Terbang Ke Langit

1119 Words
Selesai dengan pemotretan kemarin, pagi ini Anna dan Emily sepakat untuk sarapan bersama di kafe sebelum mereka berangkat menuju lokasi untuk melakukan syuting iklan. Anna tidak bertemu dengan Samuel setelah kejadian di ruang ganti kemarin, ia pulang larut malam. Karena lelah Anna langsung tertidur di kamarnya. Mereka sudah kembali tidur terpisah. Pagi ini pun mereka tidak bertemu, karena Samuel sudah berangkat ke kantor. Emily terus memperhatikan Anna yang tengah menyantap sarapannya. Entah mengapa perlakuan Samuel pada Anna di lokasi pemotretan kemarin sangat membekas di pikiran Emily. Dia sangat penasaran. “Anna, kita sudah bersahabat sejak sekolah. Kau selalu menjadi tempatku bercerita, begitupun denganmu. Dan kurasa kau belum berterus terang padaku. Sebenarnya bagaimana pernikahanmu dengan Samuel? Apakah dia memang selalu kasar seperti kemarin? Jujur aku sangat terkejut.” Anna berhenti menyantap sarapannya dan menatap Emily. Sepertinya dia memang harus menceritakan sedikit masalahnya pada Emily. Karena wanita itu akan terus berada di sisinya seperti dulu mulai sekarang. Dia tidak ingin membuat Emily terus bertanya-tanya dan kebingungan melihat pernikahannya dan Samuel yang sedikit ‘berbeda’. “Kau tahu kami dijodohkan, bukan? Samuel tidak menginginkan aku menjadi Istrinya,” ungkap Anna. Emily memajukan kursinya hingga dadanya menyentuh meja. “Oke, aku tahu kau dijodohkan. Jadi, ceritakan apa yang terjadi? Apa dia sering menyakitimu dan bertindak kasar seperti kemarin?” Anna mengangguk pelan. “Awalnya dia hanya menyakitiku dengan kata-kata kasarnya. Tapi, belakangan ini dia juga menyakitiku secara fisik. Dia sepertinya sangat membenciku.” “Apa?! Beraninya dia melakukan itu padamu? Oh Anna! Aku kira CEO yang menikahimu itu pria yang baik!” Emily bersuara tinggi dan membuat Anna seketika panik. “Kecilkan suaramu, please,” bisik Anna. Emily menghela napasnya kasar. “Oke oke, lanjutkan.” “Setiap hari aku dicaci maki olehnya. Dia tidak suka aku mendekatinya, dia selalu mengumpat dan mengatakan aku wanita bodoh karena masih bertahan dengannya. Dia tidak pernah menyentuhku, dia sejijik itu padaku. Kami bahkan tidur di kamar yang terpisah. Dia hanya memperlakukanku sebagai istrinya di depan mertuaku dan orang banyak, demi menjaga nama baik.” Selesai Anna bicara, ia kembali tersentak karena Emily berdiri dan menepuk meja. “Astaga! Jadi kau masih perawan?!” Anna memejamkan matanya, lagi-lagi sahabatnya yang bar-bar ini suaranya tidak terkontrol. “Orang-orang melihat kita. Jika kau ingin aku bercerita, tolong kontrol emosimu. Jangan membuat keributan yang mengundang perhatian orang lain,” geram Anna. “Oke oke, sorry … aku terbawa emosi, lanjutkan.” Emily kemudian kembali duduk di kursinya. “Tapi aku mulai mencintai Samuel.” Emily membelalakan matanya terkejut. “Ha–“ Anna langsung menutup mulut sahabatnya yang akan berteriak lagi. “Kontrol suaramu, ya ampun!” geram Anna kemudian melepaskan tangannya. “Kau serius? Bukankah kau masih mencintai Harry, mantan kekasihmu itu?” bisik Emily. Anna menggeleng. “Semenjak aku bersumpah di atas altar dengan Samuel, semenjak itu aku belajar untuk menerima dan mencintainya sebagai suamiku.” “Tapi kenyataannya, dia tidak melakukan hal yang sama denganmu?” Anna mengangguk dengan senyuman tipis. “Karena memang bukan aku yang dia inginkan.” Cukup sampai disana, Anna tidak berniat menceritakan soal Samuel yang bermesraan dengan wanita lain pada Emily. Dia sudah terlihat memprihatinkan di mata sahabatnya itu sekarang, bagaimana jika Emily tahu bahwa Samuel tidak menginginkannya karena telah memiliki hubungan dengan wanita lain? Mungkin dia akan terkejut dan emosi lebih dari ini. Emily menarik napas panjang. Dadanya tiba-tiba ikut sesak membayangkan pernikahan sahabatnya ternyata lebih rumit dari yang ia pikirkan. “Lalu kenapa kau masih bertahan dengannya? Jika aku menjadi kau, lebih baik aku pergi.” Nah … Anna sudah menduga Emily akan berkata seperti itu. “Itu karena aku mencintainya. Aku sudah bilang, bukan? Lagipula aku sedang bahagia sekarang.” Emily mengerutkan keningnya. “Kenapa kau bahagia? Harusnya kau kesal karena perlakuan kasar suamimu itu. Apa otakmu sudah geser?” protes Emily. “Aku bahagia karena Samuel mengakui aku sebagai istrinya di depan orang lain kemarin, ucapannya masih terngiang-ngiang di kepalaku.” Anna tersenyum mengingat ucapan dan wajah suaminya yang tampan itu. “Anna, semua orang juga tahu kau memang istrinya! Oh god, sepertinya kau benar-benar tergila-gila padanya ya.” Emily menggelengkan kepalanya tak percaya dengan perkataan sahabatnya itu. Anna memukul lengan Emily. “Aww … Kau memukulku?” “Kau tidak akan mengerti perasaanku, sudah habiskan saja makananmu, kita harus segera berangkat!” sahut Anna dan Emily mendengus mendengarnya. *** “iLite XT1, next level of technology. Your phone your best partner.” Suara merdu Anna dengan wajah menawan dan senyumannya yang indah terekam jelas di kamera. “Cut!” ucapan sang sutradara menjadi akhir dari syuting iklan hari ini. Semua yang berada di lokasi syuting menghela napasnya lega dan puas karena syuting iklan berjalan dengan lancar dan selesai lebih cepat dari dugaan mereka. "Great job, Anna!" teriak sutradara dengan gembira. Ia yakin hasil video iklannya akan sangat memuaskan. Sutradara dan para kru bertepuk tangan merayakan kelancaran syuting hari ini. "Anna aktingmu sangat bagus, setelah video iklan ini diluncurkan pasti banyak produser yang mengajakmu bekerja sama," ucap salah satu kru. Anna memang meminta mereka untuk memanggilnya dengan nama. Tidak perlu menggunakan embel-embel Nyonya, meski ia telah menikah dengan Samuel karena Anna tidak ingin ada gate antara dirinya dan orang-orang di belakang layar yang membantu pekerjaannya. "Anna memang model yang multitalenta," sahut fotografer yang juga memotretnya kemarin. "Terima kasih semuanya, ini juga berkat kerja keras kalian," ucap Anna dengan senyuman manisnya. Emily menghampiri Anna sambil memberikan botol air minumnya. “Ini minummu.” “Sudah kubilang, kau seharusnya dari dulu menerima kontrak-kontrak yang ditawarkan para produser, bukan malah vakum karena ingin menjadi istri yang baik di rumah. Mungkin sekarang kau sudah menjadi artis hollywood tahu tidak?!” ucap Emily gemas dengan sahabatnya yang selalu menolak tawaran-tawaran besar. “Jangan mulai deh …,” ejek Anna sambil membuka botol dan meneguk airnya. Kemudian Anna mengambil ponsel di dalam tas dan menggulir layar ponselnya. “Uhuk … uhuk ….” Anna tersedak, matanya terbelalak kala melihat nama seseorang yang mengiriminya pesan. “Kau kenapa? Pelan-pelan saja minumnya …,” decak Emily. Anna tak menjawab, ia kembali melihat nama itu. Samuel mengiriminya pesan lebih dulu? Anna tidak percaya ini. dengan segera ia membuka pesan itu dan seketika tersenyum lebar membacanya. [Mom & dad mengundang kita dinner bersama, 10 menit lagi aku menjemputmu.] Sambil tersenyum, Anna segera mengetik balasannya untuk Samuel. Ya tuhan, Samuel memang paling bisa menjungkir balikkan hati Anna. Bahkan hanya dengan ucapan dan pesan singkat, wanita itu sangat bahagia di buatnya. Dua hari ini Samuel benar-benar membuat Anna terbang ke langit, semoga saja dia tidak akan menjatuhkannya ke jurang lagi. Emily berdecak melihat reaksi Anna setelah menerima pesan singkat dari suaminya. Terlihat sangat sepele, tapi bagi Anna apa yang dilakukan Samuel terlihat sangat spesial. “Memang dasar b***k cinta!”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD