BAB 15 – MENGURUNGKAN NIAT BALAS DENDAM

1474 Words
“Oalahh, iya juga ya.. kan Pak Dev udah lama menjomblo, sekalinya dapet gebetan baru jadi nggak fokus,” timpal Pak Randu. “Mana ada? Enggak kok,” Dev berkilah. “Tapi kok pipinya merah gitu, Pak?” tanya Bu Ani, yang sedari tadi memperhatikan perubahan wajah bosnya. “Ihirr.. ehem- ehemm.. kapan nih gebetannya dibawa ke kantor?” Pak Omni menjawil lengan Dev. “Model atau artis yang ini, Pak?” Pak Randu tak ingin ketinggalan. “Bukan, bukan dua-duanya, kok.” “Ohh, berarti bener, ya? Ada gebetan baru?” “Enggak.. saya nggak..” tak pernah Dev berada di situasi sememalukan ini sebelumnya. Secantik apapun mantan-mantan pacarnya, tak pernah ada yang membuatnya tak fokus lalu dipergoki oleh karyawan-karyawannya dengan cara memalukan. Bergegas ia mengalihkan perhatiannya pada jam tangan, “Sudah jam makan siang. Rapat kita lanjutkan jam dua siang. Sampai ketemu.” *** “Hahahaha.. jadi, mereka meledekmu karena ketahuan melamun di rapat?” seru Jati sesaat setelah Dev menceritakan kejadian memalukan tadi siang. “Aneh, saya nggak pernah begitu sebelum-sebelumnya, Pak. Bahkan sama pacar pertamaku pun saya nggak pernah begitu,” ungkap Dev sembari menopang kepalanya dengan kedua tangan. “Mungkin dia jodohmu, Le.” “Jodoh?” Dev menggeleng-geleng sambil tersenyum tersipu. Dalam hati ia berharap, perkataan Bapak benar jadi nyata, namun, tentu saja itu hal mustahil, “Nggak.. nggak mungkin, Pak. Dia nggak suka cowok playboy seperti saya.” “Astaga.. Bapak nggak salah denger nih? Baru kali ini lho Bapak melihat kamu pesimis mendapatkan hati cewek. Biasanya kan langsung main tebas aja.” “Mereka datang dengan sendirinya, Pak. Saya nggak perlu berusaha keras mendapatkan mereka. Sementara dia… Ahh.. susah dijelasin. Saya benar-benar nggak tahu kenapa jadi begini? Saya benar-benar tersiksa,” Dev kembali memegangi kepalanya. Baru kali ini ia merasakan masalah perasaan jadi serumit ini. Sementara itu raut wajah riang Jati tiba-tiba pudar, oleh sekelumit kemungkinan mengapa wanita itu berbeda, “Atau mungkin, perasaanmu berbeda karena wanita itu menghambat rencana balas dendammu?” Deg! Dev terpegun oleh pertanyaan Jati. Ditelisiknya sesuatu di dalam sana – benarkah terkaan Bapak itu benar? benarkah ia masih memikul dendam seumur hidupnya? “Memangnya kenapa, Pak?” balas Dev berusaha tegar. “Kemarin Bapak denger dari Pak Wendy, kalau Jimmy menambah hutang lagi di bank setelah rencana pertamamu bulan lalu dijalankan.” “Apa?!” pikiran Dev langsung tersentak, “Sudah saya suruh Pak Wendy untuk membatalkan bisnis itu. Kenapa dia masih berhutang lagi? Untuk apa? Gali lubang atau untuk buka bisnis baru?” “Bapak juga ndak tahu, Le. Tapi, sepertinya, rencanamu itu baru berdampak sekarang. Kalau tidak segera kamu urus, kemungkinan besar Jimmy benar-benar jatuh miskin.” Dev menelan ludah mendengar fakta itu. Bulan lalu, sebelum bertemu Jihan, ia sungguh tak sabar bermain-main dengan keuangan perusahaan milik Jimmy Amarta. Rencana yang telah disusunnya selama sepuluh tahun baru terlaksana bulan lalu. Ia mengirim Pak Wendy, perencana bisnis paling brilian yang pernah ia kenal, ke perusahaan Amarta. Tujuannya untuk menawarkan bisnis yang memiliki prospek tinggi di masa depan. Bisnis itu adalah bisnis pembuatan produk amenities hotel yang pasti akan dilirik oleh pengusaha-pengusaha hotel di seluruh Indonesia, termasuk Anchor Hotels. Rencana Dev tak sampai di situ saja. Jimmy pasti membutuhkan banyak investor untuk mendirikan pabrik dan juga biaya marketing besar-besaran. Bertahun-tahun, ia membujuk para investor yang menjanjikan untuk tidak bekerja sama dengan Jimmy. Bukan dengan alasan subyektifnya, tapi lebih karena fakta. Jimmy mantan bandar narkoba. Dulu, ia gunakan untung dari penjualan barang haram itu untuk mendirikan gurita bisnis yang membuatnya mendapatkan julukan sultan Amarta. Jadi, sangat riskan bagi para investor untuk bekerjasama dengan seseorang yang punya rekam jejak yang gelap. Rencana selanjutnya, Jimmy tak ada pilihan lain selain berhutang ke bank. Dengan berhutang ke bank, mau tak mau bisnis amenities hotel harus laku di pasar nasional maupun global, agar bisa membayar hutang maupun bunganya. Dan di situlah Dev akan menjegal Jimmy. Dev akan menolak mentah-mentah bekerja sama dengan Jimmy. Ia tak akan menggunakan produk amenities milik Jimmy untuk dipasang di hotel-hotelnya. Dev punya ratusan hotel di Indonesia. Sekali perusahaan amenities besar ditolaknya, maka cepat atau lambat, perusahaan itu akan ambruk. Dan bahkan, akan mempengaruhi perusahaan induk milik Jimmy. Ia sudah betul-betul menghitungnya begitu detail, setelah rencana itu selesai, tak butuh waktu sebulan Jimmy jatuh miskin. “Le, sepertinya, memang Jimmy sudah tergiur oleh rancangan bisnis Pak Wendy.” Suara Jati memecah lamunan Dev. “Pak Wendy bukan perancang bisnis sembarangan. Persuasif skill-nya mampu membius pebisnis manapun,” Jati menambahkan. Dev manggut-mangut tanda setuju. Diteguknya sisa kopi hitam di samping tempat duduknya, lalu tangannya menyambar helm. Informasi dari bapak sambungnya membuatnya terburu. Tak sabar mengetahuinya langsung dari mulut Pak Wendy. “Saya harus pulang sekarang, Pak. Saya bereskan segera masalah ini.” Bergegas Dev berpamitan pada Jati. Jati yang melihat Dev pergi menatapnya keheranan. Selama ia hidup bersama anak itu, Dev selalu berujar ingin segera melihat Jimmy jatuh miskin. Ia juga selalu mematangkan rencananya yang mentah, agar tidak ada celah bagi Jimmy membalas balik perbuatannya. Bahkan, Dev punya ruangan khusus untuk dirinya menyusun rencana itu. Di ruangan itu, hanya ada rak-rak berisi tumpukan kertas-kertas, yang isinya beberapa skenario untuk menjatuhkan Sultan Amarta. Ya. Seniat itu dia melaksanakan titah dendam kesumatnya. Tapi, sejak wanita itu hadir, Dev berubah total. Dendam yang dipikulnya selama bertahun-tahun seolah terkikis begitu saja oleh perasaan yang tak ia mengerti sama sekali. Jati tersenyum simpul, baru kali ini ia melihat dendam menahun terenggut oleh api cinta yang menyala baru sepersekian detik. Ya. Dev benar-benar terjatuh pada wanita itu. Tapi, apakah cinta itu akan membebaskan tubuhnya dari dendam itu? Jati tidak tahu. Ia berharap, anak sambungnya tidak melanggar batas wajar. *** Jihan menyandarkan bahunya ke kursi dan bernafas lega. Seharian ia habiskan untuk melamar pekerjaan di rumah sakit di kota Manchester dan London. Ratusan lamaran sudah ia kirim melalui email. Tinggal menunggu balasan dari mereka. Dan, begitu mendapatkan pertanda akan diterima, baru ia mendaftar ke Universitas di kota itu. Seperti saat ia kuliah di Universitas Indonesia, ataupun Harvard, menyusun rencana masa depan sudah menjadi kebiasaannya. Ia sempat kehilangan arah kala memutuskan kembali ke Indonesia, hanya demi perjodohan itu. Namun kali ini, ia tak mau jatuh di lubang yang sama. Ia tahu apa yang membuatnya bahagia – memilih jalan hidupnya sendiri. Ketercenungannya tiba-tiba dikagetkan oleh suara ketukan pintu dari luar. Bergegas Jihan membukanya, “Mbak, ini kopernya kurang besar nggak?” tanya Iwan. Tadi pagi, ia meminta Iwan untuk mencari koper bekas di gudang rumah. Barangkali lelaki itu masih menyimpannya. “Oh, cukup, kok,” balas Jihan sembari merunduk membolak-balik kopernya, barangkali ada zip yang lepas, “Ini baru, ya?” tanya Jihan, menyadari bau khas barang baru keluaran toko. “Iya, Mbak. Di gudang nggak ada koper segede yang Mbak maksud. Saya hubungi lah Mas Dev dan kata beliau beli aja buat Mbak.” “Wahh.. kok jadi repot begini? Berapa harga kopernya? Biar saya tuker.” “Nggak usah, Mbak. Mas Dev memang orangnya begitu. Baik banget. Suka bantu-bantu orang, nyekolahin semua asisten rumah tangga di sini juga.” Jihan terpegun. Kedua matanya berlari kesana-kemari, menautkan sifat playboy dan sifat dermawannya. Sungguh bertolak belakang. Tapi, ia mendapati fakta itu dari mulut orang lain. “Permisi dulu, ya, Mbak.. saya mau menyiapkan makan malam dulu,” Iwan berpamitan. “Eh, tunggu dulu, boleh nggak saya aja yang masak? Itung-itung buat tanda terimakasih ke Mas Dev,” pinta Jihan dengan nada kesungguhan. “Ehm, ya boleh-boleh aja sih, Mbak.” Jihan langsung turun ke lantai dasar, mengurungkan niatnya mengepaki barang-barangnya. Lagipula, pesawatnya terbang jam sebelas malam. Ia masih punya waktu panjang. Satu setengah jam kemudian, Jihan telah selesai menghidangkan ikan nila bakar, ayam kecap, sup brokoli, sambal mentah dan sambal teri, tahu dan tempe goreng. Lalapan sudah ia tata serapi mungkin. Kulit tomat ia hias seperti bunga mawar, begitu pun juga dengan timun yang dipotong zigzag. Ia selalu totalitas melakukan segala sesuatu, apalagi untuk orang yang telah banyak membantunya. Sesaat kemudian, Jihan naik ke lantai atas lagi untuk mengepaki barang-barangnya yang tak seberapa. Pakaiannya tidak banyak, sebab ia tidak sempat pulang ke rumahnya. Khawatir jika antek-antek Amarta mengintainya. Ia hanya membawa beberapa buku, laptop dan dua helai baju. Juga, tidak banyak uang yang ia pegang. Tabungan yang sudah ia ambil semuanya di bank hanya cukup untuk menyewa flat kecil di Inggris, makan sebulan dan menyewa sepeda. Selanjutnya, jika ia belum juga mendapatkan pekerjaan, ia tak tahu harus pergi kemana lagi, atau meminjam uang kepada siapa lagi. Restoran Raihan dan Olive bangkrut. Ia juga tidak mau meminta tolong pada Kelvin. Lelaki itu sedang menghemat untuk membangun rumah sakitnya sendiri. Bapaknya? Ahh.. ia baru bertemu satu kali setelah sekian puluh tahun lamanya tak pernah saling sapa. Ia tidak tahu bagaimana cara bapaknya menyambung hidup selama ini. “Loh? Mbak Jihan mau pergi sekarang? Nggak nunggu Mas Dev pulang?” tanya Iwan, begitu melihat Jihan menyeret koper dan telah mengenakan jaket.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD