Keputusan berat

1283 Words
Tidak apa jika kamu tidak mau berteman denganku Karena yang bisa menyelamatkanku dari api neraka adalah diriku sendiri ~Carlista Rona~ 1 April 2021 Hari ini, langit Kota Jakarta sangat indah. Burung-burung bahkan tertawa bahagia saat melewati langit yang berwarna biru menggoda. Tidak hanya mereka, seorang gadis berjilbab abu-abu yang tengah berdiri di balik jendela ruang inap VIP bahkan tidak rela melepas senyum lebarnya. Dia adalah Lista. Langit yang cerah itu seperti kondisi hatinya saat ini, dia sedang bahagia. Jika diukur seberapa besar bahagianya, dia tidak tahu. Hal ini karena perjuangan dan penantiannya selama enam bulan akhirnya membuahkan hasil. Allah masih mengizinkan dia untuk menikmati keindahan dunia-Nya. Lima bulan telah berlalu. Selama lima bulan itu Lista terus berjuang untuk memperpanjang usianya. Kini sudah satu hari dia melewati bulan Maret, bulan yang menjadi prediksi dokter bahwa hidupnya akan berakhir. Ya, hanya Allah yang tahu kapan hamba-Nya harus kembali. “Udah siap, Non! Ayo pulang!” Lista membalikkan badannya, dia tersenyum kemudian mendekati bi Yuli. Hari ini dia diizinkan pulang ke rumah, kondisinya sudah lebih baik. Walaupun sel kanker itu masih menggerogoti tubuhnya. “Ayo, Bi!” Lista merangkul tangan kiri bi Yuli. Mereka pun keluar dari ruangan. Lista melirik ke sekeliling tempat yang dia lewati. Sedari tadi dia belum bertemu Chanan, padahal Lista ingin berpamitan dengannya. Akhirnya Lista memutuskan untuk menunggu Chanan. Dia menyuruh bi Yuli duduk di depan ruang rawat inap yang baru saja mereka lewati. Menit demi menit berlalu, Lista sudah menghubungi Chanan, namun laki-laki itu belum memunculkan batang hidungnya juga. Di sana mereka justru mendengar tangisan seorang wanita paruh baya. Walaupun lirih, Lista bisa mendengar percakapan mereka samar-samar. Tangisan wanita paruh baya itu pun semakin kencang hingga Lista dan bi Yuli menoleh ke arahnya. Lista menyipitkan matanya, dia tidak asing dengannya. Benar, Lista tahu siapa dia. Dia adalah wanita yang dulu dia panggil dengan sebutan Bunda Haya, wanita yang melahirkan Rizal. Tunggu, Lista mencoba mengingat apa yang didengar sebelumnya. “Terus gimana, Dok? Tolong selamatkan mata anak saya.” “Maaf Bu, satu-satunya cara yang bisa dilakukan cuma mencari donor mata. Dan untuk saat ini belum ada.” Alis Lista bertaut. Donor mata? Siapa yang buta? Rizal atau Reza? Begitulah yang ada dipikirannya saat ini. Setelah dokter pergi, Lista pun berdiri, dia mendekati ruangan itu. Matanya mengintip ke dalam ruangan melalui jendela. Kedua matanya membola begitu melihat siapa yang tengah terbaring di dalam dengan mata terpejam. Dia adalah Rizal, orang yang dicintainya. Bunda Haya masih menangis tersedu-sedu di pelukan anak keduanya, Reza. Mata Lista memanas, dia tidak asing dengan pemandangan di depannya. Dadanya nyeri, matanya mulai berkaca-kaca, Lista pun luruh ke lantai. Air mata yang sedari dia tahan akhirnya menetes. Lista tidak kuat melihatnya. Tangisan bunda Haya benar-benar mengingatkannya dengan kejadian lima tahun yang lalu. Saat itu, wanita paruh baya itu juga menangis. Dan semua itu terjadi karena dirinya. “Non kenapa?! Ayo kita balik ke ruangan lagi!” panik bi Yuli, dia membantu Lista berdiri. “Lista? Kamu kenapa? Ada yang sakit lagi?” Kini giliran Chanan yang panik. Ternyata dia baru saja dari ruangan Rizal, Lista tadi juga melihatnya. Lista hanya menggeleng lemah. Bi Yuli membawa Lista ke pelukannya. Gadis itu pun menumpahkan tangisannya. Rasa bersalahnya kepada keluarga Rizal muncul kembali. Kesalahannya sangat besar, pantas jika Rizal tidak ikhlas memaafkannya. “Ta, jangan kayak gitu lagi. Kamu baru aja baikan, Ta!” Lista melepas pelukannya. Dia baru saja bahagia karena usianya diperpanjang. Dia tidak mau kondisinya memburuk lagi hingga kejadian yang tidak dia inginkan terjadi. Lista menghapus air matanya sendiri. Dia menatap Chanan. “Rizal buta?” tanyanya lirih. Chanan mengangguk lemah. Lista pun meneteskan air matanya lagi. Laki-laki yang dicintainya kini tidak bisa melihat dunia lagi. “Dokter Lukman ada di ruangan?” Chanan mengangguk. “Kenapa? Ada yang sakit lagi?” Iya, hatiku yang sakit, Chan. Batin Lista Lista menggeleng. Dia pun membawa bi Yuli untuk menemaninya ke sana, meninggalkan Chanan yang tengah terdiam. Laki-laki itu sedang menerka-nerka, ada apa Lista ingin menemui ayahnya. Mata Chanan membola. Lista tidak akan melakukan itu bukan? Dia pun langsung berlari ke ruangan ayahnya, semoga apa yang ada di pikirannya tidak benar. “Kamu serius mau donorin mata kamu?” “Serius, Dok!” Kedua tangan Chanan mengepal kuat saat mendengar pembicaraan di ruangan ayahnya yang sedikit terbuka. Dia pun mendorongnya kasar hingga terbuka lebar. Chanan menoleh ke arah bi Yuli yang tengah menangis. Dia kemudian menatap Lista. “Aku nggak setuju, Ta!” tolaknya lantang. Lista hanya tersenyum, dia mengabaikan ucapannya. Lista kini menghadap Dokter Lukman kembali. “Tapi, mata saya masih benar-benar sehat kan, Dok? Nggak bakal ada kanker yang nular ke dia, kan?” “Enggak, Lista. Karena kankermu masih di sekitar paru-paru, belum sampai ke otak.” Lista mengangguk paham. “Ta! Aku nggak setuju!” Nada suara Chanan mulai meninggi. “Bibi juga nggak setuju, Non. Tolong pertimbangin lagi. Non juga masih sakit,” ucap bi Yuli sambil terisak. Lista menatap bi Yuli lekat. “Lista punya Bi Yuli. Bibi mau merawat Lista sampai Allah jemput Lista, kan?” Bi Yuli menggeleng cepat. Isakannya semakin keras. “Allah masih lama jemputnya, Non.” Lista menggeleng. “Allah cuma ngabulin doa Lista, Bi. Allah ngasih kesempatan Lista buat ketemu bulan Ramadan. Setelah itu Allah mungkin akan jemput Lista.” “Jadi, Lista nggak papa kalau buta. Lista masih punya Bi Yuli. Bibi mau kan bantu Lista?” Bi Yuli semakin terisak, tapi dia tetap mengangguki permintaan majikannya. Lista tersenyum. Syukurlah dia punya bi Yuli yang menyayanginya dengan tulus. Lista bangun, dia keluar bersama bi Yuli. Dia harus bertemu dengan dokter yang menangani Rizal. Dia harus mendonorkan matanya sebelum Rizal sadar kalau dirinya buta. Chanan menajamkan matanya, dia mengepalkan tangannya kuat saat Lista pergi begitu saja, mengabaikan dirinya. “Kalau kamu masih nekat donorin mata, aku nggak mau jadi sahabat kamu lagi, Ta!” Lista menghentikan langkahnya. Dia berbalik, menatap Chanan yang matanya mulai memerah. Sudut bibirnya pun tertarik ke atas, membentuk senyuman manis. “Nggak papa, Chan. Saat aku bertemu Allah nanti, belum tentu kamu bisa nolongin aku dari api neraka.” “Dan satu-satunya yang bisa nolong cuma diri aku sendiri.” Lista hendak berbalik lagi, tapi suara lantang Chanan menghentikannya lagi. “Ta! Aku nggak setuju! Please dengerin aku dulu!” Chanan mendekati Lista. “CHAN!” Chanan terdiam. Untuk pertama kalinya dia melihat Lista meninggikan suara. Bahkan dengan air mata yang terus bercucuran membasahi pipinya. “Kamu itu nggak tahu apa-apa, Chan! Lima tahun! Lima tahun, Chan! Selama itu aku selalu dihantui rasa bersalah!” Lista terisak kuat, dia menghapus air matanya kasar. Tapi percuma, air matanya tidak mau berhenti mengalir. “Aku nggak mau Bunda Haya nangis kayak gitu lagi, Chan. Kalau dulu aku yang bikin mereka nangis dan nggak bisa hapus air mata mereka, setidaknya sekarang aku bisa, Chan.” “Aku nggak mau Rizal sedih lagi. Luka yang aku buat aja belum sembuh. Aku nggak mau dia semakin terpuruk.” “Tolong ngertiin aku, Chan,” ucapnya lirih, Lista memeluk bi Yuli erat, menumpahkan tangisannya lagi. Sedangkan Chanan, dia mendongakkan kepalanya ke atas, mencegah air matanya yang akan turun. Namun percuma, air matanya mengalir lebih dulu. Bukan karena dia tidak bisa memahami isi hati Lista. Sebagai sahabat, tentu dia tidak rela kalau Lista mengorbankan matanya di saat gadis itu sedang sakit. Lista memang bisa menyelamatkan Rizal, tapi dia juga menghancurkan hidupnya sendiri. Chanan menurunkan kepalanya, dia menatap Lista yang masih menangis di pelukan bi Yuli. Chanan pun menghapus air matanya sendiri. “Okey, aku izinin.” “Sekarang jangan nangis lagi.” Lista pun melepaskan pelukannya. Gadis itu tersenyum kemudian mengangguk. “Makasih, Chan.” Setelah itu Lista pun meninggalkan ruangan Dokter Lukman, dan Chanan ikut menemaninya menemui dokter yang merawat Rizal.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD