Gelombang Selat Malaka menghantam dinding kapal tanker raksasa milik Klan Valenti yang kini terombang-ambing tanpa mesin. Dante Moretti berdiri di atas geladak yang licin oleh oli dan air laut, napasnya memburu, namun matanya tetap sedingin es. Di tangannya, sebuah senapan taktis masih terasa panas.
"Marcello! Berapa lama lagi sebelum Bianca mendarat?" teriak Dante melalui komunikator di telinganya.
"Dua menit, Capo! Helikopternya sudah menurunkan tali pengait di dek belakang!" suara Marcello terdengar di antara deru angin. "Dan satu hal lagi... kondisi di Italia semakin kacau. Bianca benar-benar gila. Dia membakar gudang-gudang logistik kita di Milan hanya untuk memancing otoritas agar menyerbu markas kita. Dia menghancurkan bisnis keluarga kita sendiri demi menghapus jejakmu!"
Dante menggeram. Rahangnya mengeras hingga otot lehernya menegang. Bianca bukan lagi sekadar pengkhianat; dia adalah badai yang berniat meratakan segala sesuatu yang pernah dibangun Dante.
Dante menendang pintu baja menuju palka bawah kapal. Lorong-lorong sempit itu hanya diterangi oleh lampu darurat berwarna merah yang berkedip-kedip, menciptakan bayangan yang menakutkan. Di sinilah Klan Valenti menyekap Rania setelah salah menangkapnya di Changi.
"RANIA!" teriak Dante, suaranya menggema di antara dinding besi yang pengap.
Di sudut sebuah sel sempit yang tadinya digunakan sebagai gudang alat pemadam, Rania meringkuk. Abaya hitamnya sudah koyak di bagian lengan, dan wajahnya pucat karena trauma. Ia mendengar suara Dante, tapi ia terlalu takut untuk menjawab. Ia teringat kata-kata pria Valenti tadi: "Dante hanya menginginkan darahmu, bukan nyawamu."
Tiba-tiba, pintu sel itu meledak terbuka. Dante masuk dengan gerakan predator, senjatanya mengarah ke setiap sudut kegelapan. Saat matanya menangkap sosok Rania, ia langsung menurunkan senjatanya dan berlutut di depan gadis itu.
"Tuan..." suara Rania serak, hampir hilang.
"Jangan bicara. Kita harus pergi sekarang," Dante meraih tangan Rania. Tangannya yang kasar terasa hangat di kulit Rania yang dingin.
"Tuan Dante," Rania menahan langkah pria itu saat mereka hendak keluar dari sel. "Kakak saya... Yusuf. Di mana dia? Dia pasti masih mencari saya di Singapura. Dia tidak tahu apa-apa..."
Dante terdiam sejenak. Ia menatap mata Rania yang penuh harap. Kebenarannya adalah: Yusuf buta total. Di mata kakaknya, Rania hilang ditelan bumi di tengah keramaian Changi. Yusuf mungkin sedang menangis di kantor polisi atau di depan kedutaan, tidak tahu bahwa adiknya sedang ditarik-ulur oleh tiga kekuatan kriminal terbesar Eropa di tengah laut lepas.
"Dia aman, Rania. Dia tidak tahu kau di sini," jawab Dante jujur namun pahit. "Dan itu lebih baik baginya. Jika dia tahu, dia akan mencoba mencarimu, dan Bianca akan membunuhnya dalam hitungan detik."
Saat mereka sampai di geladak tengah, suara baling-baling helikopter memekakkan telinga. Bianca turun menggunakan winch, mendarat dengan sepatu bot kulitnya yang mengkilap di atas dek yang bersimbah darah anak buah Valenti.
Di belakangnya, sisa-sisa tentara Klan Valenti mulai mengepung dari arah anjungan. Dante kini berada di tengah: membelakangi Rania, menghadapi Bianca di depan, dan moncong senjata Valenti di samping.
"Dante, Sayang," Bianca tertawa, suaranya melengking gila di tengah badai. "Kau merusak semua bisnis kita di Italia hanya untuk gadis kecil ini? Aku sudah membakar Milan, dan sekarang aku akan membakar kalian berdua di sini."
Bianca mengarahkan senjatanya, bukan ke arah Dante, tapi tepat ke arah jantung Rania. "Dunia menganggapnya hilang di Singapura, bukan? Jika dia mati di sini dan tenggelam di Selat Malaka, kakaknya tidak akan pernah menemukan jasadnya. Dia akan menghilang selamanya dari sejarah."
"BIANCA!" teriak Dante, badannya bergerak menutupi Rania sepenuhnya. "Tarik pelatuknya padaku, bukan padanya!"
Suara tembakan tidak terdengar. Yang terdengar justru suara besi yang beradu dan erangan tertahan.
Dante bergerak lebih cepat dari penglihatan manusia biasa. Sebelum Bianca sempat menarik pelatuknya, Marcello yang menyelinap dari arah belakang telah melumpuhkan tangan Bianca dengan tembakan jitu ke arah senjatanya. Dante menerjang, menjatuhkan Bianca ke dek kapal yang licin, dan dalam satu gerakan cepat, ia memborgol tangan mantan sekutunya itu.
"Kau tidak akan mati semudah itu, Bianca," desis Dante tepat di telinga Bianca yang meronta gila. "Kematian terlalu murah untuk pengkhianatanmu di Milan."
Dante menoleh ke arah tim taktisnya. "Bawa dia ke helikopter. Bawa dia ke markas bawah tanah di Sisilia. Pastikan dia tidak melihat cahaya matahari lagi sampai aku sendiri yang datang untuk mengadili setiap inci dosa-dosanya."
Dua hari kemudian, suasana berubah drastis. Dari panasnya Selat Malaka yang berdarah, Rania kini berada di sebuah mansion batu kuno yang tersembunyi jauh di dalam hutan pinus di perbatasan Swiss-Italia. Tempat ini tidak ada di peta mana pun. Ini adalah safe house pribadi Dante yang bahkan Marcello pun jarang mengunjunginya.
Rania berdiri di depan perapian besar, memeluk tubuhnya sendiri. Ia masih mengenakan pakaian hitam yang bersih, namun jiwanya masih tertinggal di Changi.
"Tuan Dante," panggil Rania saat pria itu masuk ke ruangan dengan bahu yang dibebat perban baru. "Kakak saya... Yusuf. Dunia masih mengira saya hilang. Dia masih menangis di kantor polisi Singapura. Sampai kapan saya harus bersembunyi di istana hantu ini?"
Dante menuangkan segelas air, tangannya tampak stabil namun matanya menyimpan kelelahan yang luar biasa. "Bianca sudah berada di penjara bawah tanahku. Dia sedang 'bernyanyi' tentang semua koneksinya dengan Klan Valenti. Selama jaringan itu belum dicabut sampai ke akarnya, kau adalah target yang berjalan, Rania."
Dante berjalan mendekat, menatap Rania dengan tatapan yang sulit diartikan—campuran antara obsesi pelindung dan rasa bersalah yang dalam.
"Mansion ini adalah tempat paling aman di bumi. Tidak ada satelit yang bisa melacaknya, tidak ada musuh yang tahu koordinatnya. Di sini, kau aman," ucap Dante.
"Tapi ini bukan keamanan, Tuan! Ini penjara yang lebih indah saja!" seru Rania. "Kakak saya menganggap saya sudah mati! Anda menyekap Bianca di bawah tanah, dan Anda menyekap saya di atas gunung! Apa bedanya saya dengan dia di mata Anda?"
Dante terdiam. Ia menyalakan layar televisi satelit di dinding mansion. Di sana, muncul wajah Yusuf yang tampak sepuluh tahun lebih tua. Ia sedang diwawancarai oleh media lokal Singapura sebelum terbang kembali ke Indonesia.
"Saya percaya adik saya masih hidup," ucap Yusuf dengan suara yang hampir habis. "Rania bukan orang yang akan menyerah. Saya akan kembali ke Indonesia untuk menenangkan Ibu, tapi hati saya tertinggal di sini. Siapa pun yang membawanya... tolong, jangan sakiti dia."
Rania jatuh terduduk di atas karpet bulu, tangisnya pecah melihat keteguhan kakaknya.
Dante mematikan layar itu dengan tangan gemetar. Ia berlutut di depan Rania, meraih jemari gadis itu yang dingin. "Beri aku waktu dua minggu. Dua minggu untuk melenyapkan sisa-sisa Valenti yang mengincar kepalamu.
Setelah itu, aku sendiri yang akan mengantarmu ke depan pintu rumah Yusuf."
"Janji?" bisik Rania di tengah isak tangisnya.
Dante mencium punggung tangan Rania—sebuah gestur yang sangat tidak biasa bagi seorang gembong mafia. "Darahmu menyelamatkan nyawaku, Rania. Aku tidak akan membiarkan darah itu tumpah sia-sia karena kecerobohanku. Itu janji Moretti."
Suara tembakan tidak terdengar. Yang terdengar justru suara besi yang beradu dan erangan tertahan.
Dante bergerak lebih cepat dari penglihatan manusia biasa. Sebelum Bianca sempat menarik pelatuknya, Marcello yang menyelinap dari arah belakang telah melumpuhkan tangan Bianca dengan tembakan jitu ke arah senjatanya. Dante menerjang, menjatuhkan Bianca ke dek kapal yang licin, dan dalam satu gerakan cepat, ia memborgol tangan mantan sekutunya itu.
"Kau tidak akan mati semudah itu, Bianca," desis Dante tepat di telinga Bianca yang meronta gila. "Kematian terlalu murah untuk pengkhianatanmu di Milan."
Dante menoleh ke arah tim taktisnya. "Bawa dia ke helikopter. Bawa dia ke markas bawah tanah di Sisilia. Pastikan dia tidak melihat cahaya matahari lagi sampai aku sendiri yang datang untuk mengadili setiap inci dosa-dosanya."
Dua hari kemudian, suasana berubah drastis. Dari panasnya Selat Malaka yang berdarah, Rania kini berada di sebuah mansion batu kuno yang tersembunyi jauh di dalam hutan pinus di perbatasan Swiss-Italia. Tempat ini tidak ada di peta mana pun. Ini adalah safe house pribadi Dante yang bahkan Marcello pun jarang mengunjunginya.
Rania berdiri di depan perapian besar, memeluk tubuhnya sendiri. Ia masih mengenakan pakaian hitam yang bersih, namun jiwanya masih tertinggal di Changi.
"Tuan Dante," panggil Rania saat pria itu masuk ke ruangan dengan bahu yang dibebat perban baru. "Kakak saya... Yusuf. Dunia masih mengira saya hilang. Dia masih menangis di kantor polisi Singapura. Sampai kapan saya harus bersembunyi di istana hantu ini?"
Dante menuangkan segelas air, tangannya tampak stabil namun matanya menyimpan kelelahan yang luar biasa. "Bianca sudah berada di penjara bawah tanahku. Dia sedang 'bernyanyi' tentang semua koneksinya dengan Klan Valenti. Selama jaringan itu belum dicabut sampai ke akarnya, kau adalah target yang berjalan, Rania."
Dante berjalan mendekat, menatap Rania dengan tatapan yang sulit diartikan—campuran antara obsesi pelindung dan rasa bersalah yang dalam.
"Mansion ini adalah tempat paling aman di bumi. Tidak ada satelit yang bisa melacaknya, tidak ada musuh yang tahu koordinatnya. Di sini, kau aman," ucap Dante.
"Tapi ini bukan keamanan, Tuan! Ini penjara yang lebih indah saja!" seru Rania. "Kakak saya menganggap saya sudah mati! Anda menyekap Bianca di bawah tanah, dan Anda menyekap saya di atas gunung! Apa bedanya saya dengan dia di mata Anda?"
Dante terdiam. Ia menyalakan layar televisi satelit di dinding mansion. Di sana, muncul wajah Yusuf yang tampak sepuluh tahun lebih tua. Ia sedang diwawancarai oleh media lokal Singapura sebelum terbang kembali ke Indonesia.
"Saya percaya adik saya masih hidup," ucap Yusuf dengan suara yang hampir habis. "Rania bukan orang yang akan menyerah. Saya akan kembali ke Indonesia untuk menenangkan Ibu, tapi hati saya tertinggal di sini. Siapa pun yang membawanya... tolong, jangan sakiti dia."
Rania jatuh terduduk di atas karpet bulu, tangisnya pecah melihat keteguhan kakaknya.
Dante mematikan layar itu dengan tangan gemetar. Ia berlutut di depan Rania, meraih jemari gadis itu yang dingin. "Beri aku waktu dua minggu. Dua minggu untuk melenyapkan sisa-sisa Valenti yang mengincar kepalamu. Setelah itu, aku sendiri yang akan mengantarmu ke depan pintu rumah Yusuf."
"Janji?" bisik Rania di tengah isak tangisnya.
Dante mencium punggung tangan Rania—sebuah gestur yang sangat tidak biasa bagi seorang gembong mafia. "Darahmu menyelamatkan nyawaku, Rania. Aku tidak akan membiarkan darah itu tumpah sia-sia karena kecerobohanku. Itu janji Moretti."
Sementara salju turun menyelimuti mansion di pegunungan Alpen, jauh di bawah tanah berbatu di pinggiran Sisilia, suasana kontras menyelimuti bunker beton yang lembap. Di sana, Bianca Moretti tidak lagi tampak seperti ratu mafia yang anggun. Rambut pirangnya berantakan, dan gaun sutranya ternoda debu ruang isolasi.
Namun, matanya tetap berkilat dengan kegilaan yang tajam. Ia terikat pada kursi besi di tengah ruangan yang hanya diterangi satu lampu bohlam yang berkedip.
"Kau pikir Dante akan membiarkanmu hidup?" suara Marcello bergema di ruangan itu saat ia masuk membawa sebuah alat perekam. "Dia ingin kau membusuk di sini sampai kau menceritakan semua rekening bayangan Valenti."
Bianca tertawa, suara tawa yang kering dan mencekam. "Dante sudah lemah, Marcello. Dia tidak lagi berpikir dengan otaknya, tapi dengan darah gadis itu yang mengalir di nadinya. Kau tahu apa yang terjadi pada serigala yang jatuh cinta pada domba?"
Marcello terdiam, wajahnya tetap datar namun rahangnya mengeras.
"Dia akan membiarkan domba itu pergi," bisik Bianca, mencondongkan tubuhnya ke depan sejauh rantai di tangannya mengizinkan. "Dan saat domba itu sampai di rumah kakaknya yang suci itu... boom. Seluruh dunia akan tahu bahwa Rania tidak pernah diculik. Dia akan dicap sebagai p*****r mafia, kaki tangan Dante Moretti. Nama baik keluarganya? Hancur. Kakaknya? Akan dipecat dan dihina. Rania tidak akan punya tempat untuk pulang."
Bianca tersenyum lebar, menunjukkan deretan giginya. "Aku sudah mengatur pengiriman dokumen palsu ke otoritas Indonesia. Foto-foto Rania di mansion Dante, bukti transfer uang atas namanya... semuanya. Dante boleh menang di Selat Malaka, tapi aku akan menghancurkan hidup gadis itu dari balik jeruji ini."