Persiapan Untuk Nanti

1346 Words
Kurangi mengeluh. Lihatlah! Di bawah sana, ada banyak orang yang diberi ujian lebih berat darimu. Jadi, jangan lupa ucapkan, Alhamdulillah. ~Carlista Rona~ Carlista Rona, gadis yang menyelesaikan S1 Manajemen dalam waktu tiga tahun itu, cukup terkenal dengan ambisinya yang tinggi. Dia tidak akan lengah begitu saja sebelum semua tujuannya tercapai. Sifatnya yang itu, dia terapkan dalam perjuangannya melawan penyakit. Buktinya, setelah pemeriksaan kemarin, hari ini Lista kembali ke kantornya. Dia tidak peduli dengan kondisinya yang belum baik, ada banyak hal yang harus dia urus di kantor sebelum cuti untuk fokus dengan pengobatannya. “Pagi, Mbak Arlin,” sapanya pada resepsionis di bagian depan. Tapi, resepsionis itu hanya diam sambil memperhatikan Lista dari atas hingga bawah. “Mbak?” “Halo, Mbak Arlin?” Resepsionis itu pun tersadar dari pikirannya yang sibuk sendiri. Dia menatap Lista lekat. “Mbak Lista?” tanyanya tidak yakin. Lista mengangguk. “Iya, ini aku Lista.” “Pak Erwin udah dateng?” lanjutnya bertanya. “Sudah, Mbak.” Orang yang dipanggil Mbak Arlin itu tersenyum lebar. “MasyaAllah, sejak kapan Mbak jadi mualaf?” Lista tersenyum tipis. “Dua hari yang lalu, Mbak.” “Ya udah, aku ke atas dulu, ya?” Arlin mengangguk. Lista pun melanjutkan langkahnya, memasuki lift. “Semangat, Mbak!!” teriak Arlin sebelum pintu lift itu tertutup. Lista tersenyum, dia mengepalkan tangannya setinggi kepala. “Siap, Mbak!” Setelah lift tertutup, Lista tersenyum kecut di dalam sana. Mbak Arlin tidak tahu saja kalau waktunya di dunia tinggal sebentar. Tapi seperti kata mbak Arlin, dia akan terus semangat. Dia akan memanfaatkan sisa hidupnya sebaik mungkin. Lista duduk di kursi kerjanya. Matanya menatap ke sekeliling ruangan yang selalu menemaninya hingga malam. Hari ini mereka akan berpisah, Lista mungkin akan lebih lama di ruang yang isinya mayoritas berwarna putih. Entah dia akan kembali duduk di kursinya lagi atau tidak. Dia menyerahkan semua ke Pemilik Kehidupannya. “Pagi, Mbak Lista!” Lista menoleh ke arah pintu. Pak Erwin, orang kepercayaan ayahnya dulu, sudah datang ke ruangannya. “Silahkan duduk, Pak.” Pak Erwin pun mendudukan dirinya di sofa yang ada di sana. Dia meletakkan tumpukan berkas yang dibawanya ke meja. Lista berdiri, kemudian berpindah posisi di sofa single sebelah pak Erwin. “Bapak udah lihat data yang dikirimin Lista, kan?” tanyanya. Pak Erwin mengangguk. “Sudah, Mbak. Ini sudah saya print.” Lista mengangguk paham. Dia melihat data-data itu, mengeceknya lagi supaya tidak ada yang terlewat. “Apa nggak terlalu banyak, Mbak? Nanti untuk biaya pengobatannya gimana?” Pak Erwin mengubah bicaranya menjadi informal. Karena pada dasarnya mereka dekat, sudah seperti keluarga. Lista mengangkat kepalanya, dia tersenyum. “Nggak, Pak. Sisanya masih cukup untuk biaya pengobatan kok.” “Kenapa nggak tiga puluh persen aja, Mbak? Lima puluh persen terlalu banyak. Nanti kalau Mbak butuh uang banyak gimana?” Lista menaruh berkas yang ada di tangannya di meja lagi. “Pak, Lista cuma melakukan pengobatan biasa. Nggak sampai luar negeri. Sisa uangnya bahkan lebih dari cukup,” balas Lista, “lagian, umur Lista juga udah nggak bisa ditolong. Lista cuma berusaha biar bisa memperpanjang usia Lista,” lanjutnya. “Mbak Lista nggak boleh gitu. Mbak Lista pasti bisa sembuh.” Lista tersenyum. Orang lain pasti selalu berkata begitu, katanya dia pasti sembuh. Sedangkan Lista, dia tidak mau terlalu berharap. Pada akhirnya dia juga akan mati. Dia hanya perlu mempersiapkan diri agar sudah siap saat dipanggil nanti. “Udah ya, Pak. Tolong dibagi aja mulai sekarang.” “Dua puluh lima persen penghasilan Lista untuk pembangunan masjid, dan separuhnya lagi untuk anak panti. Kalau ada masjid atau panti baru yang butuh dana, langsung masukin ke list aja, Pak. Nggak usah izin sama Lista dulu.” Pak Erwin menghela napas. Mau tidak mau dia harus mengangguki perintah atasannya. “Oh iya, Mbak. Hari ini ada peresmian CEO baru di Pahlevi Group. Mbak, mau ikut ke sana?” Lista terdiam, itu nama perusahaan keluarga Rizal. “Kenapa diganti, Pak?” “Pak Pahlevi sakit, jadi dia milih pensiun. Dan anak pertamanya yang bakal nggantiin.” “Rizal Pahlevi?” tanya Lista. Pak Erwin mengangguk. “Mbak tahu orangnya? Setahu saya, dia baru masuk ke perusahaan satu tahun lalu setelah kuliahnya selesai.” Lista mengangguk. “Tau, Pak,” jawab Lista, “api Lista nggak ikut. Bapak aja yang ke sana,” lanjutnya. Pak Erwin mengangguk, dia berdiri dari duduknya, diikuti Lista. “Kalau gitu, saya pamit undur diri, Mbak.” “Iya, selamat memimpin kembali Pak, semoga perusahaan ini bisa lebih baik lagi.” “Iya, Mbak. Terima kasih atas kepercayannya. Semoga Mbak Lista segera kembali ke kantor.” Lista hanya membalas perkataannya dengan senyuman dan anggukan. Pak Erwin pun meninggalkan ruangannya. Setelah urusan kantornya selesai, Lista pergi ke rumah sakit. Hasil pemeriksaannya telah keluar, dan dokter sudah menentukan metode pengobatannya. Jadi dia harus segera mengurus administrasi agar pengobatannya bisa dimulai. Setelah selesai mengurus administrasi, dia duduk di kantin rumah sakit. Chanan ingin bertemu dengannya. “Hai, Ta? Lama ya?” Lista menggeleng. “Enggak kok, barusan sampai.” “Aduh, sorry, ya. Baru selesai operasinya. Capek banget, Ta. Nyesel jadi dokter.” “Salah sendiri jadi dokter,” balas Lista santai. “Kok ngomong gitu sih, Ta? Butuh perjuangan buat lulus dari sana tau, Ta! Kamu tahu? Demi dapat gelar dokter, aku sehari cuma tidur tiga jam! Tiga jam, Ta! Tiga jam!” ucap Chanan menggebu-gebu. Dia bahkan menunjukkan tiga jarinya di depan wajah Lista. Lista masih santai, dia menyeruput s**u hangat di depannya. “Udah, nggak usah banyak ngeluh. Aku yang mau mati aja udah nggak ngeluh.” Chanan langsung terdiam, jantungnya terasa tersentil saat mendengar ucapan Lista yang sangat santai. Tidak ada beban lagi di sorot matanya. Gadis itu sudah ikhlas dengan ujian yang diberikan Allah untuknya. Chanan pun menatap Lista dengan sendu. “Please, Ta. Jangan ngomong gitu lagi.” Lista terkekeh. “Mukanya biasa aja dong Chan, nggak cocok ih!” “Terus cocoknya gimana? Gini?” Chanan menunjukan senyum manisnya. “Gini? Gini? Gini?” “Atau gini?” Laki-laki itu terus memposekan berbagai gaya dengan semaunya sendiri. Lista yang melihat tingkahnya pun langsung menyemburkan tawanya. “Ya ampun Chan, akhirnya aku bisa lihat lawakanmu lagi.” “Makanya jangan ngilang. Jadi nggak pernah ketawa gara-gara aku, kan?” Lista mengangguk. “Aku pikir kamu udah berubah, ternyata masih sama, ya?” Dia terkekeh lagi, mengingat betapa tengil temannya itu saat SMA. “Sifat langka ini, Ta. Kamu bakalan susah nemu orang yang kayak aku. Iya, nggak?” Lista mengangguk setuju. “Bener sih.” “Chanan gitu!” sombongnya sambil menarik kerahnya, bergaya sok keren. Lista pun hanya terkekeh. Saat masih SMA bersama Chanan, pasti ada saja yang membuatnya tertawa. Kini dia bisa merasakannya lagi. “Bang Chanan!” Chanan dan Lista menoleh ke sumber suara. Deg. Mata Lista bertemu dengan orang itu. Mereka sama-sama terdiam. “Kak Lista?” tanyanya. Lista tersenyum. “Reza, ya?” Laki-laki itu mengangguk. Dia menatap penampilan Lista dari atas hingga bawah. Lista tahu, apa yang akan ditanyakan Reza setelah ini. “Sejak kapan?” Lista tersenyum. Tebakannya benar sekali. “Baru dua hari yang lalu.” Reza pun mengangguk paham. Dia duduk di kursi sebelah Lista tanpa diminta. “Siapa yang nyuruh kamu duduk?” “Diem, Bang!” Chanan mendengus, dia lebih tua dari Reza. Tapi anak itu tidak pernah sopan terhadapnya. Lebih baik langsung panggil pakai nama saja, kalau tidak mau bersikap sopan dengannya. Reza fokus dengan Lista yang ada di sampingnya. “Kakak ke mana aja? Kok nggak pernah main ke rumah lagi?” Lagi-lagi Lista tersenyum, namun lebih ke senyum kecut. Bagaimana mungkin dia ke sana. Bertemu Rizal saja dia tidak berani. “Kamu nggak marah sama Kakak?” Reza menggeleng. “Buat apa aku marah, Kak. Semua udah takdir dari Allah. Reza udah ikhlas.” Lista pun tersenyum lebar. “Makasih, Za.” Reza mengangguk. “Kak Rizal masih marah sama Kakak?” Lista mengangguk lemah. Reza pun menghela napasnya. Kenapa abang satu-satunya itu sulit sekali memaafkan Lista. Padahal Lista tidak sepenuhnya salah. Semua atas kehendak-Nya. Lista hanyalah sebagai perantara.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD