Aku takut ketika kembali nanti,
Allah justru menghalangi jalanku karena permintaan maafku belum diterima olehmu
Jadi, akan aku perjuangkan
~Carlista Rona~
Seorang siswa berseragam Sekolah Menengah Atas, menghempaskan dengan kasar tangan seorang siswi yang tengah mencekal tangannya. Wajahnya merah padam, rahangnya mengeras, mata yang biasa terlihat teduh, kini menatap gadis itu dengan tajam, seolah ingin mengulitinya. Terlihat kilat amarah yang begitu jelas dari kedua bola matanya. Kedua tangannya mengepal kuat, dia sangat marah, tapi dia berusaha menahan agar emosinya tidak meledak.
“Pergi, Ta!” usirnya.
“Jangan pernah temuin aku lagi!”
Siswi yang dipanggil 'Ta' itu menggelengkan kepalanya dengan cepat. “Enggak Zal, tolong maafin aku dulu.”
“Sampai kapanpun aku nggak akan pernah maafin kamu!” jawab laki-laki itu penuh penekanan.
Siswi itu menggeleng lagi, tidak peduli dengan air matanya yang semakin mengalir deras. Dia berusaha menggapai tangan siswa itu lagi, namun langsung ditepis olehnya. Laki-laki itu pun pergi meninggalkannya seorang diri di tengah lapangan yang rumputnya tidak tumbuh merata.
Tangisan siswi itu semakin kencang. Lututnya bahkan terasa lemas hingga dia tidak mampu berdiri lagi. Tubuhnya pun meluruh ke tanah yang sedikit becek. Seragamnya yang kotor karena duduk di sana tidak dia pedulikan. Saat ini dia sangat sedih, dia putus asa. Harus bagaimana lagi dia minta maaf padanya.
Banyak siswa-siswi yang tengah memperhatikannya. Ada yang merasa iba, ada pula yang mengejeknya. Tapi siswi itu tetap tidak peduli. Bahunya bergetar hebat. Tangisannya semakin kencang. Semua memang salahnya, pantas saja jika laki-laki itu marah dan tidak mau memaafkannya.
“Ta!”
“Bangun, Ta!”
“Ta! Lista!!”
Panggilan yang semakin kencang itu membuat Lista langsung terbangun dari tidurnya yang tidak tenang. Lista mendudukkan dirinya di ranjang dengan kondisi terisak. Gadis itu memandang ke sekitarnya, ternyata dia sedang berada di rumah sakit.
Bukannya membalas ucapan Chanan yang baru saja membangunkannya, gadis itu justru melanjutkan tangisannya. Dia menutup wajahnya dengan kedua tangan. Mimpi itu datang lagi. Masalah yang dialami di masa lalu, kini menghantui dirinya lagi. Rizal, laki-laki itu pasti belum memaafkannya. Haruskah dia mengucapkan permintaan maafnya lagi? Tapi Lista takut akan ditolak mentah-mentah olehnya. Sakit, hatinya tidak akan kuat. Lista masih mencintai Rizal, dia tidak kuat menghadapi amarah yang sangat jarang dikeluarkan oleh laki-laki yang dulu sangat lembut terhadapnya.
Sebelum hal buruk itu terjadi, Rizal selalu bersikap manis padanya. Bahkan laki-laki itu tidak pernah menajamkan mata, apalagi sampai membentak. Saat dirinya salah, dia selalu mengingatkannya dengan kata-kata yang manis dan lembut. Tapi kini dia sudah berubah karena dirinya. Dan itu karena kesalahannya di masa lalu.
“Ta, kamu kenapa? Ada yang sakit?” tanya Chanan. Laki-laki itu terlihat sangat khawatir dengan Lista. Namun gadis itu hanya menggeleng sambil terisak.
“Terus kenapa? Kamu mimpi itu lagi?” Lista mengangguk lemah.
Chanan pun menghela napasnya, dia menatap Lista dengan sendu. “Ta, jangan nangis. Aku nggak kuat liat kamu kayak gini, Ta,” ucapnya lirih. Lista tidak menjawab, gadis itu semakin terisak.
“Aku harus gimana supaya kamu nggak nangis lagi, Ta?” Gadis itu masih saja terisak, tidak berniat menjawab pertanyaannya.
“Kamu mau ketemu Rizal? Kamu mau minta maaf lagi sama dia?” Chanan masih terus mencoba untuk menghentikan tangisannya.
Lista mengangkat kepalanya. d**a Chanan langsung dibuat nyeri saat melihat penampakan Lista saat ini. Wajah gadis itu sangat pucat. Matanya sembab, hidungnya merah, dan pipinya sudah banjir air mata.
Lista menggelengkan kepalanya dengan lemah. “A-aku takut, Chan. Tapi aku juga butuh maaf dari Rizal.”
“Aku harus gimana, Chan?” lanjutnya lemah, Lista mulai putus asa. Dia pun menangis lagi.
Chanan diam, dia juga bingung harus bagaimana. Dia kasihan dengan Lista yang selalu dihantui oleh mimpi dari kejadian masa lalunya. Tapi dia juga tidak bisa memaksa Rizal jika laki-laki itu belum ikhlas memaafkan Lista.
“Ta, berhenti ya, nanti kamu drop lagi.” Chanan mencoba mengalihkan pembicaraan mereka.
Lista menggeleng. Dia maunya juga begitu, tapi air matanya tidak mau diajak kerja sama, air matanya masih mengalir deras. Lista pun menangis kencang. Menumpahkan semua kesedihan di dalam hatinya di atas lutut.
“Uhuk! uhuk! uhuk!”
Chanan yang melihat Lista terbatuk-batuk pun langsung mendekat dengan panik. Dia membawa tisu, gadis itu pasti akan memuntahkan darah. Dan benar saja, Lista tengah menatap tangannya dengan sendu. Ada darah kental yang tertampung di telapak tangannya.
“Tuh kan, Ta! Jangan nangis lagi, ya?”
“Aku yakin, suatu saat Rizal pasti maafin kamu, Ta.”
Lista tidak menggubris ucapannya. Dia mengambil tisu yang dibawa Chanan. Diusaplah darah itu dengan tisu yang ada di tangan satunya. Dia juga membersihkan darah yang ada di mulutnya sambil terisak. Sedangkan Chanan, dia sedang memperhatikan jilbab instan milik Lista yang berantakan.
“Maaf,” ucap Chanan. Laki-laki itu pun menyentuh jilbab Lista, kemudian membantu merapikannya.
Kini jilbab Lista sudah rapi lagi, namun gadis itu belum berhenti menangis. Chanan memberikan segelas air putih untuknya. Lista pun langsung meminumnya hingga tandas, karena mulutnya tidak enak setelah dilewati darah yang keluar dari dalam paru-parunya.
“Udah, jangan nangis lagi, Ta.” Gadis itu masih tidak mau menuruti perintah Chanan.
“Tolong panggilin bi Yuli,” ucapnya parau, dia butuh sandaran sekarang.
Chanan mengangguk. Laki-laki itu pun keluar dari ruangan tempat Lista dirawat. Lista sudah satu bulan menjalani pengobatan. Satu minggu lalu dia baru saja menjalani kemoterapi. Itulah mengapa Chanan datang ke ruangan Lista, dia hendak mengecek keadaannya. Namun yang dilihat justru Lista tengah menangis dalam tidurnya.
Selang beberapa menit, bi Yuli memasuki ruangan Lista. Gadis itu ternyata masih menangis sambil menunduk. “Non,” panggilnya lirih.
Lista mengangkat kepalanya. “Bibi,” panggilnya balik dengan terisak. Lista merentangkan kedua tangannya, dia butuh pelukan sekarang.
Bi Yuli yang paham pun langsung berjalan mendekat, membawa Lista ke dalam pelukannya. Gadis itu langsung memeluknya erat sambil terisak kencang, air matanya kini menghujani bahu kanan bi Yuli. Bahu bi Yuli bahkan ikut bergetar karena bahu Lista yang bergetar hebat.
“Ada apa, Non?” Bi Yuli mengusap-usap punggung Lista, berusaha menenangkannya.
“Bi, gimana cara Lista dapetin maaf dari Rizal?” tanyanya sambil sesenggukan.
“Lista nggak bisa pergi sebelum dapet maaf dari dia, Bi,” lanjutnya.
Bi Yuli mengusap air matanya sendiri yang tengah menetes. “Ayo ketemu lagi sama den Rizal, siapa tahu dia udah maafin Non Lista.”
Lista menggeleng. “Lista takut, Bi. Lista takut dia marah-marah kayak dulu.”
Bi Yuli mengusap kepala Lista dengan sayang. Air matanya semakin deras saat merasakan di balik kain jilbabnya tidak ada sehelai rambut pun yang dia rasakan.
“Tidak ada salahnya mencoba dulu, Non,” ucap bi Yuli parau.
Lista diam, mencoba mempertimbangkan ajakan bi Yuli. Akhirnya gadis itu menganggukan kepala. Dia harus bertemu Rizal untuk mendapatkan maaf darinya.
Tiba-tiba Lista terbatuk-batuk lagi saat posisi kepalanya masih berada di bahu kanan milik bi Yuli. Bi Yuli panik, dia pun melepas pelukannya. Kedua matanya membola saat melihat mulut Lista berlumuran darah.
“Non Lista!” kagetnya. Bahkan kini dia merasakan suhu tubuh Lista menurun, menjadi dingin.
Lista, gadis yang dikhawatirkan olehnya justru tengah tersenyum padanya. “Bi, maaf, baju Bibi kena darah Lista,” ucapnya lirih.
Bi Yuli menggeleng. “Udah nggak papa, sekarang Non tiduran lagi ya?”
Lista tidak membalas ucapannya. Gadis itu justru tersenyum lagi. Bi Yuli pun membantu Lista merebahkan tubuhnya. Namun, sebelum kepalanya sampai di bantal, mata Lista terpejam lebih dulu. Tubuh Lista pun langsung ambruk di sana.
“Non! Bangun, Non!” jerit bi Yuli.
Bi Yuli langsung berlari keluar ruangan dengan panik, bahkan dengan air mata yang membanjiri pipinya. Seharusnya dia mengingatkan majikannya untuk tidak terlalu setres agar kondisinya tidak drop lagi. Namun, dia justru membiarkan Lista menumpahkan tangisan di pelukannya. Bi Yuli sangat menyesal, setelah ini Lista pasti akan dirawat dengan intensif lagi.