalau Mellisa jatuh terpaksa. Yuni masuk duluan. Mellisa lalu duduk, menyenderkan kepalanya di sofa. "Kak, aku tadi ngga dengar jelas dokter itu bicara apa. Aku cuma dengar kata 'hamil'. Siapa yang hamil?" tanya Mellisa ingin memastikan. Yuni yang sejak tadi menahan amarah langsung menatapnya tajam, "Iya, kamulah yang hamil, Mel!" Mellisa mengangkat wajahnya kaget, menatap Yuni penuh tanda tanya. "Aku hamil?... ngga mungkin, Kak!" jerit Mellisa sambil menoleh ke arah Surya. Surya yang sedari tadi berdiam di meja makan akhirnya angkat bicara, "Iya, Mel... itu yang dikatakan dokter tadi." Mellisa terperanjat. "Ternyata aku hamil... pantesan aku sering mual dan muntah terus..." bisiknya. Dengan wajah pucat, ia berdiri lalu masuk ke kamar dan mengunci pintu rapat-rapat. Yuni melihat tingkah adik tirinya itu, lalu mengetuk pintu berulang kali. "Mel! Buka! Aku ingin tahu siapa yang menghamili kamu! Biar aku cari orang itu! Cepat katakan!" ujar Yuni emosi. Di dalam kamar, Mellisa duduk di pojokan sambil menangis tersedu-sedu. Ia menutup telinganya dengan kedua tangan, tak ingin mendengarkan teriakan kakaknya. Suasana rumah mendadak hening. Hanya terdengar isak tangis Mellisa dari balik pintu. Yuni berdiri dengan tangan gemetar, matanya berkaca-kaca. Sementara Surya masih di meja makan, wajahnya pucat pasi, keringat dingin membasahi pelipisnya. Tak ada satu pun kata keluar dari mulut mereka. Semuanya seakan menunggu bom waktu yang siap meledak kapan saja. Yuni akhirnya terduduk di depan pintu kamar Mellisa. Nafasnya tak beraturan, kepalanya penuh dengan pertanyaan. “Siapa laki-laki itu? Kenapa Mellisa bisa jatuh sejauh ini? Aku sudah menjaga dan mengawasi, tapi kenapa adikku bisa berbuat aib begini?” pikirnya dalam hati. Tangan Yuni mengepal kuat, campuran antara marah, kecewa, dan takut. Ia merasa seolah seluruh beban keluarga ditimpakan di pundaknya. Sementara itu, Surya hanya bisa menunduk, tidak berani menatap istrinya. Sesekali matanya melirik pintu kamar Mellisa, wajahnya semakin pucat. Dalam hati kecilnya ia sadar, cepat atau lambat kebenaran akan terungkap, dan saat itu tiba, rumah tangga yang dibangunnya bersama Yuni bisa runtuh seketika. Tangis Mellisa makin terdengar jelas, membuat suasana rumah semakin sesak. Surya berdiri dari kursinya, berjalan pelan ke arah Yuni yang duduk di lantai. “Yang, sudah… biarkan dulu dia tenang,” ucap Surya pelan, berusaha menahan getar suaranya. Yuni menoleh tajam, matanya memerah karena menahan tangis. “Tenang, Mas? Kamu pikir aku bisa tenang setelah tahu adikku hamil tanpa suami? Bagaimana aku menjelaskan hal ini kepada kedua orang tuaku? Apa kata orang nanti?” Suara Yuni pecah, tubuhnya bergetar menahan emosi. Surya hanya diam, menatap lantai. Dalam hati ia berteriak, namun mulutnya tak bisa terbuka. .Surya yang makin cemas berdiri di depan pintu kamar. Ia mengetuk berulang kali sambil memanggil dengan suara pelan tapi tegas. "Mel... Mel!.. buka pintunya, kita bicarakan baik-baik. Jangan diam saja, Mel." Namun tetap tidak ada jawaban dari dalam kamar. Yuni mulai panik, wajahnya pucat, ia mendekatkan telinga ke pintu, berharap ada suara. Tapi hening... sepi sekali. "Mel!.. ayo buka pintunya, jangan bikin kakak tambah kuatir!" teriak Yuni, nadanya setengah memohon. Surya menatap istrinya dengan cemas. "Mas!.. cepat dobrak pintunya! Aku takut Mellisa melakukan hal yang nekad," ujar Yuni terbata, hampir menangis. Surya yang sejak tadi berusaha menahan diri akhirnya tak sanggup lagi. Ia menendang pintu dengan sekuat tenaga, tapi tetap tak terbuka. Dengan tergesa ia mengambil palu dan linggis dari gudang samping, lalu dihantamkan berkali-kali ke arah lubang kunci. Hingga akhirnya, "Brak!!" Pintu rusak terbuka lebar. Mereka bergegas masuk, dan seketika itu juga keduanya terperangah. Mellisa tergeletak di lantai, tubuhnya lemah, wajahnya pucat pasi, tak sadarkan diri. Mel!!!" teriak Yuni histeris sambil berlari menghampiri adiknya. Surya segera ikut menunduk, tangannya gemetar memeriksa napas dan denyut nadi Mellisa. Syukurlah masih ada, meski lemah sekali. "Yang! Cepat ambil air, tolong!" Surya berusaha tenang padahal jantungnya berdetak kencang. Yuni dengan terburu-buru mengambil air minum dan kain basah. Ia menepuk-nepuk pipi Mellisa, mencoba menyadarkannya. "Mel, bangun! Jangan bikin kakak takut... ayo buka mata, Mel..." suara Yuni serak menahan tangis. Mellisa masih tak bergerak, hanya nafas perlahan yang terdengar. Surya memandang Yuni dengan wajah penuh kecemasan. "Kita harus bawa dia ke rumah sakit sekarang juga!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD