Isi kepala Thomas kembali dipaksa bertempur. Ekspresi cemas Devan dan keterpurukan Cecilia menggiring otaknya pada asumsi buruk. Setelah kesadarannya kembali terkumpul, Thomas langsung bergerak cepat, mengambil kursi roda yang telah tersedia. Pria itu menarik nafasnya kuat-kuat kala melihat yang lainnya tampak bergelut dengan isi kepala masing-masing.
"Ayo, Bibi. Aku akan membantumu turun." Thomas mendekatkan kursi roda ke sisi ranjang.
Sandra mengerjap kemudian menatap Thomas dengan linglung. "Apa yang sebenarnya terjadi, Thom? Apa terjadi sesuatu pada Exel?"
Sandra tidak tau apa yang sebenarnya terjadi, namun ekspresi Devan dan Cecilia seakan memberikan gambaran buruk tentang kondisi Exel. Sandra pun tidak bisa menyembunyikan rasa gelisah yang tiba-tiba menghantam jiwanya. Kecemasan itu menyerangnya membabi buta, sampai-sampai Sandra merasakan sakit di jantungnya, sangking kuat debarannya.
Thomas menggeleng pelan, "Aku tidak tau secara pasti, Bibi."
Sebisa mungkin Thomas menghindari kontak mata dengan Sandra. Tatapan wanita itu meresahkan, mengguncang batinnya hingga ikut terseret dalam kegelisahan sepihak. Thomas kebingungan karena Devan tidak memberikan penjelasan apapun selain kode untuk membawa serta Sandra ke ruangan Exel.
Belinda memegang pundak Sandra dengan perasaan gamang. Sukmanya kembali terombang-ambing dalam gelombang nestapa. Dibantu Thomas, ia berhasil membantu Sandra duduk nyaman di kursi roda.
"Aku akan membawa infusnya." Rebecca memegang tiang infus dengan perasaan kacau balau. Berulang kali ia menarik nafas dalam-dalam dan membuangnya melalui mulut hanya demi menetralkan perasaan takut yang menyambangi hatinya.
Gabrielle yang menyaksikan pun sama kalutnya. Ia menyentuh lengan Rebecca kemudian mengusapnya pelan. "Jangan berpikir buruk. Kau harus tenang, oke?"
Meskipun tipis, Gabrielle memberikan seulas senyum agar setidaknya Rebecca tidak terjebak dalam kekacauan yang pastinya tengah mengobrak abrik perasaan sahabatnya itu. Seandainya pun Gabrielle berada diposisi Rebecca, ia pasti akan merasakan hal yang serupa, tertawan pada kemelut hati.
Thomas membantu mendorong kursi roda, di sebelahnya ada Belinda yang berjalan dengan kepala menunduk. Thomas tidak tau secara pasti, rasa sakit seperti apa yang Belinda rasakan saat ini. Yang jelas, Thomas pun ikut terhanyut dalam gulungan ombak yang sama.
"Kau harus tenang, oke? Jangan membuat Mamamu semakin terpuruk." Bisik Thomas pelan.
Belinda menoleh, dengan ragu ia mengangguk. Walau ekspresinya tidak bisa berbohong, karena pada kenyataannya hatinya sedang tidak baik-baik saja. Bagaimana mungkin ia bisa tenang ditengah situasi mencekam seperti sekarang ini. Akal sehatnya saja nyaris lenyap sangking brutalnya cobaan yang datang menghampirinya.
Di depan sana, Belinda menemukan beberapa perawat yang keluar masuk dalam ruang inap Exel, mereka berjalan tergesa-gesa seperti sedang dikejar sesuatu. Tanda tanya besar serta prasangka buruk seketika menyambangi pikirannya.
'Apa lagi ini?' Batin Belinda putus asa.
"Thom."
Suara derap langkah yang saling bersahutan membuat Thomas menghentikan langkahnya. Kepalanya tertoreh ke belakang dan mendapati Charlie serta Edward yang bergerak gesit menghampirinya.
Edward mengatur nafasnya yang masih memburu. "Bagaimana keadaan mereka?"
Thomas menggeleng, senyumnya ia paksakan terbit, walau tipis. "Masih di ruang operasi."
Charlie menarik nafasnya dalam-dalam. Ia tau betul sahabatnya kini sedang bergelut dengan kemelut nya sendiri. "Kami akan membantumu menemukan dalang penyebab dari semua kekacauan ini." Sebelah tangannya menepuk pundak Thomas beberapa kali, lalu tatapannya beralih pada kursi roda dan juga pada Belinda yang berdiri di samping Thomas. "Lalu, kemana kalian akan pergi?" Tanyanya sedikit heran.
Thomas mengikuti arah pandang Charlie. "Kami akan ke ruangan Paman Exel. Kedua orangtuaku sudah berada di sana." Setelah memberitahu tujuannya, Thomas kembali melanjutkan langkahnya.
Charlie dan Edward saling bertatapan, berkomunikasi lewat sorot mata. Meskipun bingung mereka tetap mengikuti langkah Thomas dari belakang. Bukankah seharusnya mereka menunggu di ruang operasi? Pertanyaan itu tenggelam bersamaan dengan suara jeritan yang memekkan telinga.
Tangisan Sandra langsung pecah begitu memasuki ruang inap Exel. Hatinya hancur lebur ketika menyaksikan tubuh Exel terkulai lemah di atas ranjang dengan keadaan tak berdaya. Sandra tidak sanggup melihat pemandangan yang menyayat hatinya seperti ini.
Exel yang biasanya berdiri gagah, kini harus terbaring lemas dengan tatapan yang begitu sayu. Hati Sandra hancur berkeping-keping lantaran harus menyaksikan Exel serapuh ini.
Sandra pikir kondisinya yang paling menyedihkan karena tidak bisa berjalan untuk sementara waktu. Nyatanya, Exel jauh lebih parah darinya. Sebagian tubuh Exel dipenuhi luka yang telah terbungkus oleh perban. Tubuh besarnya menjulai lemah di atas ranjang dengan hidung tersumpal selang oksigen.
Tangisnya kian menjadi-jadi begitu Exel menatapnya dengan sorot pedih. Demi Tuhan, Sandra tidak kuat melihatnya. Ini terlalu menyakitkan dan benar-benar menyiksa batinnya. Terlebih Sandra menyadari bahwa saat ini ia tidak bisa melakukan apapun untuk Exel karena kedua kakinya yang tidak bisa digerakkan.
Perasaan bersalah itu mengumpul menjadi satu, menyiksa jiwa dan raganya sedemikan rupa. Ingin rasanya Sandra berlari menghampiri Exel, mendekapnya sekuat mungkin. Tapi apa dayanya? Yang Sandra bisa lakukan hanya menangis, menangisi keadaaan Exel dan ketidakberdayaan dirinya.
"Jangan menangis." Suara Exel mengalun pelan disela isakan yang memenuhi ruangan inapnya. Susah payah ia mengulurkan tangannya, ingin menggapai tangan Sandra yang masih setia membekap mulutnya sendiri.
Suara lirih bercampur rintihan itu membuat Thomas segera mendorong kursi roda agar lebih dekat dengan ranjang. Sandra yang mengerti maksud Exel pun langsung meraih tangan besar itu, mengecupnya bersamaan dengan tubuh yang kian bergetar.
Isakan Sandra terdengar memilukan dan menggetarkan kalbu. Tangan yang biasa memberinya kehangatan, membelainya dan membuatnya merasa aman kini terasa dingin dan lemah.
"Apa kau baik-baik saja?" Pertanyaan bodoh yang seharusnya ia tanyakan pada dirinya sendiri. Apakah Sandra bisa tetap baik-baik saja menghadapi kenyataan ini?
Exel tersenyum tipis. Jempolnya bergerak pelan, mengusap punggung tangan putih itu dengan perasaan hancur. "Aku baik-saja. Jadi, berhentilah menangis, hmm."
Sandra mengangguk, walau tak mampu menghentikan air matanya yang terus melaju dengan derasnya.
Charlie dan Edward terdiam kala menyaksikan kehancuran keluarga sederhana itu. Ketika tiang yang biasanya menjadi penyangga terkulai tak berdaya.
Sedangkan Belinda kembali menumpahkan seluruh kemelut hatinya dalam pelukan Thomas. Belinda berharap dirinya hanya terjebak dalam sebuah ilusi, sayangnya suara isakan yang saling bersahutan membuktikan bahwa semua yang terjadi adalah realitas.
"Kau yakin akan melakukannya sekarang?" Pertanyaan Devan membuat semuanya menoleh, menatap pria itu dengan tatapan penuh tanya.
Exel beralih menatap Devan, lantas mengangguk pelan. "Jika anda tidak keberatan, Sir."
"Berhenti berpikiran konyol, Ex. Lebih baik sekarang kau fokus pada pemulihan tubuhmu!" Disela-sela isakan tangis, Cecilia mengomeli tangan kanan suaminya itu.
"Sebenarnya ada apa ini?" Sandra yang belum paham akan keadaan dibuat bingung dengan pembahasan yang sama sekali tidak ia pahami.
Devan menoleh, tangannya tetap sibuk bergerak mengusap punggung Cecilia yang masih belum mau menghentikan tangisnya. Kepalanya berdenyut melihat wajah Cecilia yang sudah basah karena air mata dengan kelopak mata yang membengkak serta hidung yang memerah.
"Exel ingin Belinda dan Thomas menikah sekarang." Beritahu Devan setenang mungkin.
Tubuh Thomas menegang, bersamaan dengan tubuh wanita yang berada dalam dekapannya. Ucapan tegas dan terdengar tidak main-main itu ibarat lonceng lonceng kehidupan bagi Thomas. Akan tetapi, yang menjadi pertanyaan dalam benaknya, akankah ia berhasil menemukan suara lonceng itu dan membawa pernikahannya menuju keberhasilan, sementara ada ragu yang terus menyapa hatinya? Thomas memejamkan matanya kuat-kuat, berusaha memfokuskan diri pada suara lonceng yang begitu pelan namun terdengar lamat.
"A-apa? Menikah?" Edward melongo dengan mata mengerjap pelan. Ia tidak menyangka akan mendengar berita pernikahan ditengah musibah yang tengah terjadi.
Charlie pun sama terkejutnya. Ia melirik Thomas dan Belinda dengan kening berkerut dalam, bingung sekaligus heran dengan berita yang tidak penah ia sangka-sangka sebelumnya.
Dan Belinda? Wanita itu kehilangan kata-katanya. Ia hanya mampu mempererat pelukannya dan memasrahkan hidupnya pada garis tangan yang siap menjemputnya. Ingin menolak pun rasanya sudah tidak sanggup. Isi kepala Belinda sudah terlampau berantakan lantaran memikirkan kondisi Exel dan Sandra dan jika harus dipaksa memikirkan hal ini juga, Belinda menyerah.
"Apa maksudmu?" Sandra menatap Exel meminta penjelasan. Benaknya terus bertanya-tanya, kenapa mereka harus menikahkan anak-anak mereka di tengah situasi genting seperti ini.
Exel menjilat bibirnya. Rasanya tidak sanggup untuk mengatakan hal yang sudah pasti membuat hati Sandra hancur tak bersisa. Ia menarik nafasnya kuat-kuat, terlalu lelah menjelaskan semuanya dari awal. Sejujurnya, Exel sudah berada diambang batasnya dan ingin segera terbebas dari semua rasa sakit yang membelenggu raganya.
"Dengarkan aku, sayang. Aku tidak yakin bisa bertahan lebih lama."
"Berhenti mengatakan omong kosong!" Sandra menjerit bersamaan dengan gelengan kuat. Bisa-bisanya Exel mengatakan hal konyol seperti itu. Ada rasa marah dan sakit yang seakan mencabik jantungnya hingga tak berbentuk. Tuhan, apa pria ini sengaja ingin membunuhnya?
"Apa yang Papa bicarakan?" Rebecca turut mengajukan protesnya. Sorot matanya begitu terluka karena Exel seakan menyerah pada keadaan begitu saja. Bukan ini yang Rebecca inginkan, bukan alasan ini yang ingin ia dengar.
"Kau dengar itu?!" Cecilia kembali mengoceh, "Kita akan mengadakan pesta pernikahan besar untuk mereka setelah kondisimu membaik."
Devan melepaskan nafas berat. Situasi ini benar-benar membuat isi kepalanya carut marut.
Suara pintu yang terdorong dari luar berhasil mengalihkan ketegangan yang tercipta.
Barron masuk membawa serta istri dan anaknya. Sewaktu Devan mengabarinya tentang kecelakaan yang dialami oleh Robert dan Shara, tanpa persiapan apapun ia langsung memboyong keluarga kecilnya dari Italia.
Shara dan Robert sudah ia anggap seperti orangtuanya sendiri. Perhatian dan kasih sayang yang keduanya berikan bagaikan seberkas cahaya bagi dunianya yang selalu diselimuti awan hitam.
Barron mendapat informasi bahwa Devan berada di ruangan ini. Sebenarnya ia sedikit kurang menyetujuinya, sebab tidak ada satupun yang menunggui Shara dan Robert di depan ruang operasi. Sepanjang perjalanan, Barron sibuk menerka-nerka hal penting apa yang akan Devan umumkan di ruang rawat Exel. Dan lebih anehnya, kehadirannya telah ditunggu-tunggu oleh pria pencemburu itu.
"Apa sudah ada kabar baik?" Barron bertanya setelah memberikan pelukan pada Devan. Ia lalu beralih memeluk Cecilia, mengecup pipi wanita cantik bermata biru terang itu membuat Devan mendelik dan segera meraih tubuh Cecilia agar menjauh darinya.
Ingin rasanya Barron mencolok mata Devan, agar pria pencemburu itu sadar bahwa sekarang ia telah memiliki istri yang tak kalah cantiknya. "Dasar pria gila." Gumamnya jengkel.
"Bagaimana keadaanmu?" Ruby memeluk erat Cecilia, mengabaikan Barron dan Devan yang saling melemparkan tatapan sengit satu sama lain.
Cecilia menggeleng pelan, "Aku tak yakin."
Tanpa harys dijelaskan sebenarnya Ruby memahami perasaan Cecilia sebab ia juga pernah berada di posisi yang sama. Ruby pun juga amat menyayangi Robert dan Shara. Kedua paruh baya itu banyak membantunya dimasa-masa sulitnya. "Aku harap mereka baik-baik saja."
Cecilia menggenggam tangan Ruby erat. "Tolong doakan yang terbaik."
Ruby mengangguk tanpa ragu, "Pasti, Tuhan akan segera mengembalikan mereka pada kita dalam keadaan yang lebih baik." Katanya seraya tersenyum.
"Sebenarnya ada apa, dude?" Barron mengamati sekelilingnya sebab semua orang terlihat sibuk dengan isi kepala masing-masing.
Devan melepaskan nafas panjang sebelum menatap Barron lekat-lekat. "Thomas dan Belinda akan menikah sekarang. Dan pendeta sudah dalam perjalanan." Beritahunya dengan intonasi tegas.
Bola mata Barron melotot, nyaris saja keluar dari sarangnya. "Apa kau sudah gila?" Pekiknya kencang, "Kau ingin menikahkan mereka disaat Aunty dan Uncle masih berjuang melawan maut, huh?" Barron berkacak pinggang, kepalanya serasa akan meledak mendengar lelucon ini.
Ruby mengusap lengan Barron, agar pria pemarah itu sedikit tenang. "Apa kalian yakin? Maksudku, bukankah lebih baik menunggu semuanya sehat. Kenapa harus tergesa seperti ini?" Meskipun kebingungan, akan tetapi Ruby mencoba menghargai keputusan Devan dan ia pun yakin Devan memiliki alasan kuat sehingga berani mengambil keputusan sebesar ini.
Devan menghembuskan nafas berat. Ia sudah yakin Barron tidak akan serta merta menyetujui pernikahan yang terkesan amat dipaksakan ini. Akan tetapi, ia tidak bisa hanya berdiam diri melihat kondisi Exel yang semakin menurun. Hanya ini satu-satunya cara agar Exel bisa menjalani pengobatannya dengan tenang.
"Aku yakin Mommy dan Daddy akan senang. Mereka juga sudah merencanakan hal ini jauh-jauh hari sebelumnya." Jelas Devan dengan ekspresi datar khasnya. Devan tidak mengerti apakah ini suatu pertanda atau hanya asumsinya saja. Namun, jika mengingat kembali pesan Shara dan Robert kala itu cukup menjadi bahan pertimbangannya dalam mengambil keputusan besar ini.
Belinda yang sejak tadi diam, tersentak. "Apakah itu benar, Uncle?" Suara Belinda mencicit pelan sekali, namun Devan bisa mendengarnya.
"Yeah. Itu yang mereka katakan padaku beberapa minggu yang lalu." Devan kembali menatap Barron yang terlihat menahan amarah. "Lagipula, ini hanya pemberkatan saja, untuk resepsi kita akan mengadakannya setelah kondisi semuanya membaik."
"Apa alasanmu, huh?" Barron masih saja belum bisa menerimanya. Menurutnya ini sangat konyol, disaat Shara dan Robert berjuang diantara hidup dan mati, Devan justru memutuskan untuk menikahkan Thomas dan Belinda. Benar-benar tak masuk logikanya.
"Sabar sebentar, sayang." Ruby menghela nafas sebab Barron selalu tempramen dan sulit sekali mendengar penjelasan orang lain.
Barron menoleh dengan wajah garang. "Kenapa aku harus bersabar? Kau paham betul situasinya, bukan? Aunty dan Uncle sedang berjuang di meja operasi. Dan dia," Barron menunjuk wajah Devan penuh emosi, "Dengan teganya dia justru ingin menikahkan putranya. Setidaknya hargai kondisi kedua orangtuanya!" Nafas Barron memburu hebat, ia merasa emosinya benar-benar dipermainkan saat ini.
Devan menatap Barron tajam. Dipikir hanya pria itu saja yang berperang dengan perasaannya sendiri? Ia juga mengalami hal serupa, bahkan jauh lebih dahsyat dibandingkan dengan yang lainnya. Jangan dikira Devan tidak memikirkan kondisi kedua orangtuanya. Kepalanya saja nyaris meledak sangking banyaknya hal yang harus ia pikirkan.
"Aku memiliki dasar dalam mengambil keputusan ini. Kau lihat dia?" Devan menunjuk Exel yang terbaring lemah. "Exel hanya ingin melihat Belinda menikah sebelum nafasnya habis!" Pekik Devan menggelegar.
Barron beralih menatap Exel. Pria yang biasanya berekspresi datar itu kini menyorot sendu padanya. Apa-apaan ini? "Sejak kapan kau menjadi pria lemah seperti ini?" Sarkas nya penuh sindiran lengkap dengan tatapan mencemooh. Barron sama sekali tidak bermaksud menyinggung Exel. Hanya saja, ia kesal sendiri karena hatinya ikut terenyuh saat menangkap permohonan dari kedua bola mata pria itu.
Belum sempat Exel menjawab, suara ketukan pintu kembali mengundang perhatian semua pasang mata.
Marc masuk sembari menunduk hormat. "Selamat malam, Sir. Pendeta dan penata rias sudah tiba."
Kalimat pemberitahuan itu sukses menambah ketegangan yang tercipta.