03 Bitter Truth

2407 Words
Kaki Belinda mengayun cepat bersamaan dengan debaran cemas yang berbondong-bondong menyerang hatinya. Beruntung lorong rumah sakit sepi dari pengunjung hingga dengan mudahnya ia bergerak tanpa harus berdesakkan. Mungkin, karena ini adalah lantai VVIP dimana hanya segelintir orang yang mampu menyewa kamarnya. Dan, Belinda cukup bersyukur karena Thomas menempatkan Sandra dan Exel di ruangan yang memiliki harga fantastis itu. Untuk urusan pembayaran, Belinda akan memikirkannya nanti. Baginya, yang terpenting Sandra dan Exel bisa memperoleh penanganan dengan cepat saat benar-benar dibutuhkan. "Kak!" "Kakak." Langkah Belinda terhenti kala gendang telinganya menangkap suara dua perempuan yang begitu familier. Tubuhnya berputar, memastikan tebakannya benar. Senatural mungkin, Belinda melemparkan senyum pada dua perempuan yang melambaikan tangan ke arahnya, meski batinnya bergejolak. Dengan sabar ia menunggu kedua perempuan itu hingga mereka tiba disisi tubuhnya. "Apa benar yang di katakan Papa, Kak?" Rebecca langsung melontarkan pertanyaan yang sejak tadi mengacaukan isi kepalanya. Sejujurnya, fokus Rebecca terpecah karena berita mengejutkan itu. Alih-alih fokus memikirkan kondisi kedua orangtuanya, isi kepala Rebecca justru heboh karena dipenuhi dengan pertanyaan-pertanyaan yang berhubungan dengan rencana pernikahan Thomas dan Belinda. Belinda menoleh, dengan wajah bingung. "Apa yang sebenarnya sedang kau bicarakan, Becc? Memangnya, apa yang Papa katakan padamu?" Apa mungkin Rebecca sudah mengetahuinya? Atau mungkin Exel sudah mengatakannya? Belinda bertanya-tanya dibalik kegelisahan hatinya. Rasa takut berlebihan membungkus erat jiwa Belinda sampai-sampai ia melupakan fakta bawah ia baru saja mencolek ego Thomas. Tidak sedikitpun Belinda bermaksud meragukan ketulusan Thomas. Hanya saja, Belinda merasa berhak melindungi hatinya dari harap yang belum berwujud. Sejatinya, Belinda ingin yang terbaik untuk semua orang, termasuk dirinya sendiri. Pernikahan bukanlah sesuatu yang patut di permainkan. Bukan hanya sekedar mengucapkan ikrar, juga bukan soal janji pada seseorang. Pernikahan adalah komitmen yang harus Belinda jaga seumur hidup. Dan yang paling utama pernikahan adalah perjanjian diantara tiga pihak, dirinya, Thomas dan Tuhan. Ini juga tentang perasaan yang saling terhubung, saling menjaga, saling mencintai, dan saling mempercayai satu sama lain. Dengan menyetujui menikah dengan Thomas, itu sama saja ia menyerahkan hidupnya pada sesuatu yang tidak pasti. Belinda tidak ingin terjebak semakin jauh dan membiarkan jiwanya kian tersiksa. Gabrielle memutar bola matanya karena Belinda seolah sengaja menutupi kabar baik ini. Ia benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikiran Belinda. "Apa benar kalian akan menikah? Maksudku, kau dan Kakakku?" Ketiganya masih berjalan beriringan. Kedua lengan Belinda masing-masing diapit oleh Rebecca dan Gabrielle. Belinda menghela nafas, ternyata berita itu sudah sampai ke telinga Rebecca dan Gabrielle. "Aku tidak tau." Jawaban Belinda mengundang decakan jengkel dari Gabrielle. "Apa maksudmu? Mom sendiri yang mengatakan padaku bahwa Paman Exel yang meminta langsung pada Kakakku untuk segera menikahi 'mu." Padahal Gabrielle sudah menaruh harapan besar. Ia menyukai Belinda sejak dulu. Bahkan ia sering menjodohkan wanita itu dengan Thomas. Dan sekarang, setelah harapannya hampir terwujud, Belinda justru kelihatan sekali meragu. Sebenarnya apa yang kurang dari kakaknya sehingga membuat Belinda tidak yakin. Dari segi fisik, Gabrielle yakin para wanita diluar dana tidak ada yang meragukan ketampanan Thomas, bahkan tidak sedikit dari mereka yang siap melemparkan diri dengan sukarela ke ranjang panas pria itu. Siapa yang tidak mengenal Thomas Alexander, pria yang digadang-gadangkan akan menjadi penerus perusahaan raksasa Alexander Group. Kejayaan serta kekuasaan pun menjadi bukti bahwasannya Thomas unggul dari segi finansial. Dan lagi seingat Gabrielle, Thomas selalu memberikan perhatian lebih pada Belinda. Lalu, dimana letak kekurangannya? Rebecca mengangguk sebagai respon diawal. "Kau tau, Kak? Aku benar-benar terkejut sewaktu Elle memberitahuku." Pada hakikatnya, Rebecca senang jika Thomas dan Belinda menikah. Itu artinya, ia akan memiliki kakak ipar dari keluarga terhormat. 'Ini tidak sesederhana yang kalian pikirkan!' Batin Belinda menjerit keras. "Sejujurnya, aku senang jika hal itu benar-benar terjadi." Ungkap Gabrielle. Ia tersenyum ketika Belinda menatapnya. Terjebak oleh dilema tak bertepi, Belinda menghembuskan nafas kencang. Semua orang seolah-olah berupaya memaksanya dan mendesaknya untuk menyetujui rencana konyol ini. Apakah semua orang tidak memikirkan perasaannya? Oh ayolah.... Bukan mereka yang akan menjalaninya, tetapi dirinya. "Bukankah Thomas sudah memiliki kekasih?" Tidak mungkin Gabrielle tidak mengetahui hal ini. Mengingat begitu posesifnya kakak beradik itu. Belinda yakin, Gabrielle mengetahui segalanya. "Model itu?" Gabrielle menggeleng malas. "Aku tidak menyukainya, dia terlalu angkuh, Kak." Kedua bahunya terangkat acuh. "Selena?" Rebecca turut memastikan. Gabrielle mengangguk. "Sejak awal aku sudah mengatakan pada Kakakku kalau aku tidak menyukai perempuan itu." Secara gamblang Gabrielle mengungkapkan ketidaksukaannya. Gabrielle ingat betul saat Thomas mengenalkan Selena padanya. Wanita itu terlihat sombong dan angkuh dan terlihat sekali mencari perhatian Thomas. Dan Gabrielle benar-benar muak dengan semua sikap Selena yang menurutnya terlalu dilebih-lebihkan. Terkejut? Tentu saja. Belinda jadi berpikir apa karena permintaan Gabrielle sehingga Thomas hanya bisa berhubungan sebatas teman dekat saja dengan wanita bernama Selena itu. Tapi apa yang menjadi dasar pemikiran Gabrielle sehingga tidak menyukai Selena. Karena jika diperhatikan Thomas dan Selena adalah pasangan serasi. Menurutnya, Selena luar biasa cantik, kariernya pun bagus. Jika dibandingkan dirinya sangat bertolak belakang. "Kenapa? Bukankah dia cantik?" Gabrielle mendengus, "Aku jauh lebih cantik darinya, Kak." Protesnya, tidak senang. Rebecca tertawa, "Yayaya, kau memang selalu terlihat cantik, Elle." "Aku rasa wajar jika wanita itu terlihat angkuh, Elle. Dia seorang model, mungkin pembawaannya memang seperti itu. Tidak mungkin Thomas mendekati wanita sembarangan." Belinda masih mencoba mencari celah karena harapan tersebarnya hanya pada Gabrielle. Hanya gadis itu yang bisa mengeluarkannya dari rencana konyol ini. "Tidak." Gabrielle menggeleng cepat, "Aku yakin dia hanya ingin mencari nama lewat Kakakku." Belinda tidak mengerti apa maksudnya mencari nama menurut versi Gabrielle. Bukankah tanpa nama Thomas, wanita itu sudah cukup memiliki nama. Bahkan di tingkat internasional. "Sudahlah, Kak. Lebih baik kau memikirkan konsep pernikahanmu." Pungkas Gabrielle tak terbantahkan. Ia hanya malas jika harus membahas model genit yang suka mencari sensasi itu. "Kau benar. Aku benar-benar tidak sabar ingin melihatmu menggenakan gaun pengantin." Rebecca mengatupkan kedua tangannya di depan d**a. Pancaran bahagia dan penuh harap tergambar jelas dari kedua bola matanya. "Yayaya," Gabrielle tak kalah senang. "Kita harus membantu mereka mencari konsep yang pas." Belinda menyentak nafas berat, otaknya semakin ruwet. Mungkin ia akan mencari jalan lain untuk menggagalkan rencana pernikahan konyol ini. Belinda tau, ia tidak bisa mengharapkan bantuan Gabrielle. Lihat saja, belum apa-apa gadis itu sudah memintanya memikirkan konsep pernikahan. Dan Rebecca? Ck, adiknya itu benar-benar keterlaluan! Tepat di ujung lorong, mereka berbelok, Belinda bisa melihat Cecilia menangis tergugu dalam pelukan Devan. Sementara Thomas menatapnya dengan sorot mata tak terbaca. Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa mereka terlihat sangat sedih? Belinda tersentak begitu Rebecca melepas kaitan pada lengannya dan berlari begitu saja, diikuti Gabrielle setelahnya. Jantung Belinda berdentum hebat, kecemasan yang semula lenyap kembali hadir bahkan lebih dahsyat dari sebelumnya. Terlebih saat telinganya menangkap suara jeritan histeris yang ia yakini suara Sandra. Dengan tubuh gemetar, Belinda berjalan tergesa-gesa menuju ruangan yang baru saja di masuki Rebecca dan Gabrielle, mengabaikan beberapa pasang mata yang menatapnya iba. Pemandangan di depan matanya berhasil menimbulkan rasa sakit tak kasat mata. Air matanya jatuh begitu saja. Di depan sana Rebecca dan Gabrielle berusaha menenangkan Sandra yang menjerit histeris seraya memukul kedua kakinya. 'Ada apa sebenarnya?' Kepalanya menoleh cepat ketika merasakan pundaknya diremas. "Apa yang terjadi dengan Mamaku, Thom?" Belinda tidak sanggup menghampiri Sandra, kakinya begitu lemas seolah tak bertulang. "Tenangkan dirimu," Thomas menatap lurus iris coklat yang bergetar. "Bibi Sandra dinyatakan lumpuh untuk sementara waktu." Belinda menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya. Kepalanya menggeleng lemah bersamaan dengan derasnya air mata yang meluncur tanpa bisa ia cegah. Fakta ini kembali mengguncang jiwanya, mengobrak abrik batinnya. "Bel, hei.. kau harus tenang, oke?" Thomas menatap cemas Belinda sebab wanita itu tampak sangat terpukul. "Bagaimana mungkin? Maksudku kenapa?" Belinda tidak sanggup melanjutkan kata-katanya. Hatinya sakit bukan main. Satu tangannya beralih memukul dadanya sendiri yang terasa begitu sesak. "Bel, cukup!" Thomas mencekalnya. Sorot matanya menyiratkan amarah. "Kau harus bisa menenangkan dirimu. Bibi Sandra membutuhkan dukunganmu." Ia kemudian menarik tubuh Belinda masuk ke dalam dekapannya, berharap Belinda mendapatkan ketenangannya. "Siapa yang melakukan ini semua, Thom?" Belinda merasa takdir begitu kejam. Apa salah kedua orangtuanya hingga harus mengalami semua kemalangan ini? "Aku sedang berusaha mencarinya. Aku, Edward dan Charlie sedang menyelidikinya. Uncle Barron juga ikut membantu. Jadi, kau tenang saja, oke?" Thomas menyimpan dagunya di atas pucuk kepala Belinda. Kelopak matanya terpejam kala merasakan tubuh mungil dalam dekapannya bergetar hebat. Dan sialnya, hatinya terganggu karena isakan lirih Belinda. Seolah-olah, Thomas bisa merasakan apa yang Belinda rasakan. Belinda mengangguk, tanpa sadar pelukannya semakin mengerat. Ia percaya Thomas bisa membawa keadilan untuk kedua orangtuanya. "Aku akan menemui Mama." Belinda mengurai pelukannya, menghapus air mata yang membasahi wajahnya. Ia tersenyum kaku begitu menyadari baru saja memeluk Thomas begitu eratnya. Belinda mengutuk respon spontan tubuhnya. Thomas mengangguk. Tawanya hampir saja menyembur karena melihat Belinda sedikit salah tingkah. Susah payah, Thomas mengatur ekspresinya agar Belinda hanya fokus dengan ucapannya. "Yeah, aku rasa memang itu yang harus kau lakukan. Dengar, Bibi Sandra bisa cepat pulih jika rajin ikut terapi." Belinda menghirup dalam-dalam nafasnya, mencoba untuk mengenyahkan perasaan yang begitu menyesakkan d**a. "Kau benar, Mama bisa pulih dengan cepat." Seakan terhipnotis, Belinda ikut mengangguk. Sorot mata Thomas begitu meyakinkan membuatnya terperdaya. "Good, sekarang temui Mamamu. Aku akan menemanimu. Dan ingat, kau tidak sendirian, Bel." Pungkasnya, membuat Belinda kembali mengangguk. Perlahan, Belinda memutar tubuhnya. Belinda kembali menarik nafasnya kuat-kuat, berupaya menenangkan jiwanya yang kini sedang terombang ambing dalam pusaran badai. Dengan langkah pelan, Belinda mendekati ranjang pesakitan. Ada rasa syukur yang menyejukkan hati karena Sandra sudah tidak histeris seperti sebelumnya, meski suara tangisnya masih mengudara. Sandra mengangkat kepalanya saat menyadari kehadiran seseorang. Tatapan keduanya terkunci. Sekuat tenaga Belinda menahan gejolak yang berhasil mengoyak batinnya. "Mah," Belinda memberikan seulas senyum manis. "Semua akan baik-baik saja, oke?" Belinda mendekap tubuh Sandra dengan erat. Berharap dengan pelukan ini mereka bisa saling menguatkan, saling menyembuhkan dari rasa sakit tak kasat mata. "Mah," Rebecca memanggil membuat Sandra menoleh. "Kakak akan menikah dengan Kak Thomas." Rebecca memang sengaja mengalihkan perhatian agar Sandra tak larut dalam kesedihan. Mendengar itu, Belinda tercengang ditempatnya. Ya Tuhan, Bagaimana mungkin disaat seperti ini Rebecca bisa mengatakan hal seperti itu? Belinda tidak tau harus dimana menyembunyikan wajahnya yang ia yakini sudah memerah sekarang. "Apa itu benar?" Sandra tersenyum kecil seraya menghapus jejak air matanya. Kabar ini cukup mengejutkan. Mungkin ini adalah kabar paling baik yang ia terima disaat kondisinya sedang tidak baik-baik saja. Gabrielle mengangguk semangat. "Itu benar, Bibi. Mommy sendiri yang mengatakannya padaku." Katanya dengan sangat bersemangat. Sandra terkekeh kecil, "Jadi, apa anak Mama baru saja dilamar seorang pria?" Wajah Belinda merah padam. Antara malu dan kesal bercampur menjadi satu. Belinda akui, Rebecca memang berhasil mengalihkan atensi Sandra. Akan tetapi, adiknya itu itu juga berhasil membuat jantungnya berdisko. "Tidak ada yang seperti itu, Mah." Sanggah Belinda cepat. Ia melotot pada Rebecca dan Gabrielle yang justru malah memamerkan senyum lebar padanya. "Jadi, mana yang harus Mama percaya?" Sandra mengangkat satu alisnya. Menatap satu per satu anak muda yang mengelilingi ranjang pesakitan nya. "Tidak, ah bukan seperti itu maksudku." Belinda terlihat kebingungan dengan ucapannya sendiri. Tanpa ia sadari kedua tangannya saling meremas. "Jadi, begini, Bibi." Gabrielle sekuat tenaga menahan tawanya. Ekspresi Belinda yang terlihat gugup dan malu-malu itu benar-benar sangat lucu. "Paman Exel meminta Kakak untuk menikahi Kak Belinda, dan Kakak menyetujuinya." Kening Sandra berkerut, merasa heran dengan permintaan Exel. Dan lagi, untuk apa Exel meminta hal semacam itu disaat keadaan sedang kacau seperti ini. "Kenapa Papa menginginkan hal itu?" Tanya Sandra pada Rebecca. "Ah itu," Rebecca menggaruk alisnya yang tidak gatal. "Eum, Papa merasa harus ada yang menjaga Kakak. Karena kondisi Papa dan Mama saat ini sedang tidak baik, dan Papa ingin berfokus pada penyembuhan Mama." Dalam hati Rebecca berdoa meminta pengampunan karena baru saja membohongi Sandra. "Benarkah?" Sandra tidak sepenuhnya percaya. Terlebih alasan itu terdengar tak masuk akal. Gabrielle mengangguk cepat, "Itu benar, Bibi. Bahkan Paman meminta Becca agar membantunya untuk memfokuskan diri pada penyembuhan Bibi. Itu sebabnya Paman meminta Kakak untuk menikahi Kak Belinda, agar Kakak bisa menjaga Kak Belinda dengan baik." 'Sempurna.' Dalam hati Belinda mengutuk mulut Rebecca dan Gabrielle yang lancar sekali mengatakan kebohongan. Sejak tadi matanya tidak lepas dari kedua gadis itu. Satu kebohongan ditimpali dengan kebohongan yang lainnya. Benar-benar sempurna. "Apakah benar seperti itu, Thom?" Sandra beralih menatap Thomas yang sejak tadi belum membuka suaranya. Hanya senyum tipis saja yang pria muda itu berikan. "Benar, Bibi. Jadi, aku harap setelah ini Bibi hanya akan fokus pada pemulihan Bibi saja. Sebab aku yang akan menggantikan posisi Paman untuk menjaga Belinda." Belinda tidak mampu berkata-kata. Bahkan sudah sampai dititik ini pun Thomas masih teguh pada pendiriannya. Sebenarnya apa yang pria itu rencanakan? Harusnya, Thomas bisa saja mengelak bahkan menyangkal pernyataan Rebecca dan Gabrielle. Lalu, kenapa pria itu justru menambah kebohongan lainnya? Kepala Belinda bertambah pening, semoga saja kondisi Exel dan Sandra bisa secepatnya pulih agar ia tidak perlu terjebak dalam permohonan konyol Exel. "Jika memang seperti itu, Bibi bisa tenang. Bibi pikir kau terpaksa melakukannya. Tapi, jika melihat raut wajahmu saat ini, Bibi tidak akan ragu lagi." Belinda reflek menoleh, mencari kebenaran dari ucapan Sandra. Apa benar Thomas tidak terpaksa melakukannya? Tapi kenapa? Bukankah Thomas tidak pernah mencintainya? Ini benar-benar membingungkan. Tapi, jika dilihat dari sorot mata pria itu dan ketenangan wajahnya, Belinda bisa merasakan tidak adanya paksaan seperti yang Sandra katakan. Ya Tuhan, apa yang harus ia lakukan sekarang? Belinda menghela nafas, sepertinya ia benar-benar akan terjebak dalam perjodohan konyol ini. Belinda kembali membawa tatapannya lurus ke depan. "Apa yang kau lihat?" Bisik Thomas pelan, persis di sebelah telinga Belinda. Membuat Belinda menjauhkan kepalanya, merasa geli. "Tidak ada!" Belinda ikut berbisik dengan mata mendelik. Apa pria ini tidak bisa membuat jantungnya aman sebentar saja? Thomas tersenyum tipis, nyaris tak terlihat. Ekspresi Belinda sungguh membuatnya ingin tertawa. "Aku hanya bertanya, oke? Tidak perlu melotot seperti itu." Belinda memalingkan wajahnya. Dengan segenap hati Belinda memohon pada Tuhan agar menguatkan hatinya. Karena sepertinya, hatinya nyaris tersesat di bawah tatapan dalam Thomas. Apa-apaan ini? Kenapa disaat otaknya sibuk menolak, hatinya justru nyaris terjerat? Belinda menggeleng kecil. Ia harus memerintahkan pada otak dan hatinya agar berjalan di atas keputusan yang sama. Diam-diam, Thomas mengamati ekspresi Belinda. Wajar saja jika wanita menyimpan keraguan atas keputusannya. Mengingat ia pernah mengumandangkan pernyataan bahwasannya perhatian yang selama ini ia berikan layaknya perhatian seorang kakak pada adiknya. Thomas pun tidak akan memaksa Belinda untuk mempercayainya. Karena sejujurnya, Thomas juga masih menyimpan ragu yang sama. Rebecca dan Gabrielle saling sikut menyikut. Kedua perempuan belia itu sibuk mengamati pasangan didepannya. Suara pintu terbuka dengan kasar membuat mereka serempak menoleh. "Ada apa, Dad?" Thomas memasang wajah waspada sebab raut Devan terlihat gelisah. "Sebaiknya kita semua segera ke ruangan Exel." Devan memberikan kode pada putra sulungnya, setelah itu ia kembali menghampiri Cecilia yang duduk lemas di kursi tunggu. "Ayo, honey. Sebaiknya kita kesana lebih dulu." Devan memapah tubuh lemas Cecilia dengan hati-hati.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD