4. Wanita Bayaran

1070 Words
Karena yang hanya bisa dipandang memang terlihat lebih menantang. Leon mencoba untuk mengabaikan ancaman dari istrinya sendiri, Rini. Meski dia tahu ancaman tersebut bukanlah main-main, namun Leon yakin dia masih mampu mengatasi istrinya itu. Dia yakin Rini tidak akan mungkin bertindak gegabah yang bisa saja menghancurkannya. Apalagi Leon masih memegang kartu AS Rini, sehingga ia tidak akan bisa bermain-main dengan Leon. "Pak... " Wajah asisten pribadinya muncul. Sebagai orang nomor 1 di negera ini, Leon harus selalu siap jika mendapatkan update info penting meski waktu sama sekali tidak mendukung. "Maaf, Pak. Saya bawa info terupdate mengenai kenaikan harga barang-barang pokok di pasar. Dari beberapa data yang saya terima, kenaikan tersebut dikarenakan hampir seluruh barang pokok yang negara kita konsumsi masih di impor dari luar negeri. Karena itu ketika masuk ke negara ini, harganya melambung tinggi." "Yakin hanya itu alasan utamanya? Ini bukan karena adanya penimbunan di gudang, kan? Karena entah kenapa saya merasa ada campur tangan orang penting dalam hal ini. Ketika barang menjadi langka, mereka akan mengeluarkan stok mereka dari gudang. Dan dijual dengan harga mahal." Ekspresi menyelidik dari Leon menciutkan nyali asistennya yang biasa dipanggil Bams. "Saya belum bisa menjawab hal itu, Pak. Yang pasti saya tahu, alasannya karena barang didatangkan dari luar. Lalu dari data tersebut, ada faktor distribusi juga. Kadang kondisi jalan yang kurang baik membuat barang sampai tujuan jadi terhambat. Sedangkan permintaan barang tinggi dari konsumen, sampai membuat barang menjadi langka terlebih dahulu barulah bisa terpenuhi." Sejenak Leon diam. Sewaktu dia blusukan ke pasar, tanda-tanda barang pokok langka sama sekali tak terlihat di matanya. Barang-barang tersebut menumpuk, namun harganya begitu mahal ketika dijual. "Kamu pastikan ke menteri perekonomian, apa alasan dia mengenai hal ini?" "Baik, Pak." Perintah dari Leon ia catat dalam note kecil. Niat dalam dirinya setelah menginformasikan hal ini, ia akan segera meminta penjelasan dari menteri perekonomian. Atau mungkin ia akan meminta pak menteri tersebut mengenai langkah apa ke depannya yang akan beliau ambil. "Bams..." "Ya, Pak." "Bagaimana cara agar saya bisa merangkul seluruh masyarakat di negara ini?" Bams yang usianya lebih tua 5 tahun dari Leon sejenak terdiam. Dia membalas tatapan penuh harap Leon dengan ekspresi serius. "Kita tidak bisa membuat semua orang mencintai kita, Pak. Tapi yang saya tahu, kita bisa membantu semua orang meskipun orang tersebut selalu menilai kita buruk." "Caranya?" "Gunakan hati Bapak. Ketulusan akan menuntun Bapak menemukan cara terbaik dalam merangkul seluruh rakyat yang Bapak pimpin." Leon memberikan senyuman tulusnya. Bams benar. Tidak perlu berpura-pura untuk menjadi yang terbaik. Cukup ikuti kata hati. Meski akhirnya Leon tetap dibenci, namun yang terpenting dia sudah berusaha memberikan yang terbaik. "Terima kasih, Bams." *** Agak sedikit risih, Renata mendapatkan tatapan 'lapar' dari para laki-laki yang kini sedang melakukan olah raga bersamanya pada sebuah tempat fitnes. Semenjak gosip dirinya menyebar, segala hal tentangnya selalu menjadi sorotan siapa saja. Termasuk media masa. Mulai dari pekerjaannya yang dulu tidak pernah dibicarakan, kini seperti bahan utama untuk gosip semua orang. Ada yang berkomentar kasar mengenai pekerjaan yang Renata jalani. Ada juga yang berpendapat jika pekerjaan Renata malah membuat buruk citra Leon sebagai Presiden negara ini. Sampai-sampai beberapa waktu ini Renata membatasi aktifitasnya. Menolak undangan beberapa stasiun tv yang mengajaknya untuk menjadi bintang tamu dalam program mereka. "Renata Iris." Seorang laki-laki berusia 45-50 tahun menegurnya. Wajahnya tidak asing di mata Renata. Namun Renata tidak tahu pasti siapa nama laki-laki yang kini tersenyum di hadapannya. "Saya Billy John." "Iya, ada yang bisa saya..." "Bisa kita bicara sebentar? Saya ingin bertanya sesuatu padamu." Ketika Renata ingin mengikuti langkah kaki laki-laki itu, asisten pribadinya menahan lengan Renata. Mencoba meyakini Renata jika orang tersebut bukanlah orang yang baik. "Tenang aja. Ini tempat umum, dia nggak akan mungkin macam-macam." Perlahan tapi pasti Renata mengikutinya. Menuju salah satu cafe yang berdekatan dengan tempatnya melakukan fitnes. Sampai di dalam cafe tersebut, Renata belum melihat gerak gerik mencurigakan dari laki-laki itu. Dengan baik, ia mempersilakan Renata untuk duduk. Memesan minuman. Sebelum mereka berbicara mengenai sesuatu yang penting menurut laki-laki itu. "Ada hal penting apa sampai anda ingin berbicara dengan saya?" Billy, laki-laki paruh baya itu tersenyum penuh arti. "Kamu cantik, Renata. Bisa kita berteman dekat?" "Teman?" "Iya. Layaknya dirimu dengan Pak Leon yang kini sedang ramai dibicarakan," ucapnya begitu yakin Renata akan menerima ajakannya. "Saya yakin kamu tidak akan kecewa berteman dengan saya. Banyak hal yang bisa saya bantu dalam karirmu. Saya bisa mempromosikanmu di stasiun tv yang saya miliki. Jadi kamu tidak perlu lagi menjadi model tanpa busana. Saya juga bisa membuatkan program untukmu. Kamu yang akan jadi hostnya di sana. Selain itu, kamu juga akan saya berikan fasilitas agar membuat hubungan pertemanan kita semakin erat." "Sepertinya ada kesalahan presepsi di sini. Saya dan Pak Leon tidak ada hubungan apa-apa. Kami teman. Hanya itu. Tidak ada kelanjutan dari status tersebut. Saya juga tidak pernah meminta Pak Leon untuk mempromosikan karir saya. Saya tidak menerima fasilitas apapun dari dia. Jadi kalau Anda ingin berteman dengan saya seperti pertemanan saya dengan Pak Leon, maka seperti itulah cara kami berteman." Ada ekspresi tidak suka yang Billy tunjukkan. Dia tahu Renata hanya sengaja memancingnya agar memberikan sesuatu yang jauh lebih besar. "Baiklah. Tawaran terakhir saya. Saya bisa memberikanmu gaji 3M perbulan. Bagaimana? Saya juga memberikanmu fasilitas apartemen mewah di kawasan segitiga bisnis. Apa masih tidak tertarik?" Renata tertawa geli atas tawaran kurang ajar yang Billy ajukan padanya. Memangnya dia perempuan bodoh yang mudah termakan iming-iming uang. Uang dengan nominal tersebut adalah hal kecil bagi Renata. Bukan maksudnya ingin sombong, namun coba hitung kembali nominal yang Billy tawarkan. Jika dalam satu bulan Billy memberikannya 3M uang, maka jika dihitung-hitung perjamnya dia hanya dibayar sekitar 4-5 juta. Sedangkan jika fotonya beredar di majalah pria dewasa, untuk satu kali pemotretan, Renata akan dibayar 1-2M jika majalah tersebut berasal dari luar negeri. Majalah yang berproduksi di dalam negeri sendiri membayar Renata paling rendah sekitar 700 juta. Itu hanya untuk pemotretan saja. Meski tanpa busana, Renata tidak perlu memuaskan dahaga napsu para lelaki. Namun jika ia setuju dengan tawaran Billy, bukan tidak mungkin ia juga akan bertugas memuaskan napsu laki-laki itu. Untuk itulah Renata berpikir cerdas. Ada kalanya perempuan bisa lebih pintar dari laki-laki. Meskipun perempuan lebih sering memakai perasaannya ketimbang logikanya. "Terima kasih, Pak Billy. Saya tidak butuh semua itu. Sekalipun saya tidak sepintar anda, namun logika saya melarangnya menerima semua itu. Karena sampai kapanpun tidak ada laki-laki yang tulus membantu perempuan tanpa maksud tertentu." Tutup Renata sebelum berangsur untuk pergi dari tempat itu. Pikirnya mengapa semua orang selalu menilainya buruk hanya karena alasan pekerjaan yang dia ambil. Padahal sampai detik ini, meski Renata bergabung dalam model majalah pria dewasa, tidak ada satu laki-laki pun yang bisa menjamah tubuhnya. Walau laki-laki itu memiliki banyak uang.  Continue_______ Seberapa banyak yang masih baca? Ingat ya... ada part tambahan di sini.. yang belum aku publish di wattpad.. Jangan lupa tap lovenya...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD