Susana kian dingin dan mencekam saat pendeta dan penata rias masuk ke dalam ruangan. Thomas seperti berada di persimpangan jalan. Logikanya menolak, namun hatinya mengiba.
Rahang Barron mengeras. Ia mengalihkan tatapannya ke sembarang arah. Rasanya tak sanggup menyaksikan pernikahan keponakannya diwaktu yang menurutnya sangat tidak tepat. Keputusan sepihak Devan serta ketidakberdayaan Exel berhasil memecah logika dan perasaannya.
Edward pun mengalami gejolak yang sama. Ia menatap Thomas yang terlihat pasrah pada keadaan dan Belinda yang wajahnya kian memucat. 'Cih, pernikahan macam apa ini?' Batinnya menggerutu.
"Apa kau yakin?" Tanya Sandra dengan wajah dipenuhi air mata. Perasaannya semakin berantakan saat mendengar penuturan Devan. Sebelum nafasnya habis? Yang benar saja! Tidakkah Exel menaruh sedikit saja belas kasih padanya?
Anggukan lemah dari Exel membuat hati Sandra hancur tak bersisa. Kepalanya menunduk dengan isak tangis yang semakin hebat. Sandra tidak tau harus dengan cara apa ia menyingkapi situasi saat ini. Keadaan serta kondisi tubuhnya membuat Sandra semakin merasa gagal.
Sebagai seorang ibu, harusnya ia bisa memberikan petuah pada Belinda sebelum putrinya itu melangsungkan pernikahan. Setidaknya mereka bisa saling berbagi cerita dan menghabiskan waktu bersama. Dan seharusnya ia turut mendampingi serta menyaksikan cantiknya Belinda saat mencoba gaun pengantin. Tapi, apa ini? Seolah-olah takdir tidak mengizinkannya ikut serta dalam prosesi sakral ini.
Belinda memang bukan anak kandungnya. Akan tetapi, Sandra tidak pernah sekalipun membedakannya dengan Rebecca. Ia merawat serta mendidik Belinda sejak gadis itu masih bayi. Kasih sayangnya tulus dan murni. Harusnya, Belinda bisa mendapatkan pernikahan impiannya, bukannya dengan kondisi terpaksa seperti ini.
Marc memberikan sebuah kotak berisi cincin yang Devan sudah pesan sebelumnya. "Ini pesanan anda, Sir." Ditatapnya pria yang kala itu satu kelompok dengannya ketika baru saja diterima bekerja di mansion Devan. Exel, pria itu terlihat tak berdaya ditempatnya.
"Kemari, sayang." Cecilia menghampiri Belinda yang masih berdiri kaku di belakang kursi roda. Ia memeluk lengan perempuan itu sembari tersenyum hangat. Ingin meraung-raung pun percuma, sebab Cecilia percaya segala sesuatu yang telah digariskan Tuhan akan indah pada waktunya. "Kau harus terlihat cantik di hari pernikahanmu." Tatapannya beralih pada Thomas. "Sebaiknya kau segera mengganti pakaianmu."
Setelah membawa tatapannya ke sekelilingnya ruangan, Thomas menghembuskan nafas kencang. "Oke, Mom." Tidak ada lagi yang bisa ia lakukan selain mengikuti alur cerita. Toh, sejak awal ia yang lebih dulu permohonan konyol ini.
Seorang wanita memberikan setelan jas pada Thomas. "Ini pakaian anda, Sir."
Berat hati, Thomas meraihnya. "Thanks." Setelah mendekap setelan jas tersebut, dengan perasaan kacau Thomas membawa langkahnya menuju toilet.
Belinda menatap kepergian Thomas dalam diam. Tidak ada lagi yang bisa ia upayakan untuk menggagalkan pernikahan konyol ini. Otaknya benar-benar kusut, tidak sanggup memikirkan apapun lagi. Kondisi Exel yang kian menurun adalah salah satu alasannya untuk tidak mendebatkan apapun lagi.
"Ayo, sayang. Kau harus dirias terlebih dahulu." Cecilia menggiring Belinda menuju sofa kemudian mendudukkannya di sana.
"Apa aku harus menikah sekarang, Aunty?" Pertanyaan yang sejak tadi bersarang di kepalanya, akhirnya keluar begitu saja. Belinda mendongak menatap iris biru terang yang selalu memancarkan kehangatan.
Cecilia tersenyum seraya mengelus lembut kepala Belinda. "Ya, dan kau harus bahagia di hari pernikahanmu, oke?"
Sampai dititik ini Cecilia tau persis apa yang Belinda risaukan, sebab ia pun pernah berada di posisi yang serupa. Menikah karena keadaan mendesak bukan karena faktor cinta. Saat itu, Cecilia bukan sekedar menyiksa batinnya saja namun lebih dari itu, Cecilia merasa membohongi dan membodohi banyak pihak. Terlebih saat mengucapkan ikrar di depan pendeta, Cecilia merasa sangat berdosa kala itu.
Kepala Belinda mengangguk patah-patah. Bahagia? Belinda sendiri pun tidak yakin akan menemukan kebahagiaan. Bagaimana mungkin ia bisa bahagia ditengah-tengah penderitaan semua orang?
Melihat Belinda masih ragu, Cecilia kembali mengusap rambut perempuan itu. "Percayalah, semua sudah menjadi takdirmu. Setidaknya kau harus memberikan senyum terbaikmu untuk Papamu."
Tatapan Belinda beralih pada Exel yang saat ini tengah tersenyum penuh haru padanya. Ya Tuhan... Belinda tidak sekuat itu.
"Akan aku usahakan, Aunty." Dengan suara bergetar, Belinda mengatakannya. Sorot sayu Exel membiusnya, membuatnya tidak sanggup menolak. Kerongkongan Belinda tercekat, seolah ada batu besar yang dipaksa ia telan bulat-bulat.
"Good, sekarang kau hanya cukup menjalani semuanya. Dan jangan memikirkan apapun, oke?"
Belinda mendongak dengan mata berkaca-kaca. "Terimakasih, Aunty."
Cecilia menunjuk wajah Belinda. "Sstt... Jangan menangis! Ingat kau harus tersenyum." Peringat nya. Belinda tersenyum tipis seraya mengangguk kemudian menyeka air mata yang menggenang di sudut matanya.
Di dalam toilet, Thomas mematut dirinya di depan cermin. Ia sudah berganti pakaian. Berulang kali Thomas menarik dalam-dalam nafasnya, lalu menghembuskan lewat mulut. Benaknya bertanya-tanya, apakah keputusan yang diambilnya sudah tepat? Menikah disaat ia belum mengetahui secara pasti kondisi Shara dan Robert. Menikah karena keadaan dan amanat? Thomas berdecih geli seraya segelng-geleng kepala, sebab ia baru saja menyadari keputusan yang diambilnya benar-benar tak masuk diakal.
Pantas saja Barron sangat murka karena ini bukanlah keputusan main-main yang mampu merubah hdidupnya dalam sejejap. Dan bodohnya, ia mengambil keputusan ini dalam kondisi otak yang tidak tenang. Thomas masih diselimuti kegelisahan, hatinya kembali meragu. Tapi, bukankah sudah terlambat untuk menyesalinya? Thomas mengusap kasar wajahnya. Ini adalah keputusan tersulit yang harus ia ambil. Dan Belinda? Tak pernah sedetikpun Thomas membayangkan akan menikahi wanita yang sudah ia anggap adiknya sendiri.
Bertahun-tahun Thomas berupaya menjaga perasaannya agar tidak melenceng dari jalur yang seharusnya. Ia juga selalu mengawasi wanita itu dan memastikan Belinda berhubungan dengan pria yang menurutnya baik. Dan sekarang? Apakah Thomas harus menjilat ludahnya sendiri? Thomas menyentak nafas frustasi. Setelah perasaannya jauh lebih baik, Thomas membuka pintu toilet. Rupanya Edward dan Charlie sudah menunggunya.
"Wah, aku tak menyangka kau akan menikah secepat ini, Dude." Edward geleng-geleng kepala seraya mengamati penampilan Thomas dari atas hingga ke bawah. Batinnya mengumpat karena harus mengakui kegagahan sahabatnya itu.
"Kau benar," Charlie terkekeh geli. "Pada akhirnya dia menikah dengan Belinda." Ledeknya dengan ekspresi puas.
Edward tersenyum mengejek dan sangat menyebalkan sekali dimata Thomas. "Menikah dengan gadis yang selama ini kekeuh kau anggap adik itu, huh?" Puas sekali hatinya melihat Thomas akhirnya menikah dengan Belinda, mengingat selama ini Thomas selalu mengelak tentang perasannya sendiri.
Thomas mendelik, "Kalian terlalu banyak bicara, sialan!" Omelnya dengan ekspresi garang.
Edward dan Charlie tertawa bersamaan. Bagi mereka, ada kepuasan tersendiri melihat Thomas tak berdaya seperti ini.
"Jadilah suami yang baik, Dude." Charlie menepuk pundak Thomas dengan binar geli dimatanya.
"Tentu saja. Kau sudah melihatnya, bukan? Selama ini dia sudah memberikan perhatian lebih pada Belinda. Aku rasa akan mudah baginya untuk berperan sebagai suami yang baik." Edward tersenyum penuh arti, membuat Thomas melotot tajam padanya.
"Sudahlah, Dude. Jangan menggodanya terus." Charlie menggeleng pelan, "Tapi, aku lebih penasaran dengan permainan mereka di atas ranjang." Kedua alisnya naik turun menggoda, membuat wajah Thomas memerah antara kesal dan malu.
"Kira-kira apa yang mereka bicarakan?" Rebecca menatap Gabrielle dengan alis menukik. "Kenapa wajah Kak Thomas begitu merah?" Sejak tadi ia terus memperhatikan ketiga pria yang terlihat sibuk berbincang.
Gabrielle memutar bola matanya malas. "Pembicaraan mereka tak akan jauh dari seluk beluk s**********n!"
Rebecca tersedak ludahnya sendiri, nyaris terbatuk jika tidak mampu menahannya. "Apa yang kau bicarakan?" Wajah Rebecca ikut memerah, malu sendiri mendengarnya.
Gabrielle mengendus, "Apa kau tau? Teman-teman Kak Thomas itu sangat mesum." Suara Gabrielle begitu tegas dan meyakinkan.
Rebecca melotot. "Jangan bicara sembarangan! Mereka bisa mendengarnya!" Ia melirik takut ketiga pria yang telihat asik dengan dunia mereka sendiri.
"Itu memang kenyataannya! Kau tau? Kedua orang itu selalu mengirimkan vidio blue ke ponsel Kak Thomas. Terutama Edward." Ungkap Gabrielle dengan intonasi kesal.
Rebecca menunduk seraya mencubit kecil lengan Gabrielle. Ia tidak sanggup mendengar lebih jauh informasi yang terdengar menggelikan itu. Meskipun usianya sudah mendekati dewasa akan tetapi Rebecca tidak pernah sekalipun membicarakan hal-hal vulgar seperti itu.
Barron menyandarkan tubuhnya pada sofa dengan mata terpejam, disebelahnya ada Mickael, putranya. Devan pun duduk di sofa yang sama dengan tangannya bersedekap seraya mengamati wajah Thomas dari kejauhan.
Sedangkan Cecilia dan Ruby lebih memilih untuk duduk di kursi yang berdempetan dengan Belinda. Kedua wanita itu sibuk mengawasi penata rias yang saat ini sedang menata rambut Belinda. Perempuan itu terlihat menawan dengan riasan natural.
"Sekarang kau bisa mengganti pakaianmu." Cecilia menyerahkan gaun yang ia dekap sejak tadi seraya tersenyum hangat.
Belinda meraih gaun itu dalam diam. Ia amati lekat-lekat gaun putih sederhana yang sudah berada dalam genggaman tangannya. Belinda lalu kembali menatap Cecilia dan Ruby secara bergantian. "Aku akan menggantinya sekarang." Ia mengambil nafas dalam-dalam sebelum berdiri.
Ruby mengangguk, "Kami akan menunggumu disini." Katanya sembari memberikan seulas senyum menenangkan.
Belinda melangkah dengan jantung berdegup kencang. Di samping pintu toilet ada Thomas dan kedua sahabat pria itu. Belinda tidak tau harus mengambil sikap seperti apa. Kepalanya menunduk, tak sanggup menatap ketiga pria yang kini tengah memperhatikannya.
Hembusan nafasnya terdengar lega begitu pintu toilet tertutup. Demi Tuhan, apakah ketiga pria itu tidak bisa menatapnya dengan cara yang biasa saja? Kenapa mereka harus menatapnya seintens itu? Apa karena makeup nya terlalu berlebihan? Belinda memejamkan mata sejenak guna menetralkan debaran jantungnya yang menggila.
Kini, matanya melebar sempurna kala melihat bayangan dirinya sendiri di dalam cermin. Sebelah tangannya terangkat, memegang wajahnya sendiri. Apakah ini benar-benar dirinya? Belinda mengerjap, ia bahkan tak percaya bahwa yang ia lihat adalah bayangannya sendiri.
"Apa yang aku pikirkan?" Gumamnya pelan.
Belinda menggeleng pelan. Ia merasa sudah gila karena menganggap dirinya sendiri cantik. Setelah berhasil menentramkan hatinya, Belinda membuka seluruh pakaiannya. Tubuhnya menggigil sebab udara malam ini terlalu dingin. Dengan cepat, Belinda menyambar gaun putih yang tergantung di belakang pintu dan mulai memakainya.
Kali ini, Belinda menganga saat menilik penampilannya sendiri. Gaun yang dipakainya memang bukan gaun pengantin. Tapi, gaun ini benar-benar terlihat elegan dan tampak cantik serta pas di tubuhnya.
Belinda terpukau dengan gaun sederhana yang ia kenakan. Dua tali kain renda yang menggantung cantik di pundaknya mempertontonkan tulang belikatnya, sepanjang bagian dadanya pun terbalut renda yang sama sehingga terkesan manis. Dan di sepanjang perut hingga mata kaki kain sifon putih dilapisi puring yang dijahit bersama renda keliling, membuat gaun itu terlihat mewah. Benar-benar menakjubkan.
Belinda memutar tubuhnya, mematut penampilannya sekali lagi sebelum benar-benar keluar dari toilet. Akan tetapi tiba-tiba saja tangannya mendingin karena diserang gugup berlebihan. Berkali-kali Belinda menarik nafasnya lalu membuangnya guna menentramkan perasaannya.
Dengan tangan bergetar halus, Belinda memberanikan diri membuka pintu. Seketika nafasnya tercekat kala seluruh pasang mata tertuju padanya, seolah-olah hanya dirinya satu-satunya objek yang terlihat. Belinda menunduk kemudian melipir ke sisi ranjang pesakitan. Sejujurnya, ia tak sanggup ditatap sedemikian rupa oleh seluruh pasang mata, rasanya sangat malu.
Charlie menyenggol lengan Thomas. "Kau sangat beruntung, Dude." Bisiknya pelan. Ia saja sampai terpana melihat kecantikan Belinda. Selama ini, Charlie hampir tidak pernah melihat perempuan itu merias wajahnya. Dan begitu melihat penampilan Belinda saat ini, ia harus mengakui kecantikan tersembunyi yang perempuan itu miliki.
"Yeah, aku rasa dia memang b******n yang beruntung." Edward mengangguk sependapat. Sebagai seorang pria yang mengagumi kecantikan wanita, ia pun turut mengakui bahwa penampilan Belinda kali ini mampu membuat jiwa predatornya meronta.
Thomas tak menghiraukan ocehan kedua sahabatnya dan lebih memilih fokus menilik penampilan wanita yang sebentar lagi berganti status menjadi istrinya. Selain itu, Thomas juga sedang berusaha menenangkan ritme jantungnya yang melompat gila-gilaan.
Dan gilanya, Thomas tidak dapat mengalihkan tatapannya seolah baru saja melihat bidadari yang turun dari surga. Thomas akui, penampilan Belinda saat ini berhasil mengambil seluruh atensinya. Wanita itu terlihat sederhana namun mampu memikat hatinya.
"Kau sangat cantik, sayang." Cecilia tidak dapat menahan mulutnya untuk memberikan pujian. Matanya berbinar, melihat betapa anggunnya Belinda malam ini.
Belinda melirik Cecilia dengan wajah merona. "Terimakasih, Aunty." Bisiknya pelan.
"Setelah ini kau harus memanggilku Mom, oke?" Titah Cecilia yang diangguki kecil oleh Belinda.
Hal serupa dirasakan oleh Sandra dan Exel. Kedua tangan mereka saling menggenggam erat. Merasakan bahagia dan haru yang menyeruak menjadi satu.
"Apa semuanya sudah siap?" Pendeta mengamati satu persatu orang yang berdiri dalam ruangan.
Devan menarik nafas dalam-dalam sebelum mengangguk. "Silahkan dimulai."
Pendeta tersebut mengangguk, ia menatap pengantin pria yang berdiri bersebrangan dengan pengantin wanita. "Bisa kau berdiri disamping pengantinmu?"
Thomas mengangguk. Dengan gagah pria itu berjalan mendekati Belinda dan berdiri persis di sisi wanita itu. Thomas menghirup dalam-dalam nafasnya saat membaui aroma manis yang mengacaukan isi kepalanya.
"Here comes the bride." Dan upacara pernikahan pun di mulai.
"I accept you, take you Belinda Horison to be my wedded wife. To have and to hold, from this day forward, for better, for worse, for richer, for poorer, in sickness or in health, to love and to cherish 'till death do us part. And hereto I pledge you my faithfulness. Promise"
Thomas mengucapkan ikrar dengan sungguh-sungguh. Tidak adanya keraguan dimatanya, membuat seluruh pasang mata terharu menyaksikannya.
"I accept you, take you Thomas Alexander to be my wedded husband. To have and to hold, from this day forward, for better, for worse, for richer, for poorer, in sickness or in health, to love and to cherish 'till death do us part. And hereto I pledge you my faithfulness. Promise"
Suara Belinda terdengar bergetar. Ada rasa yang sulit ia deskripsikan. Rasanya tak percaya bahwa statusnya kini telah berubah menjadi istri Thomas. Impian yang dulu pernah singgah dalam benaknya kini menjadi kenyataan.
Selepas mengucapkan ikrar janji. Keduanya saling bertukar cincin. Suara riuh tepuk tangan menjadi gaungan sukacita yang yang mewakili perasaan setiap jiwa.
Melihat seklilingnya tersenyum bahagia, Barron pun pada akhirnya kalah pada rasa haru yang tercipta. Meskipun tipis, ia mengulas senyum sebagai tanda hatinya menerima.
Exel tersenyum lega, pada akhirnya ia bisa pergi dengan tenang jika memang Tuhan memanggilnya. Tugasnya sebagai seorang ayah telah usai. Walau dalam keadaan tak berdaya dan tidak bisa mendampingi Belinda menuju altar, Exel merasa puas.
"Kalian telah resmi menjadi pasangan pengantin." Pendeta memberikan selamat pada pasangan baru itu, disambut senyum sukacita semua orang yang menyaksikan.
Gabrielle dan Rebecca saling menggenggam tangan satu sama lain. Senyum keduanya terukir indah karena pada akhirnya, impian mereka terwujud.
Senyum Exel semakin merekah. Namun, tiba-tiba saja matanya mulai memberat. Nafasnya seperti terhenti di tenggorokan. Exel menatap satu persatu orang yang berada dalam ruang inapnya, menyimpan semua wajah mereka dalam memori ingatannya. Mungkin ini adalah kesempatan terakhirnya untuk beratap muka dengan semua orang terdekatnya. Kedua mata Exel perlahan menutup dengan senyum masih terukir indah.
Suara mesin EKG yang melengking membuat semuanya terkesiap. Tidak sampai di sana, wajah Devan yang menegang saat mengangkat panggilan telepon membuat suasana semakin mencekam.