5. Musuh Dalam Selimut

1040 Words
Jika kau ingin mendapatkan sesuatu yang lebih, maka berkorbanlah lebih banyak untuk orang lain. Beberapa foto menggoda yang ditampilkan salah satu majalah gosip mengenai Renata berhasil mencuri perhatian. Setelah gosipnya beberapa waktu kemarin ini bersinggungan dengan orang nomor 1 di negera ini, kini Renata terlibat gosip kembali dengan salah satu billioner di negara ini. Yakni, Billy John. Billy John sendiri dikenal sebagai pemilik dari salah satu perusahaan yang mensupply rokok untuk negara ini. Tidak hanya sebatas itu bisnis dari seorang Billy John, para wartawan yang mulai penasaran atas gosipnya bersama Renata semakin sibuk mencari latar belakang dari Billy.  Majalah tersebut menuliskan berapa banyak kekayaan dari seorang Billy John. Pria paruh baya ini juga sedang sibuk sebagai salah satu sponsor terbesar dalam lomba salah satu cabang olah raga yang tengah berlangsung. Dari gosip yang sudah menyebar melalui media sosial, belum ada satupun pihak yang mengklarifikasinya. Renata ketika ditanya oleh beberapa wartawan yang menunggu dirinya di depan apartement pribadinya dibuat kecewa. Asisten Renata yang selalu setia menemaninya, serta seorang supir pribadi yang siap mengantarkannya ke mana saja langsung melindungi tubuh model cantik itu. Sedangkan dipihak Billy John sendiri, berusaha tidak peduli dengan gosip tersebut. Meski foto dirinya turut disandingkan dengan foto seksi milik Renata, Billy malas berkomentar. Apalagi setelah penolakan kasar Renata yang bersikap seperti tak butuh uang, membuat Billy merasa sikap Renata terlalu sombong. Padahal wanita itu hanya sebagai model dari majalah pria dewasa saja. "Billy John," gumam Leon di dalam mobil yang membawanya dari bandara menuju istana presiden yang kini ia tempati. Asisten yang duduk di kursi depan menggangguk. Dia melihat gosip yang sama seperti yang Leon lihat melalui ponsel pribadinya. "Salah satu pengusaha dan aset negara kita." Leon mengangkat pandangannya. Dia menatap ke arah depan di mana asistennya berada. "Maksudmu dengan arti aset negara?" "Maaf, Pak Leon. Maksud saya aset negara adalah karena perusahaan Billy John ini menjadi salah satu yang menguntungkan untuk negara kita. Bahkan Billy John juga masuk ke dalam 3 besar konglomerat di negara ini yang membayar pajak terbesar." "Oh, ya? Cukup menarik." Leon merasa tertarik mendengar fakta yang asistennya katakan. Dia menatap dengan jelas wajah Billy John dan Renata yang bersandingan. Hingga bibir Leon terangkat tinggi. Entah di mana kesalahannya, yang Leon rasakan ada hal tidak beres dalam gosip ini. "Pantau terus perusahaan milik dia. Jika memang perusahaan tersebut cukup berpengaruh untuk negara, mungkin saja bisa menjadi penyeimbang disaat ekonomi kita sedang tidak seimbang." *** Tampil anggun di depan umum, Ibu Rini, difoto sambil merangkul beberapa anak yatim dalam acara peduli yatim yang diselenggarakan oleh salah satu yayasan terkenal. Senyum di wajah Rini begitu memikat. Bibirnya yang merah serta sikap anggunnya berhasil mendapatkan pujian semua orang. Pendapat-pendapat langsung yang ia dengar sampai beberapa komentar di akun jejaring sosialnya, semua kompak memujinya. Kepintaran dan kecantikan Rini diyakini menurun dari keluarga. Ayah Rini yang dulu pernah menjabat menjadi salah satu menteri pada periode 10 tahun lalu masih menjadi sorotan semua orang. Bahkan wartawan tidak ragu-ragu mewawancarainya demi mendapatkan komentar untuk kinerja Leon yang merupakan suami dari putrinya. Sedangkan Ibu dari Rini adalah putri seorang jenderal yang pada masanya pernah berjaya. Sehingga banyak yang tidak heran jika Rini berhasil menjadi Ibu negara bersandingan dengan Leon. Sosok pemimpin yang diakui cukup hebat mengontrol keadaan negara. "Bu Rini... Bu... " panggil salah seorang wartawan. Wartawan yang lainnya mengikuti di belakang. Kemudian mengerubungi Rini yang masih tersenyum. "Bagaimana rasanya terlibat dalam acara ini, Bu?" "Bahagia ya jelas. Lihat anak-anak seceria ini, rasanya benar-benar menular ke saya sendiri." "Wah, Ibu emang kelihatan kok suka anak-anak." Rini tersenyum menanggapinya. Hingga pertanyaan tentang suaminya kembali tercetus. "Ibu sudah dengar, tentang kabar terbaru mengenai wanita yang pernah digosipkan bersama Pak Leon?" "Gosip? Tentang apa?" "Tentang kisah hubungan tanpa statusnya. Sekarang wanita itu sedang dekat dengan salah satu konglomerat negara ini." Mencoba terus tersenyum, Rini menatap satu persatu wartawan yang mengerubunginya. "Yah namanya wanita. Suka bercermin tapi masih saja bermimpi setinggi langit." "Loh, maksud Ibu?" tanya wartawan semakin mendesak. "Saya berkata realita saja. Saya pun masih suka bermimpi. Memiliki anak-anak yang menggemaskan. Tapi jika kalau faktanya belum dikasih sama Tuhan, mau bagaimana lagi." Sambil terus bergerak jalan, wartawan tersebut semakin penasaran dengan maksud Rini mengatakan hal itu. Tapi ketika mereka mencoba mencari tahu, para pengawal Rini langsung melindungi istri dari presiden negara ini. *** Sambil meneguk orange juice di gelas kaca, Renata menatap lekat wajah seorang wanita di televisi. Bukannya Renata tidak tahu siapa dia, tapi selama ini dia mencoba untuk tidak peduli. Sekuat apapun orang lain menghujat, Renata yakin mereka belum mengenal siapa dirinya. Karena biasanya, orang-orang yang sibuk mengomentari hidup orang lain, mereka hanya mengetahui bukan memahami. Untuk itulah Renata berusaha mengabaikannya. Tapi kali ini rasanya berbeda. Komentar buruk tentang dirinya bukan datang dari orang biasa, melainkan seorang wanita yang seharusnya menjadi panutan. Padahal sebelum-sebelumnya Renata respect dengan segala sikap dan karakter Rini. Namun ketika mendengar ucapan Rini yang penuh maksud, Renata menarik semua rasa respect dirinya pada Rini. Untuk sesama wanita, Renata tahu mengapa Rini berubah demikian. Tapi sayangnya perubahan Rini malah menampilkan sisi lain wanita itu. Yang pada kenyataannya, Rini tidak sebaik apa yang ia tampilkan sebagai seorang ibu negara. "Jadi sekarang Ibu negara juga udah gosipin lo?" celetuk asistennya yang bernama Dina. Renata meletakkan gelas di atas meja pantry  di dalam apartement miliknya.  Kedua bahunya kompak terangkat, seperti jawaban untuk pertanyaan Dina. "Terus lo masih diam aja?" "Selama singa belum bangun, dia masih aman mau berkomentar apapun." "Widih, terus kapan bangunnya?" "Ada saatnya," sahutnya cepat. "Lagi pula, dari karakter dia buat gue semakin yakin kalau di dunia ini nggak ada manusia yang sempurna. Karena setiap tampilan yang dia berikan untuk semua orang, apalagi untuk wartawan, semuanya terlihat baik dan indah. Senyuman, pribadinya, seperti malaikat. Tapi dari komentarnya barusan, gue yakin ada yang aneh dari semua sikap dia." "Hahaha. Pinter juga lo, Ren." "Pinterlah. Gampang kok artiinnya, biasanya orang memasang tampang baik, dan bersikap baik karena sedang mengingkan sesuatu. Istilahnya berperan baik gitu. Kayak lo gini. Gue yakin lo bilang gue pinter karena ada maunya. Ngaku lo?" "Duh, elah. Ketahuan gue. Iya, gue ada maunya. Gue mau lo segera beres-beres. Karena ada acara dadakan malam ini." "Acara apaan?" "Lo diundang untuk datang acara ulang tahun salah satu stasiun tv." "Tumben. Ada hal apa ya?" "Yah, begitulah. Karena gosip yang sering muncul belakangan ini, beberapa stasiun tv sering kontak gue. Supaya lo mau bergabung dalam perusahaan mereka." Dengan ekspresi horor, Renata menatap asistennya. Baru saja mereka berbicara mengenai orang yang berpura-pura baik karena ada maunya. Dan sekarang kembali lagi terlihat. Renata yakin undangan untuk bergabung dari beberapa stasiun tv itu pasti memiliki modus yang terselubung. "Mau mereka apa sampai minta gue gabung?" "Mereka mau ketenaran lo. Baik itu haters lo ataupun pendukung lo." _______ Continue.. Semakin suka? atau enggak? Komen coba...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD