Manusia hanya bisa memprediksi
Allah lah yang akan menentukan jalan hidup makhluk-Nya
~Muhammad Chanan Abraham~
Chanan langsung berlari kencang saat melihat bi Yuli mendatanginya dalam keadaan menangis, dia sangat panik. Dia pun membuka pintu ruangan Lista dengan kasar, gadis itu tengah terpejam dengan wajah pucatnya. Dengan cepat Chanan meletakkan punggung telapak tangannya di hidung Lista. Laki-laki itu langsung bernapas lega saat masih merasakan hembusan napas Lista. Syukurlah, Lista hanya pingsan, tidak seperti yang dia pikirkan.
Chanan segera memberikan perawatan agar kondisi Lista menjadi lebih baik. Walaupun dia masih menjadi dokter magang di tempat ayahnya bekerja, tapi dia menjadi bawahan ayahnya, jadi dia bisa terlibat dengan pengobatan Lista. Setelah dirasa cukup, Chanan pun keluar, dia membiarkan Lista untuk istirahat.
Lista terbangun saat azan subuh berkumandang. Gadis itu turun dari ranjang dalam keadaan lemas, efek dari kemoterapi masih terasa olehnya. Lista berjalan ke toilet dengan tertatih. Dia berpegangan pada benda apapun yang bisa dia jadikan pegangan. Lista bisa saja minta tolong sama bi Yuli, tapi dia tidak mau. Bi Yuli terlihat sangat nyenyak, apalagi tadi malam pembantunya itu mengurus Lista hingga larut malam, jadi Lista tidak enak membangunkannya. Bi Yuli juga perlu istirahat.
Lista terus berjalan sambil berpegangan dinding saat toilet sudah di dekatnya. Gadis itu bernapas lega, akhirnya dia sampai di toilet. Setelah selesai berwudu, dia pun keluar dari toilet.
Setelah menyelesaikan salat subuh, Lista kembali tiduran di ranjang. Dia sedikit menaikkan ranjangnya, kemudian mengambil Al-Qur’an yang berada di meja. Walaupun baru menjadi mualaf, gadis itu sudah lancar membaca. Karena sebelum memutuskan masuk Islam, bi Yuli sudah mengajarinya hingga lancar. Lista bahkan tidak lupa untuk membaca arti dari ayat-ayat yang dibaca olehnya. Karena menurutnya percuma saat kita membaca ayat-ayat yang berbahasa Arab itu tanpa tahu artinya. Kita tidak akan tahu pesan yang Allah sampaikan kepada hamba-Nya.
“Bi Yuli! Bangun, Bi!” panggil Lista setelah menyelesaikan bacaannya.
Bi Yuli langsung bangun, dia menoleh ke arah majikannya. “Ada apa, Non?”
“Udah jam lima, Bi. Salat subuh dulu.”
Bi Yuli pun menepuk jidatnya. “Kok Non Lista baru bangunin sekarang? Non Lista udah salat?” Lista mengangguk.
“Aduh maaf, Non. Harusnya Bibi yang bangun duluan,” ucapnya tidak enak.
Lista langsung menggeleng. “Enggak papa, Bi. Udah sana salat dulu!” Bi Yuli mengangguk. Dia pun segera mengambil air wudu, kemudian menjalankan kewajibannya.
Saat ini jam menunjukan pukul tujuh pagi. Lista menyuruh bi Yuli untuk sarapan terlebih dahulu setelah membantunya sarapan. Sedangkan Lista, gadis itu tengah melamun sambil memandangi kondisi luar dari jendela yang ada di ruangannya. Syukurlah di ruangannya terdapat jendela besar, dia jadi tidak begitu bosan di dalam ruangan terus.
Ceklek!
Lista tersadar dari lamunannya saat mendengar pintu terbuka. Ada Chanan yang masuk sambil membawa dokumen, mungkin itu catatan pemeriksaannya. Kini mata gadis itu berbinar dan bibirnya tersenyum lebar.
Sedangkan Chanan tengah mendengus, pasti ada maunya. Dia pun berjalan mendekati Lista, gadis itu masih saja melebarkan senyumnya.
“Mau apa?”
Lista langsung terkekeh mendengar pertanyaan Chanan yang sedikit malas. Laki-laki itu masih hapal dengannya, padahal mereka pernah berpisah selama lima tahun.
“Aku pingin ketemu Rizal. Bantuin hubungin dia, ya?”
“Kapan?” Chanan mulai mengecek keadaan Lista sambil membuka kedua telinganya.
“Hari ini.”
“Kalau hari ini nggak boleh.”
“Kenapa? Aku maunya hari ini, Chan.” Chanan langsung menghentikan kegiatannya.
“Ta, kamu itu masih lemas. Besok aja kalau udah mendingan. Aku bakal temenin deh.”
Lista menggeleng. “Enggak, Chan. Waktuku semakin hari bakal berkurang. Aku nggak mau nunda-nunda lagi, aku harus ketemu sama Rizal,” tolaknya.
“Kamu jalan bahkan belum bisa, Ta. Sebagai doktermu, nggak aku izinin.”
“Kok gitu? Aku kan bisa pakai kursi roda, Chan.”
Chanan memutar bola matanya malas, laki-laki itu bersedekap d**a. “Katanya jangan sampai Rizal tahu kalau kamu sakit.”
“Ya jangan sampai dia lihat kalau aku pakai kursi roda lah!” jawabnya cepat.
Chanan langsung menurunkan kedua tangannya. Gadis di hadapannya itu sangat keras kepala.
“Tapi, Ta. Ka-”
“Waktuku tinggal lima bulan, Chan. Nanti kalau aku pergi tapi belum dapetin maaf dari dia gimana? Kamu nggak kasihan sama aku?” potong Lista. Gadis itu menunjukkan wajah memelasnya.
Chanan menghela napasnya panjang, dia menyerah membujuk Lista lagi. “Iya-iya. Aku bakal bilang sekarang. Tapi jangan bilang kayak gitu lagi!” Lista mengangguk.
“Kita sebagai dokter cuma memprediksi, Ta. Allah yang bakal nentuin umur kamu,” lanjutnya.
“Nah iya! Kalau aku tiba-tiba mati hari ini gimana?”
Chanan langsung memukul pelan mulut Lista dengan dokumen yang dibawanya. “Astagfirullah! Jangan gitu ngomongnya! Emang bekalmu udah cukup?”
Lista pun memukul mulutnya sendiri. “Kamu sih yang mancing! Maaf Allah, Lista bercanda. Lista masih pengin ketemu Ramadan dulu.”
“Udah sana kabarin Rizal!” lanjutnya memerintah.
“Iya-iya! Nih!” Chanan mengeluarkan ponselnya, dia pun mulai menghubungi Rizal, mengajaknya bertemu di cafe yang tidak jauh dari rumah sakit.
Saat jam istirahat, Chanan membawa Lista dengan kursi roda ke cafe tempat mereka bertemu dengan Rizal. Lista, gadis itu menggunakan pakaian yang biasa dia pakai untuk keluar, dia bahkan menggunakan make up yang sedikit tebal untuk menutupi wajah pucatnya.
Chanan menyembunyikan kursi roda Lista di toilet. Setelah itu dia memesankan s**u rasa vanilla untuk Lista, sedangkan dirinya memesan brown sugar bubble tea. Chanan membawa pesanannya sendiri ke meja yang ditempati oleh Lista. Mata gadis itu langsung berbinar saat melihat minuman yang dibawa Chanan. Namun saat Chanan meletakkan segelas s**u di depannya, dia langsung melongo. Lista pun menatap Chanan dengan tatapan penuh harapnya.
“Apa? Mau ini?” Mata Lista berbinar lagi, dia pun mengangguk semangat. Chanan pasti akan memberinya.
Sedangkan Chanan justru menyeruput minumannya cepat. “Nggak boleh!” ucapnya.
Bahu Lista pun langsung turun ke bawah. Dengan sangat terpaksa dia meminum s**u yang telah dibawakan oleh Chanan, teman yang kini sudah seperti sahabatnya.
Chanan yang melihatnya pun terkekeh, Lista seperti anak kecil yang sangat patuh padanya. Padahal biasanya gadis itu keras kepala.
“Chan,” panggil seseorang lirih.
Chanan menghentikan kekehannya, dia menoleh ke samping, rupanya Rizal sudah datang. “Sini duduk, Zal!”
Mendengar kata 'Zal', Lista langsung mengangkat kepalanya. Namun saat Rizal hendak mendudukkan dirinya, matanya bertemu dengan mata Lista. Laki-laki itu terdiam, kemudian menggeleng sedikit, tidak percaya dengan apa yang ada di isi otaknya sekarang.
“Ada apa? Tumben ngajak aku ketemuan,” tanya Rizal.
“Ada yang mau ketemu sama kamu.” Chanan menunjuk Lista dengan dagunya, Rizal pun mengikuti arah pandang Chanan. Lista menarik sudut bibirnya ke atas, dia tersenyum manis. Akhirnya mata itu menatapnya lagi.
“Hai, Rizal. Apa kabar?” sapanya.
“Hai,” balas Rizal lirih. Dia tahu siapa gadis yang ada di sebelahnya. Laki-laki itu menoleh ke Chanan, meminta penjelasan kenapa ada Lista di sana. Namun, Chanan justru bangun dari duduknya.
“Bentar, aku mau ke toilet dulu,” ucapnya. Chanan pun langsung meninggalkan mereka berdua.
“Rizal?” panggil Lista.
“Hmm,” gumamnya tanpa melirik Lista.
“Ada apa?” tanyanya malas.
Lista menarik napasnya, mencoba mengumpulkan keberanian. “Aku ke sini mau minta maaf lagi, Zal, untuk kesalahanku yang dulu.”
“Aku benar-benar nggak sengaja, Zal. A-” ucapannya terhenti karena Rizal tiba-tiba menoleh dan menatapnya dengan datar.
“Kamu cuma mau minta maaf, kan?” Lista pun mengangguk lemah.
“Udah aku maafin.” Rizal tiba-tiba berdiri.
“Aku sibuk. Aku pergi dulu.” Tanpa mendengar jawaban dari Lista, laki-laki itu langsung meninggalkan cafe.
Lista memandang punggung Rizal yang menjauh dengan sendu. Mulutnya mungkin berkata sudah memaafkannya, tapi tidak dengan hatinya. Laki-laki itu belum ikhlas memaafkan kesalahannya.
“Gimana?” tanya Chanan yang tiba-tiba muncul sambil membawa kursi roda Lista.
Lista yang sudah berkaca-kaca pun hanya menggeleng lemah. Chanan pun duduk kembali di tempatnya, dia harus menghibur Lista sebelum kembali ke rumah sakit.