Di Ujung Tanduk (3)

1605 Words
    “Halo … iya, Etek. Oke, baiklah. Aku ke sana sekarang, ya!”     Aku segera menaiki taksi biru yang kebetulan sedang lewat di depan rumahku. Kusebutkan arah tujuanku pada pak supir, kemudian kunikmati perjalanan siang itu.     Matahari siang itu hampir tak nampak, hujan cukup deras mengguyur Kota Jakarta, jalanan jadi macet, becek, mobil padat merayap, sedangkan motor menyelinap sana sini.     “Pak, ini nggak ada jalan lain yang bisa kita lewatin? Macet banget ini, Pak.” Aku merasa tak sabar.     “Nggak ada lagi, Neng. Kalau pakai motor, sih, bisa cari jalan tikus. Tapi kita kan lagi naik mobil.”     Ya sudah, akhirnya aku pasrah pada keadaan. Tapi aku cukup tenang dan senang, karena kakek sudah bisa dipindahkan ke kamar rawat inap biasa, sudah tak berada di ruangan itu lagi.     “Dreeet … dreeet … dreeet ….” Handphone-ku bergetar, kuraih dari dalam tasku.     “Halo … iya, Tek. Aku lagi kena macet. Yaudah, deh. Oke, Tek.” Etek Marfi meneleponku, bertanya mengapa aku belum sampai juga di rumah sakit.     Setelah lebih dari 2 jam, aku pun tiba di rumah sakit. Rasanya sekujur pinggang hingga pahaku terasa pegal, terlalu lama terduduk di dalam mobil.     Aku segera masuk, dan naik ke lantai 3 melalui lift.     “Eh, Mar. Baru aja etek mau turun ke lobi. Untung ketemu kamu duluan di sini.” Persis depan pintu lift, Etek Marfi berpapasan denganku.     “Iya, Tek. Mau ke mana?”     “Mau beli makanan sebentar. Kau sudah makan?”     “Sudah, Tek.”     “Ya sudah, kau langsung masuk saja ke kamar kakek. Di ruang 307, ya!”     Seiring etek berlalu, aku segera berjalan menuju kamar di mana tempat kakek dirawat. Kulewati kamar demi kamar, 303, 304, 305, 306, dan akhirnya, 307! Segera kubuka pintunya dan aku masuk ke dalam.     “Eh … permisi, Pak, Bu, Mas. Permisi, ya!” Aku menyapa sepasang suami istri paruh baya yang tengah menjaga anak laki-lakinya yang sedang dirawat.     Aku jadi merasa tak enak karena main masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, tadinya kupikir kakek akan dirawat di kamar VIP, ternyata di kamar kelas 1. Tumben, tak biasanya.     “Hai, Kakekku sayang!” Aku menyapa kakek dengan senyum terbaikku.     “Hai, cucuku, Marlin! Ke mana saja kau, Nak?” Kulihat senyum kakek yang lebar, sangat senang hatiku.     “Macet, Kek. Hujan turun deras sekali, tak henti-henti! Jadi macet di mana-mana.”     “Mar, tak boleh kauberkata demikian. Hujan itu rahmat dari Allah, ingat itu, Nak!” Masih sakit, sempat pula kakek berceramah.     “Iya, Kek. Maaf, lupanya aku.”     Di dalam kamar, kakek banyak bercerita kepadaku tentang yang selama ini terjadi, tentang apa yang aku alami, tentang musibah yang menimpa nenek, tentang diri kakek, juga tentang cintanya pada nenek yang tak akan pernah berubah sampai kapan pun.     “Mar, kauboleh mencintai siapa saja, tapi ingat suatu hari kau akan kehilangan orang itu, dan kau akan dimintai pertanggung jawaban atas semua perbuatanmu di hadapan Yang Maha Esa.”     “La-lu …, Kek?”     “Maka itu, janganlah kaucintai orang yang salah, nanti kau yang akan merugi. Dan jikalau kau kehilangan, usahlah bersedih berlarut-larut, karena siapa pun pasti akan kembali pada Sang Pencipta. Kau harus sadar itu, Mar!”     “O-kay, Kek. Aku tau itu.”     “Kautengok kakek dan nenek, apa kakek sedih berlarut-larut setelah kehilangan nenek? Tidak, kan? Hidup harus terus berjalan, Nak. Kautatap masa depanmu, jangan sering-sering menengok kebelakang, tak baik, Nak. Tertabrak kau nanti!”     “Iya, iya, iya, Kek.” Dalam juga makna dari nasehat yang kakek ucapkan barusan. Entah tulus dari dalam hatinya, atau mungkin saja ingin menyindirku.     Tak lama Etek Marfi masuk ke dalam kamar, kemudian mengajakku pulang ke rumahnya. Hari ini adalah jadwal Paman Haikal untuk menjaga kakek di rumah sakit.     “Kakek, aku pulang dulu, ya! Bye!”     “Ayah, aku pamit, ya. Jaga kesehatan, besok aku balik lagi ke sini.”     Aku dan etek mohon diri pada kakek. Kami pulang dengan menaiki taksi biru yang terparkir di depan lobi rumah sakit. Sebenarnya aku agak kurang paham, mengapa etek mengajakku untuk mampir dulu ke rumahnya, namun tanpa banyak tanya, kuikuti saja.     Sekitar satu setengah jam, akhirnya kami tiba di rumah etek. Beliau mempersilahkan aku masuk, mandi, dan makan malam di sana.     “Jadi begini, Mar.” Etek terlihat cukup serius.     “Ada apa, Tek?”     “Kautahu, kan, Mar, berapa lama kakek dirawat di rumah sakit?”     “Iya, aku tau.”     “Kau tau, kan, berapa biaya perawatan kakek selama di rumah sakit?”     “Hmmm … iya, tau.” Aku mulai paham maksudnya.     “Mar, mobil yang kakek pakai saat kecelakaan sudah hancur, tak mungkin dijual, tak laku. Mobil sedan kakek tak mungkin kita jual. Saat ini tabungan kakek yang tersisa tinggal 10 juta, tak mungkin cukup untuk biaya rumah sakit kakek selanjutnya.”     “Etek, bukankah biaya perawatan rumah sakit sudah lunas semua?”     “Iya, betul. Dan itu dibayar dengan menggunakan seluruh uang pensiun kakek beserta tabungan Paman Haikal.” Kaget aku mendengarnya.     “Jadi, menurutmu bagaimana, Mar? Langkah apa yang selanjutnya harus kita ambil? Etek berencana akan memindahkan ruang rawat kakekmu di kamar rawat inap kelas 3.” Sedih aku mendengarnya, namun aku tak bisa berbuat banyak.     “Aku … tak tau, Tek. Mungkin, aku akan coba untuk mencari kerja lagi.” Aku menunduk, ingin menangis rasanya. Seberat inikah cobaan hidup.     “Ya sudah, Mar. Kau harus pikirkan matang-matang, pekerjaan apa yang cocok denganmu. Nanti etek juga akan bantu kau untuk mendapatkan pekerjaan, akan etek tanyakan pada kawan-kawan etek. Etek juga sudah terlalu sering ambil cuti sejak menjaga kakek. Mar, etek akan bantu kau. Kita akan sama-sama mencari jalan keluar untuk biaya rumah sakit kakek.”     Aku terdiam, tak tahu harus berkata apa lagi. ***       Aku tengah membuat CV di laptop, kucari seperti apa disain yang menarik yang banyak diminati di zaman sekarang. Sekitar hampir 2 jam, selesai juga CV yang kubuat. Sore ini aku harus segera membuat pas foto, agar kelar semua urusan di hari ini. Pukul 4 sore lekas kupergi ke studio foto, telah siap aku dengan berpakaian kemeja rapih dan berkerudung.     Sesampainya di sana, seorang laki-laki yang bertugas sebagai kasir sekaligus sebagai pencetak foto sekaligus juga sebagai tukang ambil foto, menyapaku dengan ramah.     “Mau cetak foto, atau bikin pas foto, Kak?”     “Mau bikin pas foto, kemudian dicetak, Mas.”     “Oke, Kak. Silahkan masuk ke dalam studio, ya!”     Segera aku masuk ke dalam studio. Di pojok kanan dan kiri dalam ruangan itu terdapat 2 buah payung yang terbuka yang ditengahnya terdapat lampu yang begitu terang, ukuran ruangan itu terlihat cukup kecil.     “Iya, siap ya, Kak! Lihat ke depan, iya, 1 … 2 … iya, bagus!” kuikuti semua aba-aba darinya.     “Kak, kita ulang sekali lagi, ya! Pandangan lurus ke depan, Kak. Iya, siap, 1 … 2 … iya, cukup!”     Setelah foto selesai dicetak, kupandangi potret wajahku, kuberkata dalam hati, semoga saja aku segera mendapatkan pekerjaan.     Di rumah aku mulai membuat akun untuk melamar pekerjaan secara online, melalui aplikasi yang memang sudah terkenal baik reputasinya. Kulamar ratusan lowongan pekerjaan yang tersedia, yang masuk dalam kriteriaku.     Tiga hari ke depan, ada 5 email kuterima mengundangku untuk mengikuti interview. Alhamdulillah, semuanya berada di hari yang berbeda, jadi aku bisa mengikuti kelimanya.     Satu demi satu aku tandangi kantor-kantor itu, jauh-jauh pula jaraknya dari rumahku. Aku menaiki berbagai angkutan umum, sudah lama aku tak bersilaturahim dengan para abang-abang pengemudi, kangen juga aku.     Mula-mula kunaiki ojek online hingga menuju stasiun MRT, lalu kutanya pada petugas harus naik yang ke arah mana jika ingin ke tempat tujuanku. Aih … bagus juga pembangunan di ibu kota ini, sudah banyak kemajuan ternyata.      Aku turun di Stasiun MRT Sudirman, persis di depan kantor tujuanku. Sebuah gedung tinggi, bagus, indah dipandang, amat kokoh, dengan kaca-kaca yang melapisi seluruh bangunan gedung, dengan tulisan besar di depannya Menara Astra.     Aku masuk ke dalam gedung itu setelah melalui 3 orang satpam yang berpakaian kemeja rapih hitam-hitam, dengan handy talky di tangan kanan mereka, dan ada seekor anjing berbulu cokelat yang mengendus dari kejauhan para tamu yang baru datang.     Menurut petunjuk dari satpam, aku harus menaiki 3 eskalator. Sesampainya di atas, ada sebuah grand piano hitam besar dan mengkilat terdapat di sebelah kiri resepsionis, terdengar sebuah permainan piano dengan musik aliran klasik. Aih … indah nian.     Kutukarkan tanda pengenalku di meja resepsionis dengan sebuah kartu sebagai aksesku untuk masuk dan keluar dari lift. Dan dengan kartu itu, aku hanya bisa berhenti di lantai yang menjadi tujuanku, tak bisa aku mampir-mampir ke lantai lainnya. Semuanya sudah terprogram secara otomatis dalam kartu itu.     Sesampainya di lantai 9, aku masuk ke dalam kantor itu. Seorang laki-laki muda dengan pakaian yang necis menyapaku, dan mempersilahkanku masuk ke dalam sebuah ruangan.     “Mau interview, ya, Mbak? Untuk bagian apa? Silahkan diisi dulu, ya, buku tamunya. Ayo, ikut saya ke ruang rapat!”     Aku masuk mengikuti laki-laki itu, langkah demi langkah. Pihak HRD menjelaskan ada 3 tahapan yang harus dilalui oleh peserta interview, dan saat ini aku baru mengikuti tahap 1. Setelah tes tahap 1 selesai, aku diperbolehkan untuk pulang, katanya sekitar dua minggu ke depan akan diberikan kabar selanjutnya.     Pulang aku dengan langkah yang pelan, cukup lelah aku setelah 5 hari berturut-turut mengikut  interview dari kantor ke kantor. Terbayang-bayang wajah ayahanda, ibunda, nenek, dan kakekku. Sebuah tanggung jawab besar kini terlihat jelas di pelupuk mataku. Sedih aku mengingat kakek akan dipindahkan ke ruang rawat inap kelas 3 di rumah sakit, sebuah bangsal yang terdapat 8 pasien di sana. Pikiranku melayang ke sana ke mari, bagaimana jika aku tak sanggup membayar biaya rumah sakit kakek? Bagaimana jika aku dan nasibku memang tengah berada di ujung tanduk?      
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD