Izinkan aku menemui bulan Ramadan untuk pertama dan terakhir kalinya
Setelah itu, Engkau boleh ambil nyawaku
~Carlista Rona~
Setelah lelah menangis di pelukan bi Yuli, Lista melepas pelukannya. Kondisi wajahnya sudah sangat kacau. Matanya merah dan sembab, pipinya banjir air mata, bahkan ada sebagian air matanya yang mulai mengering. Dia menatap bi Yuli dengan memelas. Usianya hanya tersisa enam bulan.
“Bi, Lista harus gimana?” tanyanya parau, tidak peduli dengan air matanya yang sedang mengalir lancar.
Bi Yuli memalingkan wajahnya, dia tidak sanggup melihat wajah putus asa milik majikannya. Air matanya pun ikut menetes lagi, dia menggigit bibirnya, menahan isakan yang akan keluar. Setelah itu dia menolehkan wajahnya ke Lista lagi. Dari matanya terlihat jelas, majikan yang dia anggap seperti anaknya sendiri tengah tidak berdaya. Dia tidak boleh lemah. Dia harus kuat agar Lista bisa bersandar padanya.
Kedua tangan bi Yuli terangkat, menangkup pipi basah Lista. Dengan air mata yang masih mengalir, bi Yuli menghapus air mata di pipi Lista dengan kedua jempolnya. Beberapa helai rambut Lista yang keluar dari jilbab, dia masukkan lagi dengan hati-hati. Setelah itu dia menatap Lista dengan lekat.
“Non Lista harus optimis. Non pasti sembuh,” ucapnya.
Namun Lista menggeleng lemah. Masih teringat jelas wajah bundanya yang kesakitan sebelum pergi meninggalkannya. Melihatnya saja dia tidak sanggup, apalagi jika dirinya sendiri yang merasakan. Matanya pun mengembun lagi, hingga akhirnya air matanya meluruh ke pipi.
“Gimana Lista bisa optimis Bi, bunda aja nggak-”
Bi Yuli memotong ucapan Lista dengan meletakkan telunjuk di bibir pucatnya. “Non nggak boleh ngomong gitu. Non Lista pasti sembuh.” Bukannya tenang, Lista justru semakin lancar menurunkan air matanya. Suara dokter tadi terputar lagi di otaknya.
“Enam bulan, Bi,” ucapnya bergetar.
Bi Yuli tidak membalas, dia bisa merasakan betapa sedih dan putus asanya Lista saat ini. Bi Yuli menghapus air mata Lista yang mulai membanjiri pipinya lagi. Setelah itu barulah dia menghapus air matanya sendiri.
“Non pasti sembuh, percaya sama Bibi.” Lista hanya diam.
“Kita dengerin penjelasan dokter dulu,” lanjutnya.
Dengan keadaan yang sama-sama sembab, bi Yuli membawa Lista ke meja kerja Dokter Lukman, dokter yang memeriksa kondisi majikannya tadi.
“Jadi, ibu kamu terkena kanker paru-paru juga?” Lista mengangguk lemah.
Dokter Lukman terlihat mengernyitkan dahinya, mencoba berpikir. “Kamu pernah merokok?”
Lista diam, bayangan saat dirinya tengah menghirup asap muncul di depannya. Dia pun mengangguk lagi.
“Sering minum miras?”
Lista terdiam lagi, kenapa pertanyaan dokter itu menjurus pada kehidupan masa lalunya yang kacau. Dengan ragu Lista mengangguk lagi. “Tapi itu dulu Dok, sekarang udah nggak pernah.”
Dokter Lukman terlihat sedikit melebarkan matanya. Bagaimana mungkin gadis secantik Lista bisa masuk ke pergaulan yang tidak baik. Dia pun menghembuskan napasnya panjang, kemudian menatap Lista dengan lekat. Ada sorot keseriusan di matanya.
“Sepertinya kankermu itu keturunan, dan seharusnya gejalanya tidak secepat ini.”
“Tapi, karena gaya hidup kamu yang nggak sehat, jadinya gejalanya lebih cepat.”
Dokter Lukman menunjukan hasil CT- Scan yang diambil saat Lista masih pingsan. “Bahkan dari hasil CT-Scan bisa dilihat kalau kankernya sudah menyebar banyak di paru-paru kamu.”
Lista menatap hasil CT-Scan paru-parunya dengan sendu. Paru-parunya yang rusak itu karena ulahnya sendiri. Dan sekarang dia sangat percaya dengan perkataan bi Yuli waktu itu, rokok dan alkohol tidak baik untuk kesehatannya.
Setelah selesai berkonsultasi dengan dokter, Lista dan bi Yuli pulang. Sudah berkali-kali bi Yuli melarang Lista untuk tidak mengemudi mobilnya sendiri, tapi gadis itu tetap memaksakan dirinya. Walaupun usianya tinggal hitungan bulan, dia masih kuat. Masih mampu mengemudi mobilnya, mereka pun sampai di rumah dengan selamat.
Lista masuk ke dalam kamarnya, merebahkan tubuhnya yang lelah di kasur. Dia butuh waktu sendiri. Merenungi apa yang terjadi padanya. Lista masih tidak percaya dengan ucapan dokter di rumah sakit tadi. Umurnya tinggal enam bulan, kenapa harus secepat ini.
Semua makhluk-Nya pasti akan kembali pada-Nya. Tapi, kenapa harus enam bulan. Lista ingin merasakan indahnya menjadi bagian dari Islam lebih lama. Setidaknya beri dia beberapa tahun, agar Lista bisa pergi dengan ikhlas.
Lista tiba-tiba teringat sesuatu. Dia pun bangun dari tidurnya, dia butuh kalender sekarang. Lista langsung membuka kalender yang berada di ponselnya.
Ponselnya kini sudah menampilkan kalender. Dia menggeser tampilan layar hingga menemukan apa yang dicarinya. Sekarang akhir bulan September 2020. Itu artinya, umurnya hanya sampai akhir Maret 2021.
Lista menggeser layarnya lagi, dia menemukan apa yang dicari. Seketika tubuhnya lemas, dia terduduk di lantai. Apa yang dilihat tidak sesuai harapannya. Semangat hidupnya seperti hancur berkeping-keping. Tanggal yang dia cari ada di bulan selanjutnya, itu artinya dia tidak bisa menjumpainya.
Matanya memanas. Tidak perlu waktu lama, dia mengeluarkan air matanya lagi. Lista tidak menyangka. Bulan Ramadan, bulan yang dinantinya, bulan yang katanya menjadi ladang pahala bagi orang Islam berada di bulan April. Sedangkan usianya hanya sampai akhir Maret. Bahunya bergetar, dia mendongak ke atas soalah menatap Pemilik Kehidupan.
“Ya Allah, kenapa?” tanyanya diiringi dengan isakan.
“Kenapa Engkau beri cobaan seberat ini?”
“Engkau boleh ambil nyawaku. Tapi jangan terlalu cepat. Aku belum punya apa-apa.”
“Bagaimana mungkin aku kembali pada-Mu dengan tangan kosong.”
“Lista mohon....”
“Izinkan Lista menjumpai bulan Ramadan untuk pertama dan terakhir kalinya.”
Gadis itu benar-benar putus asa. Air matanya mengalir semakin deras. Bahkan kini terdengar suara tangisannya yang begitu memilukan. Tidak peduli jika orang lain akan mendengarnya, dia hanya tinggal dengan bi Yuli. Pembantunya itu juga sedang di dapur, pasti tidak akan mendengar suara tangisannya.
Namun itu hanya perkiraan Lista. Bi Yuli tidak hanya mendengar, tapi melihatnya. Bi Yuli yang tengah berdiri di depan pintu pun tidak bisa menahan air matanya lagi. Dia ikut menangis. Suara tangisan Lista benar-benar membuat hatinya ikut teriris.
Dia mendekati Lista. Tanpa menunggu persetujuan dari majikannya, dia langsung memeluknya erat. Lista yang menemukan sandaran pun menangis semakin kencang.
Posisi ini mengingatkan bi Yuli dengan masa lalu. Hari itu Lista pulang dengan keadaan yang kacau, mabuk sambil memegang rokok. Sudah tiga setengah tahun lamanya dia menyaksikan Lista seperti itu setiap malam. Karena sudah tidak tahan, bi Yuli langsung merebut rokoknya.
“Cukup Non! Non nggak boleh begini!”
Gadis itu terkekeh. “Kenapa, Bi? Lagian nggak ada yang peduli sama hidup Lista.” Dia hendak merebut rokoknya, tapi ditahan oleh bi Yuli.
“Ada Non! Ada!”
Lagi-lagi Lista terkekeh. “Siapa, Bi? Ayah sama bunda aja udah meninggal.”
“Rizal? Lista bahkan sudah nggak dianggap hidup sama dia.” Lista tertawa hambar.
“Bibi Non! Bibi peduli sama Non Lista!”
Lista terdiam. Dia menatap bi Yuli, tidak ada kebohongan di matanya, hanya tatapan tulus yang meneduhkan. Bi Yuli tiba-tiba memeluknya, bahkan terdengar suara isakan dari bibirnya.
“Bibi tahu, Non selama ini kesepian. Tapi jangan kayak gini, Non. Nggak baik buat kesehatan. Non Lista masih punya Tuhan.”
“Tuhan?” tanya Lista lirih. Bi Yuli mengangguk.
Lista terkekeh. “Ayah sama bunda nggak pernah ngenalin siapa Tuhan Lista, Bi. Agama kita cuma di KTP.”
Bi Yuli tercengang, dia pun memeluk Lista semakin erat. “Akan Bibi kenalkan.”
Sudah satu tahun lamanya Lista belajar Islam, akhirnya dia yakin masuk menjadi bagiannya. Bi Yuli bahkan tidak menyangka kenapa takdirnya sekejam ini. Tapi ini adalah ketentuan-Nya, dia tidak bisa menyalahkan.
“Bi,” panggilan parau Lista menyadarkan bi Yuli.
“Non Lista harus sabar. Kematian itu datangnya tiba-tiba, nggak ada yang tahu,” jelasnya.
“Non juga harus bersyukur karena Allah kasih tahu Non lebih dulu. Itu artinya Allah pengin Non lebih semangat lagi hijrahnya.”
“Biar saat kembali nanti, Non sudah punya bekal yang cukup.”
Lista tidak menjawab. Dia hanya menangis, apa yang dikatakannya benar. Tapi, ada satu hal yang dia takutkan.
“Doain Lista biar ketemu bulan Ramadan Bi,” pintanya dengan sesenggukan.
Bi Yuli mengangguk. “Pasti Non.”