“Selain roti, ia suka apa lagi, ya? Apa ia juga suka permen karet? Apa ia juga suka kacang atom? Apa ia juga suka nasi uduk? Apa ia juga suka mie ayam? Apa ia juga suka es krim? Apa ia … apa ia ….” Rama bergumam sendiri dalam hati. Berpikir keras kira-kira apa yang disukai gadis kecil pujaannya itu.
Tak sampai di situ, bahkan ia berniat memotong dahan bunga melati di rumahnya agar bisa ia berikan untuk si gadis. Rama berpikir, bunga melati adalah bunga yang paling wangi, paling suci, paling putih, sungguh menggambarkan betapa tulusnya cinta yang ia miliki pada gadis itu.
“Tapi, di mana rumah gadis itu?” Rama baru menyadari, bahwa ia belum tahu di mana letak rumah pujaan hatinya.
Keesokannya di sekolah, Rama bersembunyi di balik pohon, mengamati gadis kecilnya yang tengah bergurau dengan kawan sekelasnya. Ia pun menyusun rencana, bagaimana agar ia bisa masuk ke dalam lingkaran pergaulan anak kelas 1. Mula-mula ia panggil anak laki-laki di situ, kemudia ia mengajak mereka berbincang membicarakan soal kelompok Pramuka di hari Sabtu nanti. Setelah obrolan mereka nyambung, Rama pun mulai bertanya mengenai gadis kecilnya itu pada mereka.
“Kau tau siapa gadis itu?”
“Tau, kok, Bang. Emang kenapa?” Ucap mereka serempak.
“Dia rumahnya di mana?”
“Kalau itu aku kurang paham, Bang. Kudengar sebentar lagi dia mau pindah.” Jawab anak yang satunya lagi.
“Hah? Pindah sekolah?” Rama kaget.
“Hmmm … tak tau lah, Bang. Entah pindah sekolah atau pindah─”
“Kriiing … kriiing … kriiing …!!!” Bel sekolah berbunyi kencang, pertanda mereka semua sudah harus masuk ke dalam kelas.
Rama bergegas menuju kelas, sembari berpikir rencana macam apa yang harus ia susun untuk selanjutnya.
***
Rama duduk termenung di atas kursi taman sembari menatap tanaman melati yang tak kunjung berbunga.
“Hei, Rama! Sedang apa kau, Nak?”
“Mengamati tanaman melati, Yah.”
“Apa yang kauamati?”
“Kapan tanaman ini akan berbunga, Yah?” Rama bertanya serius pada ayahnya.
“Ya nanti, Nak. Sabarlah! Mau kau apakan memangnya?”
Rama kaget atas pertanyaan yang diajukan ayahnya, jadi memerah wajahnya. Segera ia berdiri dari kursi dan masuk ke dalam rumah. Terheran-heran ayahnya akan tingkah laku anaknya barusan. Ikut masuk ia ke dalam rumah untuk menemui istrinya.
“Istriku, perhatikan tingkah laku anak kita barusan. Aneh sekali dia belakangan ini. Apa kautahu ada apa gerangan yang sedang menimpanya?”
“Tak pahamnya aku, Bang. Memangnya ada apa dengan Rama?”
“Ditatapnya tanaman melati tanpa berkedip sedetik pun.”
“Aih … kerasukan setan kuburan mungkin, Bang? Bunga melati kan bunga kuburan.”
“Aih … apa hubungannya? Suruhlah dia solat dan banyak-banyak memanjatkan doa!”
“Okelah, Bang!”
Sejak saat itu sang ibu jadi sering mengaji dan membaca ayat kursi di muka pintu kamar anaknya. Bahkan jika si ibu tak sempat mengaji, diputarnya piringan hitam yang berisi lantunan ayat-ayat suci Al-Qur’an. Sehari 3 kali, seminggu 21 kali, tanpa absen, tanpa jeda.
Rama jadi jarang keluar kamar. Ia hanya keluar jika ingin makan, mandi, atau sekedar ada keperluan mendesak. Di dalam kamar, dibacanya buku-buku mengenai cara bertanam bunga hias yang ia pinjam dari perpustakaan sekolahnya.
6 Cara merawat bunga melati untuk pemula:
1. Perhatikan media tanam yang digunakan
2. Melakukan pembibitan yang baik
3. Memperhatikan sinar matahari yang cukup
4. Melakukan pemangkasan secara rutin
5. Memberikan pupuk yang tepat
6. Melakukan penyiraman
“Aih … semuanya sudah kulakukan, berarti tinggal menunggu waktunya saja!” Gumam Rama dalam hati.
Setiap hari ia sirami tanaman melati itu, tak pernah lupa ia berikan juga pupuk jika sudah jadwalnya. Ia tunggu hari ke hari. Hanya tanaman melati yang selalu terbayang dalam ingatannya, dari balik jendela kamarnya tanaman itulah yang pertama kali ia tatap saat baru bangun tidur, dan tanaman itu pula yang ia tatap terakhir kali sebelum ia tidur.
Di sekolah Rama sering memperhatikan gadis kecil pujaannya itu dari jauh, dari balik jendela kelasnya, dari balik pohon mangga depan kelas, saat gadis itu sedang berolahraga, saat sedang upacara Pramuka hari Sabtu, saat sedang upacara bendera hari Senin, bahkan sering mereka bercuri pandang.
Rama kembali menghampiri anak laki-laki kelas 1 yang tempo hari berbincang dengannya. Ditanyainya secara jelas dan terperinci mengenai pembicaraan mereka yang belum kelar.
“Jadi yang kemarin kalian maksud itu gimana?”
“Gimana apanya, Bang?” Mereka malah bertanya balik.
“Yang tempo hari.”
“Tempo hari yang mana, Bang?”
“Soal kepindahan gadis itu, loh!”
“Gadis yang mana, Bang?”
“Aih … gadis kawan sekelas kalian, yang kutanyakan pada kalian tempo hari, yang kalian bilang bahwa dia akan pindah. Masih tak ingatkah kalian?” Rama sedikit terpancing emosi.
“Oh, itu ….”
Akhirnya paham juga mereka mengenai apa yang Rama maksud. Mereka pun memberi tahu Rama tentang kelanjutan perbincangan tempo hari. Senang Rama mendapati kabar itu, segera ia susun rencana selanjutnya.
Sepulangnya dari sekolah, segera ia menuju halaman rumahnya. Dipandanginya tanaman melati yang mulai terlihat kuncupnya. Senang bukan kepalang, beberapa hari ke depan bunga melati sudah bisa ia petik.
Dilihatnya kalender di meja belajarnya, ditandainya tanggal 17 dengan menggunakan spidol merah. Sebentar lagi rencana yang telah ia susun lama akan tiba waktunya. Tak sabar ia menunggu hari itu tiba.
***
Rama mengambil secarik kertas kecil berwarna merah muda dengan gambar The Power Puff Girl di pojok kiri atas. Ditulisnya sebuah surat, ia susun kata demi kata, hingga menjadi susunan kalimat, kemudian menjadi susunan paragraf yang indah dan sangat romantis.
“Aih … si gadis kecil pasti akan senang menerima ini dariku”. Begitu percaya dirinya Rama dengan apa yang akan ia lakukan.
Malam itu tidur Rama jadi tak lelap. Gelisah ia akan apa yang terjadi esok hari. Ia pejamkan matanya rapat-rapat, dan akhirnya tertidur juga.
“Rama … bangun kau, Nak!” Ibu membangunkannya dengan setengah berteriak.
Lekas-lekas ia terbangun dari kasur dan menuju kamar mandi. Tak sampai 15 menit, Rama sudah tiba di meja makan, lalu sarapan roti sobek serta s**u rasa melon kesukaannya.
“Makan yang banyak, Nak! Perut harus diisi penuh, agar fokus saat kau belajar di kelas.”
“Tentu, Bu. Tak usahlah disuruh-suruh aku kalau soal makan memakan.”
Rama segera menghabiskan sarapannya, dan pergi ke sekolah dengan mengayuh sepedanya. Sudah ia siapkan dari semalam apa saja yang perlu ia bawa untuk rencananya hari ini.
Sesampainya di sekolah, seperti biasa ia dan kawan-kawannya berbaris terlebih dulu di depan kelas, mencium tangan ibunda guru, masuk ke dalam kelas, belajar dengan serius, menjawab pertanyaan demi pertanyaan dari ibunda guru, kemudian pulang.
Setelah bel berbunyi, berhamburan seluruh siswa siswi keluar kelas. Rama mulai memperhatikan di mana si gadis pujannya itu berada. Ia datangi kelasnya, tak nampak juga batang hidungnya. Detak jantungnya mulai terasa lebih cepat, darahnya ikut berdesir, tak sanggup Rama jika mendapati kenyataan yang kurang ia harapkan.
Bertanya ia pada salah seorang kawan sekelas gadis itu, namun yang hadir adalah jawaban yang kurang mengenakan.
“Ia sudah 2 hari belakangan memang tak masuk sekolah, Bang!”
Sedih Rama, tergores hatinya, pupus sudah segala harapannya. Si gadis telah pindah 2 hari yang lalu, di luar dari perkiraannya. Ia pun segera pulang dengan langkahnya yang gontai, macam belum makan 3 hari 3 malam.
Sesampainya ia di rumah, tanpa salam pembuka, langsung ia masuk kamar. Dikeluarkannya bunga melati yang telah ia pangkas hingga dahan-dahannya, ia tatap lekat-lekat. Sia-sia sudah yang ia rencanakan selama ini, sia-sia sudah ia merawat tanaman melati hingga berbunga hanya untuk ia persembahkan kepada si gadis kecil kecintaannya seorang.
“Tok … tok … tok …. Rama, ke sini sebentar, Nak!” Saat sedang meratapi nasibnya, sang ibu malah memanggilnya untuk memintanya keluar kamar. Tak mampu ia menolak permintaan sang ibu, Rama pun lekas keluar dari kamar.
Setelah Rama tiba di muka pintu rumah, terbelalak matanya, kaget bukan buatan atas apa yang sedang dilihatnya. Seorang wanita seumuran ibunya beserta suaminya, dan aku, anak perempuan mereka, tengah berdiri di muka pintu.
“Rama, ayo cium tangan sama Om dan Tante! Mereka tetangga baru kita.”
Rama segera menuruti perintah ibunya, diciuminya tangan kedua orang tuaku. Dan disalaminya tanganku, tangan gadis kecil pujaan hatinya, gadis kecintaanya selama beberapa bulan belakangan ini.
“Hai, rumah kamu di sini?” Sapaku kepadanya.
“Hai, Marlin! Iya, rumahku persis di depan rumahmu.”