Hutan Alpen terasa seperti kuburan raksasa yang berwarna putih. Di dalam ceruk sempit di bawah akar pinus raksasa, Rania memeluk dirinya sendiri, berusaha menahan gigil yang membuat giginya beradu. Di sampingnya, Dante bersandar pada dinding tanah yang membeku. Napas pria itu kini terdengar seperti gesekan amplas—kasar, berat, dan sesekali terhenti.
Senter-senter musuh masih menari-nari di antara batang pohon, hanya sekitar dua puluh meter dari tempat mereka. Suara salju yang terinjak sepatu bot terdengar semakin jelas.
"Cari lebih teliti! Darahnya masih segar!" teriak salah satu pengejar di luar sana.
Rania melirik ke arah tangan Dante. Darah yang mengalir dari luka perutnya mulai membeku di ujung kemejanya, namun bau anyirnya tetap tajam. Rania tahu, jika anjing pelacak dikerahkan atau jika mereka berdiam di sini lebih lama, mereka akan mati beku atau tertangkap.
Dante tiba-tiba bergerak sedikit. Matanya yang biru sayu terbuka perlahan, menatap Rania di kegelapan. Ia mencoba meraih sesuatu di balik pinggangnya, namun tangannya terkulai lemas karena kehilangan terlalu banyak darah.
"Tas... samping..." bisiknya, nyaris tak terdengar.
Rania meraba sisi tubuh Dante dan menemukan sebuah tas kecil yang tadi sempat diselamatkan Dante dari SUV. Dengan tangan gemetar, Rania membukanya. Di dalamnya bukan senjata, melainkan sebuah suar (flare gun) dan sebuah pemantik gas tua.
Dante menarik kerah baju Rania dengan sisa tenaganya, memaksa gadis itu mendekatkan telinganya ke bibir Dante yang sudah mulai membiru.
"Kau harus... keluar dari sini," desis Dante parau. "Gunakan suar itu... pancing mereka menjauh. Ini satu-satunya cara agar kau bisa keluar hidup-hidup."
Rania tertegun. Di tengah luka parahnya, Dante justru memberikan instruksi untuk menyelamatkannya—atau mungkin, instruksi untuk sebuah pengorbanan yang lebih besar.
Rania menggeleng keras. Air mata yang hangat mengalir di pipinya yang membeku. "Tidak, Tuan! Jika saya pergi, Anda akan mati membeku di sini. Luka Anda perlu ditekan!"
Dante menggeram, rasa sakit di perutnya membuat setiap kata yang keluar terasa seperti sayatan. "Jangan bodoh... Rania. Jika mereka menemukan tempat ini, kita berdua mati. Jika kau memancing mereka menjauh... kau punya peluang untuk lari."
"Saya tidak akan lari!" balas Rania dengan keberanian yang ia sendiri tidak tahu dari mana asalnya. "Saya akan memancing mereka, tapi saya akan kembali untuk Anda."
Dante menatapnya dengan pandangan tak percaya—campuran antara sinis dan rasa hormat yang tersembunyi. "Lakukan saja... sebelum aku berubah pikiran dan menembakmu sendiri."
Rania merangkak keluar dari ceruk akar pohon dengan sangat hati-hati. Udara malam yang ekstrem langsung menusuk paru-parunya, membuatnya hampir tersedak. Ia menggenggam suar (flare gun) itu dengan kedua tangan yang gemetar.
Ia bergerak seperti bayangan di balik pohon-pohon pinus, menjauh sekitar lima puluh meter ke arah timur—berlawanan arah dengan jalur pelarian mereka yang sebenarnya. Ia melihat cahaya senter musuh mendekati area persembunyian Dante.
Sekarang atau tidak sama sekali, batinnya.
Rania mengarahkan suar itu ke langit terbuka, jauh ke arah lembah yang curam.
Pshhhhuuuuu... DUARRR!
Cahaya merah benderang membelah kegelapan malam Alpen, menyinari hutan dengan warna darah yang mencekam. Cahaya itu memantul di permukaan salju, menciptakan ilusi optik yang membingungkan.
"DI SANA! MEREKA LARI KE ARAH LEMBAH!" teriak seorang pengejar.
"KEJAR! JANGAN BIARKAN MEREKA MENCAPAI JALAN UTAMA!"
Suara derap sepatu bot segera berpindah arah. Rania menjatuhkan diri ke balik tumpukan salju, menahan napas saat serombongan pria bersenjata berlari melewatinya, hanya berjarak beberapa meter. Cahaya senter mereka menjauh, mengejar sisa-sisa cahaya merah suar yang kini jatuh ke kedalaman jurang.
Begitu suasana hening kembali, Rania tidak lari ke arah jalan raya. Ia justru berbalik, merangkak dengan susah payah kembali ke ceruk pinus. Tangannya lecet dan kedinginan, tapi ia tidak peduli.
"Tuan Dante?" bisiknya saat sampai di depan ceruk.
Hening. Tidak ada jawaban.
Rania panik. Ia merangkak masuk dan menemukan Dante dalam posisi yang sama, namun kepalanya kini terkulai ke d**a. Rania menyentuh leher pria itu. Kulitnya sedingin es, tapi ia masih bisa merasakan denyut nadi yang sangat lemah dan tidak beraturan.
"Tuan, bangun! Mereka sudah pergi!" Rania mengguncang bahunya.
Dante membuka matanya sedikit, tampak bingung melihat wajah Rania kembali di hadapannya. "Kau... kenapa kau kembali, Gadis Bodoh?"
"Karena saya sudah berjanji," jawab Rania sambil membuka tas medis yang tadi tertinggal. Ia mengeluarkan kain penghangat darurat (emergency blanket) yang terbuat dari foil perak dan menyelimuti tubuh Dante.
Dante menyandarkan kepalanya di bahu Rania, napasnya kini sangat tipis. "Marcello... teleponnya..."
Rania mengambil ponsel satelit yang terjatuh di antara kaki Dante. Layarnya masih menyala. Ia menyerahkannya pada Dante, namun jemari pria itu terlalu kaku untuk menekan tombol.
"Tolong... tekan tombol hijau... panggil kontak teratas," perintah Dante dengan sisa kesadarannya.
Rania menekannya. Setelah beberapa detik nada sambung yang menegangkan, sebuah suara berat dan waspada menjawab di seberang sana.
"Pronto? (Halo?)"
"Marcello..." Dante berbisik ke arah ponsel yang dipegangkan Rania. "Sektor 4... Alpen bawah. Jemput kami... sekarang... atau siapkan peti mati."
Waktu seolah membeku bersama salju di sekitar mereka. Setiap menit terasa seperti jam bagi Rania. Ia duduk bersila di tanah yang membeku, memangku kepala Dante agar tidak menyentuh lantai ceruk yang sedingin es. Selimut foil perak yang membungkus mereka berdua bergemisik pelan setiap kali tubuh Rania gemetar karena hipotermia.
"Tuan Dante, jangan tidur... Tolong, tetap buka mata Anda," bisik Rania. Ia terus menggosok tangan kanan Dante yang bebas, berusaha menjaga aliran darah pria itu.
Dante tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya mengerang pelan, kelopak matanya bergetar hebat. Darah di perutnya telah membeku menjadi lapisan keras yang mengerikan, namun itu justru membantu menghentikan pendarahan hebat untuk sementara.
Saat cahaya fajar mulai menyusup di antara celah pohon pinus, sebuah suara asing membelah kesunyian. Bukan suara langkah kaki yang kasar seperti para pengejar semalam, melainkan suara mesin mobil yang mendekat dengan pelan—sangat pelan, seolah berusaha tidak menarik perhatian.
Rania menegang. Ia meraih sepotong kayu tajam yang ada di dekatnya, satu-satunya senjata yang ia miliki.
"Dante? Capo?" sebuah suara bariton memanggil dengan nada waspada dari kejauhan.
Dante sedikit tersentak di pangkuan Rania. "Mar... cello..." gumamnya nyaris tak terdengar.
Rania memberanikan diri. Ia merangkak keluar sedikit dari ceruk, namun tetap bersembunyi di balik akar. Ia melihat sebuah mobil ambulans putih tanpa logo rumah sakit berhenti di jalan setapak bawah, didampingi sebuah mobil SUV hitam yang tampak kokoh.
Seorang pria paruh baya dengan setelan jas hitam yang dilapisi mantel bulu keluar dari SUV. Wajahnya keras, namun matanya memancarkan kecemasan yang mendalam.
"Sini!" teriak Rania dengan suara serak. "Kami di bawah pohon pinus besar!"
Pria itu—Marcello—bersama dua orang berpakaian paramedis segera berlari menanjak ke arah mereka. Saat Marcello melihat kondisi Dante yang bersimbah darah di pelukan seorang gadis berhijab yang kotor dan pucat, ia sempat terpaku sejenak.
"Tuan Dante!" Marcello berlutut, memeriksa nadi di leher bosnya. "Cepat! Siapkan tandu! Dia kehilangan terlalu banyak darah dan suhu tubuhnya sangat rendah!"
Para paramedis dengan cekatan memindahkan Dante ke atas tandu medis. Saat mereka mulai mengangkatnya, tangan kiri Dante yang bebas tiba-tiba bergerak lemah. Ia mencengkeram ujung kain baju Rania dengan sisa tenaga terakhirnya.
"Bawa... dia," bisik Dante sebelum matanya benar-benar terpejam dan kepalanya terkulai.
Marcello menatap Rania dengan tatapan menyelidik. Ia melihat pergelangan tangan Rania yang memerah bekas borgol, lalu melihat kunci perak yang masih tergeletak di dalam ceruk. Ia menyadari sesuatu: gadis ini bukan sekadar tawanan biasa jika Dante Moretti mau bersusah payah melepaskannya di tengah maut.
"Nona, mari ikut kami," ucap Marcello dengan nada yang lebih lembut namun tetap tegas. "Milan tidak jauh dari sini, tapi perjalanan ini akan sangat berbahaya bagi siapa pun yang bersama Dante Moretti."
Rania berdiri dengan kaki yang goyah. Ia menatap hutan Alpen yang kini mulai terang oleh matahari pagi. Ia bebas dari borgol, tapi ia tahu, saat ia melangkah masuk ke dalam mobil Marcello, ia sedang memasuki babak baru yang jauh lebih berbahaya daripada sekadar bunker yang meledak.