7. Masih Manusia Biasa

978 Words
Semua hubungan pasti memiliki porsi masing-masing dalam hidup. Sekalipun hanya sebatas teman. Acara yang terlihat meriah dengan promo menarik di mana-mana, ternyata tidak semeriah promonya. Renata yang sepanjang acara berada di sana benar-benar merasa bosan. Bukan berarti artis-artis pendukung acara tersebut tidak bagus. Menurut Renata semua pengisi acara bagus. Hanya saja kurangnya, jokes para MC ketika mengisi waktu-waktu luang, sangat tidak berpendidikan. Semua hal yang mereka angkat menjadi topik pembicaraan, rata-rata membicarakan tentang gosip. Padahal menurut Renata masih banyak hal yang bisa mereka eksplore selain membicarakan tentang gosip. Entahlah Renata tidak paham mengenai hal yang harus dibahas oleh para MC. Yang jelas dia cukup terganggu karena sempat dijadikan bahan candaan mengenai gosip dirinya dengan Leon.  "Besok-besok, kalau ada undangan kayak gini, tolak aja. Karena gue merasa bukan artis yang bisa mereka undang ke acara seperti ini," ucap Renata. Di sampingnya, Dina mengangguk. Dia membantu membawa tas Renata. "Gue juga awalnya nggak mau, tapi ya you know lah, kalau gue tolak pasti mereka langsung memputar balikan fakta. Dan gue nggak mau malah berdampak buruk ke lo." Renata tak banyak bicara dalam menanggapinya, sambil berjalan keluar dari tempat ini, tangannya tak berhenti-henti memperhatikan beberapa update'an gosip terbaru. Dan foto dia lah yang muncul paling besar. Dia tahu akan ada banyak pihak yang memang sengaja memanfaatkan kondisi ini. Jika memang tidak merugikannya, Renata tidak akan peduli dengan hal-hal itu. Namun jika orang-orang itu malah merugikannya, Renata pasti tidak akan tinggal diam. Cukup sudah diamnya selama ini. Tidak ada manusia yang terus saja diam ketika diinjak-injak. "Renata... " Perlahan tubuh Renata berbalik. Melihat siapa yang memanggilnya. Tak jauh darinya ada Billy, si konglomerat kurang ajar yang sudah menyamakannya dengan barang. "Kenapa buru-buru? Sudah ada janji?" Renata memberikan kode pada Dina untuk meninggalkan mereka berdua. Jalan keluar yang memang dipertujukan untuk orang-orang penting terlihat sangat sepi. Hanya ada beberapa panitia yang terlihat berkeliaran di daerah ini. "Ya, saya ada janji." "Jika bukan dengan Pak Leon, lantas dengan siapa lagi?" "Pak Leon?" ulang Renata seperti memastikan nama itu. Kenapa Leon terbawa-bawa dalam pembicaraan ini? "Iya. Hanya Renata yang bisa menolak karisma Mr. PRESIDENT. Kamu lupa bagaimana kita sama-sama dengar di dalam sana." Tersenyum dengan gaya menyebalkan, Renata membalas tatapan genit Billy. Ingin sekali dia meludahi wajah m***m itu, tapi dia masih berusaha menjaga semuanya. Meski dia bukan artis. Tapi Renata sebisa mungkin menjaga sikapnya jika dirinya sedang di depan umum. Karena menurutnya pelajaran tata krama itu harus dimiliki semua orang. Tidak peduli dia orang penting atau bukan. Jika ingin mendapatkan perlakuan baik dari orang lain, maka sudah seharusnya bersikap baik. "Ada yang salah dari kata-kata saya?" pertanyaan dari Billy diikuti oleh gerakan tangannya yang berusaha menarik tubuh Renata menjadi lebih dekat. "Lepas... " matanya melotot ke arah Billy. Memperingati pria paruh baya itu. Namun sayangnya, Billy terlalu kebal dengan ultimatum Renata. "Sebutkan saja, berapa yang kamu mau, sayang?" Hampir terkena ciuman dari Billy di tempat umum seperti ini, Renata refleks ingin menampar pipi Billy  dengan tangannya. Namun untung saja, Dina datang tepat waktu. Ia berusaha memisahkan keduanya. Tentu saja dengan segala emosinya, Renata menjerit-jerit kencang. Meneriakan kata-kata kasar kepada Billy. "Tahan, Ren. Tahan," bisik Dina. "Baiklah, jika kamu tidak suka pembayaran di akhir. Saya akan mengirimkan sejumlah uang ke rekeningmu," ucap Billy sebelum beranjak pergi meninggalkan Renata dan Dina. Melihat Renata akan menyumpahi kata-kata kasar kepada Billy, Dina menyumpal mulut Renata dengan tangannya. Dia menggeleng berkali-kali sebagai kode jika lorong ini tidak kosong lagi. Karena beberapa rombongan presiden mulai bergerak melewatinya. "Tahan, Re. Sabar. Jika lo terpancing sama kata-kata dia, dia pastinya bangga. Karena berhasil buat lo kesal. Tapi kalau lo diam..." "Gue diinjak-injak, Din. Gue dianggap p*****r. Padahal lo tahu sendiri gue kayak apa." "Yah, i know. Tapi mau bagaimana lagi? Kata-kata dia tadi, dan segala perlakuan kurang ajar dia ke lo, jadikan pelajaran. Lo harus lebih kuat, Re. Dan gue yakin lo bisa." Sambil meringis, Renata menggelengkan kepalanya. Sejujurnya dia tidak sekuat itu. Meskipun semua orang melihatnya seperti wanita tangguh, dia hanya Renata, sama seperti wanita lainnya. Yang membutuhkan perlindungan. *** Rini merasakan kegelisahan dari Leon yang masih sibuk dengan beberapa laporan di tangannya. Kegiatan memeriksa laporan dari para menteri memang sudah menjadi agenda Leon setelah menjadi presiden. Namun baru malam ini Rini melihat Leon begitu gelisah. Rini tahu keadaan negara sedang tidak stabil. Banyaknya masalah dalam bidang ekonomi, membuat keuangan negara semakin runtuh. Bukannya Rini tidak tahu, dia hanya berusaha menutup mata dalam banyak hal buruk mengenai negara ini. Contoh kasusnya saja hutang negara yang semakin melambung merupakan imbas dari beberapa presiden sebelumnya. Hutang negara yang awalnya dibuat demi menyejahterakan masyarakat, ternyata tidak sampai ketujuan. Beberapa penguasa hampir di semua sektor ingin menguasai dana pinjaman itu untuk diri mereka sendiri. Sehingga terjadilah penumpukan hutang yang semakin banyak. Untuk itulah ketika Leon terpilih menjadi presiden, tentu saja dengan dukungan partai dari Ayah Rini, seluruh masyarakat berharap negara bisa membaik di tangan presiden termuda ini. Tapi Rini tahu, Leon bukanlah Tuhan. Beberapa pergerakan yang telah Leon lakukan, hasilnya tidak langsung terlihat begitu saja. Mulai dari aksi blusukan yang pernah Leon lakukan, kini perlahan-lahan barang-barang yang harganya mahal di pasaran mulai muncul di beberapa pasar. Walau harganya tidak langsung turun, namun setidaknya barang itu ada. Karena untuk apa harga barang murah, namun barangnya sulit ditemukan. "Tadi Ayah telepon, untuk pertandingan perdana olah raga sepak bola besok kamu mau datang?" Leon mengarahkan perhatiannya pada istrinya itu. Rini berdiri di depan meja kerjanya dengan pakaian yang berhasil memamerkan kulit wanita itu. Meski tubuh Rini tidak seperti model, tapi yang Leon tahu kulit Rini sangat halus untuk kategori kulit wanita. "Besok?" "Hm... " "Aku usahakan," jawabnya sesingkat mungkin. Leon mulai memperhatikan kembali laporan-laporan yang tadi dibawakan oleh asistennya. Membaca satu persatu secara detail laporan tersebut. Meski dia tahu Rini masih berdiri di posisinya, Leon mencoba untuk mengabaikan istrinya itu. Karena memang sedari awal pernikahan mereka bukan berdasarkan cinta satu sama lain. "Pak, kamu nggak istirahat?" tanya Rini kembali. Walau harap-harap cemas, Rini masih mencoba mencari cela di hati Leon agar dia bisa menguasai hati suaminya itu. Akan tetapi balasan ekspresi dingin dari Leon, mengartikan jika memang pernikahan mereka hanya sebatas status saja. "Baiklah, aku mengerti, Pak. Statusku di sini hanya sebagai ibu negara ini, bukan ibu dari anak-anakmu." _______ continue.. Yuk... yang baru baca, jangan lupa taplove... Terima kasih
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD