Lembaran Baru

1338 Words
Tidak ada yang tidak mungkin ketika Allah sudah turun tangan untuk mengatasi masalahmu ~Muhammad Chanan Abraham~ Hari ini Lista memulai harinya dengan penuh semangat. Dia akan memulai lembaran baru dalam perjalanan hidupnya sebagai seorang muslimah. Perkataan bi Yuli sepertinya benar. Allah ingin membuatnya lebih semangat dalam berhijrah. Dan hal itu dibuktikan olehnya hari ini. Gadis cantik itu kini tengah memakai dalaman jilbabnya. Katanya satu helai rambutnya itu aurat, jadi dia memakai dalaman agar rambut depannya tidak terlihat. Setelah itu dia baru memakai jilbab pashminanya. Dia membiarkan jilbabnya menjuntai ke bawah, menutupi dadanya. Karena berdasarkan yang dia pelajari, jilbab yang baik itu yang menutup d**a. Supaya tidak mengundang napsu dari lelaki. “Ayo, Bi!” Bi Yuli langsung bangun dari duduknya. Dia tersenyum melihat penampilan baru Lista. Gamis model sederhana dengan jilbab yang menutup d**a membuat gadis itu terlihat lebih cantik dan anggun. “Biasa aja ngeliatnya, Bi.” Bi Yuli melebarkan senyum hingga terlihat deretan giginya. “Non kok tambah cantik,” pujinya. Lista hanya membalas dengan senyum tipisnya. Dia tidak mau berjingkrak-jingkrak hanya karena pujian yang disukai para wanita. “Nggak percaya sama Bibi?” Lista mengangguk. “Percaya,” jawabnya. “Tapi Lista nggak mau dibuat terbang lagi sama pujian Bibi. Bentar lagi muka Lista juga bakal dimakan hewan tanah. Jadi buat apa Lista bangga,” lanjutnya dengan raut muka kelewat santai. “Non!” Lista membalas teguran bi Yuli hanya dengan senyuman. “Katanya Non pengin sembuh? Pengin ketemu bulan Ramadan sama lebaran, kan?” Lista mengangguk. “Pengin banget, Bi,” jawab Lista, “tapi, pada akhirnya Lista juga bakal mati, kan?” lanjutnya. Bi Yuli terdiam. Matanya menatap Lista dengan berkaca-kaca. Kenapa majikannya mengucapkan kata mati dengan wajah cerianya. “Udah, jangan sedih gitu dong, Bi. Lista bakalan berjuang biar bisa bertahan lebih lama kok.” Bi Yuli pun menarik sudut bibirnya ke atas, dia pikir Lista putus asa lagi. “Ayo!” ajak Lista. Dia menarik tangan bi Yuli dan membawanya keluar rumah. Hari ini, perjuangan Lista untuk melawan kanker demi menjumpai bulan Ramadan akan dimulai. Dia akan mengikuti perawatan yang diberikan oleh dokter, semoga saja bisa memperpanjang usianya. Bertambah satu bulan juga tidak apa-apa, asal dia menjumpai bulan Ramadan. Agar dia bisa mencari bekal sebanyak-banyaknya untuk di akhirat nanti. Mereka diantar oleh pak Yanto, sopir pribadi Lista. Itu pun berkat paksaan dari bi Yuli. Kalau tidak, Lista pasti sudah mengemudi mobilnya sendiri. Setelah beberapa menit perjalanan akhirnya mereka sampai di rumah sakit. Bi Yuli mengurus administrasi terlebih dahulu, sedangkan Lista disuruh menunggu di kursi yang sudah disediakan. Namun langkah kakinya terhenti ketika melihat tiga manusia sedang mengobrol di salah satu barisan tempat duduk. Matanya menyipit, mencoba mempertajam bayangan yang ditangkap oleh retina matanya. Deg! Detak jantungnya seakan terhenti saat laki-laki yang duduk menyamping tiba-tiba menoleh ke arahnya. Mata mereka bertemu, sekian detik. Laki-laki itu terlihat mengernyitkan dahinya. Lista pun segera memalingkan wajahnya. Dia berjalan cepat mendekati bi Yuli yang tengah mengurus administrasi. “Kenapa, Non? Kok ke sini? Ada yang sakit?” tanyanya panik. “Eh? Enggak kok, Bi.” Bi Yuli memegang kedua tangan Lista. “Astagfirullah! Keringat dingin ini, Non!” “Ayo cepetan, Mbak!” perintahnya pada petugas administrasi. Lista menepuk dahinya. Aduh bi Yuli, dia keringat dingin bukan karena sakit. Tapi karena terkejut dan ketakutan. Mata itu, mata yang sejak lima tahun lalu tidak mau menatapnya tiba-tiba menatapnya lagi. Namun, Lista menghela napasnya. Laki-laki itu mengernyitkan dahinya, itu artinya dia tidak mengenali Lista. Jika mengenali, pasti dia tidak akan menatapnya. “Ayo, Non!” Bi Yuli membawa Lista ke ruangan Dokter Lukman dengan panik. Padahal Lista tidak apa-apa, obat yang diberikan dokter kemarin cukup mengurangi rasa sakitnya. Hari ini, Lista akan diperiksa secara menyeluruh untuk menentukan metode pengobatan yang tepat. Setelah selesai dengan pemeriksaannya, Lista menemui Dokter Lukman lagi untuk berkonsultasi. “Mbak Lista masih semangat, kan?” Lista mengangguk mantap. “Masih, Dok!” “Lista nggak sembuh nggak papa. Tapi bantu Lista menambah usia ya, Dok! Satu bulan juga nggak papa,” lanjutnya. Dokter Lukman tersenyum. “Saya akan berusaha semaksimal mungkin untuk membantu Mbak Lista.” “Tapi terkait hasil, kita serahkan sama Allah ya. Kita perbanyak doa,” lanjutnya. Lista mengangguk semangat. “Baik, Dok. Terima kasih.” Ceklek! Pintu ruangan Dokter Lukman terbuka. “Yuhuuu!! Ayah?!” Teriakan kencang itu membuat ketiganya menoleh ke arah pintu. Orang itu langsung panik saat melihat ada lebih dari satu orang di dalam ruangan yang dia buka. “Aduh maaf, Bu, maaf. Saya pikir nggak ada pasien.” Dia menunduk hormat. “Kamu itu kebiasaan, Chan! Malu-maluin Ayah!” marah Dokter Lukman. Lista dan bi Yuli pun hanya terkekeh melihat interaksi keduanya. Laki-laki itu hanya nyengir tanpa dosa, dia hendak keluar lagi, tapi tidak jadi. Matanya menatap Lista lekat dengan dahi yang mengernyit. Lista yang ditatap seperti itu pun mengeluarkan senyumnya. “Hai, Chan! Lama nggak ketemu, ya?” Laki-laki yang dipanggil Chan itu pun menutup pintu dan mendekat ke arahnya. “Kamu siapa? Kok tahu aku?” “Kamu nggak tahu aku siapa?” tanya Lista balik. Laki-laki itu menggeleng. “Sebenernya kamu mirip sama teman SMA-ku dulu. Tapi nggak mungkin kalau kamu itu dia.” Alis Lista bertaut. “Kenapa gitu?” Bi Yuli dan Dokter Lukman hanya diam mendengarkan percakapan keduanya. “Karena,” laki-laki itu menjeda ucapannya sebentar, “dia non muslim, jadi nggak mungkin pakai jilbab kayak kamu,” lanjutnya. Ternyata itu alasannya. Lista pun tersenyum. “Nggak ada yang nggak mungkin, Chan. Kalau Allah buka hatinya, bisa aja dia jadi mualaf, kan?” “Hah?” Laki-laki itu terdiam, mencerna ucapan Lista. Dia kemudian memperhatikan wajah Lista dengan detail. Tiba-tiba tatapannya berubah menjadi sendu. “Ka-kamu Lista?” tanyanya terbata. Lista tersenyum kemudian mengangguk. “Iya, baru sadar, Mas Chanan?” Chanan melebarkan matanya. “Ya Allah, kamu ke mana aja, Ta?” “Aku di rumah kok.” “Tunggu!” Chanan menoleh ke arah ayahnya kemudian dia menoleh ke Lista lagi. “Kamu ngapain di sini?” tanyanya. “Makan, Chan!” “Serius, Ta!” kesalnya. Dia menoleh ke ayahnya lagi. “Lista ngapain di sini, Yah?” “Dia pasien Ayah.” Chanan terdiam, tidak bertanya lagi. Tanpa meminta persetujuan ayahnya, dia mengambil dokumen pasien yang ada di meja. Setelah melihat isinya, matanya langsung berkaca-kaca, apalagi dia melihat Lista tengah tersenyum kepadanya. “Ta?” panggilnya parau. “Semangat, ya? Aku yakin, kamu pasti sembuh.” Lista mengangguk semangat, kemudian dia menggeleng lemah. “Tapi aku udah nggak bisa sembuh, kamu pasti tahu sendiri, karena kamu juga dokter.” “Non,” peringat bi Yuli. Chanan menggeleng. “Nggak, Ta! Kamu bisa sembuh. Nggak ada yang nggak mungkin kalau Allah udah turun tangan.” Lista lagi-lagi tersenyum. “Iya Chan, kamu bener. Makasih udah diingetin.” Setelah selesai urusannya dengan Dokter Lukman, Chanan membawa Lista ke kantin rumah sakit. Bi Yuli juga mengikuti mereka, dia harus menjaga majikannya dengan baik. “Tadi ada Rizal di sini Ta,” ucap Chanan. Lista mengangguk. “Iya, tadi aku juga lihat. Tapi dari jauh.” “Kenapa nggak ditemuin aja?” Lista menggeleng. “Kesalahanku terlalu besar sama dia.” Chanan menghela napasnya, sudah lima tahun berlalu, tapi Lista masih seperti itu. “Ta, nggak semuanya salah kamu. Itu udah jadi takdirnya dia, Ta. Kamu jangan nyalahin diri kamu terus.” “Tapi faktanya emang begitu, aku yang salah, Chan.” “Rizal pasti belum maafin aku,” lanjutnya. Bi Yuli mengelus puncak kepala Lista. “Yang dibilang Den Chanan itu bener Non. Semuanya atas ketetapan Allah. Bukan salah Non Lista.” Lista hanya menggeleng. Semua terjadi karenanya. Andai waktu itu dia tidak panik dan pergi begitu saja, Rizal pasti masih di sisinya. Dia tidak akan kesepian, dia tidak akan dihantui rasa bersalah. Dan dia juga tidak akan terjerumus ke pergaulan yang tidak baik sampai usianya harus menjadi korban. “Astagfirullah, nggak boleh berandai-andai, Ta. Semua udah berlalu,” batinnya. “Tolong rahasiain penyakitku, Chan. Dari siapa pun, termasuk Rizal.” Mau tidak mau Chanan pun mengangguki permintaan Lista.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD