“Dia lolos lagi, Pak Jimmy,” kata Inspektur Danu melalui sambungan teleponnya. Suaranya terdengar setengah takut, setengahnya lagi ia bersikap seolah sudah menyusun jawaban terencana.
“Sialan! Ada apa dengan kalian?! Jangan sampai saya bongkar bobroknya institusimu!” suara di seberang sana menggaung mengerikan. Siapa saja yang mendengarnya akan bergidik ketakutan.
“Tenang, tenang dulu, Pak. Kami sudah melacak kemana dia pergi sebelumnya.”
“Sebelumnya katamu? Nggak penting!! Yang penting kemana dia sekarang!!”
“Pak, dengarkan saya dulu. Anak itu pergi ke sebuah daerah yang tidak terdeteksi oleh google maps. Kami tidak tahu mengapa dia ada di sana. Tapi, yang jelas, pasti ada sesuatu di sana. Tidak mungkin anak itu bisa bertahan dua hari lamanya tanpa makanan dan minuman kalau tidak apa-apa di sana,” jelas Danu, diusapnya keringat dingin yang menguar tak terkendali. Berpuluh-puluh tahun lamanya kenal dengan Jimmy, baru kali ini sultan itu kehilangan kendali.
“Maksudmu, dia sembunyi di gudang senjata ilegal bersama para mafia? Atau ada dukun sakti yang jatuh cinta sama anak itu lalu bikin jampi-jampi biar daerah itu nggak terlihat oleh satelit, begitu?! Nggak usah menenangkan saya dengan menduga-duga tanpa ngasih bukti! Saya SULTAN di kota ini! Hampir semua tanah di kota ini saya yang punya! Saya tahu persis daerah mana yang nggak terdeteksi. Pokoknya, jangan sampai saya dengar lagi alasan yang sama. Cari dia! Kalau perlu, ancam itu keluarganya!”
Tutt..
Telepon dimatikan langsung oleh Jimmy. Danu mendengus kesal. Rasanya, usaha mencari wanita itu sia-sia belaka.
“Pak, saya sudah mendeteksi melalui laptopnya. Sepertinya wanita itu mau pindah ke Inggris,” ucap Indra sambil menunjukkan temuannya.
“Nggak penting itu!” teriak Danu. Kekesalan sekian detik lalu ia lampiaskan pada bawahannya.
“Cari kemana dia pergi sekarang! Bukan malah cari sebaliknya!”
“B-baik, Pak.”
***
“Serius Anda menuduh anak saya yang bukan-bukan?” tanya Helena kepada salah satu polisi yang menduga Kelvin menyembunyikan Jihan.
“Kami tidak menuduh, kami hanya menginterogasinya saja.”
“Lalu tadi apa? Pakai menuding pistol anak saya segala?!”
Polisi itu tidak menjawabnya. Ia tahu perbuatannya berlebihan. Tapi ia pun memikul tekanan hebat dari inspekturnya.
“Kalau sampai anak saya diinterogasi dengan cara seperti itu, saya nggak segan-segan membuat laporan! Saya kenal semua pengacara kondang di negeri ini.”
“B-baik, Bu. Saya permisi dulu.”
Tidak ada jawaban dari Helena. Untuk kali pertama, dia dibuat emosi oleh kelakuan polisi yang dianggapnya kurang ajar.
Begitu rombongan polisi pergi, Helena segera mendekati anak semata wayangnya,
“Are you okay, Son?” tanya Helena sembari mengelus-elus bekas moncong pistol di pelipisnya.
“Aku nggak apa-apa, kok, Ma. Aku cuma.. khawatir aja dengan keadaan Jihan.”
“Mama juga khawatir sama keadaan Jihan. Oh my God.. dimana dia?” Helena menekan erat dadanya. Tidak tega membayangkan nasib Jihan yang terlunta-lunta.
“Vin.. Mama yakin pasti ada alasan di balik keras kepalanya Jimmy ingin menikahkan anaknya dengan Jihan, dan kita nggak akan pernah tahu alasannya sebelum Jihan ketemu. Tapi, kamu jangan ambil keputusan sendiri kalo mau cari dia. Tunggu sampai suasana mereda. Sekarang masih panas. Ya?” kata Helena memastikan.
Sementara itu, Kelvin tidak langsung menjawab. Berat baginya untuk menganggukkan kepala. Bagaimana bisa ia tenang jika mengetahui Jihan bersembunyi di rumah lelaki lain? Ahh.. ia enggan membayangkannya.
***
Dengan menumpang taksi gelap dan membayarnya dengan ponsel satu-satunya yang ia punya, akhirnya Jihan bisa kembali ke rumah Dev. Untuk di jaman serba modern, yang sekali pencet langsung mengetahui alamat rumah seseorang, hal itu tidak berlaku untuk alamat rumah Dev. Jihan harus menunjukkan jalan pada supir itu melalui ingatannya. Meskipun tengah malam dan minim penerangan jalan, Jihan masih mengingat arah jalan dengan jelas.
Begitu sampai di rumah Dev, ia tak lantas menceritakan kejadian di bandara pada Iwan. Juga tak lantas beristirahat menuju kamar. Ia ingin bertemu dengan sang tuan rumah untuk meminta ijin menginap semalam lagi.
Ditengok lagi jam tangannya. Sudah lewat tengah malam, namun sang tuan rumah belum kembali. Kata Iwan, Dev sempat kembali sebentar ke rumah, namun pergi lagi, setelah mendapati kabar ia pergi ke bandara. Lalu, ekor matanya menancap pada ruang makan. Di meja makan itu, tudung saji dan piring-piring masih tergeletak rapi. Dev pasti belum sempat makan malam. Dan seperti biasa, ia bermain-main tebakan di pikirannya.
Tujuh puluh persen ia menebak Dev pergi ke kantor atau ada urusan mendadak. Tiga puluh persennya ia menebak Dev mengejarnya ke bandara. Namun tentu saja. ia tidak berpihak pada tebakan berpresentase kecil. Ia tidak mau terlalu pede. Lagipula, siapa dia sampai-sampai Dev mengejar-ngejar layaknya Cinta membatalkan kepergian Rangga seperti di AADC?
Jihan terkekeh sendiri di ruang tamu itu. Ia bersandar pada sofa tamu. Kantuk menggelayuti kedua matanya tanpa ampun.
***
Suara deru mesin duccati akhirnya memasuki halaman rumah. Pikirannya benar-benar carut marut setelah satu jam lamanya mengitari area bandara mencari Jihan. Ya. Setelah memergoki Inspektur Danu berjaga-jaga di pintu keberangkatan bandara, firasatnya langsung tak enak. Dan benar saja. Dari luar, ia melihat Jihan dikejar-kejar lima orang berpakaian hitam ke area parkir. Sungguh ia ingin menolongnya saat itu juga. Tapi, langkahnya terhambat oleh pagar betis polisi yang bersiaga di area pintu keberangkatan. Pada akhirnya, diputuskan untuk mengitari seluruh area bandara. Barangkali Jihan lolos dari tempat tidak terduga. Namun, begitu Iwan menelepon dan memberitahunya kalau Jihan pulang ke rumahnya, dikebut motornya hingga batas maksimal. Untuk kali pertama, Dev merasa nyawa tak lebih berarti dari rasa penasarannya memastikan keadaan Jihan.
“Mbak Jihan masih di ruang tamu, Mas,” kata Iwan, begitu melihat Dev memasuki pintu utama dengan langkah memburu.
Mendengar suara sepatu yang dihentak lumayan keras, Jihan terkesiap dari tidurnya lalu mengucek-ucek kedua matanya.
“Kamu.. baru pulang?” tanya Jihan sembari menguap dan menegakkan badannya.
Dev masih termenung di tempat yang sama. Sesuatu di dalam sana bergejolak tak terkendali mengetahui tubuh Jihan tak terluka. Ada rasa kelegaan yang luar biasa besar, dan juga kesenangan atas hadirnya wanita itu. Tanpa sadar, Dev melangkah mendekati Jihan, menyambar punggungnya lalu dipeluknya erat-erat. Jihan tak siap dengan reaksi dadakan itu.
“Kamu kemana aja? Aku khawatir banget sama kamu.”
Deg!
Masih dalam pelukan Dev, Jihan terkejut sekaligus tersentuh. Tiga puluh persen tebakannya benar. Dev mencarinya.
“Bisa nggak lepasin pelukanmu? aku nggak mau pacarmu cemburu sama aku,” kata Jihan sembari merenggangkan pelukan itu.
“Aku nggak punya pacar,” cepat Dev menjawab. Agar Jihan mempercayai ucapannya. Tapi, jawaban itu malah meninggalkan kesan yang tak diingini – Kecanggungan membaur di jarak mereka yang tak lebih dari satu jengkal.
“Kamu.. tadi mencariku?”
“Ya.. aku lihat kamu dikejar polisi. Terus aku mengitari area bandara buat mencarimu, tapi.. kamu nggak ada.”
“Serius?”
Dev manggut-manggut. Rasanya tak ada penjelasan yang lebih meyakinkan selain wajah percaya diri itu. Jihan merasa bersalah sekaligus tersentuh. Entah bagaimana menyikapi bantuan Dev, yang jelas, ia bingung dengan sifat arogan yang ditunjukkan pertama kali bertemu, dengan sifat penolongnya saat ini.
“Jangan menolongku karena hutang budi. Waktu di sirkuit itu, aku spontan aja ngasih tahu kamu,” ucapan Jihan mencairkan suasana.
“Mungkin itu sepele buatmu, tapi enggak buatku.” Begitu lekat kedua bola mata Dev pada wajah itu.
“Aku pun nggak pernah menganggap sepele hutang budi, tapi-“ Jihan kehilangan kata-kata.
“Bukan hutang budi yang kumaksud. Tapi hitunganmu diluar kepala itu…” Dev meremas kedua tangannya, “… membuatku terkesan.” Disembunyikan wajah merahnya. Untuk kali pertama, ia merasakan letupan-letupan nyaman di d**a. Dan untuk kali pertama, kejujuran lelaki itu ditantang oleh perasaan nyata.
Sementara itu, Jihan hanya termangu. Dulu, seringkali teman-teman prianya mengungkapkan perasaan padanya. Dan dari situ, ia menemukan pola yang sama dengan yang baru saja terjadi.
“Profesorku juga bisa menghitung di luar kepala,” Jihan membelokkan suasana. Ia tidak ingin terlarut dalam suasana canggung seperti ini.
“Oh ya, aku ke sini lagi mau minta ijin sama kamu untuk menginap satu atau dua malam. Boleh kan?”
“Setahun juga boleh.”
Spontan. Itu pola lain, yang ia temui dari pria-pria yang pernah menyukainya.
“Janganlah.. nanti biaya listriknya naik berkali-kali lipat, loh..” Dev meringis tak nyaman.
“Sudah dulu, ya. Oh ya, aku udah masakin kamu makan malam,” Dev mendongak tak percaya, melihat Jihan menunjuk ruang makan. Sikap acuh Jihan tadi akhirnya terobati oleh perhatian yang tak langsung.
Begitu sosok Jihan lenyap dari pandangan, Dev berlari seperti anak kecil ke ruang makan. Sepertinya, masakan ini mengijinkannya berharap lebih.