Sebaik-baiknya w*************a, tetap saja akan menjadi terdakwa dari luka yang dirasakan oleh istri tua.
Siapa yang bisa menyangka kedatangan Leon ke stadion sebagai undangan pertandingan pertama sepak bola, membawa kebahagiaan sendiri dalam hati pria itu. Dengan kedua matanya sendiri dia melihat Renata tertawa-tawa bahagia duduk di kursi VIP depan bersama dua orang di samping kiri dan kanannya.
Tentu saja Leon bisa menebak wanita itu datang bukan sebagai undangan. Karena tampilannya begitu santai. Bahkan Renata sengaja mengikat rambutnya tinggi, kemudian memakai topi untuk menutupi kehadirannya di sana.
Lalu dari mana Leon bisa menebak?
Selain dari Dina, yang merupakan asisten Renata sekaligus yang mengatur segala pekerjaan, Leon juga bisa menebaknya dari senyum manis yang terlukis di bibir tipis itu.
"Kamu tidak info jika di ada di sini," bisik Leon pada asisten pribadinya.
"Siapa Pak?"
"Renata Iris."
Mendengar nama itu, asistennya langsung celingukan ke sana ke sini. Mencari Renata dengan kedua matanya di tengah puluhan ribu penonton.
Ketika dia menangkap sosok wanita seksi itu, kepalanya mengangguk kepada Leon.
Meski memang tidak ada kata-kata secara jelas dari Leon mengenai sosok Renata Iris, namun sebagai asistennya dia bisa menyimpulkan bila Leon memiliki perasaan lebih pada Renata.
Bukan karena alasan Renata cantik, Renata seksi, atau hal-hal yang hanya bisa dilihat dari tampilan mata saja. Tapi sebagai saksi yang ikut bergabung saat kedua insan tersebut bertemu, banyak kemiripan dari keduanya.
Salah satu yang ia tangkap, baik Renata atau Leon, mereka sama-sama kuat. Namun sebenarnya tidak sekuat tampilan luar.
"Mau saya buatkan waktu untuk bertemu?"
Leon melirik bahagia ke arah wajah asistennya itu. "Buat seperti ketidak sengajaan."
***
Renata berseru kencang ketika tim sepak bola yang dia dukung berhasil memasukkan bola ke dalam gawang lawannya. Hingga memunculkan angka satu kosong untuk kemenangan tim yang ia dukung.
Pada awalnya dia juga tidak tahu harus pergi dengan siapa ke pertandingan ini. Namun setelah Renata menginfokan kepada Dina dan supir pribadinya, keduanya kompak mau menemani Renata.
Karena itulah kini Renata bisa berada di tengah-tengah puluhan ribu orang. Meneriakan nama tim yang didukungnya dengan begitu suka cita. Apalagi dalam tim tersebut, ada satu nama yang sudah dia kenal sejak duduk di bangku SMA. Membuat Renata semakin semangat untuk menontonnya dari jarak terdekat.
Setelah 45 menit pertandingan awal, sebagai wanita biasa, dia mulai bosan akan pertandingan sepak bola ini. Mungkin karena dia bukan tipe fans fanatik, Renata seperti kehilangan konsentrasi ketika melihat pertandingan babak kedua.
Untuk mengembalikan kembali moodnya, Renata berniat untuk membeli minuman dingin sebentar. Tentu saja dengan Dina yang selalu menemaninya. Meski Renata yakin tidak ada satu orang pun yang mengenalinya, namun Dina selalu waspada. Karena kejadian buruk terjadi akibat dari kelalaian dalam pengawasan.
"Re, emangnya siapa sih dia? Sampai lo bela-belain banget buat nonton ke sini?"
Meneguk minumannya sejenak, Renata membalas tatapan penasaran Dina. "Teman gue. Kenapa sih?"
"Yakin cuma teman? Nggak biasanya loh."
"Ya kebetulan aja, gue lagi kosong. Nggak ada kerjaan. Terus dia lagi tanding di sini."
Mencibir tidak percaya, Dina mengalihkan pandangannya ke arah lain. Dan hampir saja dia tersedak melihat seseorang yang berjalan ke arah mereka.
"Re... Re... " tepuk Dina pada bahu Renata yang membelakangi kedatangan sosok itu.
"Apaan?"
"Itu... " jawab Dina tergagap.
Tepat Renata melirik ke arah belakang tubuhnya, ada wajah Leon yang terlihat kaget. Di tangan laki-laki itu ada ponsel yang layarnya menyala. Sepertinya Leon baru saja menghubungi seseorang agar bisa masuk ke dalam untuk menonton pertandingan.
Semua hal tersebut adalah tebakan dari Renata. Padahal kenyataannya tidak seperti itu.
"Kamu di sini?"
Sambil membuka topi penutup kepalanya, Renata mengangguk. Kini mereka saling berbalas tatapan, sebelum Renata yang mengakhirinya lebih dulu.
"Pak Leon baru datang?"
"Akh, itu. Iya. Saya baru datang."
"Silakan masuk, Pak."
"Kamu tidak masuk? Kita bisa menonton bersama di dalam sana?"
Melirik sekilas ke arah Dina, ada kode untuk menyetujui ajakan Leon. Setidaknya Renata bisa memanfaatkan ini untuk hal-hal yang mengganjalnya.
"Ayo, Pak."
Berjalan bersisian, Leon dan Renata terlihat sangat serasi. Baik dari postur tubuh mereka yang nampak seimbang, dan juga dari senyuman tulus mereka sangat terlihat menawan.
Beberapa panitia yang berpapasan dengan mereka sangat memuji keduanya di dalam hati mereka. Terasa sekali aura kebaikan dari keduanya. Tidak ada kepalsuan, yang ada bagaimana mereka menampilkan segala sesuatunya tanpa ada yang ditutup-tutupi. Seperti kedekatan mereka yang sempat menyebar beberapa waktu lalu.
Wartawan yang pada awalnya tidak tahu jika Presiden mereka duduk berdampingan dengan seorang wanita yang pernah dijadikan gosip utama, setelah mereka mengetahui keadaan tersebut fokus kamera milik mereka semua bukanlah pada pertandingan.
Namun mereka terus saja mengabadikan moment-moment kebahagiaan yang muncul di antara Renata dan Leon. Tawa bahagia Renata dan Leon, lalu bagaimana mereka bersorak bersama karena tim mereka menang, terus diabadikan oleh wartawan.
Bahkan pembawa acara di salah satu stasiun tv yang menyiarkan juga sibuk menggosipkan Mr. PRESIDEN dengan Renata yang digosipkan menjadi wanita simpanannya.
Luaaarrr biasaa.. Yaak.. Yaaakk.. Bukan gol saja yang bisa buat stadion dan seluruh penonton bola malam ini bergetaarrr.. Cetaaarr.. Tapi juga selipan-selipan gosip dari gambar yang terekam, berhasil menggetarkan hati kita semuuaaaa..
Ketika kemenangan tim mereka terjadi, Leon sempat melirik Renata yang duduk di sampingnya. Entah bagaimana dia bisa begitu nyaman bersama Renata. Padahal wanita yang berada di sekitarnya bukan hanya Renata. Dari mulai pengawal, lalu para artis yang menjadi pendukungnya di kampanye dulu, semua terasa biasa saja. Tapi dengan Renata berbeda. Seakan Leon tahu semua gerak gerik Renata tulus tanpa kepalsuaan sedikitpun.
"Bahagia?"
"Jelas dong, Pak. Tim yang saya dukung menang."
"Baguslah. Semoga saja tim itu terus mampu membuatmu bahagia."
Cekungan senyum di bibir Renata lenyap. Dia melirik Leon yang menatap ke arah lapangan.
"Maksud Bapak?"
"Akh, bukan apa-apa."
"Saya coba pahami maksud Bapak. Bapak mencoba menyamakan pertandingan sepak bola dengan pertandingan politik, kan? Beda Pak. Tujuan menang pertandingan sepak bola, untuk bersama-sama. Tapi jika politik, Bapak bisa artikan sendiri seperti apa."
Tersenyum kecut, Leon mengangguk. "Begitukah menurutmu? Tapi menurut saya, kedua hal itu sama. Entah penilaian saya yang salah, atau cara dukungan masyarakat yang salah. Kita ambil satu kesimpulan saja. Ketika menang, tim sepak bola akan diagung-agungkan. Sama juga seperti politik, ketika menang, partai pendukung juga bahagia. Tapi coba jika kalah, baik tim sepak bola atau presiden yang gagal dalam visi dan misinya langsung habis di caci maki. Hingga pada akhirnya, tim sepak bola akan merosot ke posisi paling bawah klasemen. Sedangkan jika presiden gagal, maka akan berakhir di penjara. Karena partai pendukung yang sebelumnya berada di belakang untuk mendukung, malah berbalik menjatuhkan. Membongkar segala kesalahan yang dimiliki presiden itu."
Tanpa bermaksud kurang ajar, Renata menepuk-nepuk bahu Leon. Memberikan semangat pada presidennya itu. "Jangan curhat gitu, Pak. Saya tahu nilai tukar mata uang sedang naik, tapi bukan berarti Bapak bisa curhat begitu saja. Apalagi memperalat saya untuk mengalihkan isu kenaikan tersebut."
Leon tidak bisa berkata-kata, ternyata Renata tidak semudah itu dia perdayai.
_____ continue.
Taplove... yuk taplove...