Berubah menjadi pribadi yang menyenangkan bagi orang lain bukanlah pilihan yang baik. Karena kamu akan kehilangan siapa dirimu sebenarnya.
Pose terakhir dengan hasil yang sangat mempesona mengakhiri sesi pemotretan yang dilakukan oleh Renata.
Menggunakan pakaian bagian atas yang begitu terbuka, Renata terlihat begitu seksi. Bentuk tubuh yang sempurna bagi seorang wanita seperti anugerah terindah yang Renata terima dari Tuhan.
Ditemani asistennya dia berjalan dengan langkah pasti menuju ruang gantinya. Namun langkahnya tertahan oleh seorang laki-laki yang langsung menyodorkan kartu nama padanya.
Seorang wartawan dari salah satu majalah bisnis terkenal di negara ini mendatanginya.
Dalam hati Renata hanya bisa tersenyum. Semua ini masih lah dampak dari kasus skandal yang sempat beredar kemarin ini. Antara dirinya dengan Pak Presiden.
"Bisa bicara sebentar Mba Renata?"
"Tentang?"
"Sesuai dengan kartu nama saya, kami dari majalah Billioner fobes ingin wawancara sekaligus mengambil beberapa foto Mba Renata."
Kedua alis hitam Renata terangkat tinggi. Dia yang biasanya mondar mandir dalam majalah dewasa kini diminta untuk berfoto dalam majalah versi VOBES.
"Mas yakin saya orangnya?"
"Iya, Mba Renata."
Asisten Renata membisikkan sesuatu ke telinganya. Memberitahu Renata agar tidak melayani orang ini. Bisa saja nantinya hasil wawancara mereka dengan Renata menjadi gosip baru yang ditunggu semua orang.
"Tapi maaf ya, Mas. Tujuannya apa saya bisa masuk majalah tersebut. Sampai di wawancarai segala? Mungkin jika Mas dari majalah Maxim, Playboy, or anything else saya bisa coba cari waktu yang pas. Tapi dari majalah Billioner Vobes. Di sana saya akan diwawancarai apa? Saya bukan pebinis dan saya juga bukan orang kaya dalam arti kata pendidikan. Lantas apa yang harus saya jelaskan dalam wawancara tersebut?"
"Majalah kami tidak hanya untuk pebinis, Mba. Tapi kami memilih orang-orang yang memang kompeten dalam suatu bidang."
"Begitukah?" tanya Rere tak percaya.
"Iya, Mba."
"Baiklah. Besok asisten saya akan memberitahu kamu kapan saya ada waktu luang."
"Mba Rere." bisik Asistennya tak suka.
"Ada apa, Mba Din? Bukannya kita nggak boleh menolak maksud baik orang lain. Sekalipun mungkin saja semuanya akan berakhir buruk. Karena alasannya foto seorang model Playboy terpampang nyata di majalah bisnis."
Setelah mengucapkan apa yang dia pikirkan, Renata berjalan santai meninggalkan asistennya yang masih sibuk menyimpan nomor telepon orang tersebut.
"Ternyata semua orang akan baik jika ada maunya."
***
Dalam ruang kerjanya, sebuah majalah bisnis dengan model Renata nampak bersarang dalam tempat sampah besi di samping meja kerja Leon.
Tadi pagi asisten pribadinya membawakan majalah tersebut untuknya. Memang Leon tidak pernah meminta itu. Namun karena asisten Leon melihat cover depannya adalah Renata, maka ia mengambil inisiatif untuk memberikannya pada Leon.
Sudah hampir 2 bulan berlalu setelah terakhir kali mereka bertemu di lapangan golf. Leon pikir kasus ini akan berhenti. Namun nyatanya tidak. Banyak oknum yang ingin sekali memperkeruh keadaan saat ini.
Kondisi ekonomi yang sedang tidak stabil semakin memperburuk suasana. Apalagi ketika terpampang dengan jelas bila cover tersebut mencuatkan sindiran halus untuk Leon, membuatnya semakin geram.
Sungguh jika dalam kondisi emosi seperti ini, Leon sama sekali tidak mampu bertemu dengan orang banyak. Semuanya akan tahu jika dia bukanlah orang yang kompeten menjadi seorang presiden. Karena itulah kini Leon mengunci dirinya dalam ruang kerjanya. Setidaknya dia harus bisa mengendalikan emosinya terlebih dahulu sebelum mengendalikan keadaan saat ini.
Majalah billioner tersebut dia ambil kembali dari tempat sampah. Wajah Renata menimbulkan rasa penasaran. Apa kiranya isi dari majalah tersebut?
Beberapa halaman yang ia baca, semuanya Leon yakin berbanding terbalik dengan jawaban yang Renata berikan. Mulai dari pertanyaan mengenai pekerjaan yang Renata jalani dijawab seolah-olah ada bayangan orang besar yang mendorong kesuksesan karirnya sampai detik ini. Padahal tidak sedikitpun Leon menyinggung mengenai karir Renata. Dua kali pertemuan mereka semuanya benar-benar profesional. Tapi kenapa banyak sekali yang ingin menciptakan kisah lain dalam hubungan yang tak pernah terjadi.
Karena itulah, Leon mulai memanfaatkan situasi ini. Jika ada banyak oknum yang ingin menjatuhkannya melalui hubungan pribadinya dengan orang lain, maka dia seharusnya bisa melanjutkannya. Bermain-main sedikit memang bukan masalah besar. Karena tujuannya bukan untuk menang. Setidaknya dia tidak ingin kalah dari orang-orang tersebut.
"Tolong jadwalkan olah raga sehat sabtu besok di tempat car free day. Undang orang-orang yang bergerak di bidang olah raga," pinta Leon dari sambungan teleponnya kepada asistennya.
"Baik, Pak. Apa kira-kira Bapak mau undang Mba Renata juga?"
"Tanpa saya undang, saya yakin dia akan datang."
***
Olah raga sehat yang diadakan pada hari sabtu ini memang berbeda dari biasanya. Karena kehadiran Presiden mereka, semua terlihat sangat bersemangat.
Gerakan senam yang dilakukan oleh instruktur berhasil diikuti oleh semua orang. Apalagi ada Leon di atas panggung tersebut, berhasil mencuri perhatian orang banyak.
Beberapa wartawan sudah standby meliput segala jenis kegiatan olah raga tersebut dari awal hingga akhir.
Apalagi tak sengaja sosok Renata terlihat bersama beberapa model di sana. Menggerakkan badan mereka mengikuti irama lagu.
Timbul kembali gosip antara keduanya. Menambah keberhasil Leon. Para wartawan yang datang ke sini semata-mata ingin memberikan informasi terupdate tentang hubungannya dengan Renata. Hingga semua masyarakat sejenak menghentikan kepenatan mereka tentang kasus ekonomi yang semakin memburuk.
Dalam hati Leon bersyukur. Setidaknya dia punya waktu untuk menyelesaikan semua masalah ekonomi dalam negara ini. Bobroknya ekonomi kerakyatan yang dipegang teguh negara ini ternyata masih belum sekuat gembar gembornya saja.
Leon tidak pernah ingin menyalahkan Presiden-Presiden sebelum ia menjabat. Karena bobroknya ekonomi yang terjadi bukan akibat dari orang-orang tersebut. Namun akibat sistem yang hadir di sekitar mereka. Sistem yang sudah mendarah daging dalam negara yang ia pimpin kini.
Lalu bagaimana jika ia ingin memperbaiki semua ini? Pertama-tama perbaiki sistemnya terlebih dahulu.
Sebagai contoh kecilnya saja, tidak mungkin seorang karyawan baru dalam sebuah perusahaan besar melakukan tindakan korupsi. Jika ia tidak mengikuti sistem yang sudah berlaku di sana. Sistem yang sudah dibangun turun menurun dari para karyawan senior yang begitu ahli memanipulasi keuangan dalam perusahaan tersebut.
Atau contoh lainnya, dalam sistem orientasi siswa baru. Siswa baru yang tidak tahu apa-apa, mendapatkan siksaan fisik dari senior mereka hanya karena alasannya sistemnya sudah berlaku seperti itu sejak dulu.
Menyeramkan bukan?
Karena itulah, Leon sangat-sangat ingin memperbaiki semua ini. Tapi semua yang ia inginkan tidak semudah itu terealisasikan. Yang jelas dia butuh waktu. Butuh kepercayaan dari semua orang. Terutama dari warga negaranya.
"Pak, beberapa wartawan ingin wawancara."
Leon mengusap keringat yang mengalir di pipinya. Inilah saatnya, bagi Leon untuk beraksi.
"Siapkan tempatnya. Saya akan berbicara sebentar dengan seseorang."
"Baik Pak."
Setelah ajudan yang menginformasikan hal tersebut pergi, Leon turun dari panggung. Tersenyum sambil menjabat tangan beberapa orang yang ia lewati.
Ada yang sibuk memfoto dirinya, bahkan Ibu-Ibu tanpa malu memeluk tubuhnya yang banjir keringat.
Ketika manik matanya sudah menangkap sosok itu, Leon memberikan instruksi kepada para pengawalnya untuk membuka blokade.
Karena ada seseorang yang harus ia ajak berbicara.
"Renata... " panggil Leon penuh arti.
"Halo Pak Presiden," sapa Rere ramah.
Mereka bersalaman kembali untuk ketiga kalinya, disusul dengan para teman Rere yang menyalami Leon.
"Saya tahu kamu pasti datang."
Renata tersenyum menyetujui kata-kata Leon. "Dan saya juga tahu Bapak mengharapkan kehadiran saya."
Selepas mengucapkan hal itu, kilatan flash dari kamera wartawan menghentikan pembicaraan mereka.
Tubuh Leon dan Renata merapat dalam perlindungan para pengawal Presiden.
"Pak Leon... Apa Mba Renata salah satu alasan adanya olah raga pagi hari ini?"
Leon tersenyum lebar. Dia melirik Renata sekilas sebelum menjawabnya.
"Kadang kita butuh alasan untuk mendapatkan apa yang kita inginkan," jawab Leon dengan arti lainnya. Padahal semua ini bukanlah mengenai hubungan lainnya dengan Renata. Tapi ia sengaja menciptakan gosip ini semakin hangat demi mengalihkan berita ekonomi negara ini sejenak.
______ continue.
Hayo... masih ada yang kepo kah?
Taplove jangan lupa. Biar kita sama-sama bahagia