Bab 8: Kota Mode yang Berdarah

1578 Words
​Ambulans itu melaju membelah kabut pagi yang menyelimuti jalanan menuju Milan. Di belakangnya, SUV hitam yang membawa Rania dan Marcello menjaga jarak dengan waspada. Rania duduk diam di kursi belakang, tubuhnya masih terbungkus mantel bulu, namun pikirannya jauh lebih kacau daripada badai salju semalam. ​ Marcello, yang sedari tadi fokus pada kemudi dan tablet di pangkuannya, akhirnya bersuara. Suaranya berat, membawa kabar yang membuat jantung Rania seakan berhenti detak. ​"Anda tahu, Nona... Anda adalah kesalahan paling mahal dalam sejarah klan Moretti," ujar Marcello tanpa menoleh. ​Rania menatap punggung kursi Marcello dengan bingung. "Maksud Anda? Saya sudah katakan berkali-kali, saya hanya ingin ke Jeddah. Saya tidak tahu kenapa saya diseret ke urusan ini." ​"Klan Valenti—musuh kami—sebenarnya memiliki rencana besar malam itu," Marcello mulai menjelaskan sambil membelokkan mobil ke jalanan pinggiran Milan yang sunyi. "Mereka berniat menculik Bianca. Wanita itu adalah mantan tunangan Tuan Dante, sekaligus wanita yang mengkhianati klan kami dan memicu perang ini." ​ Rania tertegun. Nama itu—Bianca—adalah nama yang sama dengan wanita kejam yang menusuk Dante di villa. ​"Malam itu di bandara, Bianca dikabarkan akan melakukan pelarian dengan menyamar menggunakan kerudung sutra panjang untuk menghindari radar pengawal Tuan Dante," lanjut Marcello. "Anak buah Valenti yang bodoh melihat Anda. Postur tubuh yang mirip, penutup kepala yang sama, dan berada di titik koordinat yang mereka incar. Mereka menyergap Anda, mengira Anda adalah Bianca." ​ ​Rania menarik napas tajam. "Jadi... Tuan Dante menyerbu tempat itu untuk menyelamatkan mantan tunangannya?" ​ "Tepat," Marcello mendengus pahit. "Tuan Dante tidak tahu bahwa Valenti salah tangkap. Dia mempertaruhkan nyawa seluruh tim taktisnya, membakar kamp musuh, dan menyeret Anda keluar dari sana karena dia pikir dia sedang mengambil kembali 'miliknya' yang berkhianat untuk diadili sendiri." ​ Bayangan wajah murka Dante saat pertama kali melihat wajah Rania di bunker kini masuk akal. Dante bukan hanya marah karena Rania seorang asing; dia murka karena dia telah mempertaruhkan segalanya untuk wanita yang sangat dia benci, namun yang ia temukan justru seorang gadis santri yang ketakutan. ​ "Lalu di mana Bianca sekarang?" tanya Rania lirih. ​ "Dia berada di tempat yang sangat aman sekarang, mungkin sedang tertawa merayakan kehancuran villa Tuan Dante," jawab Marcello dingin. "Bianca memanfaatkan kekacauan penculikan Anda untuk melarikan diri sepenuhnya. Dia membiarkan Anda menjadi tameng hidupnya tanpa Anda sadari." ​ ​Rania menyandarkan kepalanya ke kaca jendela mobil yang dingin. Ironi ini sungguh menyakitkan. Ia menderita, kedinginan, dan hampir mati hanya karena ia menjadi bayangan dari seorang wanita mafia yang licik. ​"Lalu kenapa Tuan Dante tetap membawa saya?" tanya Rania lagi. "Kenapa dia tidak melepaskan saya begitu tahu saya bukan Bianca?" ​Marcello terdiam sejenak, matanya menatap ambulans di depan mereka yang membawa Dante yang sekarat. ​ "Awalnya, mungkin dia ingin membunuhmu karena rasa kecewa. Tapi sekarang? Setelah Anda menjahit perutnya dan menyelamatkannya di hutan Alpen... Anda bukan lagi sekadar salah tangkap." ​ Marcello menoleh sekilas melalui spion tengah. "Bagi Dante, Anda sekarang adalah kartu as. Selama dunia mengira Anda adalah orang penting bagi Dante, Bianca dan Valenti akan tetap mengincar Anda. Dan Tuan Dante... dia tidak akan melepaskan siapa pun yang sudah menyentuh darahnya dan tahu rahasianya." ​ Mobil melambat saat mereka memasuki kawasan Naviglio yang dipenuhi kanal-kanal air tua. Di depan mereka, sebuah gerbang besi besar terbuka perlahan, menuju sebuah bangunan yang tampak seperti gudang kuno namun memiliki sistem keamanan tingkat tinggi. ​ "Selamat datang di Milan, Nona Rania. Tempat di mana identitas bisa membunuhmu, dan kebenaran adalah kemewahan yang tidak kita miliki." ​ ​BIIIIIIIIIIIIIIIIIP— ​Suara monoton dari monitor jantung itu menyayat kesunyian klinik. Rania mematung di balik kaca, tangannya menempel pada permukaan dingin itu hingga meninggalkan bekas uap. Di dalam sana, suasana menjadi kacau. Dokter utama berteriak memberikan instruksi dalam bahasa Italia yang cepat. ​ "Defibrilator! Carica a 200!" (Isi daya ke 200!) ​ DUG! ​Tubuh Dante melenting di atas meja operasi saat kejutan listrik menghantam dadanya. Namun, garis di monitor itu tetap datar. Marcello di samping Rania mengumpat pelan, rahangnya mengeras hingga otot lehernya menonjol. ​"Ayo, Dante... kau bukan orang yang mati di tangan wanita seperti Bianca," geram Marcello. ​Rania tidak bisa lagi menahan diri. Di tengah kepanikan medis itu, ia memejamkan mata. Di bawah napasnya yang gemetar, ia mulai melantunkan doa-doa yang biasa ia baca di Madrasah saat menghadapi musibah. Suaranya lirih, bergetar, namun penuh keyakinan. ​DUG! Kejutan kedua. Masih tidak ada respon. ​Dokter mulai melakukan pijat jantung manual secara brutal. Keringat membanjiri dahi tim medis. Tepat saat dokter hampir menyerah dan melirik ke arah jam dinding untuk mencatat waktu kematian, tangan Dante yang terkulai di pinggir meja tiba-tiba mencengkeram kain penutup meja dengan gerakan refleks yang tajam. ​ Bip... Bip... Bip-bip-bip! ​Garis datar itu melonjak. Detak jantung Dante kembali, meski lemah dan tidak beraturan. Dokter segera memasang kembali masker oksigen dan melanjutkan penjahitan luka yang sempat tertunda. ​ ​Beberapa jam kemudian, Dante dipindahkan ke ruang pemulihan intensif yang dipenuhi peralatan canggih. Rania diizinkan masuk setelah Marcello memastikan tidak ada ancaman langsung. ​Dante terbaring diam dengan selang di hidung dan perban tebal yang melilit perut serta kepalanya. Matanya perlahan terbuka, tampak berkabut oleh pengaruh obat bius dan trauma fisik. Hal pertama yang ia lihat adalah langit-langit putih, lalu ia menoleh sedikit dan mendapati Rania duduk di kursi pojok, tampak kuyu dengan mata sembab. ​ "Kau..." suara Dante lebih menyerupai bisikan kasar yang pecah. ​Rania tersentak dan langsung berdiri. "Tuan Dante? Anda... Anda sudah bangun?" ​ Dante mencoba bergerak, namun rintihan sakit segera keluar dari bibirnya. Ia melihat ke arah tangannya. Borgol itu sudah benar-benar hilang, namun pergelangan tangannya masih berbekas merah. ​"Kenapa... kau tidak lari saat Marcello datang?" tanya Dante, menatap Rania dengan pandangan yang sulit dibaca. ​Rania menarik napas panjang. "Marcello bilang Bianca tahu tentang saya. Jika saya pergi sekarang, saya hanya akan menjadi sasaran empuk di jalanan Milan. Jadi, saya terjebak dengan Anda, Tuan." ​ ​Dante menyeringai tipis, sebuah seringai yang memancarkan sisa-sisa kegarangannya. "Pilihan cerdas, Gadis Pelayan. Bianca tidak akan melepaskanmu karena kau sudah melihat wajahku yang paling lemah." ​ Dante mengisyaratkan Rania untuk mendekat. Saat Rania berdiri di sisi tempat tidurnya, Dante meraih pergelangan tangan Rania dengan tangannya yang masih terpasang infus. Cengkeramannya tidak sekuat dulu, tapi tetap terasa menuntut. ​ "Dengar," desis Dante. "Kau sudah menyelamatkan nyawaku dua kali. Di dunia Moretti, utang nyawa hanya bisa dibayar dengan nyawa. Aku tidak akan melepaskanmu ke Jeddah sebelum aku memastikan Bianca tidak bisa menyentuhmu lagi." ​ "Tapi Tuan, saya hanya ingin pergi ke Mekkah..." ​ "Kau akan sampai ke sana," potong Dante, matanya kini berkilat tajam seolah rasa sakitnya telah menghilang. "Tapi kau akan ke sana setelah kita membakar Milan bersama-sama. Sekarang, panggil Marcello. Aku butuh ponselku. Kita punya 'mantan' yang harus diberi pelajaran." ​ ​Dante mencoba bangkit dari tempat tidur, namun rasa sakit yang tajam seperti sayatan pisau panas langsung menghantam perutnya. ​ "Argh!" Dante mengerang, ambruk kembali ke bantal. Keringat dingin mengucur di dahinya. Perban di perutnya mulai merembeskan warna merah sedikit. ​ "Jangan bodoh, Capo," Marcello memperingatkan sambil menekan bahu bosnya agar tetap berbaring. "Dokter bilang jahitan itu bisa lepas dalam sekejap jika kau memaksakan diri. Kau kehilangan terlalu banyak darah." ​Dante memukul kasur dengan tinjunya yang gemetar. "Bianca akan merayakan kemenangannya lusa malam! Aku tidak bisa hanya berbaring di sini sementara dia menertawakanku di depan seluruh klan Milan!" ​ "Kau memang tidak bisa ke sana," Marcello berkata dengan nada tenang yang mematikan. "Tapi perwakilanmu bisa." ​ ​Dante menoleh ke arah pintu yang sedikit terbuka, di mana ia bisa melihat bayangan Rania yang sedang duduk di ruang tengah klinik, tampak sedang merenung. Sebuah ide gila muncul di kepala Dante—ide yang lahir dari rasa putus asa sekaligus kecerdikannya. ​ "Panggil gadis itu ke sini," perintah Dante, suaranya serak namun penuh otoritas. ​Rania masuk ke kamar dengan ragu-ragu. Ia melihat Dante yang pucat dan lemah, sangat kontras dengan pria yang biasanya mengintimidasi. ​ "Tuan? Anda seharusnya istirahat," ucap Rania pelan. ​ "Mendekatlah, Rania," desis Dante. "Aku butuh kau melakukan sesuatu yang tidak pernah dilakukan oleh wanita mana pun di dunia ini untukku." ​ Rania berhenti di samping tempat tidur. "Apa itu?" ​ "Bianca mengira aku sudah mati atau setidaknya cacat permanen. Dia ingin pamer kekuatan di pesta amal Palazzo Reale lusa malam," Dante menatap mata Rania dalam-dalam. "Aku ingin kau datang ke sana. Tanpa aku." ​ Rania terbelalak. "Sendirian? Ke pesta mafia? Anda sudah gila!" ​ ​"Kau tidak akan sendirian. Marcello akan menjadi pengawalmu. Tapi kau akan muncul sebagai 'Pesan Hidup' dariku," Dante meraih tangan Rania, mencengkeramnya pelan namun tegas. "Pakai pakaian terbaikmu. Pakai hijabmu yang paling indah. Aku akan memberimu perhiasan yang bahkan Bianca pun tidak mampu membelinya." ​ "Kenapa harus saya?" ​ "Karena kau adalah satu-satunya orang yang tahu bahwa aku masih bernapas," Dante menyeringai tipis meski menahan sakit. "Saat kau masuk ke ruangan itu dengan kepala tegak, Bianca akan tahu bahwa aku tidak hanya selamat, tapi aku juga punya sesuatu yang tidak dia miliki: seseorang yang tulus menyelamatkanku tanpa pamrih." ​ Dante menarik napas panjang, mencoba meredam nyeri. "Kau akan menjadi mata dan telingaku. Kau akan menunjukkan pada dunia bahwa Dante Moretti belum tamat. Jika kau berhasil melakukan ini tanpa membuat kesalahan, aku bersumpah... jet pribadiku akan mengantarmu langsung ke bandara King Abdulaziz di Jeddah hari berikutnya." ​ Rania terdiam. Tawaran itu sangat menggiurkan, namun resikonya adalah nyawa. Ia harus menjadi umpan di tengah sarang serigala tanpa ada Dante di sisinya untuk melindunginya secara langsung. ​
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD