Angin musim dingin di Milan tidak pernah terasa sekejam ini bagi Dante Moretti. Suara deru mesin mobil yang saling mengejar di atas aspal yang licin karena salju terdengar seperti simfoni kematian.
"Don, mereka menutup jalur di depan!" teriak sopirnya, namun kalimat itu terputus oleh rentetan tembakan yang memecahkan kaca belakang mobil Maserati mereka.
Dante meringis, tangannya menekan luka tembak di bahu kirinya. Darah merah segar merembes keluar, kontras dengan kemeja putih mahalnya, lalu menetes ke jok kulit mobil. "Belok ke kawasan Navigli! Cari lorong sempit, kita tidak bisa menang di jalan terbuka!"
Mobil itu meluncur liar, melakukan drift di atas salju yang mulai menumpuk, lalu masuk ke sebuah gang sempit yang gelap. Di ujung jalan, mobil itu menghantam tumpukan tong besi dan berhenti total. Sopir Dante tewas seketika di balik kemudi. Dengan sisa tenaga, Dante menendang pintu mobil dan merangkak keluar, jatuh tersungkur di atas salju yang dingin.
Hanya beberapa meter dari sana, di balik pintu kayu sebuah ruko tua yang terkunci, Rania duduk mematuk. Ia meringkuk di pojok ruangan yang pengap, mendekap tas ransel kecilnya.
Ingatannya masih berputar pada kejadian tiga hari lalu di Bandara Changi. Harusnya ia sedang duduk di bangku pesawat menuju Jeddah untuk Umroh bersama kakaknya, Yusuf. Namun, seorang pria asing menariknya ke dalam lift gelap, membekap mulutnya, dan hal berikutnya yang ia tahu, ia berada di dalam peti kayu menuju Italia.
"Ya Allah... Mas Yusuf di mana..." bisiknya parau. Suaranya teredam oleh kain cadar yang menutupi wajahnya.
Rania tidak menangis histeris. Pendidikan Madrasahnya mengajarkan bahwa dalam ketakutan terbesar, hanya ketenangan yang bisa menyelamatkan. Ia mendengar suara ledakan di luar, lalu suara rintihan pria yang kesakitan.
Rania mengintip dari celah lubang kunci pintu ruko. Di sana, di bawah lampu jalan yang berkedip-kedip, ia melihat seorang pria bersetelan jas mahal sedang berusaha berdiri namun gagal. Pria itu bersandar pada dinding, sementara dari kejauhan, lampu sorot mobil musuh mulai menyapu gang tersebut.
Rania tahu pria di luar itu kemungkinan besar adalah bagian dari orang-orang jahat yang membawanya ke sini. Namun, melihat darah yang mengucur deras di atas salju, naluri kemanusiaannya berontak.
Ia melihat ke sekeliling ruko. Itu adalah gudang bahan bangunan lama. Ada beberapa karung kapur putih dan tuas besi besar yang terhubung dengan pipa pemanas gedung tua tersebut.
"Kalau mereka menemukannya, mereka juga akan menemukanku," pikir Rania cepat.
Rania tidak keluar untuk menolong. Ia meraih sebuah pipa besi panjang di dekatnya.
Dengan gerakan hati-hati, ia mendorong pintu ruko hingga terbuka sedikit, lalu menggunakan ujung pipa itu untuk mengaitkan kerah jaket Dante yang sudah tak berdaya.
"Tuan!" bisik Rania dari balik kegelapan ruko. "Jangan melawan. Pegang pipa ini, saya tarik Anda masuk sebelum mereka melihat Anda!"
Dante, yang hampir kehilangan kesadaran, melihat sebuah benda panjang terjulur ke arahnya dari balik kegelapan. Ia melihat sosok hitam misterius di balik pintu yang hanya terlihat matanya saja. Tanpa pilihan, ia menggenggam pipa itu, dan dengan sisa tenaganya, ia membiarkan dirinya ditarik masuk ke dalam kegelapan yang lebih aman.
Pintu ruko berderit pelan saat tertutup, mengunci udara beku Milan di luar. Keheningan yang mencekam menyelimuti ruangan. Dante tergeletak di lantai semen yang kasar, napasnya memburu, menciptakan uap panas yang keluar dari mulutnya yang mulai membiru.
Rania segera mundur lima langkah. Ia berdiri di balik bayangan tumpukan karung kapur, menjaga jarak yang sangat tegas. Di tangannya, ia masih memegang tasbih kayu yang permukaannya sudah halus karena sering diputar.
"Siapa... kau?" tanya Dante dengan suara parau. Matanya berusaha fokus menatap sosok hitam yang berdiri menjauh darinya.
Rania tidak menjawab. Matanya yang terlihat di balik cadar menyapu luka di bahu Dante. Darah pria itu mulai menggenang, merembes ke celah-celah lantai semen.
"Tuan, Anda kehilangan banyak darah," suara Rania terdengar tenang namun bergetar pelan. Ia berbicara dalam bahasa Inggris dengan logat Indonesia yang kental. "Saya tidak bisa menyentuh Anda. Saya bukan mahram Anda."
Dante meringis, sebuah tawa pahit keluar dari tenggorokannya. "Mahram? Aku tidak tahu apa itu... tapi jika kau tidak membantuku, kau akan terjebak di sini dengan mayat mafia."
Rania menarik napas dalam. Ia teringat pelajaran di Madrasah tentang keadaan darurat yang membolehkan tindakan tertentu, namun ia tetap memilih cara yang paling menjaga kehormatannya.
Ia membuka tas ransel kecilnya. Di dalamnya hanya ada mukena, Al-Qur'an kecil, dan sebuah kotak P3K sederhana yang selalu ia bawa sejak dari desa. Ia mengambil sebotol cairan antiseptik dan beberapa rol perban.
"Pegang ini," ujar Rania. Ia tidak mendekat. Ia meletakkan peralatan medis itu di atas sebuah papan kayu bekas, lalu mendorong papan tersebut dengan ujung pipa besi hingga meluncur tepat ke samping tangan Dante yang sehat.
"Gunakan itu untuk menekan lukanya sendiri. Saya akan memberitahu Anda caranya," lanjut Rania.
Dante menatap peralatan itu, lalu menatap Rania. "Kau gila? Aku hampir pingsan dan kau memintaku mengobati diriku sendiri?"
"Itu satu-satunya cara, Tuan. Atau Anda akan mati karena kehabisan darah," jawab Rania tanpa kompromi.
Tiba-tiba, suara deru mesin mobil berhenti tepat di depan ruko. Cahaya lampu sorot menembus celah-celah pintu kayu, menciptakan garis-garis cahaya yang membelah kegelapan ruangan.
Brak!
Suara pintu mobil ditutup dengan keras terdengar dari luar. Langkah-langkah kaki berat di atas salju yang membeku—krak, krak, krak—mendekat ke arah pintu ruko.
"Dia masuk ke sini! Lihat jejak darahnya!" teriak sebuah suara kasar dalam bahasa Italia.
Dante langsung meraba pinggangnya, mencoba menarik pistol Beretta-nya, namun tangannya terlalu lemah. Pistol itu terlepas dan terjatuh jauh dari jangkauannya. Ia menatap Rania dengan pandangan penuh keputusasaan. "Mereka di sini... Pergilah lewat jendela belakang, Gadis Cadar. Jangan biarkan mereka menemukanmu."
Rania tidak lari. Ia justru melihat ke arah langit-langit ruko yang dipenuhi pipa-pipa besi tua. Pikirannya berputar cepat. Ia melihat sebuah tuas merah besar di pojok ruangan yang terhubung dengan pipa uap panas gedung.
"Jangan bergerak, Tuan," bisik Rania. Ia melepas jarum pentul yang menyematkan kerudungnya, menyisakan cadarnya yang tetap kokoh menutupi wajah. Ia bergerak menuju tuas itu dengan langkah tanpa suara.
"Jika mereka ingin masuk ke sarang serigala," bisik Rania pada dirinya sendiri, "biarkan mereka merasakan panasnya api."
Suara gagang pintu ruko yang dikocok kasar dari luar membuat jantung Rania berdegup kencang. Ia bisa mendengar umpatan para anak buah klan Valenti. Dante, yang kini bersandar lemas pada karung kapur, menatap Rania dengan pandangan tak percaya. Ia melihat gadis itu bukan lari bersembunyi, melainkan memanjat tangga kayu tua menuju katup tekanan uap di langit-langit.
"Apa yang kau lakukan? Mereka punya senjata!" desis Dante pelan, menahan perih di bahunya.
Rania tidak menjawab. Jemarinya yang kecil namun kokoh menggenggam tuas besi yang sudah berkarat. Ia mengingat pelajaran fisika sederhana saat di Madrasah dan pengamatannya selama tiga hari terkurung di gudang-gudang tua Milan: sistem pemanas kota ini menggunakan uap air bertekanan tinggi yang sangat berbahaya jika katup pengamannya dibuka paksa.
Brak!
Pintu ruko jebol. Tiga orang pria berjas tebal dengan senapan mesin masuk ke dalam. Sinar senter mereka menyapu ruangan, mencari sosok sang Don Moretti.
"Moretti! Kami tahu kau di sini! Menyerahlah dan kami akan membuatnya cepat!" teriak salah satu mafia itu.
Tepat saat moncong senjata mereka mengarah ke tumpukan karung tempat Dante bersembunyi, Rania menarik tuas itu sekuat tenaga.
Sssssssssshhhhhhhhtttttt!
Suara lengkingan uap yang memekakkan telinga memenuhi ruangan. Dalam sekejap, gas putih panas menyembur keluar dari pipa yang bocor, menciptakan kabut tebal yang menelan seluruh isi ruko. Suhu di dalam ruangan melonjak drastis, mengubah udara dingin menjadi uap yang membakar kulit.
"Apa ini?! Aku tidak bisa melihat apa-apa!" teriak pria Valenti itu. Mereka melepaskan tembakan membabi buta ke arah uap, namun peluru-peluru itu hanya mengenai dinding kosong.
Rania turun dari tangga dengan cekatan. Cadar-nya yang tebal secara tidak sengaja berfungsi sebagai filter, melindunginya dari uap panas yang menyesakkan napas. Ia merayap di lantai, mendekati Dante yang terbatuk-batuk.
Tanpa menyentuh kulit Dante, Rania menarik lengan jas pria itu menggunakan ujung pipa besi tadi. "Tuan, sekarang! Ikuti suara langkah kaki saya! Jalannya ada di balik uap ini!"
Dante, yang terpana oleh keberanian gadis itu, memaksakan dirinya berdiri. Ia memegang ujung pipa besi yang disodorkan Rania, menjadikannya penghubung di antara mereka. Rania menuntunnya melewati pintu belakang yang tersembunyi di balik rak besi tua—pintu kecil yang hanya diketahui oleh pekerja kasar yang biasa mengisi gudang tersebut.
Mereka berhasil keluar ke gang belakang. Udara dingin Milan kembali menyambut mereka, namun kali ini terasa menyelamatkan. Di belakang mereka, ruko itu masih dipenuhi uap putih yang keluar dari sela-sela pintu.
Dante terjatuh di atas tumpukan salju yang bersih. Ia menatap Rania yang berdiri menjauh darinya, napasnya tersengal di balik kain hitam.
"Kenapa kau tidak meninggalkanku di sana?" tanya Dante, menatap wajah tertutup itu dengan penuh selidik. "Kau bisa lari saat uap itu keluar. Kau bebas."
Rania menunduk, merapikan tas ranselnya. "Di tempat saya berasal, Tuan, kami diajarkan bahwa menolong nyawa satu manusia sama dengan menolong seluruh kemanusiaan. Tapi jangan salah sangka, saya tetap ingin pergi dari sini."
Tiba-tiba, suara sirine polisi terdengar dari kejauhan. Polisi Milan akhirnya datang karena laporan ledakan pipa uap.
"Kau harus pergi sekarang, Gadis Cadar," ujar Dante sambil menyodorkan sebuah koin perak kecil dari saku celananya ke atas salju. "Bawa ini. Jika kau bertemu orang-orangku di jalan, tunjukkan ini. Mereka tidak akan menyentuhmu. Dan jika aku selamat... aku sendiri yang akan memastikan kau bertemu kembali dengan kakakmu."
Rania melihat koin itu, namun ia tidak mengambilnya. Ia justru mengeluarkan sebuah sapu tangan bersih dari tasnya, meletakkannya di atas koin itu, lalu mengambilnya tanpa menyentuh logamnya secara langsung.
"Simpan janji Anda, Tuan Dante. Itu lebih berharga daripada koin ini," ucap Rania. Ia kemudian berbalik, berlari menembus badai salju, meninggalkan jejak-jejak kecil kaki yang rapi, yang perlahan mulai tertutup oleh putihnya Milan.
Langkah kaki Rania terasa berat. Salju di kawasan Navigli kini setinggi mata kaki, meresap masuk ke dalam sepatu kainnya yang tipis. Ia terus berlari kecil, menjauh dari sirine polisi yang mulai memenuhi lorong tempat ia meninggalkan Dante. Di genggamannya, sapu tangan berisi koin perak itu ia dekap erat di balik saku abaya.
"Mas Yusuf... Di mana Mas?" bisiknya. Bibirnya yang bergetar di balik cadar tak berhenti merapalkan zikir.
Pandangan Rania mulai kabur oleh butiran salju yang menusuk mata. Ia tidak tahu arah. Milan yang indah dalam kartu pos kini berubah menjadi labirin putih yang mematikan. Tiba-tiba, sebuah siluet lampu mobil muncul dari balik tikungan, menyapu tubuh hitamnya dengan cahaya kuning yang menyilaukan.
Sebuah mobil SUV hitam berhenti mendadak, menghalangi jalannya di atas jembatan kecil yang melintasi kanal yang membeku. Dua orang pria bertubuh besar turun. Mereka bukan polisi. Di lengan salah satu pria itu, Rania melihat tato elang yang sama dengan lambang di koin perak milik Dante.
"Itu dia! Gadis yang bersama Moretti tadi!" teriak salah satunya.
Rania mundur selangkah. Punggungnya membentur pagar besi jembatan yang sedingin es. "Jangan mendekat! Saya tidak tahu apa-apa!" serunya, suaranya tertelan angin kencang.