01 Accident

2394 Words
Belinda tidak pernah tau ujian seperti apa yang sedang Tuhan datangkan. Ini seperti mimpi buruk, semua terjadi begitu saja, sangat cepat dan begitu tiba-tiba. Perasaan gamang dan gelisah membawanya terombang-ambing mengarungi kenyataan pahit. Sekujur tubuhnya lemas seakan tak bertulang, saat mendapat kabar kecelakaan parah yang menimpa kedua orangtuanya. Belinda tidak tau pasti apa yang terjadi pada dirinya, sebab telinganya berdengung ketika Thomas membawa raga lemahnya pergi menuju Rumah Sakit. Hingga tangisan pilu itu pecah saat ia mengetahui kondisi Exel dan Sandra yang jauh dari kata baik-baik saja. "Apa yang sebenarnya terjadi?" Belinda mencengkram kasar kemeja Thomas, menyalurkan segala rasa yang menyerbu hatinya. Thomas menarik nafas dalam-dalam, hatinya pun sedang tidak baik-baik saja. Ia menarik tubuh Belinda, merengkuhnya kuat ke dalam dekapannya. "Aku tidak tau." Kedua matanya terpejam saat mendengar isakan pilu yang tak kunjung surut dan justru kian menjadi-jadi. Tenang, oke? Semua akan baik-baik saja." Thomas berupaya menenangkan, meski hatinya gundah gulana. Thomas menggiring tubuh lemah Belinda, mendudukkannya di kursi tunggu. Ia juga butuh menenangkan dirinya sendiri. Bukan hanya mental Belinda saja yang terguncang, Thomas pun demikian. Di dalam ruangan sana ada dua orang yang sangat ia kasihi, tengah berjuang diantara hidup dan mati. Robert dan Shara juga menjadi korban kejadian naas tersebut. Tubuh keduanya yang sudah menua membuat Thomas dilanda rasa cemas berlebih. Thomas dan Belinda langsung berdiri begitu melihat Martin keluar dari ruangan IGD. "Bagaimana keadaan mereka?" Thomas langsung menyeret langkahnya mendekat pada Martin. Begitupun dengan Belinda, ia tidak memperdulikan penampilannya yang terlihat kacau balau. Martin menatap Thomas dan Belinda dengan raut sulit. Kondisi korban sangat buruk dan hal itu membuatnya kesulitan untuk mengungkapkan hal yang sebenarnya. "Ada apa, Paman? Kenapa kau hanya diam?" Belinda mencengkram erat lengan Thomas melampiaskan rasa frustasi yang terus mendesaknya. "Katakan!" Tuntut Thomas tak lagi bersabar. Tatapannya berubah dingin sebab Martin hanya membuang waktu secara percuma. Martin menyentak nafas kasar, memindai wajah Thomas dan Belinda yang terlihat sangat kalut. "Keadaan mereka sangat buruk." Kalimat itu sukses membuat jiwa Belinda seakan ditarik paksa dari raganya. "Apa maksudmu buruk?" Belinda menggeleng lemah, "Kau pasti salah. Ini tidak benar." Gumamnya putus asa. Thomas reflek menyanggah tubuh Belinda yang hampir saja terjatuh. Ia menatap wajah Belinda yang sudah dibanjiri air mata. "Kita harus mendengar Martin menjelaskan semuanya, oke?" Sebisa mungkin, Thomas menunjukkan raut tenang meski jantungnya nyaris saja meledak sangking kuat debarannya. Belinda menatap Thomas pias, bagaimana mungkin ia bisa tenang sementara Martin menegaskan kondisi kedua orangtuanya buruk. Perhatian Thomas kembali tertuju pada Martin. "Jelaskan." "Begini," Martin menghela nafas. "Nyonya Shara dan Tuan Robert harus menjalani operasi. Ada pendarahan di kepala serta beberapa tulang yang patah." Thomas menahan nafas. Tubuhnya menegang dengan wajah bertambah pucat. Tiba-tiba saja, bayangan setiap momen kebersamaan dirinya dengan Robert dan Shara menari-nari, menggebrak isi kepalanya. Nafas Belinda seakan terhenti di kerongkongan. Ia menoleh, meneliti raut tegang serta tatapan kosong yang terpantul jelas dari kedua bola mata Thomas. Belinda ingin menghiburnya, menyampaikan kalimat-kalimat sakti yang mampu menentramkan jiwa. Namun, Belinda tidak memiliki cukup daya sebab dirinya juga terjebak dalam situasi yang berhasil memporak porandakan hatinya. "Bagaimana dengan kondisi orangtuaku?" Belinda turut menuntut penjelasan, sebab Martin belum menjelaskan kondisi orangtuanya secara detail. Pertanyaan Belinda mengembalikan kesadaran Thomas. Ia hampir saja melupakan keberadaan Belinda. Perhatian Martin kembali mengarah pada gadis muda di depannya. "Ayahmu sudah melewati masa kritisnya. Namun kondisinya belum stabil. Dan ibumu masih dalam penanganan." "Lalu, apa yang kalian tunggu?" Thomas bertanya geram, "Cepat lakukan tindakan!" Titahnya bersamaan dengan rahang yang mengetat. Martin mengangguk, membalas tatapan Thomas. "Mereka sedang menyiapkan segala sesuatunya." Ia lalu menatap Belinda. "Ayahmu sudah bisa kau temui. Sejak tadi, dia memanggil namamu." Kini Martin kembali menatap Thomas. "Sebaiknya anda menemani Nono Belinda, Sir. Tuan Exel juga menanyakan keberadaan anda. Anda tidak perlu mengkhawatirkan apapun karena kami akan rutin memberikan informasi mengenai kondisi Nyonya Shara dan Tuan Robert." Thomas mengangguk mengerti. Tidak masalah baginya jika harus menemani Belinda menemui Exel. Lagi pula, Cecilia dan Devan sedang dalam perjalanan. Ada baiknya ia menemani Belinda yang lebih membutuhkan dukungannya. "Kami akan segera memindahkan Tuan Exel ke ruang perawatan." Setelahnya, Martin kembali memasuki ruang IGD. Belinda mengangguk. Hatinya masih saja dikerubungi rasa cemas karena belum memastikan kondisi Exel secara langsung. Setelah bayangan Martin lenyap dibalik pintu, Belinda mengarahkan tatapannya pada Thomas. "Sebaiknya kau tetap disini untuk memantau perkembangan Nyonya Shara dan Tuan Robert. Jika Papa mencarimu, aku akan memberikan alasan itu." "Tidak masalah. Lagipula, Mommy dan Daddy sedang dalam perjalanan kemari. Jadi, aku tidak masalah jika aku menemui Paman Exel lebih dulu." Kepala Belinda menunduk dalam. Sesungguhnya, saran yang ia sampaikan pada Thomas hanya alibi belakan. Pada dasarnya, ada rasa canggung yang tercipta saat ia berinteraksi dengan Thomas. Jarak yang Belinda ciptakan selama ini berhasil menimbulkan rasa asing serta tidak nyaman. Wajah Belinda terangkat saat mendengar pintu IGD kembali dibuka. Dan ketika melihat ranjang yang Exel tiduri di dorong oleh beberapa perawat, Belinda pun segera menghampirinya. Tangisan Belinda pecah begitu mengamati kondisi Exel dengan seksama. Bertepatan dengan itu, Cecilia dan Devan tiba. Cecilia menutup mulutnya yang terbuka saat melihat keadaan Exel. Wanita cantik itu tidak mampu membendung air matanya. "Ya, Tuhan..." "Tenangkan dirimu, honey." Devan dengan sigap menangkap tubuh lemah Cecilia. Meski sudah mendengar kronologis kecelakaan, tetap saja Devan tidak menyangka kondisi Exel seburuk itu. Cecilia mengarahkan tatapannya pada Thomas. "Kemana mereka akan membawanya?" Ia kembali menatap lurus ke depan. "Paman Exel akan dipindahkan ke ruang perawatan, Mom." "Keadaannya sangat memprihatinkan." Cecilia berkomentar tanpa mengalihkan tatapannya dari punggung Belinda yang terlihat bergetar. "Sebenarnya, Paman Exel mencariku." Cecilia menoleh cepat. "Lalu, apa yang kau lakukan disini?" Antara gemas dan kesal, Cecilia menepuk lengan Thomas. "Cepat susul mereka sebelum mereka masuk ke dalam lift." Thomas menatap Cecilia. Ada keraguan dari sorot matanya. "Apa tidak masalah jika aku meninggalkan kalian?" "Ada baiknya kau menemui Paman Exel. Mom rasa, ada sesuatu yang penting yang akan dia sampaikan padamu." "Tapi, Mom. Bagaimana dengan Grandpa dan Grandma?" Thomas menatap Belinda yang berdiri di samping brankar pasien. Wanita itu terlihat kacau. "Kami akan menunggunya disini. Jika terjadi sesuatu, kami akan segera menghubungimu." Cecilia mengangguk saat Thomas menatapnya. "Sebaiknya kau bergegas, Son." Devan menepuk pundak Thomas. Ragu-ragu, Thomas mengangguk. "Aku akan menyusul mereka. Jangan lupa mengabari 'ku." Setengah berlari, Thomas menyusul Belinda. Dengan nafas berantakan, Thomas menahan pintu lift yang siap menutup. "Apa yang kau lakukan?" Belinda menghapus air mata yang masih bercucuran. Thomas menatap Belinda sembari mengatur nafasnya. "Aku akan menemanimu." "Tidak perlu. Aku bisa membawanya sendiri. Lebih baik kau menunggu disana. Aku rasa Tuan Robert dan Nyonya Shara lebih membutuhkan dukunganmu." Thomas tak menjawab. Fokusnya hanya pada sosok pria yang terbaring lemah di atas ranjang. Kelopak mata pria itu bergerak-gerak. Meski sudah tidak sehebat tadi, suara isakan Belinda masih terdengar dalam ruangan putih. Matanya sembab, hidungnya memerah, seluruh wajahnya basah karena air mata. Thomas berdiri persis di belakang kursi yang Belinda duduki. Kedua tangan besarnya hinggap di atas pundak perempuan itu, sesekali memberikan usapan. Hanya itu yang mampu Thomas lakukan untuk menyalurkan kekuatan pada Belinda. "Thom, apa kau bisa berjanji pada Paman untuk selalu menjaga Belinda?" Exel terbatuk, saluran nafasnya seperti terhimpit sesuatu. Sial! Rasanya sulit sekali baginya untuk menarik nafas saja. "Pah!" Belinda menggeleng kuat-kuat. Nyeri sekali hatinya melihat cinta pertamanya dalam keadaan seperti ini. Tubuh Exel di penuhi luka yang sebagian sudah terbalut perban dan selang oksigen menyumbat hidungnya. Exel menatap Belinda sendu. Seingatnya, baru kemarin ia menimang putri kecilnya, bercengkrama dan menghabiskan waktu bersama. Detik berlalu begitu cepat, tak terasa putrinya kini sudah tumbuh menjadi gadis dengan wajah yang sangat cantik. Pria itu beralih menatap Thomas, belum ada jawaban yang memuaskan hatinya. "Apa permintaan Paman terlalu berlebihan?" Exel mengambil nafas sejenak, "Paman hanya ingin kau yang menjaga Belinda, Thom. Maaf jika permintaan Paman membuatmu terkejut." Thomas menggeleng, "Tanpa kau minta, aku pasti akan selalu menjaganya, Paman." Pria itu menjawab tegas di tengah-tengah kemelut melanda hatinya. Bagaimana mungkin ia bisa menjaga Belinda jika wanita itu bersikeras menjaga jarak darinya. Setelah Thomas mengungkapkan isi hatinya, banyak perubahan signifikan yang Belinda tunjukkan. Bukan hanya berusaha menghindar, akan tetapi Thomas merasa Belinda dengan sengaja memasang tembok setinggi langit sehingga ia kesulitan memanjatnya. Sudah beberapa kali Thomas mencoba menghidupkan komunikasi diantara mereka, bukannya mendapatkan respon yang sesuai, Belinda justru semakin menjauhinya. Sebetulnya, Thomas sempat meninggalkan Belinda dalam ruangan Exel, sebab Cecilia mengabari bahwa operasi akan berjalan. Dan, sewaktu ia sedang menunggu proses operasi berjalan, Belinda datang menghampirinya dengan wajah sembab dan mengatakan jika Exel ingin membicarakan hal yang penting dengannya. Sebenarnya, Thomas sudah menolak. Hatinya tidak tenang jika harus meninggalkan ruang tunggu operasi walau hanya sedetik saja. Namun, begitu melihat Belinda yang terlihat sangat kacau dan juga bujuk rayu Cecilia, pada akhirnya Thomas mau ikut bersama perempuan itu. "Bukan seperti itu maksud Paman." Exel menatap Thomas dan Belinda bergantian, "Paman ingin kau menikahi Belinda. Paman hanya ingin memastikan putri Paman berada di tangan pria yang tepat." Kelopak mata Thomas mengerjap berulang kali. Ia syok bukan main. Menikah? Dalam situasi seperti ini, Exel memintanya untuk menikahi Belinda? Thomas masih diam, pandangannya kini beralih pada Belinda yang terlihat terkejut ditempatnya. "Pah!" Belinda semakin terisak, wajahnya sudah di penuhi air mata. Perkataan Exel tidak bisa Belinda terima, pria itu seakan bersiap akan meninggalkannya. Jantungnya semakin bertalu-talu, ketakutannya meningkat berkali lipat. Ya Tuhan... "Paman." Thomas berdehem, "Maaf, tapi aku rasa ini bukan waktu yang tepat untuk membicarakan hal ini." Belinda mengangguk, ia juga berpikir demikian. "Lebih baik Papa fokus dengan penyembuhan Papa. Sekarang Papa istirahat, oke?" Ia menghapus air matanya. "Pah, Please." Tatapan Belinda semakin redup, apalagi ketika Exel menggeleng lemah. "Waktu Papa tidak banyak, sayang." Lirih Exel, tersenyum tipis, "Lebih baik kau panggilkan Uncle Devan dan Aunty Cecilia." Belinda menggeleng. Terpaksa ia kembali duduk di tempatnya, padahal ia hendak membenarkan selimut yang membungkus tubuh Exel. Ya Tuhan.. Belinda tidak sanggup. Ia tidak bisa melihat Exel tersiksa seperti itu. Akan tetapi, ia juga tidak bisa menerima permintaan Exel begitu saja. Semua orang tau, jika Thomas hanya menganggap dirinya adik. Sikap manis yang selama ini pria itu tunjukkan nyatanya hanya sebagai bentuk kepedulian antara seorang kakak kepada adiknya. Dulu, Belinda pernah mencintai Thomas. Perempuan mana yang tidak tersentuh hatinya jika mendapatkan perhatian serta perlakuan manis dari seorang pria? Belinda bisa merasakannya, bagaimana jantungnya berdebar saat Thomas berada di dekatnya. Sayangnya, semua rasa itu harus Belinda kubur dalam-dalam. Karena pada kenyataannya, ia mendengar langsung dari mulut pria itu sendiri bahwa perasaan Thomas padanya tidak pernah lebih dari seorang kakak pada adiknya. Sejak saat itu, sebisa mungkin Belinda menjaga jarak dari Thomas. Jika tidak ada kepentingan, ia tidak akan datang ke mansion pria itu sesering yang biasa ia lakukan sebelumnya. Belinda menelan ludahnya, ia mendongak mengamati wajah Thomas yang tampak tertekan. "Pah, Thomas sudah memiliki kekasih." Susah payah Belinda mengatakannya. Belinda tidak tau berita itu benar atau tidak, yang ia dengar Thomas memang sedang dekat dengan salah satu model terkenal. Kini Thomas memusatkan perhatiannya pada Belinda. Baru saja ia mendapatkan kabar tentang kondisi Sandra, wanita yang ikut menyaksikan tumbuh kembangnya sejak kecil itu dinyatakan lumpuh sementara. Dan sekarang, dengan kedua bola matanya sendiri ia juga melihat bagaimana buruknya kondisi Exel, pria itu baru saja melewati masa kritisnya. Entah mukjizat apa yang membuat Exel begitu kuat, bisa membuka mata hingga berbicara. Menurut informasi yang ia terima, mobil yang membawa Exel dan Sandra melindungi mobil yang membawa Robert dan Shara sehingga mobil Exel mengalami kerusakan lebih parah, ringsek total. Dan Thomas juga mendapatkan kabar, jika kaki Sandra sempat tersangkut saat evakuasi berlangsung. Posisi mobil yang hancur di bagian depan serta terbalik membuat tim evakuasi agak kesulitan mengeluarkan tubuh Sandra saat itu. Meskipun kondisi Robert dan Shara belum diketahui secara pasti. Namun, Thomas tidak bisa menyangkal pengorbanan yang telah Exel dan Sandra berikan. Thomas memejamkan mata sejenak, kepalanya berdenyut memikirkan masa depannya kelak. Menikah bukanlah perkara sepele. Sejak dulu ia ingin memiliki pondasi rumah tangga yang kuat seperti Cecilia dan Devan juga Robert dan Shara. Meskipun banyak berita miring yang menyerang keluarganya, itu sama sekali tidak menggoyahkan keutuhan rumah tangga mereka. Semakin kuat badai menerjang, justru membuat mereka semakin kuat. Melihat mereka bisa saling mencintai hingga menua bukanlah hal yang mudah. Di jaman seperti sekarang, banyak pasangan yang tidak bertahan lama dengan pernikahan mereka. Itu sebabnya, banyak yang lebih memilih tinggal bersama tanpa adanya status pernikahan. Dan saat ini, Thomas berada dalam kondisi yang mengharuskan ia harus cepat mengambil keputusan. Melihat Exel kesulitan bernafas saja membuatnya frustasi sendiri. Thomas menyentak nafas kasar. Ia merogoh saku celana, mengambil ponselnya. Dengan tangan bergetar diiringi jantung berdetak kencang, Thomas mulai mengetik pesan untuk Devan. Thomas membasahi tenggorokannya yang terasa kering, lalu menekan tombol send. Hufftt.... "Aku sudah meminta Mommy dan Daddy untuk datang." Secepat kilat Belinda menoleh, tatapan keduanya bertemu. Belinda pikir, Thomas tidak akan mengabulkan permintaan konyol Exel. Tapi, apa-apaan ini? "Apa maksudmu?" Belinda menatap tajam pria yang masih setia berdiri di sampingnya. Melihat wajah datar Thomas membuat Belinda semakin kalut. Ia tidak ingin menikah atas dasar keterpaksaan. Belinda ingin menikah dengan pria yang mencintainya, bukan dengan pria yang hanya menganggapnya adik. Benar-benar konyol. "Bel.." Exel memanggil lirih, tubuhnya lemas bukan main di tambah rasa sakit yang semakin menjadi-jadi. Ia takut tidak kuat bertahan lebih lama lagi. "Pah, aku rasa ini terlalu berlebihan. Aku bisa menjaga diriku sendiri, oke? Lagi pula, sudah aku katakan, bukan? Thomas sudah memiliki kekasih." Belinda bertahan dengan argumennya. Ia frustasi sendiri melihat Exel yang begitu gigih dengan permintaannya. "Aku tidak memiliki kekasih." Thomas menyanggah enteng dengan wajah datarnya. "Kami hanya dekat dan tidak memiliki hubungan lebih dari sekedar teman." Tambah pria itu. Exel tersenyum tipis, tanpa harus diberitahu pun ia sudah mengetahuinya. Selama ini, ia mendapat tugas khusus dari Shara untuk memantau cucu kesayangannya, termasuk mencari tahu dengan wanita seperti apa Thomas menjalin hubungan. "Ada apa ini? Bagaimana kondisimu, Ex?" Cecilia tiba-tiba saja menerobos masuk. Hatinya sudah ketar-ketir sejak membaca pesan yang Thomas kirimkan pada Devan. "Apa aku melewatkan sesuatu?" Devan mengangkat satu alisnya, terlebih saat melihat jelas wajah tegang Thomas serta wajah pias Belinda. Belinda berdiri, membiarkan Cecilia dan Devan mendekati ranjang pesakitan Exel. Ya Tuhan, ia harus bagaimana sekarang? Semoga saja kedua orang tua Thomas menolak permintaan konyol Exel. Di sisi lain, Thomas yang ikut menggeser tubuhnya masih memperhatikan Belinda dalam jarak yang cukup dekat. Bisa ia lihat, Belinda meremas kedua tangannya pertanda wanita itu sedang dilanda gelisah. Sejujurnya, Thomas hanya ingin menyerahkan segala keputusan pada Cecilia. Sebab ia yakin, apapun keputusan sang mommy adalah keputusan yang terbaik untuknya. Jika boleh ditanya, hatinya pun sama gelisah nya dengan Belinda. Keputusan Cecilia merupakan titik dimana takdir mungkin akan mulai melakukan perannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD