Bab 13: Operasi Pemulihan Nama Baik​

1544 Words
Marcello keluar dari ruang interogasi dengan perasaan kalut. Ia segera menghubungi Dante melalui jalur satelit pribadi. ​"Tuan, Bianca sudah menebar racun," lapor Marcello. "Dia tidak hanya mengincar nyawa Rania, tapi juga kehormatannya dan keluarganya di Indonesia. Jika kita memulangkan Rania sekarang tanpa membersihkan jejak digital ini, Yusuf dan ibunya akan menanggung aib seumur hidup." ​Dante, yang sedang berdiri di balkon mansion Alpen sambil menatap kamar Rania yang tertutup rapat, meremas ponselnya. Amarahnya kembali menyala, namun kali ini lebih tenang dan mematikan. ​ ​"Hapus semuanya, Marcello. Gunakan tim peretas terbaik dari Rusia. Aku tidak peduli berapa biayanya," perintah Dante, suaranya sedingin es. "Dan mengenai Bianca... pindahkan dia ke sel yang lebih dalam. Jangan beri dia akses ke siapa pun. Dia ingin bermain dengan reputasi? Aku akan menghapus keberadaannya dari sejarah dunia." ​Dante mematikan sambungan telepon. Ia melihat bayangan Rania dari balik jendela kaca—gadis itu sedang shalat di tengah kamar yang mewah namun terasa seperti penjara baginya. ​Dante menyadari satu hal: Menghancurkan Valenti dan mengurung Bianca hanyalah setengah dari pertempuran. Bagian tersulitnya adalah mengembalikan Rania ke pelukan Yusuf tanpa membawa secercah pun noda dari dunia gelapnya. Dante harus menjadi hantu; ia harus melenyapkan seluruh jejak bahwa Rania pernah bersinggungan dengannya. ​"Kau membenciku karena aku menahanmu, Rania," bisik Dante pada angin malam yang dingin. "Tapi kau akan jauh lebih membenciku jika kau tahu apa yang harus kulakukan untuk memastikan namamu tetap suci saat kau kembali nanti." Dante Moretti berdiri di kegelapan ruang kerjanya, menatap monitor yang menampilkan rekaman CCTV dari kamar Rania. Gadis itu sedang duduk di tepi ranjang, menunduk lesu, tampak rapuh namun tetap memancarkan kemurnian yang selama ini tidak pernah ada di dunia Dante. ​Marcello masuk dengan langkah ragu. "Tuan, semua persiapan untuk memulangkan Nona Rania sudah siap. Identitas palsu sebagai korban penculikan acak sudah tertanam di sistem Interpol. Kita bisa melepaskannya besok." ​Dante tidak menjawab. Ia justru mematikan monitor dengan kasar. Rahangnya mengeras. ​"Aku tidak bisa melakukannya, Marcello," desis Dante, suaranya parau dan penuh tekanan. ​"Maksud Anda, Tuan? Anda sendiri yang bilang dia harus pulang demi keselamatannya." ​Dante berbalik, matanya berkilat dengan emosi yang jauh lebih berbahaya daripada sekadar amarah. "Aku menginginkannya. Bukan hanya darahnya yang mengalir di nadiku, tapi kehadirannya. Setiap kali aku melihatnya menolakku, aku justru semakin gila ingin memilikinya. Menyerahkannya kembali pada kakaknya yang suci itu terasa seperti menyerahkan jantungku sendiri untuk diinjak-injak." ​ ​Dante melangkah keluar dan menuju kamar Rania. Kali ini, ia tidak mengetuk. Ia membuka pintu dengan kunci induk dan masuk ke dalam. Rania tersentak berdiri, wajahnya memucat melihat intensitas di mata Dante. ​"Anda bilang dua hari lagi saya pulang," suara Rania bergetar. ​Dante mendekat, mengabaikan jarak yang diminta Rania sebelumnya. Ia menyudutkan gadis itu hingga punggung Rania menempel pada pilar ranjang yang tinggi. ​"Aku berbohong," ucap Dante dingin namun intim. Ia mengulurkan tangan, kali ini benar-benar menyentuh helai kerudung Rania dengan ujung jarinya. "Semakin aku mencoba melepaskanmu, semakin aku sadar bahwa aku tidak akan pernah bisa membiarkan pria lain, bahkan kakakmu sekalipun, memilikimu kembali." ​"Anda gila!" Rania mencoba mendorong d**a Dante, namun pria itu tidak bergeming. "Anda berjanji atas nama Moretti!" ​"Aku seorang mafia, Rania. Janjiku adalah racun," bisik Dante, wajahnya hanya berjarak beberapa inci dari wajah Rania. "Aku akan menghancurkan klan Valenti, aku akan melenyapkan Bianca, tapi aku akan tetap menyimpannmu di sini. Di sisiku. Selamanya." ​Sementara itu, di Surabaya, Yusuf sedang terjebak dalam situasi mematikan. Ia berada di sebuah gudang tua di kawasan pelabuhan, dikelilingi oleh sisa-sisa anak buah Klan Valenti yang haus darah. Mereka tahu Dante sangat menginginkan Rania, dan mereka akan menggunakan Yusuf untuk memaksa Dante menyerahkan gadis itu. ​"Telepon pria Moretti itu," perintah pemimpin Valenti sambil menodongkan pistol ke kepala Yusuf. "Katakan padanya, jika dia ingin kakaknya tetap bernapas, dia harus membawa 'obat' berharganya itu ke sini sekarang juga." ​Yusuf, meskipun gemetar, menatap mereka dengan keberanian seorang mukmin. "Kalian tidak akan mendapatkan apa-apa. Jika adikku aman bersamanya, maka biarlah aku mati di sini!" ​Di mansion Alpen, ponsel Dante berdering. Itu adalah panggilan video dari Valenti. Dante melihat wajah Yusuf yang babak belur di layar. ​ "Dante Moretti," suara dari telepon itu mengejek. "Kau menginginkan gadis itu? Kami menginginkan nyawamu. Dan kami punya kakak kesayangannya di sini. Pilih sekarang: kembalikan Rania kepada kami, atau lihat kepala kakaknya hancur." ​Rania, yang berada dalam dekapan paksa Dante, melihat layar itu dan menjerit histeris. "KAK YUSUF!" ​Dante mencengkeram bahu Rania, matanya menatap tajam ke arah layar, lalu kembali ke arah Rania. Keinginannya untuk memiliki Rania kini berbenturan dengan kenyataan pahit bahwa satu-satunya cara menyelamatkan Yusuf adalah dengan menyerahkan Rania kembali ke medan perang—sesuatu yang sangat tidak ingin ia lakukan. ​"Tolong, Tuan Dante... selamatkan Kakak saya," tangis Rania pecah, ia mencengkeram kemeja Dante, memohon pada pria yang baru saja menyatakan ingin menyekapnya selamanya. ​Dante terdiam sejenak, lalu ia menatap Marcello yang berdiri di ambang pintu. "Siapkan jet. Kita berangkat ke Indonesia. Tapi katakan pada Valenti... jika mereka menyentuh satu helai rambut Yusuf lagi, aku tidak akan hanya membunuh mereka. Aku akan menghapus nama Valenti dari sejarah dunia." ​Jet pribadi Gulfstream milik Dante membelah langit malam menuju Surabaya. Di dalam kabin yang senyap, atmosfer terasa sangat mencekam. Rania duduk meringkuk di sudut kursi kulit, matanya sembab menatap layar tablet yang masih menunjukkan wajah Yusuf yang terikat di gudang pelabuhan. ​Dante berdiri di dekat jendela, memeriksa magasin pelurunya dengan gerakan mekanis yang menakutkan. Ia tidak lagi memakai kemeja linen santai; ia mengenakan rompi anti-peluru taktis berwarna hitam dengan pisau komando terselip di dadanya. ​"Dua jam lagi kita mendarat di pangkalan udara pribadi," lapor Marcello melalui interkom. "Tim taktis kita sudah menyusup ke area Tanjung Perak. Tapi Valenti licik, Tuan. Mereka menaruh peledak di kursi tempat Yusuf didudukkan. Jika mereka mendeteksi gerakan mencurigakan, seluruh gudang itu akan meledak." ​ ​Rania tiba-tiba berdiri, melangkah mendekati Dante dengan kaki gemetar. "Tuan Dante... Anda bilang Anda menginginkan saya. Jika itu benar, tolong... jangan biarkan Kakak saya mati. Ambil saya, sekap saya selamanya di gunung itu, tapi biarkan Yusuf pulang ke Ibu." ​ Dante berhenti mengisi peluru. Ia berbalik dan menatap Rania dengan intensitas yang membuat gadis itu menahan napas. Dante mencengkeram rahang Rania dengan satu tangan, lembut namun posesif. ​"Kau menawarkan dirimu sebagai tumbal untuknya?" bisik Dante, suaranya serak. "Kau pikir aku akan membiarkanmu kembali ke tangan Valenti yang kotor itu? Tidak, Rania. Aku membawamu ke sini bukan untuk menukarmu. Aku membawamu agar kau melihat sendiri bagaimana aku menghancurkan siapa pun yang berani menyentuh apa yang sudah menjadi milikku." ​Dante mendekatkan wajahnya, napasnya terasa hangat di kulit Rania. "Yusuf akan selamat. Bukan karena aku peduli padanya, tapi karena aku tidak ingin ada air mata lagi di matamu yang akan mengingatkanku pada kegagalanku." ​ ​Pukul 02.00 dini hari. Kawasan industri Tanjung Perak tampak mati, hanya deru ombak dan suara mesin kapal jauh di dermaga. Dante turun dari mobil SUV hitam, menarik Rania di sampingnya. Di belakang mereka, selusin tentara bayaran elit bergerak seperti hantu dalam kegelapan. ​Pintu gudang besar itu berderit terbuka. Di tengah ruangan, di bawah lampu gantung yang remang-remang, Yusuf duduk terikat. Di belakangnya stands Enzo Valenti, keponakan dari pemimpin klan Valenti yang haus kekuasaan, memegang detonator di tangan kirinya dan pistol di tangan kanannya. ​"Berhenti di situ, Moretti!" teriak Enzo. "Satu langkah lagi, dan kakak iparmu ini akan menjadi serpihan daging!" ​Yusuf mendongak, matanya yang lebam membelalak melihat adiknya. "Rania! Pergi! Jangan ke sini! Dia iblis, Rania!" ​ ​Dante tidak berhenti. Ia terus melangkah maju dengan tenang, tangannya menggandeng erat jemari Rania yang berkeringat dingin. Wajahnya tidak menunjukkan rasa takut sedikit pun. ​"Kau ingin negosiasi, Enzo?" suara Dante bergema dingin di langit-langit gudang. "Kau tidak punya posisi untuk itu. Lihat ke atas." ​Tiba-tiba, titik merah dari sepuluh laser sniper muncul di d**a Enzo dan anak buahnya. Enzo gemetar, namun ia menekan pistolnya lebih keras ke pelipis Yusuf. "Aku akan menembaknya! Aku bersumpah!" ​"Tarik saja pelatuknya," tantang Dante, senyum miring muncul di wajahnya. "Tapi di detik kau melakukannya, aku akan memastikan kau tetap hidup cukup lama untuk melihat organ tubuhmu dikeluarkan satu per satu. Dan istrimu di Milan? Anak-anakmu? Marcello sudah berada di depan rumah mereka." ​Keberanian Enzo runtuh. Di dunia mafia, ancaman Dante Moretti adalah vonis mati yang pasti. ​"Lepaskan dia," perintah Dante, suaranya kini merendah seperti geraman predator. "Lalu lari sesukamu. Aku memberimu waktu sepuluh detik sebelum aku berubah pikiran." ​ ​Enzo mendorong Yusuf hingga tersungkur dan lari ke pintu belakang bersama anak buahnya. Rania langsung melepaskan diri dari Dante dan berlari memeluk kakaknya. ​"Kak Yusuf! Kakak!" Rania menangis histeris, mencoba membuka ikatan tali di tangan kakaknya. ​Yusuf memeluk adiknya erat, namun matanya yang tajam menatap Dante yang berdiri beberapa meter dari mereka. Yusuf melihat bagaimana Dante menatap adiknya—bukan tatapan seorang penyelamat, melainkan tatapan seorang pemilik yang tidak ingin berbagi. ​"Siapa dia, Rania?" tanya Yusuf, suaranya berat dan penuh kecurigaan saat Dante melangkah mendekat untuk mengambil kembali "miliknya". "Siapa pria ini yang membawa pasukan bersenjata ke negara kita?" ​Dante berhenti tepat di depan mereka, menatap Yusuf dengan dingin. "Aku adalah pria yang memastikan adikmu tetap bernapas, Yusuf. Dan aku adalah pria yang akan membawanya pergi dari sini." ​
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD