Satu bulan telah berlalu sejak malam berdarah di pelabuhan Civitavecchia. Bukannya terbang menuju Jeddah, Rania justru mendapati dirinya terbangun setiap pagi di sebuah villa mewah yang tersembunyi di perbukitan Danau Como. Villa itu dikelilingi pagar besi tinggi dan dijaga oleh pria-pria berpakaian hitam yang komunikasinya hanya melalui earpiece dingin.
Rania berdiri di balkon lantai dua, menatap pantulan pegunungan Alpen di permukaan air danau yang tenang. Ia mengenakan gamis sutra berwarna hijau zamrud, pemberian dari Marcello. Di atas meja kecil di sampingnya, terletak paspornya yang masih bersih—tanpa satu pun stempel keberangkatan.
"Kenapa saya masih di sini, Tuan Dante?" suara Rania terdengar lirih saat ia menangkap pantulan bayangan seorang pria di pintu kaca balkon.
Dante Moretti melangkah maju. Ia tidak lagi memakai perban yang terlihat di luar pakaiannya. Kemeja linen hitamnya yang pas di tubuh menunjukkan bahwa fisiknya telah pulih total; bahunya tegap, dan cara berjalannya kembali tenang namun mematikan. Aura predator yang sempat meredup saat ia sekarat kini telah kembali sepenuhnya.
"Milan belum bersih, Rania," jawab Dante pendek. Ia berdiri di samping Rania, namun pandangannya lurus ke cakrawala, seolah sedang memetakan strategi perang yang tak terlihat. "Bianca masih memburu setiap orang yang pernah menyentuh hidupku. Baginya, kau bukan lagi sekadar salah tangkap. Kau adalah nyawa yang dia gagal ambil dariku."
Rania berbalik, matanya berkaca-kaca menatap pria itu. "Tapi Kakak saya, Yusuf, sudah menunggu di Mekkah! Dia sudah cemas karena saya tidak kunjung sampai. Anda sudah sembuh, Tuan. Anda sudah kuat. Tepati janji Anda dan lepaskan saya."
Dante terdiam. Ia merogoh saku celananya dan mengeluarkan tasbih kayu zaitun milik Rania yang selama ini ia simpan di balik saku jantungnya. Ia memutar-mutar butiran kayu itu dengan jemarinya yang kuat.
"Aku sembuh karena darahmu, Rania," desis Dante, suaranya merendah dan parau. "Tapi dunia di luar sana tidak sembuh.
Mengirimmu ke bandara sekarang sama saja dengan menyerahkanmu pada The Vultures—kelompok tentara bayaran yang disewa Bianca. Mereka sudah memantau setiap manifes penerbangan menuju Arab Saudi atas namamu."
Rania merasa lututnya lemas. Ia menyadari bahwa villa indah ini bukanlah tempat perlindungan, melainkan sebuah sangkar emas yang memisahkannya dari mimpinya dan keluarganya.
"Lalu sampai kapan?" tanya Rania dengan suara bergetar.
Dante menatap mata Rania dengan intensitas yang membuat napas gadis itu tertahan.
"Sampai aku memastikan tidak ada satu pun bayangan musuh yang mengikuti langkahmu ke tanah suci. Dan jika itu artinya aku harus membakar seluruh jaringan Bianca di Eropa sebelum kau berangkat, maka itu yang akan kulakukan."
Marcello meletakkan sebuah tablet di atas meja kerja mahoni. Di layar itu, terekam suasana kacau di Terminal 3 Bandara Changi, Singapura.
Rania, yang saat itu mengenakan abaya hitam elegan dan kerudung lebar—pakaian yang hampir identik dengan gaya penyamaran Bianca saat melarikan diri—sedang berjalan terpisah sedikit dari Yusuf untuk membeli air mineral. Dalam hitungan detik, sekelompok pria bersetelan rapi menyergapnya, membekap mulutnya, dan menyeretnya ke pintu keluar darurat.
"Mereka bukan anak buahku, Rania," suara Dante berat, memecah kesunyian ruangan. "Itu adalah orang-orang dari Klan Valenti. Musuh bebuyutanku."
Rania menatap layar itu dengan mata membelalak. Ia melihat Yusuf berlari histeris, menabrak kerumunan jamaah umroh lainnya, meneriakkan namanya hingga jatuh tersungkur di lantai bandara.
"Mereka mengira kau adalah Bianca," lanjut Dante, langkah kakinya terdengar berat di atas lantai kayu. "Bianca seharusnya berada di sana untuk pelarian rahasianya ke Maladewa. Valenti ingin menangkapnya untuk menjadikanku tawanan. Tapi mereka mendapatkanmu."
Rania berbalik, napasnya memburu. "Jadi... saya diculik karena mereka mengira saya adalah wanita itu? Wanita yang mengkhianati Anda?"
"Ya," Dante berhenti tepat di depan Rania. "Aku harus menyerbu markas mereka di semenanjung Malaysia hanya untuk mengambilmu kembali sebelum mereka menyadari bahwa mereka salah tangkap. Jika mereka tahu kau hanyalah warga sipil, mereka akan menghabisimu tanpa ragu untuk menghilangkan jejak."
Marcello mengganti tampilan layar tablet ke saluran berita internasional.
"Penculikan misterius di Bandara Changi. Seorang jamaah umroh asal Indonesia, Rania (22), hilang ditarik paksa oleh sekelompok orang tak dikenal. Kakak korban, Yusuf, kini telah berada di Jawa Timur dan menuntut pertanggungjawaban pihak otoritas..."
Di layar, terlihat Yusuf sedang duduk di teras rumahnya. Wajahnya yang dulu penuh wibawa kini tampak hancur. Matanya cekung, dan ia memegang tas kecil milik Rania yang tertinggal di bandara.
"Saya tidak peduli harta atau apa pun," ucap Yusuf dengan suara serak di depan kamera. "Kembalikan adik saya. Dia sedang dalam perjalanan ibadah. Apa salahnya?"
Rania terisak hebat melihat kakaknya yang hancur karena kesalahan identitas yang melibatkan dunia gelap Dante. "Anda lihat? Kakak saya menanggung derita karena musuh-musuh Anda! Dia mengira saya diculik sindikat perdagangan manusia atau entah apa!"
Dante meremas tasbih kayu zaitun di tangannya. Melihat penderitaan Yusuf yang tak berdosa membuat nurani kecilnya terusik.
"Valenti masih mengawasi bandara di Singapura dan Jakarta," ujar Marcello memperingatkan. "Jika kita memulangkannya sekarang, mereka akan tahu bahwa kita sangat mempedulikan gadis ini. Itu akan mengonfirmasi bahwa Rania adalah titik lemah baru Anda, Tuan."
Dante menatap Rania yang terduduk lemas di lantai, menangisi wajah Yusuf di layar.
"Titik lemah?" Dante menyeringai pahit. "Dia menyelamatkan nyawaku dengan darahnya. Dia bukan titik lemah, Marcello. Dia adalah hutang nyawa yang tidak akan pernah bisa kubayar."
Dante berjongkok di depan Rania, meraih tangannya yang gemetar. "Aku tidak bisa mengirimmu pulang begitu saja lewat jalur biasa. Valenti akan menjemputmu di pintu kedatangan. Tapi aku berjanji padamu satu hal..."
Dante menatap tajam ke arah kamera yang menampilkan wajah Yusuf. "Aku sendiri yang akan mengantarmu menemui kakakmu. Dan siapa pun yang berani menghalangi jalan pulangmu—baik itu Valenti atau otoritas mana pun—akan berhadapan langsung dengan seluruh kekuatan Moretti."
Atmosfer di dalam ruang komando Villa Como berubah menjadi medan perang digital. Di layar monitor besar, peta satelit menunjukkan pergerakan armada Klan Valenti yang mengepung pelabuhan Singapura dan jalur penerbangan menuju Jakarta. Mereka akhirnya sadar bahwa gadis yang mereka culik di Changi bukanlah Bianca, melainkan "nyawa" yang membuat Dante Moretti rela keluar dari lubang persembunyiannya.
"Tuan, kita terjepit," Marcello melaporkan dengan suara tajam. "Valenti tahu mereka salah tangkap, tapi mereka tidak akan melepaskan Rania. Mereka menggunakannya sebagai umpan untuk memancing Anda keluar. Sementara itu, Bianca... dia baru saja muncul di perbatasan Malaysia. Dia mengkhianati kita sepenuhnya dengan memberikan koordinat villa ini kepada Valenti."
Dante berdiri tegak, kemeja hitamnya membungkus tubuhnya yang kini kembali bugar. Ia mengambil sebuah senjata dari laci meja—bukan pistol biasa, melainkan custom Beretta dengan ukiran serigala.
"Valenti mengira aku akan datang memohon?" Dante menyeringai dingin, sebuah ekspresi yang membuat bulu kuduk Rania merinding. "Mereka lupa siapa yang mengajari mereka cara memegang senjata."
Dante menatap Rania yang meringkuk di sudut ruangan, matanya sembab setelah melihat berita tentang kakaknya, Yusuf.
"Rania, dengarkan aku," suara Dante melembut sejenak namun tetap penuh otoritas. "Valenti menginginkan kepalaku. Bianca menginginkan posisiku. Mereka berdua menggunakanmu sebagai pion. Tapi mereka lupa satu hal: pion bisa berubah menjadi ratu yang menghancurkan seluruh papan catur."
Dante menoleh ke Marcello. "Aktifkan protokol Scorched Earth. Kita tidak akan bernegosiasi. Hancurkan gudang senjata Valenti di Milan malam ini juga sebagai peringatan. Dan kirim tim bayangan ke Surabaya untuk menjaga rumah Yusuf. Jangan biarkan seujung rambut pun dari keluarganya tersentuh."
Tiba-tiba, sebuah panggilan video masuk ke layar besar. Wajah Bianca muncul dengan latar belakang jet pribadi yang gelap. Ia tampak cantik namun dengan mata yang memancarkan kegilaan.
"Dante, Sayang," suara Bianca terdengar serak di speaker. "Kau terlihat sangat sehat untuk pria yang baru saja dijahit oleh seorang gadis pesantren. Apakah darahnya semanis itu?"
"Bianca," desis Dante, suaranya seperti geraman serigala. "Kau memberikan koordinatku pada Valenti. Kau menggali makammu sendiri."
"Aku hanya ingin apa yang menjadi milikku, Dante!" teriak Bianca, topeng ketenangannya pecah. "Moretti adalah milikku! Tapi kau lebih memilih menyembunyikan gadis tidak berguna itu. Valenti akan membunuhnya jika kau tidak menyerahkan kode akses akun bank Swiss kita dalam dua jam. Pilih sekarang: tahtamu, atau gadis suci itu?"
Dante tidak menjawab dengan kata-kata. Ia meraih tablet dari tangan Marcello dan mengetikkan serangkaian perintah enkripsi. Dalam hitungan detik, layar di belakang Bianca berkedip merah.
"Apa yang kau lakukan?!" Bianca panik.
"Aku baru saja membekukan semua aset atas namamu, Bianca. Kau sekarang tidak punya uang untuk membayar pelarianmu," ucap Dante dingin. "Dan untuk Valenti... sampaikan pada mereka, aku sedang menuju Singapura. Tapi aku tidak datang dengan uang tebusan. Aku datang dengan badai."
Dante mematikan sambungan. Ia berjalan menuju Rania, berjongkok di depannya, dan menyerahkan sebuah pisau kecil yang disembunyikan di dalam sarung kulit halus.
"Simpan ini. Jika sesuatu terjadi padaku, Marcello akan membawamu keluar lewat jalur laut. Jangan pernah menoleh ke belakang," bisik Dante.
"Anda akan pergi berperang?" tanya Rania, suaranya gemetar.
"Aku akan mengakhiri ini, Rania. Valenti, Bianca... mereka harus tahu bahwa mereka telah membangunkan iblis yang salah."