PROLOG
Dingin.
Semuanya terasa begitu dingin.
Aku tidak tahu sudah berapa lama tergeletak di ranjang ini. Cahaya lampu di langit-langit buram, mataku terlalu berat untuk terbuka sepenuhnya. Nafasku pendek, tersengal, d**a ini seperti diremas dari dalam. Jarum infus menancap di nadi, menyedot pelan sisa tenaga yang masih menempel.
Apakah aku mati?
Atau masih hidup tapi sudah dilupakan?
“Dokter..” bibirku bergerak, tapi suara itu nyaris tak terdengar. Tak ada jawaban. Tak ada langkah mendekat. Tak ada siapa pun di sampingku.
Kosong.
Hanya sunyi yang menekan dari segala arah.
Aku menoleh. Kursi di sebelah ranjang dingin dan kosong. Suamiku tidak ada di sana. Seharusnya dia ada, kan? Seharusnya dia menggenggam tanganku, menemaniku melewati detik-detik ini. Bahkan saat aku berteriak di ruang bersalin, dia tidak peduli.
Yang datang justru sebuah pesan singkat di ponselku.
Sayang, aku sudah di hotel. Cepat susul.
Pesan yang salah alamat.
Pesan yang membuat perutku mual lebih dari sakit yang sedang mengoyak rahimku.
Itu bukan untukku. Itu untuk orang lain.
Orang yang seharusnya menjadi saudara bagiku.
Orang yang dulu memelukku di hari kematian orang tuaku.
Orang yang bersumpah akan selalu ada untukku.
Sahabatku.
Tanganku gemetar. Dadaku sesak. Kenapa baru sekarang aku sadar? Kenapa aku begitu bodoh mempercayai mereka?
Suamiku tidak pernah mencintaiku.
Sahabatku tidak pernah benar-benar menjagaku.
Dan aku? Aku hanya boneka yang patuh.
Aku mengerang. Perutku terasa robek, cairan hangat menetes di kakiku. Itu darahku. Atau nyawaku yang bocor keluar pelan-pelan?
Bayiku…
Apakah dia masih hidup?
Aku mencoba bersuara, tapi tenggorokanku kering, lidahku kelu. Bahkan tangisku pun kehilangan bunyi.
Tante Ratna, dimana dia? apakah dia tahu aku di sini?
Atau dia sedang sibuk menghitung semua warisanku yang dulu ditinggalkan kedua orangtuaku sebelum mereka meninggal?
Kenapa aku tinggal di rumahnya?
Kenapa aku tidak pergi sejak dulu?
Kenapa aku menuruti semua keputusannya?
Kenapa aku menikah dengan Aldri?
Kenapa aku percaya pada sahabatku?
Kenapa aku diam saat pertama kali dipukul?
Kenapa aku masih bertahan?
Kilasan itu muncul tiba-tiba. Malam ketika sebuah asbak kristal mendarat di kepalaku hanya karena aku bertanya, “Kamu pulang jam berapa?”
Aku pingsan, lalu bangun keesokan harinya dengan suara tante berbisik di telingaku:
"Jangan besar-besarkan masalah. Dia suamimu, bukan musuhmu."
Tapi sekarang, kenapa dia benar-benar menjadi musuhku?
Dan kenapa tidak ada yang memihakku?
Air mata menetes, tapi tubuh ini terlalu lemah untuk menangis. Aku sendiri. Benar-benar sendiri.
Gelap mulai menelanku.
Tapi sebelum segalanya padam, suara itu muncul.
Tangisan bayi.
Nyaring.
Menggetarkan.
Asing.
Apakah itu anakku?
Ataukah hanya gema dari pikiranku yang hampir mati?
Aku ingin meraih suara itu. Tapi yang datang justru suara lain. Dalam. Tenang. Tidak seperti suara manusia,
"Jika kau diberi kesempatan hidup kembali, apa yang akan kau lakukan?"
Jantungku terhenti sejenak.
Apa? Siapa yang berbicara?
Bibirku terbuka, tapi tidak ada suara keluar.
"Apakah kau akan memilih untuk mencintai kembali… atau membalas semua yang menyakitimu?"
Aku terdiam.
Bayangan suamiku muncul, lengkap dengan senyum palsu yang menipu banyak orang.
Bayangan sahabatku. Pelukan hangat yang ternyata penuh racun.
Bayangan tanteku. Tatapan dingin, penuh hinaan terselubung.
Dan… bayangan seorang anak kecil. Bayangan itu adalah aku dulu.
Duduk meringkuk di sudut kamar, memeluk lutut, berharap dunia berhenti berputar.
Aku ingin menjawab.
Aku ingin menjerit.
Tapi suaraku hilang.
Keheningan menunggu.
Lalu suara itu kembali berbisik.
"Kalau begitu hiduplah kembali."
Tubuhku terhempas. Bukan jatuh, tapi ditarik. Seperti diseret dari pusaran gelap menuju cahaya. Aku tercekik udara, paru-paruku dipaksa bernapas.
Mata ini terbuka.
Aku terengah.
Bukan rumah sakit.
Bukan ranjang penuh darah.
Ini kamar.
Kamar yang begitu kukenal. Tapi bukan kamar tempat aku mati.
Aku bangkit, napasku tercekat. Di meja rias, cermin memantulkan sebuah wajah,itu wajahku yang muda, dengan kulit tanpa gurat lelah. Mata yang masih bulat penuh.
Tidak mungkin.
Tubuh ini bukan tubuhku yang hancur setelah melahirkan. Ini tubuhku tujuh tahun lalu.
Tanganku gemetar meraba pipi.
Air mata menetes.
Di atas meja, sebuah buku harian tergeletak. Tulisannya adalah tulisanku sendiri.
Aku melihat tanggalnya.
Tujuh tahun sebelum hari kematianku.
Aku tidak percaya.
Apa ini mimpi?
Apa aku kembali?
Kenapa? Untuk apa?
Tubuhku bergetar.
Lalu suara langkah terdengar dari luar pintu. Berat. Tapi terasa familiar.
Jantungku berhenti berdetak sejenak.
Pintu berderit terbuka.
Dan suara itu memanggilku.
“Dian…”
Aku terpaku.
Suara itu.
Suara yang menghantui setiap ingatanku.
Kenapa dia di sini?
Kenapa aku kembali ke titik ini?
Dan apa yang harus kulakukan sekarang?