3. Ancaman untuk Presiden

966 Words
Sepertinya kehadiranku dalam hidupmu hanya untuk mendengar ceritamu. Bukan membuat cerita bersamamu. Dentingan gelas di meja makan dalam ruangan private ini sebagai tanda dimulai makan siang bersama setelah acara olah raga pagi serta pengalihan isu yang dilakukan oleh Pak Presiden. Semua orang yang berada di dalam ruangan ini hanyalah orang-orang kepercayaan dari sang Presiden. Mulai dari asisten pribadinya sampai pengawal Presiden yang memang sudah benar-benar ia kenal. Jumlah mereka dalam ruangan ini tidaklah banyak. Hanya sekitar 10 orang, termasuk Renata yang nampak tersenyum paling lebar. Renata merasa baru kali ini dirinya begitu berguna. Membantu Pak Presiden mengalihkan isu yang sedang genting ini. Meskipun ia seperti dijadikan alasan dari semuanya, Renata sama sekali tidak keberatan. Yang jelas dia tidak terbukti melakukan hal-hal negatif diluar pekerjaan. "Ayo, mulai dimakan," ucap Leon pada semuanya. Menu makanan yang dihidangkan pun beragam. Walau tidak dalam porsi banyak, yang jelas Leon merasa bahagia bisa berbagi kebahagiaan ini pada orang kepercayaannya. Termasuk Renata. Dalam satu lirikannya saja, dia tahu Renata orang yang baik. Tiga kali mereka bertemu, Leon sudah sangat memahami karakter Renata yang sesungguhnya. Wanita seperti Renata adalah sosok wanita pemberani. Tangguh. Dan mandiri. Dia juga termasuk orang yang humble. Tidak pandang dari satu nilai saja ketika berteman dengan siapapun. Sehingga tidak hanya Leon yang merasa santai di dekat Renata. Namun juga asistennya serta para pengawalnya. "Mba Rere ini asli mana sih?" "Kebetulan Ayah saya ada keturunan Portugis." "Pantes cantik banget." Suara salah seorang pengawal yang mengagumi kecantikan wajah Renata. Jika dibandingkan dengan wanita asli negara ini, Renata memiliki postur tubuh yang berbeda. Bentuk rahangnya pun terkesan tegas. Sehingga banyak yang menyimpukan jika Renata adalah tipe orang yang teguh atas keputusannya. Selain itu pula tatapan kedua mata Renata mampu menghipnotis siapa saja yang melihatnya. "Saya biasa saja, Pak. Cantik itu hanya tampilan luar. Bukannya saya tidak suka dipuji seperti itu, tapi menurut saya itu hanya pujian sesaat. Karena jika fisik telah dimakan usia, maka pujian itu akan lenyap. Tapi kalau saya mendapatkan pujian tentang karakter saya, saya akan lebih bersyukur." "Terbaik emang jawabannya. Mantap." Leon tidak turut campur dalam pembicaraan ini. Ia mencoba menjadi pendengar yang baik. Baginya kapan lagi ia memiliki waktu seperti ini. Dianggap sama seperti yang lain. Karena jika sudah berkumpul di luar nanti, maka perlakuan spesial akan ia terima. Entah itu rasa hormat yang berlebihan sampai pujian-pujian yang Leon dapatkan. Padahal terkadang ia tidak butuh semua itu. Cukup respek dengan segala keputusan yang dia ambil, rasanya Leon sudah begitu bersyukur. "Tapi yang saya aneh, kenapa Pak Leon sampai kepikiran ide seperti ini? Mengangkat kasus lain, untuk menutupi yang lainnya." "Itu namanya peduli." "Loh, bukan cerdas Pak?" sahut asistennya. "Bagi saya itu peduli. Kalau cerdas hanya sekedar kepintaran otak saja. Bukan peduli untuk memanfaatkan keadaan. Seperti yang saya lakukan ini adalah bentuk dari peduli. Saya peduli dengan masalah ekonomi yang terjadi. Harga tukar nilai uang yang melonjak tinggi, saya benar-benar tidak bisa menutup mata dari masalah besar ini. Tapi disatu sisi saya juga harus peduli dengan hal lain. Agar tidak ada iri-irian. Gitu maksudnya. Karena itu, agar semuanya berjalan seirama, maka harus ada cara untuk mengatasinya. Dan seperti itulah cara saya. Terkesan memang jahat. Saya seperti memanfaatkan Renata, tapi di sisi lain saya menyelamatkan hal yang lebih besar. Kekecauaan masyarakat dari kasus ekonomi ini." Renata bertepuk tangan paling kencang. Dia mengangkat gelasnya tinggi-tinggi untuk bersulang kembali. "Sukses terus pokoknya, Pak Leon." "Terima kasih Renata." Tatapan mereka saling bertemu, hingga Renata yang merasa sesak dibuatnya. Pandangannya langsung ia alihkan. Tersenyum kepada yang lain sambil menormalkan sesuatu dalam dirinya. *** Cara ampuh Pak Presiden untuk mengatasi kasus ekonomi agar tidak meledak di masyarakat ternyata sangat ampuh. Mereka yang hobi membesar-besarkan berita, kini heboh menuliskan kisah asmara diam-diam antara Presiden Leon dengan model dewasa, Renata. Berita panas yang dicuatkan dalam media sosial pun banjir komentar. Banyak dari mereka yang tidak setuju. Namun ada yang mengatakan Pak Leon cocok dengan Renata. Ada yang memberikan komentar asal, seperti menuliskan apa cuma gue yang nggak tahu siapa tuh cewek?. Semuanya hadir meramaikan gosip panas tersebut. Dalam negara demokrasi sendiri, seluruh masyarakat diberikan kebebasan untuk mengemukakan pendapat. Akan tetapi masih banyak dari masyarakat sendiri yang menyalah artikan kebebasan ini. Hingga ada yang harus berakhir di penjara. Untuk itulah, kini ada slogan yang berbunyi dari ibu jarimu, kematian bisa datang menjemputmu. Salah-salah menuliskan pendapat, yang ada mereka akan berakhir di tempat yang sama sekali tidak diinginkan. "Pak, aku mau bicara." suara istri dari Leon mengintrupsi pekerjaan Leon. Beberapa laporan-laporan yang diberikan oleh beberapa menterinya menumpuk di atas meja kerjanya. Tidak biasanya di jam yang cukup malam ini, istri Leon datang mengganggunya. Biasanya beberapa waktu pun mereka tidak bertemu, tidak ada kecemasan atau gangguan dari perempuan yang berstatus istrinya itu. Meski sudah cukup lama menikah, keduanya masih belum diberikan kepercayaan oleh Tuhan untuk mendapatkan anak. Karena itulah, terkadang hubungan mereka terkesan renggang akibat belum adanya anak di dalam rumah tangga mereka. "Ada apa?" "Tentang Renata." Leon menunggu kelanjutan ucapan dari istrinya itu sebelum berkomentar. Karena Leon takut, jika ia membenarkan dugaannya sama saja akan memperburuk keadaan. "Siapa dia?" "Kenapa? Ada yang salah dengan dia?" "Nggak ada yang salah. Cuma ... Cuma aku butuh penjelasan, dia siapa? Beberapa waktu ini, nama dia terus yang disebut oleh wartawan ketika bertemu denganku. Kalau kamu nggak kasih aku penjelasan, lalu apa yang harus aku jelaskan?" "Dia cuma teman bisnis." Marini, atau biasa dipanggil Bu Rini terlihat tidak puas dengan jawaban Leon. Meskipun awal mula pernikahan mereka adalah perjodohan, namun hingga detik ini ia masih berjuang untuk bertahan. Bertahan di sisi Leon sampai suaminya itu sesukses ini. Menjadi orang nomor 1 di negaranya. "Jangan terlalu curiga. Terkadang yang membuat hal buruk menjadi nyata adalah karena terlalu curiga," gumam Leon. Dia berusaha meneruskan pekerjaannya kembali. Namun anehnya istrinya tersebut tidak sama sekali ingin bergerak dari posisinya. "Ada apalagi?" "Jangan sampai Ayah curiga atas hal ini. Bukan cara yang mudah membuatmu bisa sampai sejauh ini." Sebuah ancaman keluar dari mulut Rini. Dia yakin Leon paham maksud dari kalimatnya itu. Karena sampai kapanpun tanpa bantuan Ayahnya, Leon tidak akan bisa sampai diposisi ini. ________Continue Masih suka? Atau malah bosen bacanya? Jangan lupa tekan gambar lovenya.. cukup sekali. aku sudah bahagia
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD