Bab 9: Dansa di Atas Belati​

1673 Words
Dua hari berlalu. Klinik rahasia di Naviglio tidak lagi terasa seperti rumah sakit, melainkan sebuah markas perang yang sunyi. Dante masih terbaring di tempat tidur khusus, namun kamarnya kini dipenuhi monitor komputer dan telepon satelit. Meski wajahnya masih sepucat kertas, binar matanya telah kembali—dingin dan penuh perhitungan. ​ Di lantai atas, Rania berdiri di depan sebuah cermin besar. Di sekelilingnya, tiga orang wanita paruh baya dengan pakaian serba hitam—tim penjahit dan perias kepercayaan Marcello—bekerja dalam keheningan yang kaku. ​ "Nona, tolong angkat dagu Anda sedikit," ucap salah satu wanita itu dengan aksen Italia yang kental. ​ Rania melihat pantulan dirinya. Ia mengenakan gaun panjang berbahan sutra velvet berwarna biru dongker tua yang sangat sopan, namun potongannya menunjukkan kemewahan yang tak terbantahkan. Hijabnya diganti dengan kain sutra senada yang dihiasi bros kecil berbentuk serigala perak—lambang klan Moretti. ​ ​Pintu kamar terbuka. Marcello masuk, membawa sebuah kotak beludru hitam. Ia memberi isyarat agar para pelayan keluar. Begitu mereka berdua saja, Marcello membuka kotak itu. Di dalamnya terdapat sebuah kalung berlian dengan mata safir biru yang tampak seperti tetesan air mata beku. ​ "Tuan Dante ingin Anda memakai ini," kata Marcello. ​ Rania menggeleng pelan. "Ini terlalu berlebihan, Tuan Marcello. Saya merasa seperti... pajangan." ​ "Anda bukan pajangan, Nona Rania. Anda adalah pernyataan perang," Marcello mendekat, membantu mengaitkan kalung itu di atas kerah gaun Rania yang tinggi. "Malam ini, di Palazzo Reale, Bianca akan mencoba menunjukkan bahwa dia adalah ratu tanpa raja. Tugas Anda hanya satu: hadir, tetap tenang, dan jangan bicara pada siapa pun kecuali saya." ​ ​Sebelum berangkat, Marcello membawa Rania ke kamar Dante. Ruangan itu remang-remang, hanya diterangi cahaya dari monitor jantung dan layar laptop. Dante sedang bersandar pada tumpukan bantal, napasnya masih pendek-pendek, namun ia tampak sangat waspada. ​ Saat melihat Rania masuk dengan gaun biru dan perhiasannya, Dante terdiam cukup lama. Tatapannya menyapu Rania dari ujung kepala hingga ujung kaki. Ada kilatan emosi yang tidak biasa di matanya—mungkin kekaguman, atau mungkin rasa bersalah yang terkubur dalam. ​ "Kau tampak... berbeda," desis Dante, suaranya serak. ​ "Saya tetap orang yang sama, Tuan. Hanya pakaiannya yang berubah," jawab Rania datar. ​Dante memberi isyarat agar Rania mendekat ke tempat tidurnya. Saat Rania sudah cukup dekat, Dante meraih tangan gadis itu. Tangannya masih panas karena demam yang belum sepenuhnya hilang, namun cengkeramannya terasa protektif. ​ "Bianca akan mencoba memprovokasimu. Dia akan menghinamu, merendahkanmu, bahkan mungkin mengancammu," Dante menatap mata Rania dengan intensitas yang membuat napas Rania tertahan. "Ingat satu hal: kau membawa namaku malam ini. Jika kau merasa takut, bayangkan saja aku ada di belakangmu, memegang pistol ke arah siapa pun yang berani menyentuhmu." ​ Dante melepaskan tangan Rania dan menoleh ke Marcello. "Bawa dia. Jika seujung hijabnya saja lecet, kau tahu apa konsekuensinya, Marcello." ​ ​Lampu kristal raksasa di langit-langit Palazzo Reale memantulkan cahaya yang menyilaukan ke atas lantai marmer yang dipoles sempurna. Musik klasik mengalun lembut, bercampur dengan denting gelas sampanye dan bisikan-bisikan rendah para elit bawah tanah Milan. ​Saat pintu utama aula terbuka, suasana seketika senyap. ​Rania melangkah masuk dengan tangan tertaut di lengan Marcello. Gaun biru dongkernya yang elegan bergerak anggun mengikuti langkahnya yang ragu namun terukur. Di ruangan yang dipenuhi wanita dengan gaun pesta terbuka, kehadiran Rania yang tertutup rapat dan bersahaja justru menjadi pusat gravitasi. ​"Tetap tegak, Nona. Jangan tundukkan kepala Anda," bisik Marcello tanpa menggerakkan bibir. ​Bisikan mulai menjalar seperti api di atas jerami kering. "Siapa dia? Apakah itu pengawal baru Dante?" "Lihat lambang serigala di brosnya... Itu milik Moretti!" "Kudengar Dante sudah mati dalam ledakan villa, tapi kenapa gadis ini memakai permata safirnya?" ​Rania merasa ribuan mata menusuk kulitnya. Ia merasa seperti domba yang berjalan masuk ke kandang serigala yang sedang berpesta. Namun, setiap kali nyalinya menciut, ia teringat suara parau Dante di klinik: Bayangkan aku ada di belakangmu. ​Di ujung aula, di atas podium kecil yang dikelilingi oleh para pria berpengaruh, berdirilah Bianca. Ia tampak mempesona dengan gaun merah darah yang berani, rambut pirangnya disanggul rapi, dan senyum kemenangan tersungging di bibirnya. Namun, saat matanya menangkap sosok Rania, senyum itu membeku. ​Gelas di tangan Bianca bergetar halus. ​ ​Bianca turun dari podium, melangkah membelah kerumunan dengan keanggunan seorang predator. Para tamu memberikan jalan, menciptakan lorong sunyi yang mempertemukan sang Mantan Tunangan dan sang Gadis Pelarian. ​"Marcello," suara Bianca terdengar manis namun tajam seperti silet. "Aku tidak menyangka kau punya selera untuk membawa 'peliharaan' baru ke acara sepenting ini." ​Marcello menundukkan kepala sedikit, namun tatapannya tetap dingin. "Tuan Dante mengirimkan salamnya, Nona Bianca. Beliau sangat menyesal tidak bisa hadir secara pribadi, jadi beliau mengirimkan tamu istimewanya untuk mewakili kehormatan Moretti." ​Bianca tertawa rendah, sebuah suara yang kering dan tidak menyenangkan. Ia berjalan mengelilingi Rania, memperhatikan setiap detail gaun dan hijabnya. ​"Tamu istimewa?" Bianca berhenti tepat di depan Rania, hanya berjarak beberapa inci. Bau parfumnya yang menyengat memenuhi indra penciuman Rania. "Katakan padaku, Sayang... berapa Dante membayarmu untuk memakai kain-kain ini dan berpura-pura menjadi seseorang yang penting?" ​Rania menelan ludah. Ia bisa merasakan tatapan menghina Bianca merobek harga dirinya. Namun, ia teringat bahwa saat ini ia bukan hanya Rania si santri; ia adalah martabat Dante Moretti. ​"Tuan Dante tidak membayar saya dengan uang, Nona," suara Rania keluar, awalnya sedikit bergetar namun kemudian menguat. "Beliau memberikan sesuatu yang mungkin tidak bisa Anda pahami lagi: rasa hormat dan perlindungan." ​Wajah Bianca memerah sesaat. Ia tidak menyangka gadis yang tampak lemah ini berani menjawab. ​"Hormat?" Bianca berbisik, suaranya kini penuh racun. "Dante hanya menggunakanmu untuk memancingku. Kau hanyalah umpan kecil yang akan dibuang begitu misinya selesai. Berhati-hatilah, Hijab Kecil... di kota ini, mawar yang paling indah pun bisa berakhir di tempat sampah." ​ ​Tepat saat Bianca hendak melontarkan hinaan berikutnya, seorang pria asing dengan setelan jas abu-abu mendekat dan membisikkan sesuatu ke telinga Bianca. Ekspresi Bianca berubah menjadi waspada, lalu ia melirik ke arah ponsel di tangannya. ​"Sepertinya 'Tuanmu' sedang mencoba bermain-main dengan server keamananku di luar sana," desis Bianca pada Marcello. ​"Tuan Dante selalu menyukai permainan yang adil, Nona," balas Marcello tenang. ​Rania menyadari bahwa kehadirannya di sini memang benar-benar hanya sebuah pengalih perhatian. Sementara semua mata tertuju padanya dan Bianca, Dante—dari tempat tidurnya—mungkin sedang meluncurkan serangan digital atau sabotase terhadap bisnis Bianca melalui sistem yang terhubung dengan pesta ini. ​ ​Ketegangan di aula Palazzo Reale semakin memuncak. Bianca menatap Rania dengan kebencian yang murni, namun sorot matanya juga memancarkan kegelisahan. Ponsel di tangan Bianca terus bergetar—tanda bahwa serangan siber yang diluncurkan tim Dante sedang mengacak-acak sistem keuangan dan logistik klan Moretti yang dikuasai Bianca. ​"Kau pikir kau menang karena bisa berdiri di sini?" Bianca mendekat, suaranya kini hanya berupa desisan di telinga Rania. "Dante sedang sekarat di suatu lubang, dan dia membiarkanmu menjadi target empuk di sini. Kau tidak akan keluar dari gedung ini sebagai pemenang." ​Bianca memberi isyarat kecil dengan jarinya kepada dua pria bertubuh besar di sudut ruangan. ​Marcello menyadari gerakan itu. Ia segera menarik Rania mendekat, tangannya secara refleks menyentuh senjata yang tersembunyi di balik jasnya. "Nona, kita harus pergi. Sekarang." ​ ​Tepat saat para pengawal Bianca mulai bergerak mendekat, tiba-tiba seluruh lampu di Palazzo Reale padam. ​Jlep! ​Kegelapan total menyelimuti aula. Suara teriakan panik para tamu mulai terdengar. Detik berikutnya, sistem pemadam kebakaran (sprinkler) aktif, menyemburkan air ke seluruh ruangan dan menciptakan kekacauan masal. ​"Dante..." desis Bianca di tengah kegelapan, suaranya penuh amarah. ​"Ikuti saya!" perintah Marcello. Ia mencengkeram lengan Rania, menuntunnya melewati kerumunan orang yang berlarian panik di bawah guyuran air. ​Rania mengangkat bagian bawah gaunnya agar tidak tersandung. Di tengah kegelapan dan hujan buatan itu, ia merasa jantungnya seolah ingin melompat keluar. Ia mendengar suara tembakan—satu, dua kali—yang menghantam vas bunga besar di dekat pintu keluar. ​"Tundukkan kepala!" Marcello mendorong Rania melewati pintu servis yang tersembunyi di balik tirai beludru. ​ ​Mereka muncul di gang sempit di samping istana. Sebuah mobil SUV hitam sudah menunggu dengan mesin yang menderu. Pintu terbuka otomatis, dan Marcello praktis mengangkat Rania masuk ke dalam kabin. ​Begitu pintu tertutup, suasana menjadi sunyi, hanya terdengar suara napas Rania yang memburu dan tetesan air dari hijabnya yang basah kuyup. Di kursi depan, seorang pria dari tim taktis Dante segera memacu mobil itu membelah jalanan Milan yang licin. ​"Apakah kita aman?" tanya Rania dengan suara gemetar. ​"Untuk beberapa menit ke depan, ya," jawab Marcello sambil memeriksa tabletnya. "Dante berhasil mengunci akses komunikasi Bianca selama sepuluh menit. Itu cukup bagi kita untuk menghilang ke jalur bawah tanah." ​ ​Saat mereka sampai kembali di klinik Naviglio, Rania langsung menuju kamar Dante. Ia tidak peduli dengan penampilannya yang berantakan atau gaun mahalnya yang rusak karena air. ​Ia menemukan Dante masih terjaga, dikelilingi oleh tiga layar monitor yang menampilkan grafik data yang bergerak cepat. Wajah Dante tampak sangat lelah, namun saat melihat Rania masuk, ia mematikan layarnya. ​"Kau kembali," ucap Dante. Ada nada lega yang sangat tipis dalam suaranya yang serak. ​Rania berdiri di ujung tempat tidur, napasnya perlahan mulai teratur. "Saya melakukan apa yang Anda minta. Bianca sangat marah. Dia tahu Anda masih hidup." ​Dante menatap Rania yang basah kuyup—kalung safir di lehernya masih berkilau meski di bawah cahaya redup. "Kau melakukannya dengan baik, Rania. Lebih baik dari yang kubayangkan." ​"Sekarang janji Anda, Tuan," tuntut Rania. "Anda bilang setelah ini saya bisa pergi ke Jeddah." ​Dante terdiam sejenak. Ia melihat keberanian di mata gadis itu, sesuatu yang mulai ia hargai lebih dari sekadar kegunaannya sebagai umpan. Namun, sebelum ia bisa menjawab, Marcello masuk dengan wajah pucat. ​"Tuan... kita punya masalah. Bianca tidak mengejar kita ke sini. Dia baru saja mengirimkan tim ke bandara Malpensa. Dia tahu tentang jadwal penerbangan ke Jeddah atas nama Rania. Dia memblokir semua akses penerbangan pribadi kita." ​Dante menggeram, tangannya mencengkeram pinggiran tempat tidur. "Dia ingin menjebakmu di Italia, Rania. Dia tahu kau adalah satu-satunya kelemahan logikaku saat ini." ​
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD