Seketika bayangan yang tadinya buram menjadi jelas. Dalam sekejap, otak Erika menggambarkan kemungkinan-kemungkinan kronologi bagaimana Jihan menghilang. Kemungkinan pertama – Dev membawa Jihan pergi untuk dijadikan pacar baru. kemungkinan kedua – Jihan meminta Dev untuk membawanya kabur.
Erika telah mengenal lama Dev. Dulu, ia pernah menangani kasus peniruan produk perusahaan tempatnya bekerja. Ia pun baru tahu kalau Dev lah pemilik perusahan Anchors Hotel Group. Lelaki itu pernah membuat perjanjian hitam di atas putih dengannya untuk tidak membocorkan identitas sebagai pemilik perusahaan. Entah apa alasannya, yang jelas, Erika tak begitu mempedulikannya saat itu. Ia terlalu sibuk memikirkan kasus-kasus setelah kasus Dev tertangani dengan sukses.
“Erika.. makasih ya udah datang ke sini, aku ke depan dulu, mau mastiin venue-nya udah ready,” Mariska berpamitan.
Dan begitu Mariska keluar dari ruang make-up, ia menelepon salah satu asistennya,
“Farhan, cari tahu alamat Dev Prakasa, segera.”
***
Sudah semalaman Dirga menunggui Irene terbaring lemas di villa miliknya. Sedetik pun tak ia tinggalkan wanita itu, takut kalau-kalau ia terbangun dan butuh sesuatu. Ia masih tak menyangka, hari yang membosankan ini malah menjadi luar biasa baginya. Karena ia telah menyelamatkan satu nyawa. Secara langsung.
Sebagai seorang psikolog, ia sudah menyelamatkan ribuan pasien depresi. Banyak diantara mereka yang hampir bunuh diri. Dia termasuk psikolog paling telaten dan sukses di kotanya. Setiap malam selalu belajar hal baru dengan satu tujuan – agar presentase orang depresi di negeri ini berkurang. Berkat kegigihannya itu, dia kerap diundang di konferensi internasional sebagai pengisi acara yang berkaitan dengan kesehatan mental.
Menyenangkan baginya bisa menyelamatkan ribuan nyawa di luar sana. Namun sekarang, kesenangan itu berubah menjadi tanda tanya. Ia bisa menyelamatkan nyawa orang-orang hanya dengan kata-katanya. Namun, wanita itu, sungguh, ia tak menyangka, akan ada hari, dimana ia menyadari, bahwa memberikan motivasi pada pengidap depresi saja tak akan cukup. Dan orang-orang seperti Irene lah yang luput dari penglihatannya selama ini.
Tiba-tiba saja, Dirga terkesiap melihat Irene menggeliat. Pelan-pelan, Irene membuka kedua mata. Sebelum menangkap sosok Dirga, ia melihat sekeliling ruangan. Rasanya ia tidak sedang berada di villa-nya Thariq,
“Gimana tidurnya? Nyenyak?” Irene dikejutkan oleh suara Dirga. Ia mengernyit keheranan, bagaimana bisa ada di sini? Dan bersama lelaki yang baru dikenalnya? Pelan-pelan, ingatannya yang memburam kian jelas, kala mendengar debur ombak dari jendela.
“Kok aku bisa di sini?” tanya Irene lirih. Ia menyipitkan matanya sedikit. Lampu di kamar ini terlalu terang untuk dirinya yang baru saja mimpi dalam gelap.
“Tadi kamu gemeteran. Terus pingsan.”
Irene menggerakkan bola matanya ke kiri, mengingat-ingat kejadian terakhir. Lalu kedua matanya membola, serpihan-serpihan ingatan itu berpadu menjadi satu kejadian.
“Astaga!” Irene menepuk jidatnya, lalu beranjak dari ranjang dan memegangi kedua tangan lelaki itu, “Makasihhh.. makasiihhhh banget ya udah nyelametin aku. Aku nggak tahu tadi sore itu kerasukan jin jenis apa, bisa-bisanya aku lupa sama anak-anakku. Huhh.!” Nafas Irene melenguh panjang. Kecewa merambat dari ucapan kemudian hatinya yang paling terdalam.
“Nggak apa-apa ehm…” Dirga baru menyadari ia belum menanyakan nama wanita itu, “Siapa namamu?”
“Irene.”’
“Irene,” Dirga berhenti sejenak. Ada rasa canggung yang berasal dari tatap mata mereka yang enggan lepas, “Nggak apa-apa, kok. Firasatku udah nggak enak waktu liat kamu jalan ke tengah laut.”
“Kamu tahu aku mau bunuh diri?”
“Iya, karena kerjaanku sering nyelametin orang-orang yang mau bunuh diri jadi intuisiku nggak pernah meleset.”
“Ha? Emang ada ya kerjaan kayak gitu?” kepolosan Irene membuat Dirga tersenyum tipis.
“Aku psikolog.”
“Ohh..” Irene langsung mengangguk mengerti.
Hening sejenak. Kesenyapan yang terasa lama itu menegangkan benda-benda di sekitarnya. Dirga memang orang yang kaku. Sementara Irene, kalau ada lomba orang paling introvert sedunia, mungkin dialah pemenangnya.
“Kamu-“ serentak mereka mengucap kata yang sama. Lalu keduanya tergelak bersama.
“Kamu duluan aja, mau ngomong apa?” dalam wajahnya yang memerah, Dirga mempersilahkan Irene.
“Ehm.. apa ya tadi? Duhh.. jadi lupa, kan?” Dirga lagi-lagi dibuat tersenyum dengan kepolosan ibu muda satu itu.
“Yaudah aku aja kalo gitu,” Dirga menyela, “Emang seberat apa sih masalahmu sampe mau bunuh diri?”
Bahu Irene kembali menegang. Persis di depannya, lelaki ini seorang psikolog. Namun, di dalam tubuhnya, ada sifat introvert akut. Sekalipun ia seorang psikolog, tapi sifatnya ini membentengi dirinya dari keterbukaan.
“Masalah satu ini agak memalukan. Bukannya aku nggak mau cerita. Cuma aku ngerasa malu aja.”
Dirga tercenung sejenak. Mungkin terlalu cepat baginya menanyakan masalah personal wanita itu. Sejenak ia merasa dirinya pun aneh. Ia seringkali membiarkan pasiennya bercerita sendiri. Baru kali ini ia bertanya. Tapi mengapa? Dan untuk apa?
***
Jajaran direksi Anchor Hotels sedang fokus menyimak presentasi Pak Alan, Accounting Director yang telah bekerja sejak perusahaan ini berdiri. Tak lupa laptop dan buku catatan selalu siap sedia, untuk mencatat poin-poin penting dalam presentasi ini. Kecuali Dev. Ia yang berperan penting dalam menyimpulkan presentasi malah menghabiskan sejam lamanya melamuni Jihan. Biasanya, setiap menit, ia menyela program-program jajaran direksinya yang dirasa kurang detail atau tidak service oriented. Tapi kali ini, tidak ada selaan dari sang CEO, membuat Pak Alan dan jajaran direksinya merasa heran,
“Bagaimana, Pak Dev?” kata Pak Alan dengan nada dibuat setinggi mungkin, tapi tetap saja, tak ada sahutan dari CEO itu.
“Ehm, Pak?! Pak Alan berdehem. Untungnya, suara itu mampu menghapus bayang-bayang Jihan yang terpaut di layar proyektor di depannya.
“Y-ya.. maaf, apa tadi?” tanya Dev gelagapan. Ia bertingkah seperti maling yang terpergok. Gagap dan gugup. Semua orang yang di ruangan itu saling toleh kanan dan kiri. Keheranan oleh tingkah tak biasa sang bos.
“Bagaimana dengan rencana kami? Pengalihan dana pada Anchor Residence, untuk kemudian dialihkan menambah fasilitas baru di Anchor Boutique di Makassar,” Pak Alan menjelaskan setengah kesal. Baru kali ini ia dicueki bosnya sendiri.
“Oh.. saya rasa perlu pertimbangan dari departemen lain dan juga investor-investor kita.” Dev mulai duduk tegak.
“Sudah dijelaskan Pak Alan sebelumnya, Pak. Departemen lain setuju, investor kita juga bilang ini ide brilian,” Reyno berbisik di belakangnya.
Dev termangu. Lamunan tadi benar-benar membuat dirinya terlihat bodoh.
“Maaf, Pak Dev. Sepertinya akhir-akhir ini Bapak tidak fokus. Kalau ada masalah, Bapak bisa cuti sebentar, liburan keluar negeri atau konsul ke psikolog,” saran Pak Haryono, Marketing Director-nya. Dan tak disangkanya, saran itu disambut anggukan semua jajaran direksi.
“Ehm.. kayaknya nggak perlu cuti deh, Pak Har,” kilah Pak Omni, Product Manager gemuk yang terkenal karena sikap ceplas-ceplosnya.
“Memangnya kenapa?” tanya Pak Haryono.
“Kayaknya bos kita ini lagi kesengsem sama gebetan baru,” ucapan Pak Omni seketika membuat pipi Dev memerah. Lagi-lagi, ia dilucuti dengan cara memalukan.