Mobil SUV tua itu melesat liar membelah badai salju. Dante mencengkeram kemudi dengan tangan kanannya yang gemetar, sementara tangan kirinya yang terborgol dengan tangan kiri Rania terpaksa berada di dekat tuas transmisi. Setiap kali Dante harus membanting stir atau memindahkan gigi, tubuh Rania ikut tersentak, bahu mereka beradu, menciptakan keintiman yang dipaksakan di tengah maut yang mengintai.
"Tuan Dante, napas Anda..." Rania menatap cemas. Napas Dante terdengar berat dan berbunyi, pertanda paru-parunya mulai tertekan.
"Diam dan pegang kemudi ini sebentar. Jaga agar tetap lurus!" perintah Dante parau.
Rania segera menempelkan tangannya di kemudi, menahan getaran ban yang menghantam salju keras. Dante melepaskan tangan kanannya, merogoh saku jaketnya dengan gerakan kaku, lalu mengeluarkan sebuah kunci kecil berwarna perak.
"Ambil ini," desis Dante, meletakkan kunci itu di atas paha Rania. "Buka borgolmu sekarang."
Rania tertegun. Di tengah desing peluru yang mulai menghantam bodi belakang mobil, pria ini memilih melepaskannya. "Tuan, tapi kalau saya lepas, Anda tidak bisa..."
"BUKA SEKARANG!" bentak Dante, matanya yang biru berkilat tajam menatap lampu sorot barikade yang muncul di ujung jalan. "Aku tidak bisa menabrak barikade itu jika tangan kita masih menyatu. Kau akan patah tulang, atau lebih buruk, kau akan ikut terseret bersamaku jika aku gagal."
Dengan tangan gemetar, Rania mengambil kunci itu. Di tengah guncangan hebat, ia berhasil memasukkan kunci ke lubang borgolnya.
Klik.
Logam dingin itu terlepas dari pergelangan tangan Rania. Ia merasa ringan, namun seketika hatinya terasa mencelos saat melihat Dante segera menarik kembali tangan kirinya yang bebas untuk mencengkeram tuas persneling dengan kuat. Pria itu kini benar-benar sendirian mengendalikan monster besi ini.
"Pindah ke kursi belakang!" Dante berteriak lagi saat jarak mereka dengan dua mobil van hitam di depan hanya tinggal seratus meter. "Berlindung di bawah jok dan jangan keluar sampai aku mengatakannya!"
Rania merangkak melewati celah kursi dengan panik. Ia melihat Dante dari kaca spion tengah—pria itu menyeringai liar ke arah kematian yang menghadang, menginjak pedal gas sedalam mungkin seolah-olah ia sedang menantang maut itu sendiri.
"Tundukkan kepalamu!" teriak Dante sekali lagi, suaranya hampir hilang ditelan deru mesin yang mencapai batas maksimal.
Rania meringkuk di lantai kursi belakang, memejamkan mata rapat-rapat sambil menutupi kepalanya dengan kedua tangan. Di tengah kegelapan kabin, ia bisa mendengar detak jantungnya sendiri yang berpacu melawan suara raungan mesin SUV tua itu.
Dante mencengkeram kemudi dengan tangan kanannya yang bersimbah darah. Matanya tidak berkedip, mengunci celah sempit di antara dua mobil van hitam yang membentuk barikade. Para penjaga di depan mulai melepaskan tembakan beruntun.
Takk! Takk! Takk!
Peluru menghantam kaca depan, menciptakan retakan seperti sarang laba-laba yang mengaburkan pandangan. Namun, Dante tidak melepaskan gas. Ia justru meraung, sebuah teriakan penuh amarah yang keluar dari tenggorokannya yang luka.
BRAKKKKKK!
Benturan itu terasa seperti ledakan. Dunia seolah berputar bagi Rania. Tubuhnya terlempar menghantam sandaran kursi depan saat SUV itu menabrak sudut van dengan kecepatan lebih dari 100 km/jam. Suara besi yang hancur, kaca yang pecah, dan decit ban yang selip menciptakan simfoni maut di udara Alpen yang sunyi.
Mobil mereka tidak berhenti. Berkat momentum dan berat SUV yang besar, mereka berhasil menyampingkan satu van musuh, namun dampaknya membuat mobil Dante kehilangan kendali. SUV itu melintir, berputar dua kali di atas aspal yang tertutup es, sebelum akhirnya menghantam deretan pohon pinus di pinggir tebing.
Hening.
Hanya ada suara desis uap panas dari radiator yang bocor dan tetesan bahan bakar yang jatuh ke atas salju.
Rania terengah-engah. Kepalanya pening luar biasa, dan bau asap menyengat hidungnya. Dengan susah payah, ia bangkit dari lantai mobil dan melihat ke arah kursi pengemudi.
Airbag telah mengembang, namun kini warnanya merah pekat karena darah Dante. Pria itu tidak bergerak. Kepalanya terkulai ke samping, matanya terpejam, dan wajahnya yang maskulin kini penuh dengan luka sayatan kaca.
"Tuan... Tuan Dante?" bisik Rania, suaranya gemetar.
Ia melihat ke arah jendela yang pecah. Di kejauhan, lampu-lampu senter mulai bergerak mendekat dari arah barikade yang baru saja mereka hancurkan. Suara derap sepatu bot di atas salju terdengar seperti lonceng kematian.
"Cepat! Mereka ada di dalam pohon itu! Habisi mereka sebelum cadangan datang!" teriak salah satu pengejar.
Rania menatap tangannya yang kini bebas tanpa borgol. Pintu di belakangnya sedikit terbuka. Ia bisa lari sekarang—menghilang ke dalam kegelapan hutan pinus yang lebat dan membiarkan Dante menghadapi takdirnya sendiri. Namun, saat matanya kembali menatap Dante, ia melihat tangan kiri pria itu masih memegang kunci perak yang tadi digunakan untuk membebaskannya.
Suara langkah kaki di atas salju terdengar semakin tajam, seperti kerupuk yang remuk di bawah tekanan sepatu bot militer. Rania tahu dia hanya punya waktu beberapa detik. Logikanya berteriak untuk lari, tapi hatinya—hati seorang santri yang diajar untuk tidak meninggalkan nyawa yang sekarat—menahannya di tempat.
"Maafkan saya, ya Allah... saya pasti gila," bisik Rania.
Bukannya lari ke arah hutan, Rania justru merangkak ke depan. Ia menarik tubuh Dante yang berat dan lemas dari kursi pengemudi. Dante adalah pria yang besar, otot-ototnya terasa seperti beton di bawah tangan Rania yang kecil. Dengan sisa tenaga yang ada, Rania mendorong pintu pengemudi yang sudah ringsek hingga terbuka sepenuhnya.
"Tuan Dante, bangun! Saya tidak bisa menyeret Anda sendirian!" Rania mengguncang bahunya, namun Dante hanya mengerang lemah, kesadarannya masih tertinggal di balik benturan hebat tadi.
Rania melingkarkan lengan Dante ke bahunya. Ia harus setengah menggendong, setengah menyeret pria itu keluar dari mobil. Begitu kakinya menyentuh salju yang setinggi betis, rasa dingin yang menusuk tulang langsung menyambar, namun adrenalin membuatnya tetap bergerak.
Dor! Dor!
Peluru menghantam batang pohon di samping kepala Rania, menerbangkan serpihan kayu dan salju.
"Di sana! Mereka lari ke hutan!" teriak suara dari arah barikade.
Rania memacu kakinya sedalam mungkin ke dalam tumpukan salju. Ia menyeret Dante masuk ke balik bayang-bayang pohon pinus yang rapat. Jejak darah Dante meninggalkan garis merah yang kontras di atas salju putih—sebuah peta yang sempurna bagi para pemburu mereka.
"Pegang... pohon itu..." Dante tiba-tiba berbisik, suaranya nyaris seperti desisan angin. Ia mencoba membantu dengan mendorong kakinya sendiri, meski setiap langkah membuatnya meringis menahan nyeri di perutnya.
Mereka tiba di sebuah ceruk kecil di bawah akar pohon pinus raksasa yang tertutup salju tebal, membentuk semacam gua alami yang sempit. Rania merebahkan Dante di sana, menutupi tubuh mereka dengan ranting-ranting pinus yang patah untuk menyamarkan keberadaan mereka.
Napas mereka berdua memburu, menciptakan uap putih di udara yang beku. Rania menempelkan punggungnya ke batang pohon, tangannya menutup mulutnya sendiri agar suara isak tangisnya tidak terdengar oleh musuh yang kini hanya berjarak beberapa belas meter dari tempat mereka bersembunyi.
Cahaya senter mulai menyapu area tersebut. Garis cahaya putih itu meluncur di atas kepala mereka, menyinari butiran salju yang jatuh.
"Jejak darahnya terhenti di sini!" teriak seorang pria. "Cari di sekitar pohon-pohon ini! Mereka tidak mungkin jauh dengan luka seperti itu!"
Di dalam kegelapan ceruk, Dante tiba-tiba meraih tangan Rania. Tangannya yang dingin dan berdarah menggenggam jemari Rania dengan sangat erat. Dalam kegelapan total itu, mata biru Dante terbuka sedikit, menatap Rania dengan tatapan yang sulit diartikan—antara rasa terima kasih yang tersembunyi dan peringatan akan bahaya yang lebih besar.