“Mar … Marlin … Marlinda …! Sini, Mar! Aku mau minta maaf sama kamu. Mar … Marlin … Marlinda …!” Sontak aku kaget dan terbangun dari tidurku. Hanya sebuah mimpi buruk ternyata. Keringat berucucuran di sekujur kepala dan tubuhku, hingga bantalku basah. Aku segera memasang posisi duduk di atas kasur.
s**l! Aku memimpikannya lagi! Laki-laki itu, benci sekali aku dengannya. Apalagi saat ia memanggil-manggil namaku tanpa rasa bersalah saat melihatku di pojok toko es krim di dalam mal. Sangat menjijikan.
Entah mengapa sejak pertemuanku dengan mantanku tempo hari di Mal Gandaria City, aku jadi sering memimpikannya. Tentu, bukan sebuah mimpi indah, tapi mimpi buruk, sangat buruk bagiku. Dan setiap malam, setiap aku mendengar suara laki-laki itu memanggil namaku, rasanya dunia seperti mau runtuh. Sangat menyiksa.
Aku menengok ke arah jam dinding, sudah pukul 7 rupanya. Aku lekas berjalan menuju kamar mandi, aku hampir lupa bahwa harus pergi ke rumah sakit karena kakek akan pindah kamar.
Setelah mandi, tak lupa aku untuk sarapan, karena takut tak sempat saat sudah tiba di sana. Lagi pula jika aku makan di kantin rumah sakit hanya akan menghambur-hamburkan uang. Segera kuraih dua potong roti tawar, dan kulumuri dengan selai cokelat kesukaanku. Lalu kumakan roti itu dengan rasa lapar yang teramat sangat.
“Teeet … teeet … teeet …!” Suara klakson mobil terdengar di depan rumahku. Aku segera tahu siapa gerangan di luar pagar. Lekas kuraih tas ranselku, kukunci pintu serta pagar rumah, dan kumasuk ke dalam mobil.
“Selama pagi, Mbak.” Sapa pak supir dengan ramah.
“Pagi juga, Pak.”
“Sesuai maps, ya?”
“Iya, Pak.”
“Mau lewat jalan mana, nih, Mbak?”
“Yang nggak macet aja, deh, Pak. Saya agak buru-buru juga soalnya. Hehehe ….”
“Siap, Mbak!”
Taksi online yang kunaiki segera meluncur menuju rumah sakit, tempat di mana kakek dirawat. Sebenarnya kondisi kakek semakin lama semakin membaik, dan sudah cukup stabil. Namun menurut dokter, ia ingin memantau lebih jauh apakah kakek sudah bisa untuk menjalani rawat jalan.
“Pak, turunin saya di belakang ambulans hijau itu aja, Pak.” Aku menunjuk ke sebuah ambulan yang tengah terparkir di tengah-tengah lahan parkir rumah sakit.
“Yakin, nih, Mbak? Nggak mau sampai lobi aja sekalian?”
“Nggak apa-apa, kok, Pak. Saya agak buru-buru soalnya.”
“Oke, deh, Mbak. Terima kasih, ya!” Pak supir berbalik badan ke arahku sambil tersenyum.
“Iya, Pak. Sama-sama, ya!” Aku lekas keluar dari dalam mobil dan berjalan menuju lobi yang sebenarnya cukup jauh jika dilakukan dengan berjalan kaki, namun apa mau dikata, dibanding aku harus menunggu antrian 15 mobil berderet-deret di depan pintu lobi dan akan memakan waktu yang cukup lama, lebih baik aku berjalan kaki saja.
Aku segera menuju ke kamar bernomor 312, di situlah kamar kakek sekarang. Etek Marfi sejak semalam sudah mengabariku melalui pesan singkat mengenai di mana kamar kakek dirawat sekarang.
Aku menghampiri sebuah pintu kayu dengan ukuran yang cukup besar, terdiam sejenak, kemudian membukanya. Aih … ternyata di ruangan itu sedang tak banyak pasien, hanya ada sekitar 5 tempat tidur yang tengah ditiduri, dengan masing-masing memiliki 1 orang yang bertugas menjaga pasien.
“Mar …!” Seorang laki-laki melambaikan tangannya padaku, Paman Haikal ternyata. Semalam memang gilirannya untuk menjaga kakek di sini.
“Mar, paman harus segera berangkat ke kantor, nih. Mau ada rapat soalnya siang ini. Paman tinggal dulu, ya!”
“Oh, eh, iya. Oke, Paman!” Aku sedikit tercengang melihatnya, karena ternyata beliau sudah terlambat untuk segera pergi ke kantor. Kemudian Paman Haikal berlalu begitu saja dan keluar dari kamar.
“Cucuku, Marlin. Bagaimana kabarmu hari ini?” Kulihat wajah kakek berseri-seri pagi ini.
“Baik, Kakek.” Aku berkata seraya memeluknya yang tengah terbaring di tempat tidur.
“Tadinya kakek sedang tidur pulas, namun kakek merasa seperti mendengar suaramu, jadi kakek terbangun.”
“Maaf, Kek. Aku jadi mengganggu tidur Kakek.”
“Tak apalah cucuku. Dengan kehadiranmu di sini, aku sudah sangat senang. Eh, ya, kata Etek Marfi kau akan mulai mencari pekerjaan lagi, ya? Apa benar begitu?” ia menatap mataku penuh selidik.
“Betul, Kek.” Aku menunduk.
“Apa alasannya? Apa kau merasa sudah benar-benar siap untuk bergaul dengan orang-orang di luar sana?”
“Uhhh … hmmm … iya … itu ….”
“Kau kenapa, Marlin?”
Sungguh, aku tak sampai hati jika harus memberi tahu kepada kakek apa alasan sebenarnya mengapa aku ingin bekerja lagi. Melihat matanya yang sudah tua dan layu, aku harus berusaha kuat untuk menahan air mata ini agar beliau tak tahu apa yang sebenarnya tengah terjadi. Aku akhirnya memberika jawaban yang cukup diplomatis kepadanya.
“Aku ingin memulai lagi untuk berkarier, Kek. Aku ingin jadi wanita karier. Hehehe ….” Aku berkata sambil menyunggingkan senyum.
Hari itu aku akan menginap di rumah sakit untuk menjaga kakek. Aku sudah membawa baju dan barang-barang lain yang kubutuhkan. Sambil menjaga kakek, aku sempatkan untuk membaca buku akuntansi, buku yang biasa aku gunakan untuk belajar saat masih menjadi mahasiswi dulu.
Tak hanya itu, aku juga membuka email melalui handphone-ku, dan mengirimkan beberapa lamaran pekerjaan dari situ. Hingga pukul 11 malam aku masih berkutat dengan buku akuntansi, sambil berusaha menyelesaikan beberapa soal agar ingatanku kembali akan ilmu yang sudah lama tak kupelajari lagi.
Tak terasa aku tertidur di sebelah kakek, dengan tangan kananku yang masih memegang buku.
***
“Dreeet … dreeet … dreeet ….” Handphone-ku bergetar, dan seketika membangunkanku pagi itu. Sudah pukul 5 ternyata, aku segera membangunkan kakek untuk melaksanakan solat subuh.
Di dalam solat aku berdoa pada Allah, agar bisa segera mendapatkan pekerjaan yang sesuai denganku.
“Mar, berharaplah hanya kepada Allah. Berdoalah, semoga segala keinginanmu diijabah oleh-Nya.”
“Iya, Kek. Aamiin.”
“Aamiin.”
Setelah selesai solat aku segera melipat mukenah dan sajadahku, lalu mandi.
Dari dalam kamar mandi aku mendengar ada beberapa orang yang datang, seperti sedang berbincang-bincang dengan kakek. Aku segera mempercepat mandiku, takut terjadi sesuatu padanya. Setelah urusanku selesai, aku segera keluar kamar mandi, dan mendapati seorang dokter serta dua orang perawat di sebelah kakek.
“Hei, Marlin. Ke sini, Nak. Ini dokter yang merawat kakek.” Aku berjalan menuju kakek, dan memperkenalkan diri pada dokter itu.
“Jadi begini Dek Marlin, keadaan kakekmu sudah sehat, mungkin dua hari lagi sudah bisa pulang ke rumah.” Dokter berkata padaku.
“Oh, benarkah?”
“Tentu, Marlin. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi dari kondisi kakekmu. Beliau sudah sangat sehat.”
“Alhamdulillah ….” Aku sungguh senang, sangat senang.
“Iya, jadi kamu sudah bisa mengurus semua urusan administrasi secepat mungkin, ya.”
“Iya, Dokter. Terima kasih banyak.” Dokter itu mohon diri, dan berlalu keluar kamar bersama dua orang perawat lainnya.
Aku benar-benar tak menyangka akan secepat itu kakek diperbolehkan untuk pulang ke rumah. Aku segera pergi menuju ruang administrasi untuk mengurus kepulangan kakek.
Seorang petugas di ruangan itu menyapaku dengan ramah dan mempersilahkanku untuk masuk ke dalam. Di sana petugas administrasi itu menjelaskan padaku mengenai biaya-biaya yang harus segera kulunasi agar kakek bisa dibawa pulang.
“Jadi, Mbak Marlin baru bisa membawa pasien pulang ke rumah, kalau Mbak dan keluarga sudah bisa melunasi semua biaya perawatannya selama di sini.”
“Bukankah sudah pernah dilunasi sebagian, ya, Bu?”
“Iya, betul. Di sini tertera bahwa keluarga pasien memang pernah melunasi sebagian biaya perawatan, tapi masih ada sisanya, Mbak.” Wanita muda itu menjelaskan padaku sembari menunjukkan sebuah kertas yang berisi detail berbagai tindakan medis yang selama ini diberikan kepada kakek.
“Oh, begitu, ya. Jadi, berapa biaya yang belum dilunasi, Bu?”
“Sekian, Mbak.” Wanita itu menunjukkan angka yang cukup banyak pada sebuah kertas yang berisi tagihan, dan dengan melihat itu semua seketika cukup membuat perutku sakit serta sesak napas tak menentu.
Aku keluar dari ruangan itu dengan langkah yang gontai serta mata yang berkunang-kunang. Harus kudapati uang dengan jumlah sekian dalam waktu 2 hari ke depan, jika aku tak mau kakek ditahan oleh pihak rumah sakit karena alasan tak sanggup bayar. Sungguh menyakitkan.