Para pria itu tertawa kasar. "Kau membawa sesuatu yang milik Don kami. Serahkan, atau kau akan ikut membeku di kanal ini."
Rania teringat koin di sakunya. Ia tahu, koin itu adalah "siasat" terakhirnya. Namun, sebelum ia sempat mengeluarkan koin itu, salah satu pria menarik paksa tas ranselnya. Tas itu terjatuh, isinya berhamburan di atas salju: sebuah mukena putih, Al-Qur'an kecil, dan seuntai tasbih kayu yang putus karena tarikan kasar mereka.
Melihat tasbih peninggalan almarhumah ibunya hancur dan butirannya berserakan di atas salju, ketakutan Rania mendadak berubah menjadi kekuatan yang aneh. Ia tidak memukul, ia tidak berteriak histeris. Ia justru berdiri sangat tegak, menatap mata pria itu dengan tajam.
"Tuan," suara Rania kini terdengar sangat rendah dan dingin. "Kalian mencari koin ini?"
Ia mengeluarkan sapu tangan hitam itu, membukanya perlahan, dan menunjukkan koin perak berlambang elang Moretti. Cahaya lampu mobil memantul di permukaan logam tersebut.
Para mafia itu tertegun. Mereka segera mengenali koin tersebut sebagai Segnale di Debito—tanda hutang nyawa sang Don. Barangsiapa memegang koin itu, dia berada di bawah perlindungan tertinggi keluarga Moretti.
"Don... Don Moretti memberikan ini padamu?" tanya pria itu dengan nada bicara yang berubah drastis, dari mengancam menjadi penuh keraguan.
"Dia memberikan ini karena saya menyelamatkan nyawanya," jawab Rania, tangannya gemetar namun ia berusaha tetap tenang. "Sekarang, jika kalian benar-benar anak buahnya, ambil butiran tasbih saya yang jatuh di salju itu. Semuanya. Tanpa tersisa satu pun."
Pemandangan itu sungguh ganjil. Dua orang pembunuh bayaran yang biasanya ditakuti di seluruh Milan, kini berlutut di atas salju yang dingin, memunguti butiran-butiran kayu tasbih milik seorang gadis bercadar. Rania berdiri mengawasi mereka, tangannya masih mendekap koin perak itu sebagai tameng.
"Sudah semuanya, Nona," ujar salah satu pria sambil menyerahkan segenggam butiran kayu itu dengan kepala tertunduk.
"Sekarang, bawa saya ke tempat paling aman di kota ini yang memiliki telepon internasional," perintah Rania. "Saya harus menghubungi kakak saya."
Para mafia itu saling pandang, lalu salah satu dari mereka membukakan pintu mobil dengan hormat. "Silakan, Nona. Kami akan membawa Anda ke tempat persembunyian rahasia di dekat Gereja Duomo. Di sana aman dari klan Valenti."
Rania masuk ke dalam mobil, duduk di pojok terjauh, memastikan tidak ada kulitnya yang bersentuhan dengan jok kulit atau pintu mobil. Saat mobil itu melaju menembus badai, Rania melihat butiran tasbih di tangannya. Ia tahu, pelariannya baru saja dimulai, dan koin perak ini telah menyeretnya masuk lebih dalam ke jantung dunia hitam Italia.
Langkah kaki Rania terasa berat. Salju di kawasan Navigli kini setinggi mata kaki, meresap masuk ke dalam sepatu kainnya yang tipis. Ia terus berlari kecil, menjauh dari sirine polisi yang mulai memenuhi lorong tempat ia meninggalkan Dante. Di genggamannya, sapu tangan berisi koin perak itu ia dekap erat di balik saku abaya.
"Mas Yusuf... Di mana Mas?" bisiknya. Bibirnya yang bergetar di balik cadar tak berhenti merapalkan zikir.
Pandangan Rania mulai kabur oleh butiran salju yang menusuk mata. Ia tidak tahu arah. Milan yang indah dalam kartu pos kini berubah menjadi labirin putih yang mematikan. Tiba-tiba, sebuah siluet lampu mobil muncul dari balik tikungan, menyapu tubuh hitamnya dengan cahaya kuning yang menyilaukan.
Sebuah mobil SUV hitam berhenti mendadak, menghalangi jalannya di atas jembatan kecil yang melintasi kanal yang membeku. Dua orang pria bertubuh besar turun. Mereka bukan polisi. Di lengan salah satu pria itu, Rania melihat tato elang yang sama dengan lambang di koin perak milik Dante.
"Itu dia! Gadis yang bersama Moretti tadi!" teriak salah satunya.
Rania mundur selangkah. Punggungnya membentur pagar besi jembatan yang sedingin es. "Jangan mendekat! Saya tidak tahu apa-apa!" serunya, suaranya tertelan angin kencang.
Para pria itu tertawa kasar. "Kau membawa sesuatu yang milik Don kami. Serahkan, atau kau akan ikut membeku di kanal ini."
Rania teringat koin di sakunya. Ia tahu, koin itu adalah "siasat" terakhirnya. Namun, sebelum ia sempat mengeluarkan koin itu, salah satu pria menarik paksa tas ranselnya. Tas itu terjatuh, isinya berhamburan di atas salju: sebuah mukena putih, Al-Qur'an kecil, dan seuntai tasbih kayu yang putus karena tarikan kasar mereka.
Melihat tasbih peninggalan almarhumah ibunya hancur dan butirannya berserakan di atas salju, ketakutan Rania mendadak berubah menjadi kekuatan yang aneh. Ia tidak memukul, ia tidak berteriak histeris. Ia justru berdiri sangat tegak, menatap mata pria itu dengan tajam.
"Tuan," suara Rania kini terdengar sangat rendah dan dingin. "Kalian mencari koin ini?"
Ia mengeluarkan sapu tangan hitam itu, membukanya perlahan, dan menunjukkan koin perak berlambang elang Moretti. Cahaya lampu mobil memantul di permukaan logam tersebut.
Para mafia itu tertegun. Mereka segera mengenali koin tersebut sebagai Segnale di Debito—tanda hutang nyawa sang Don. Barangsiapa memegang koin itu, dia berada di bawah perlindungan tertinggi keluarga Moretti.
"Don... Don Moretti memberikan ini padamu?" tanya pria itu dengan nada bicara yang berubah drastis, dari mengancam menjadi penuh keraguan.
"Dia memberikan ini karena saya menyelamatkan nyawanya," jawab Rania, tangannya gemetar namun ia berusaha tetap tenang. "Sekarang, jika kalian benar-benar anak buahnya, ambil butiran tasbih saya yang jatuh di salju itu. Semuanya. Tanpa tersisa satu pun."
Pemandangan itu sungguh ganjil. Dua orang pembunuh bayaran yang biasanya ditakuti di seluruh Milan, kini berlutut di atas salju yang dingin, memunguti butiran-butiran kayu tasbih milik seorang gadis bercadar. Rania berdiri mengawasi mereka, tangannya masih mendekap koin perak itu sebagai tameng.
"Sudah semuanya, Nona," ujar salah satu pria sambil menyerahkan segenggam butiran kayu itu dengan kepala tertunduk.
"Sekarang, bawa saya ke tempat paling aman di kota ini yang memiliki telepon internasional," perintah Rania. "Saya harus menghubungi kakak saya."
Para mafia itu saling pandang, lalu salah satu dari mereka membukakan pintu mobil dengan hormat. "Silakan, Nona. Kami akan membawa Anda ke tempat persembunyian rahasia di dekat Gereja Duomo. Di sana aman dari klan Valenti."
Rania masuk ke dalam mobil, duduk di pojok terjauh, memastikan tidak ada kulitnya yang bersentuhan dengan jok kulit atau pintu mobil. Saat mobil itu melaju menembus badai, Rania melihat butiran tasbih di tangannya. Ia tahu, pelariannya baru saja dimulai, dan koin perak ini telah menyeretnya masuk lebih dalam ke jantung dunia hitam Italia.