02 Zero Mind Process

2296 Words
Pemandangan di depan matanya membuat tubuh Cecilia lemas tak bertenaga, seolah seluruh tulang tak sanggup menyanggah bobotnya. Melihat sekujur tubuh Exel dipenuhi banyak luka seperti ini saja sudah membuatnya ngilu, apalagi jika harus dipaksakan melihat Sandra yang memang sudah ia ketahui kondisinya melalui Martin. "Bagaimana perasaanmu, Ex?" Cecilia tidak dapat menyembunyikan rasa khawatirnya. Exel hanya merespon dengan anggukan tipis. Ia harus menyimpan energinya agat bisa menyampaikan niatnya pada Devan. "Ada yang ingin kau sampaikan?" Devan bertanya serius, "Katakan saja, Ex. Jangan sungkan padaku." Sambungnya lagi dengan suara lebih tegas. Exel menghirup nafasnya susah payah. Sial! Bahkan untuk berbicara saja ia sudah kepayahan. "Sebelumnya saya minta maaf jika permintaan saya akan membebani anda, Sir." Exel menelan slavia nya lekat, "Saya ingin Belinda menikah dengan Thomas, Sir." Kalimat terakhir Exel membuat sekujur tubuh Devan membeku. Pria itu sangat terkejut mendengar permintaan Exel yang tidak disangka-sangka sebelumnya. Secepat kilat, Devan berupaya menetralkan kembali wajahnya. Hal yang sama terjadi pada Cecilia. Bahkan ia sempat menahan nafasnya ketika mendengar permintaan Exel. Hatinya dipenuhi gejolak kebimbangan. Menikahkan Thomas bukanlah hal sederhana. Cecilia harus memastikan putranya nyaman dan bahagia. Hening, baik Devan maupun Cecilia belum menanggapi apapun. Keduanya masih menunggu kelanjutan ucapan Exel. Melihat tidak adanya respon, Exel sedikit down. Meskipun harapannya tipis, Exel akan tetap berupaya. Exel tau jika putrinya sudah lama menaruh hati pada Thomas. Sebagai seorang ayah dan pria, tentu saja Exel dapat mengenali dengan baik sikap perempuan saat menyukai lawan jenisnya. Dan semua itu bisa Exel tangkap dengan jelas saat Belinda berinteraksi dengan Thomas. Selain itu, menurutnya ini adalah momen yang pas. Karena sejujurnya, Exel tidak yakin bisa bertahan lebih lama lagi. Itu sebabnya, ia merasa akan lebih tenang jika sudah menyerahkan Belinda pada pria yang menurutnya tepat. "Sebelumnya, saya mohon maaf jika permintaan saya terlalu lancang, Sir. Tetapi, mengingat kondisi saya saat ini, saya tidak punya pilihan lain selain menikahkan putri saya pada pria yang menurut saya tepat." Exel mengambil nafas sejenak, "Melihat mereka tumbuh besar bersama dan menyaksikan bagaimana Thomas menjaga Belinda selama ini, membuat saya yakin bahwa Thomas adalah pria yang paling tepat untuk menjaga Belinda, seandainya saya memang tidak bisa bertahan." "Pah!" Belinda menyentak kuat seraya menggeleng histeris. Suara tangisnya menggema dalam ruangan serba putih. Setiap kata yang keluar dari mulut Exel bagai hujaman palu yang menghantam jantungnya dengan kuat, begitu sakit dan menyesakkan. Exel hanya mampu menggeleng lemah. Seandainya bisa, Exel pun berharap diberi kesempatan hidup lebih lama agar bisa menyaksikan kedua putrinya menemukan lelaki yang mereka cintai. Tapi, apa daya jika memang Tuhan sudah berkehendak. Sebagai seorang wanita yang dikaruniai perasaan lembut, Cecilia pun tidak dapat membendung kesedihannya. Ia mendekat ke arah Belinda, mengusap kepala wanita muda yang kini sudah berada dalam dekapan Thomas. Mendengar tangisan pilu Belinda saja mampu membuat hatinya ikut hancur. Lain halnya dengan Devan masih diam dan belum memberikan respon apapun. Sebagai seorang ayah, Devan membenarkan semua ucapan Exel dan tidak menutup kemungkinan akan melakukan hal yang serupa. Ketika melihat putranya yang sama sekali tidak terganggu dengan permintaan Exel membuat Devan menarik kesimpulan bahwa Thomas bersedia. Devan menyentak nafas berat, pada akhirnya ia mengangguk. "Baiklah, jika menurutmu itu memang keputusan yang terbaik." Devan melirik Cecilia sejenak, setelah mendapatkan anggukan dari sang istri, ia kembali melanjutkan, "Kita akan melanjutkan pembahasan ini disaat kondisimu sudah lebih baik, Ex." Exel membuang nafas lega. Meski belum pada titik final, Exel cukup puas mendengarnya. Setidaknya, Devan dan Cecilia bersedia menyetujui permintaannya. Dan pada akhirnya ia bisa tenang jika Tuhan memang akan menarik jiwanya pergi. "Terimakasih, Sir." Senyumnya tersungging tipis. Sekarang Exel akan memasrahkan kesembuhannya pada mukjizat Tuhan. Semoga saja, ia masih di beri kesempatan untuk melihat Belinda menikah. Tidak ada satupun yang mengetahui isi hati Thomas. Dibalik wajah datarnya, ia menyimpan secuil keraguan. Dan sewaktu Devan dan Cecilia secara tidak langsung menyetujui permintaan Exel, tiba-tiba saja ada debar lain di hatinya. Ada bimbang yang tersembunyi dibalik kepasrahannya. Awalnya, Thomas memang ingin menyerahkan segala keputusan pada Cecilia. Namun, begitu Cecilia dan Devan menyampaikan keputusan mereka, Thomas justru dilanda perasaan was-was. Thomas takut tidak dapat memenuhi kepercayaan yang telah Exel sodorkan kepadanya. Devan menepuk pelan lengan Exel yang tidak terbalut perban. "Kau tidak perlu sungkan padaku, Ex." Cecilia mengangguk, ia kembali mendekati ranjang pesakitan Exel sembari menghapus air matanya. "Itu benar, kau tidak perlu mengkhawatirkan apapun. Sekarang lebih baik kau fokus saja dengan kesembuhanmu." Exel tidak mampu berkata-kata. Hatinya tersentuh oleh kebaikan Devan dan Cecilia. Padahal, dulu ia pernah mengecewakan Devan akibat menuruti nafsu bejadnya. Tapi, dibalik semua itu, ternyata Tuhan telah menyiapkan akhir yang indah untuknya dan juga untuk Devan sendiri. Sudah puluhan tahun Exel menyaksikan secara langsung bagaimana Devan mencurahkan seluruh cintanya pada Cecilia. Dan, ia cukup bersyukur karena kembalinya Cecilia juga lah yang membuat cinta sejatinya kembali. Keluarga besar Devan begitu baik, pria yang menjadi majikannya saat ini tidak pernah memandang seseorang melalui kasta. Sandra adalah salah satu bukti nyata, bagaimana Cecilia memperlakukan Sandra bukan selayaknya majikan kepada pekerja. Dan untuk kedua putrinya sendiri, Belinda dan Rebecca mendapatkan limpahan kasih sayang dari Cecilia. ?? Belinda duduk, menyepi di bawah cahaya bulan yang tampak begitu terang menerangi gelapnya malam. Meski dingin kian menusuk tulang, tak membuat Belinda lantas beranjak dari kursi taman Rumah Sakit. Hembusan nafas yang mengeluarkan uap dingin tak dihiraukan lagi oleh wanita itu. Belinda terlalu asik menyendiri, meresapi setiap kemelut yang mengajak pikirannya kian berkecamuk. Entah harus bahagia atau bersedih. Belinda di ujung dilema tak bertepi. Menikah dengan Thomas? Mungkin dulu ia tidak akan berpikir ulang untuk menerima tawaran itu. Namun, keadaannya kini berbeda. Pria yang dulu pernah mengisi ruang hatinya, nyatanya hanya menganggapnya tak lebih dari seorang adik. Belinda benar-benar bingung, apa sebenarnya tujuan Thomas menyetujui permintaan Exel. Atau mungkin hanya karena iba? Belinda melepaskan nafas sesak, bukan ini yang ia inginkan. Belinda ingin menikah tanpa adanya unsur keterpaksaan. "Untukmu." Belinda tersentak, ia menoleh ke arah pria yang memberikan segelas kopi panas untuknya. Thomas? Sedang apa pria itu disini? Mau tak mau, Belinda menerimanya. "Thanks." Ucapnya kemudian. Perlahan ia menyeruput kopi yang masih mengeluarkan asap itu. Diantara keduanya belum ada yang membuka pembicaraan. Baik Thomas maupun Belinda sama-sama terdiam dengan pandangan lurus ke depan. "Apa yang kau lakukan disini?" Karena sudah tidak tahan dengan keheningan, pada akhirnya Thomas mengalah untuk bertanya lebih dulu. Disamping itu, ia juga ingin hubungannya dengan Belinda kembali dekat seperti sebelumnya. Ya, setidaknya mereka memiliki komunikasi yang baik, itu yang menjadi dasar pemikiran Thomas. "Berpikir." Belinda menimang-nimang apa yang harus ia katakan. Bukankah ini adalah waktu yang pas untuk bertanya pada Thomas tentang alasan pria itu menyetujui permintaan Exel? "Ada yang mengganggu pikiranmu?" Bukan hal yang sulit bagi Thomas untuk menangkap kegelisahan yang Belinda rasakan. Tumbuh bersama dengan wanita itu sudah cukup membuatnya sedikit banyak memahami segala gerak geriknya. Belinda melirik pria yang tampak duduk tenang di sebelahnya. "Eum.. Apa aku boleh bertanya sesuatu padamu?" Tanyanya ragu-ragu. "Katakan! Apa yang ingin kau ketahui." Suara beratnya begitu tegas. Seolah mengisyaratkan, bahwa apapun yang Belinda ingin tanyakan akan ia jawab dengan jujur. "Begini," Belinda menarik nafas sejenak, menguatkan hatinya. "Kenapa kau menyetujui permintaan Papaku? Seharusnya kau tidak perlu serius menanggapinya." Jantung Belinda bertalu-talu. Ia terlalu gugup menanti jawaban yang mungkin saja berpotensi membuat hatinya patah untuk yang kedua kalinya. "Kenapa memangnya? Ada yang salah?" Suara Thomas terdengar datar dan tegas seperti biasanya. Tidak perlu menerka-nerka, karena sejak awal Thomas telah menyadari usaha Belinda yang menolak permintaan Exel. Bahkan wanita itu dengan terang-terangan mengatakan pada Exel bahwa ia memiliki hubungan special dengan wanita lain. Walaupun memang kenyataannya demikian, namun Thomas tetap merasa tidak senang dengan alasan Belinda yang seolah menyudutkannya. Seringai tipisnya terbit kala mendapati wajah syok wanita disampingnya. Bolehkah Thomas merasa puas di awal? Sepertinya, jalannya tidak akan sulit untuk memenangkan kembali hati Belinda. Belinda mengerjap dengan mulut menganga. Kenapa? Apa Thomas bercanda? Bagaimana mungkin pria itu malah bertanya kenapa. Belinda semakin tak mengerti dengan jalan pikiran Thomas. "Ya, karena kita tidak mungkin menikah, Thom. Diantara kita tidak ada rasa cinta, oke?" Meski berat untuk diutarakan, tapi itulah kenyataan yang sesungguhnya. Belinda tidak ingin jalan hidupnya menjadi kacau balau hanya karena menuruti permintaan konyol Exel. Diluar dugaan, Thomas justru terkekeh membuat Belinda terheran- heran. "Apa yang lucu? Kenapa kau malah tertawa?" Belinda merasa tak ada yang salah dengan ucapannya. Lalu, hal apa yang membuat Thomas tertawa. Menyesap kopinya sejenak, Thomas lantas menoleh, menatap Belinda masih dengan seringai tipis yang membingkai wajahnya. "Menikah tidak harus saling mencintai, bukan?" Jawaban Thomas membuat Belinda mengerjap bodoh. Apa yang membuat Thomas bisa berpikir demikian? Karena sepengetahuannya, dimana-mana pasangan yang menikah itu, salah satu dasarnya adalah cinta. Baru kali ini Belinda mendengar jawaban yang menurutnya konyol dan tak masuk diakal. "Apa maksudmu? Tentu saja pasangan yang akan menikah adalah pasangan yang saling mencintai satu sama lain!" "Kau benar." Thomas mengangguk membenarkan. "Tapi, kita saling menyayangi, bukan? Jadi, aku rasa itu tidak akan sulit." Apa? Kali ini Belinda benar-benar speechless. Apa sebenarnya yang ada di otak Thomas selama ini? Jawaban pria itu sangat konyol. "Tidak! Rasa sayang kita berbeda. Kau mungkin menyayangiku sama seperti kau menyayangi Elle." Sanggah Belinda tak habis pikir. "Well, sejujurnya ya," Thomas mengakuinya. "Tapi, bukankah kita bisa belajar bersama?" Belinda menggeleng, tak setuju. Belajar apanya? Seandainya Thomas memang ingin belajar menyayanginya layaknya pasangan pada umumnya, banyak sekali kesempatan terbuka, sayangnya pria itu melewatinya begitu saja. Nyatanya sejauh ini tak ada tanda-tanda sedikitpun Thomas berniat mencobanya. Lantas, kenapa sekarang pria itu berubah? Atau mungkin Thomas memiliki masalah dengan model cantik itu? "Bukankah kau sedang dekat dengan seorang wanita?" Thomas kembali mengangguk, tak menyangkal. Wajahnya berubah datar. "Kau benar, tapi kami hanya dekat layaknya seorang teman." Belinda tidak mau percaya begitu saja. Thomas bukan termasuk pria yang mudah dekat dengan wanita asing. Melihat intensitas kedekatan Thomas dan wanita cantik itu, membuat Belinda mengambil kesimpulan sendiri. "Apa kau yakin? Maksudku, well, kita sama-sama tau kau bukan tipikal pria yang mudah berdekatan dengan wanita asing jika tidak memiliki hubungan khusus." Thomas tersenyum miring. "Kau benar. Tapi aku memang tidak memiliki hubungan khusus dengannya. Tepatnya, belum sampai ke tahap itu." Thomas terdiam sejenak, tampak memikirkan kalimat yang pas. "Kami masih dalam tahap pendekatan, bisa dibilang kami berteman dekat." Memang tidak ada yang salah dari ucapan Thomas. Tapi, kesimpulannya tetap saja mereka sedang menuju ke tahap hubungan yang lebih serius bukan? Dan itu tetap saja menjadi ganjalan besar di hati Belinda. "Sebaiknya kau urungkan saja niatmu. Aku akan bantu menjelaskan pada Papa, kau tidak perlu memaksakan diri, Thom." Belinda melepaskan nafas getir. Ia tidak ingin menjadi duri dalam hubungan Thomas dan wanita itu. Lebih baik mundur dari pada bertahan di atas luka orang lain. Thomas menoleh, wajahnya terlihat tidak senang. "Apa maksudmu?" Suaranya berubah dingin "Bukankah kau mengenalku dengan baik? Aku bukanlah tipikal orang yang gegabah dalam mengambil keputusan!" Thomas mendengus keras. "Apa yang kau risaukan, huh?" Belinda menunduk, menatap gelas kopi dengan perasaan gamang. "Aku hanya tidak ingin merusak apa yang telah kau bangun, Thom." Lirihnya sendu, "Please, mengertilah." "Aku sedang tidak berhubungan serius dengan wanita manapun!" Sekali lagi, Thomas mengklarifikasi perihal hubungannya dengan wanita yang Belinda maksudkan. Bersamaan dengan deru nafas yang memburu, Thomas pergi begitu saja meninggalkan Belinda. Thomas tidak membutuhkan validasi dari pernyataannya, karena memang demikian faktanya. Yang Thomas sesalkan, Belinda ketara sekali tidak mempercayai pernyataannya. Kecewa? Tentu saja. Dari sekian banyak wanita yang melingkari hidupnya, Belinda merupakan salah satu wanita spesial dihidupnya. Selama ini, Thomas selalu berusaha mengungkapkan kebenaran pada wanita itu. Dan sekarang, disaat ia mengatakan yang sebenarnya, Belinda justru seolah mati-matian menyangkalnya. Belinda masih termangu di tempatnya. Kopi yang semula mengepulkan asap kini berubah dingin, sangking lamanya ia termenung dalam diam. Bukannya bermaksud tidak mempercayai pernyataan Thomas, hanya saja berita yang ia dengar sangat bertolak belakang dengan penjelasan Thomas. Belinda tidak mungkin menarik kesimpulan jika berita yang ia dengar hanyalah gosip belaka. Detik demi detik dilewati Belinda dengan kebisingan yang memenuhi isi kepalanya. Niat ingin menentramkan pikiran justru berujung perdebatan. Belum adanya kabar perihal kondisi Sandra termasuk salah satu alasan untuk menyepi. Banyak sekali yang Belinda pikirkan, sampai-sampai kepalanya nyaris pecah. Sejak tadi, ia memilih duduk di taman Rumah Sakit, menunggu Exel yang katanya ingin berbicara serius dengan Devan dan Cecilia. Entah apa yang mereka bahas, semoga saja bukan kelanjutan rencana konyol itu. Belinda menyentak nafas berat. Tadi selentingan ia dengar, kecelakaan itu direncakan. Apa motifnya pun belum bisa dipastikan. Yang jelas, kejadian naas itu berhasil memakan korban, dan kedua orangtuanya merupakan dua dari sekian banyak korban yang mendapat luka cukup serius. Apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa mereka mengincar Shara dan Robert? Pertanyaan itu berulang kali hinggap dalam kepalanya. Namun, ia tetap tidak berhasil mendapatkan jawaban. Jika dipikir-pikir, kedua paruh baya itu dikenal berjiwa malaikat. Selain baik, mereka sama sekali tidak pernah memandang manusia sebelah mata. Jadi, rasanya tidak mungkin jika mereka memiliki musuh yang tega merencanakan kemalangan itu. Meski Shara bermulut pedas, tapi hati wanita itu sangat baik. Dan untuk Robert, hanya wajahnya saja yang terlihat dingin, namun aslinya sangat dermawan. Suara deringan ponsel membuat Belinda tersentak. Jantung Belinda berdentum hebat kala melihat nama yang tertera di layar ponselnya. Dengan tangan gemetar, Belinda mengangkatnya. "Ya?" "Aunty Sandra sudah sadar." Belinda bisa menangkap suara Thomas di ujung sana yang terdengar lega, namun tak ada kejelasan lanjutan membuatnya kecemasan kembali melanda hatinya. "Aku akan segera kesana. Apa kondisi Mamaku baik-baik saja?" Hening, Belinda semakin yakin ada sesuatu yang Thomas tutupi. Jantungnya kian bertalu-talu. Demi apapun, Belinda tidak siap menerima kabar buruk apapun. "Thom apakah kau masih di sana?" Belinda menyeret langkah kakinya lebih cepat. Hanya deru nafas Thomas yang ditangkap indra pendengarannya. "Ya, lebih baik kau datang kemari." Mendengar itu, Belinda langsung memutuskan sambungan teleponnya. Ia setengah berlari menyusuri taman Rumah Sakit yang cukup luas itu. Ya Tuhan... Semoga saja Sandra dalam keadaan baik-baik saja. Belinda tidak mungkin sanggup jika harus mendapat kabar buruk lagi. Kondisi Exel yang masih belum bisa dikatakan baik saja, hampir menarik setengah jiwanya pergi. Dan Belinda tidak mungkin sanggup jika harus menerima kabar buruk lainnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD