BAB 16 – DIINCAR

1328 Words
Jihan menggeleng-gelengkan kepala. “Pesawat saya jam sepuluh malam. Tolong sampaikan makasih ya ke Mas Dev,” jelas ia sedikit tak enak menyampaikan salam pada sang tuan rumah. “M-maaf, apa Mbak juga nggak nunggu dapet kerjaan dulu di Inggris baru ke sana?” hati-hati Iwan bertanya. “Seenggaknya hati saya aman kalau sudah nggak di Indonesia,” gelak tawa Jihan menggaung di ruangan besar itu. Iwan tampak berpikir-pikir. Menelaah maksud Jihan. Meskipun Dev sudah bercerita padanya mengapa Jihan menginap di rumah ini, namun Iwan masih belum memahami. Ia tidak begitu tahu seberapa kuat kekuasaan Jimmy Amarta. “Kalau Mas Dev udah berjanji mau melindungi Mbak, pasti dia akan menepati janjinya, Mbak,” lagi-lagi, Jihan dibuat terkesiap oleh sifat Dev. Pria angkuh dan playboy itu bukan pelanggar janji? Yang benar saja. Sempat ia percaya dengan Iwan, dan memutuskan untuk menetap. Namun, ia tak ingin lagi gegabah dengan keputusan tiba-tiba. Lagipula, baginya, tak ada yang lebih aman daripada bergantung dengan diri sendiri. “Saya pamit, ya, Iwan. Makasih udah membantu selama aku di sini.” Ada rasa sesal ketika Jihan sudah duduk di taksi online. Berkali-kali ia menghela nafas atas sesuatu yang menghalangi saluran pernafasannya. Rasanya, keputusan mendadak ini salah. Tak seharusnya ia pergi ke Inggris. Bukan saatnya ia pergi sekarang. Ahh.. entahlah Tiba-tiba saja lamunannya terhempas oleh sesuatu, “Astaga.. aku belum pamitan sama Kelvin,” ucapnya lirih. Diambilnya ponsel di dalam tas, lalu jempolnya cepat mengetuk nomor yang dihafalnya, “Halo, siapa ini?” suara parau Kelvin terdengar di seberang sana. “Kelvin, ini aku, Jihan..” “Jihan?! Astaga.. kamu dimana? Kamu baik-baik aja, kan disana?” Kelvin memberondonginya pertanyaan. “Iya, aku baik-baik aja, Vin. Aku lagi dalam perjalanan menuju bandara. Aku.. aku memutuskan untuk tinggal di Inggris, sambil melanjutkan kuliah di sana.” Hening. Tidak ada balasan dari Kelvin. Sepertinya, lelaki itu sedang menahan kekecewaan oleh kepergian yang terlalu mendadak. “Kamu, sendirian?” “Iya.. aku sendirian.” “Jihan, aku nggak rela kamu tinggal jauh-jauh di negeri orang. Aku.. you know, alasanku nggak mau menikah karena apa?” “Ya, aku tahu, Kelvin. Tapi, aku harus melindungi diriku sendiri. Bapakku nggak bisa diandalkan, Mas Raihan? Dia punya masalah sendiri.” “Itu sebabnya aku selalu ada di sampingmu selama ini.” Jihan menelan ludah. Tak pernah disangkanya perpisahan ini berotasi menjadi pembicaraan dari hati ke hati. “Jujur, Vin. Momen ketika bersamamu adalah saat-saat terindah di hidupku. Tapi, aku punya prinsip yang.. nggak usah aku jelaskan kamu pasti udah tahu,” suara Jihan terdengar lebih parau. Sesuatu dari d**a meruap sampai pangkal tenggorokan. Perih. “Ya, aku hargai keputusanmu. Safe flight.” Tutt.. Telepon dimatikan begitu saja oleh Kelvin. Biasanya, Kelvin bersikap seperti itu hanya untuk menghindari adu pendapat satu sama lain, yang tak akan pernah dimenangkan olehnya atau Kelvin. Dilihatnya wajahnya melalui kaca spion tengah. Ujung hidungnya memerah, menahan segala kepahitan, penyesalan, iba yang bergumul jadi satu. Ia tak pernah menyangka, akan sesulit ini merawat cinta pada seseorang yang telah memberikan segalanya. Benar ia mencintai Kelvin. Tapi, itu dulu. Namun sekarang, mereka bukan lagi anak kuliahan yang sedang mencari jati diri dan terombang-ambil oleh mood-nya sang kekasih. Ia telah dewasa menyikapi itu semua. Dan, ia tak ingin lagi terperangkap satu rasa menyesatkan – yang bernama cinta. *** Dev mengernyit kala mendapati Iwan berdiri kaku di ambang pintu utama. Di tangan kanannya, sebuket bunga mawar yang rencananya akan diberikan Jihan membuat air muka Iwan semakin bersalah, “Ada klien yang ke sini?” tanya Dev sambil melepas jaket kulitnya. “Enggak, Mas. Mbak Jihan pergi lebih awal. Maaf saya nggak bisa menahannya. Mbak Jihan bersikeras mau pergi malam ini juga.” Dev melongo tak percaya, persis seperti melihat papan skor di atas tribun, dimana ia harus puas menjadi runner-up dengan kemenangan setipis nol koma sekian detik. “Kapan dia perginya?” suara Dev bergemetar, begitu pun juga dengan tangannya. “Sekitar 10 menit yang lalu.” “Syukurlah.. masih cukup waktunya untuk mengejar dia.” Bergegas Dev mengenakan jaket dan helmnya kembali. Motor duccati ia lajukan dengan kecepatan melebihi batas. Untuk kali pertama, ia merasa takut kehilangan yang bukan miliknya. *** Taksi yang ia tumpangi melesat menjauhi pintu keberangkatan. Sambil menyeret koper, bergegas Jihan mengeluarkan tiket pesawatnya untuk diperiksa petugas bandara. “Silahkan masuk, Bu,” kata petugas bandara sesaat setelah memerika surat kelengkapannya. Malam ini, tidak banyak yang mengantre untuk check-in bagasi. Jadi, Jihan bisa lebih tenang karena tinggal setengah jam lagi pesawatnya akan terbang. Sambil mengantre, ia melihat-lihat sekeliling pada orang-orang yang hendak bepergian dengan tujuan yang sama. Namun, tiba-tiba saja, pandangannya teralihkan oleh beberapa orang berpakaian serba hitam sedang berjaga-jaga di setiap sudut pintu keluar. Jelas mereka bukan petugas bandara, ataupun petugas wrapping. Juga, tak ada tanda-tanda pejabat penting berpergian yang memerlukan penjagaan ketat seperti ini. Firasat Jihan mulai tak enak. Tiba-tiba saja, jantungnya berdegup kencang. “Bu, silahkan maju,” suara petugas check-in mengejutkannya. Ragu-ragu ia melangkah maju, tatapannya hanya terpaku pada petugas berseragam hitam yang mulai mendekat ke arahnya. Membuat jantungnya semakin berdegup hebat. Dan benar saja, salah satu diantara mereka membisiki pada rekannya dan menuding tepat ke arahnya. Firasatnya benar. Ia sedang diincar! Tanpa pikir panjang, Jihan melepas koper di genggamannya lalu berlari sekencang-kencang menuju pintu keluar. “Sisi utara jangan sampai tembus! Cepat kejar dia!” seruan salah satu diantara mereka membuat Jihan memacu kakinya lebih kencang. Semua orang di bandara kebingungan dengan apa yang terjadi, begitu pun juga dengan petugas bandara. Mereka memilih tidak ikut campur dengan aksi kejar-kejaran. Tidak tahu apakah mereka polisi yang mengejar penjahat, atau sebaliknya. Sambil terengah-engah, Jihan memutuskan bersembunyi di sela-sela motor yang terparkir. Ia merunduk sedalam-dalamnya. Kedua matanya awas melihat sekitarnya, takut kalau-kalau mereka memergokinya dari berbagai sisi. Masih dengan nafasnya yang tak karuan, Jihan menarik ponsel dari saku celana untuk menelepon Kelvin lagi, “Halo, Kelvin.. aku dikejar sama orang nggak dikenal. Bisa nggak kamu ke sini? Ke bandara?” “Apa?!! Oke aku segera ke sana-“ Tutt.. Telepon langsung dimatikan Jihan, kala ia mendapati gerak-gerik seseorang di sisi kanan tempat parkir. Seseorang itu menoleh ke segala arah, mencari gerak tubuh yang mencurigakan. Dengan memicingkan pandangan ke segala arah, laki-laki itu berjalan mendekati tempat persembunyian Jihan. Gerakan mengendap-endap itu membuat Jihan hampir hilang akal. Tapi, ia tak mau menyerah sampai di sini. Ekor matanya memicing ke segala arah, mencari jalan keluar. Dan benar saja, jalan keluar ada di belakang, di seberang tempat parkir. Laki-laki yang masih berdiri di antara motor-motor itu sepertinya kesulitan menemukan dirinya. Bergegas, Jihan berjalan merunduk dan mendorong motor di depannya. Dan seketika itu, deretan motor terjatuh oleh dorongannya. Tubuh lelaki itu pun ikut terjatuh, terhimpit puluhan motor. Mendapati laki-laki itu tak bisa berkutik lagi, Jihan memacu kakinya berlari kencang menuju pintu keluar, “k*****t kau! Anj***” Telinga Jihan tak lagi menangkap sumpah serapah itu, setelah ia berhasil keluar dari Kawasan bandara. Ia membuang nafas kelegaan dalam-dalam, sambil memegangi lututnya. Diambilnya ponsel lagi dari saku celana, meminta Kelvin menjemputnya, “Halo Kelvin, aku udah di..” “Jihan, aku nggak bisa ke sana. Ada belasan orang berpakaian hitam di depan rumahku. Aku nggak tahu mereka siapa, tapi aku yakin mereka bakalan mencegahku ke sana.” Bergetar suara Kelvin. Membuat hati Jihan mencelos seketika. Tak bisa membayangkan jika mereka menusukkan ujung pisau di leher Kelvin, dan mengancam Jihan untuk menyerahkan diri. “Kamu cari tempat perlindungan lain! Kalau keadaan udah aman aku telpon kamu,” pinta Kelvin setengah berbisik. Sementara itu, suara ketukan pintu rumah Kelvin terdengar menggedor-gedor jantung Jihan. Ia benar-benar tidak tega! “Aku nggak bisa pake nomor yang sama terus, Vin. Mereka pasti bakalan melacakku lewat nomor telepon. Begini aja, aku kembali ke rumah Dev sekarang. Aku minta tolong sama dia buat melindungi kamu.” “Jihan.. no-“ Tutt.. Seketika Jihan ambruk ke tanah. Digigit telunjuknya keras-keras, agar bisa menghapus bayangan keadaan Kelvin di sana. Tak terasa, air matanya merembes tanpa rencana. Perih hatinya membayangkan Kelvin yang selalu ada harus menanggung konsekuensi atas perbuatannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD