Nasib Yang Malang

1514 Words
    Hujan turun dengan derasnya, mengguyur Ibu Kota Jakarta dengan nyanyian yang bergemuruh, berisik, memaksa, gelap, dingin, basah, dan menakutkan. Aku tengah termenung di jok belakang seorang diri dalam mobil sedan hitam milik kakek. Etek[1] Marfi dan suaminya yang hari itu menjemputku di panti rehabilitasi jiwa, untuk pulang bersama ke rumah kakek.     Aku baru saja sembuh dari penyakit jiwaku. Aku didiagnosa menderita penyakit skizofrenia. Setelah sekitar 2 tahun lebih aku dirawat di sana, sekarang aku bisa pulang lagi ke rumah. Aku bingung harus senang atau malah sedih. Masalahnya, kakek dan nenek yang harusnya menjemputku hari ini malah absen, tak nampak sedikit pun batang hidungnya. Kutanyai Etek Marfi perihal hal ini, tapi ia tak mau memberi tahu secara gamblang.     “Nenek dan kakek sedang pergi, ada urusan.” Begitu kata Etek Marfi dengan wajahnya yang pilu, menunduk, dan matanya yang sembap.     Jujur aku jadi sangat curiga, tapi aku tak mau berpikir terlalu jauh, aku harus bisa mengontrol pikiranku agar tak terlampau stres. Pesan dokter, aku tak boleh banyak-banyak pikiran, karena lambat laun akan berpengaruh buruk dengan penyakit skizofrenia yang aku alami.     “Jangan sampai kambuh lagi!” Begitu pesannya.     Kubuang jauh-jauh segala pikiran buruk dalam kepalaku. Kutatap keluar jendela mobil, kulihat gedung-gedung tinggi yang sudah lama terhapus dari pandanganku. Rindu aku berjalan-jalan setiap akhir pekan berkeliling mall di kota ini bersama kakek dan nenek. Tak terasa air mataku jatuh, basah pipiku, basah pula hatiku.     Teringat banyak kenangan di sepanjang jalan ini yang pernah aku lalui. Di sepanjang Jalan Sudirman banyak mobil terhenti, macet, biasa memang selalu begini jika hujan turun. Aku menengok ke sebelah kiri, ada sebuah restoran cepat saji. Aku rindu duduk di situ, duduk di depannya sambil menyantap burger Big Mac kesukaanku, bersama orang yang kusayang.     “Marlin … kau mau makan siang apa? Kau mau makan di McD?” Etek Marfi membuyarkan lamunanku.     “Uhhh … hmmm … tak usahlah, Tek.”     “Tak usah malu-malu, Mar. Kau pasti rindu akan burger kesukaanmu.” Aku jadi makin teringat dengan kejadian waktu itu.     “Hmmm … bolehlah, Tek.” Aku pun mengiyakan ajakan Etek.     Mobil kami memasuki pekarangan Gedung Plaza Sentral, lalu belok ke kanan, belok lagi ke kiri, hingga tiba di depan loket pemesanan makanan secara drive thru. Seperti biasa aku memesan sepaket burger Big Mac lengkap dengan minuman ringan dan kentang goreng. Etek Marfi dan suaminya memesan sepaket nasi, ayam goreng, serta minumannya.     Setelah membeli makanan, kami segera pulang menuju rumah kakek. Etek bilang ia dan suaminya akan ikut menginap di sana bersamaku. Sebenarnya aku bingung, untuk apa mereka berdua menginap di rumah kakek, karena rumah mereka tak jauh dari sana, hanya sekitar 5 kilometer jaraknya.     Sekitar hampir 2 jam perjalanan, akhirnya kami tiba di rumah. Aku sudah sangat rindu dengan rumah ini. Rumah di mana tempat aku tinggal selama lebih dari 16 tahun bersama kakek dan nenek. Warna catnya masih seperti yang dulu, masih berwarna putih bersih, dan rutin dicat setahun sekali, hingga tak pernah pudar warnanya.     Aku juga sangat rindu dengan kamarku. Kamar dengan dinding berwarna merah muda, meja belajarku yang juga berwarna merah muda, boneka beruang besar pemberian dari nenek sebagai hadiah ulang tahunku yang ke-17, buku-buku novel kesayanganku, baju-bajuku, ikat rambutku, sisirku, lemariku, serta semua yang ada di dalam kamar ini. Aku merasa mendapati kembali diriku yang dulu, diriku yang normal, yang masih sehat wal’afiat, sebelum aku sakit. Kupeluk erat-erat kembali masa laluku, dan separuh diriku yang hampir hilang ditelan ketidak warasan.     Etek Marfi dan suaminya berkata padaku, bahwa besok pagi aku akan ikut pergi bersama mereka untuk bertemu dengan kakek dan nenek. Aku sangat senang mendengar apa yang mereka katakan. Malam ini aku harus tidur yang cukup, agar tubuhku segar esok hari. ***       Pagi itu aku membuka lemari bajuku, kupilah dan kupilih baju mana yang akan kupakai untuk berjumpa dengan kakek dan nenek. Kuraih sebuah kemeja berbahan sifon berwarna ungu muda. Senang hatiku membayangkan akan melihat nenek nanti, ini adalah baju yang beliau pilihkan untukku tiga tahun lalu.     “Marlin, apa kau sudah siap?” Etek Marfi menyapaku di muka pintu.     “Sudah, Tek.”     “Ayo, mari kita let’s go!”     Mobil kami meluncur dari garasi rumah. Kutengok kanan kiri, melihat pemandangan yang sudah lama tak kulihat, sembari menikmati segarnya udara pagi, menikmati kebebasanku. Tersenyum aku seorang diri, kubayangkan segala hal yang indah-indah. Aih … sudah lama aku tak begini.     “Kita berhenti dulu, ya, di toko buah!” Etek Marfi berkata pada suaminya.     Mereka berdua membeli segala macam buah di toko itu, sedangkan aku hanya menunggu di dalam mobil.     Tak butuh waktu lama, mereka berdua masuk lagi ke dalam mobil. Aku penasaran ke mana sebenarnya aku akan dibawa. Sudah hampir 1 jam, namun kami tak kunjung sampai.     “Etek, masih berapa lama kah kita akan tiba?” Tanyaku padanya.     “Tenang Marlin, sebentar lagi.”     Aku menurut saja, tak kutanya lagi. Selang setengah jam kemudian barulah kami tiba di sebuah rumah sakit yang cukup besar. Aku jadi merasa sedikit khawatir akan apa yang terjadi setelahnya. Kami turun dari mobil, lalu masuk melalui lobi rumah sakit, masuk ke dalam lift, etek memencet angka 5, kami keluar lift, lalu berjalan melewati kamar demi kamar, hingga kami berhenti di muka pintu sebuah kamar dengan tulisan 507 tertera di pintunya.     Seorang lelaki tua berumur 68 tahun tengah terbaring lemah di atas kasur rumah sakit. Matanya terpejam, selang-selang kecil bening terdapat di sekitar hidung, mulut, hingga ke pembuluh vena di tangan kirinya. Lelaki tua itu tak mampu bergerak, tak sadarkan diri, sudah genap 6 hari ia koma di rumah sakit sejak kecelakaan mobil menimpanya. Sebuah truk besar menabraknya dari arah berlawanan pada suatu pagi yang basah karena diguyur hujan, jalanan licin, truk melaju dengan kecepatan cukup tinggi, kemudian menimpa mobil SUV miliknya. Ia mengalami koma dengan luka ringan di kepala dan wajahnya, namun istrinya langsung meregang nyawa di tempat karena tertimpa atap mobil yang hancur.     Dia adalah Kakek Hasan, kakek kesayanganku, pengganti orang tuaku yang mengasuhku dari kecil, hanya ia yang kupunya saat ini. Hari itu kakek dan nenek hendak menjengukku di panti rehabilitasi, namun karena hari itu hujan deras, dan mobil sedan kakek sedang diservis di bengkel sehingga beliau menggunakan mobil SUV miliknya yang sudah lama tak ia gunakan, mungkin juga karena sudah tak terbiasa mengendarainya, hingga kakek jadi kurang fokus, harusnya menginjak pedal rem, tetapi malah mempercepat laju mobilnya. Truk di depannya panik, tak sempat menginjak pedal rem, akhirnya mobil mereka pun bertabrakan. Dan terjadilah peristiwa mengerikan itu.     Aku menangis menatap kakekku dari balik kaca besar. Aku tak sanggup berkata-kata lagi, mulutku terkunci, hatiku hancur, remuk redam, tak tahu kehidupan macam apa lagi yang akan kujalani selanjutnya. Aku hanya mampu berpasrah pada Yang Maha Pengasih dan Penyayang.     “Etek, aku mau berkunjung ke makan nenek sekarang juga.”     “Hah? Uhhh … apa tidak tunggu besok saja?”     “Tak usah Etek, hari ini saja.” Aku menunduk.     “Apa … apa … kau kuat, Marlin?"     “Usah ragu, Tek. Aku kuat, sudah biasa aku menerima segala cobaan hidup.” Padahal inginnya aku menangis detik itu juga.     Kami bertiga mohon diri dari rumah sakit, sudah ada orang lain yang ditugasi untuk menjaga kakek di sana. Kami segera menuju mobil, dan pergi ke makam nenek.     Sepanjang perjalanan menuju makam, aku terdiam, tak tahu harus bersikap bagaimana, atau berkata apa. Berdzikir aku dalam hati, bersholawat, beristighfar, memohon ampun atas segala dosa-dosa yang kuperbuat selama ini. Segala puji kupanjatkan pada Illahi, k****a asma Allah, berharap hatiku tenang, kuat, tak mudah rapuh menghadapi ribuan ujian di depan mata. Walaupun sebenarnya aku sudah sangat hancur.     “Marlin … sudah sampai kita, Nak.”     “Iya, Tek.”     Aku yakinkan diriku bahwa aku kuat, aku sanggup, aku mampu. Tak ada ujian yang tak mampu aku lalui hingga kini, hingga kakiku bisa berdiri tegak di depan makam ini, makam yang masih basah tanahnya, masih merah warnanya. Bukankah Allah tak akan memberikan cobaan di luar batas kemampuan hamba-Nya?     “Kuatkan hatimu, Nak.”     “Iya, Tek.” Suaraku mulai parau.     Aku menunduk, kutahan air mataku, bahuku perlahan berguncang, sungguh aku sudah tak sanggup lagi menahan ini semua, menahan keperihan ini bertahun-tahun lamanya. Kenapa yang kupunya selalu hilang satu persatu? Kenapa? Setelah ibunda dan ayahandaku yang tergulung habis dihantam ombak tsunami, lalu aku harus berusaha tak sedih padahal aku tak paham apapun saat itu, saat umurku baru 7 tahun.     Amat sesak dadaku, sakit sekali. Kenapa semua ini menimpaku? Aku baru pulang dari panti rehabilitasi jiwa, aku baru saja sembuh, jiwaku pun baru sepenuhnya lengkap lagi, aku baru mau memulai hidupku yang baru, kenapa begini? Kenapa dan kenapa?     Berlinang air mataku. Aku terduduk di depan makam nenek. Terduduk, terduduk, dan terduduk. Hingga air mataku habis, hingga air mataku kering, kering tak bersisa. Hingga lega hatiku, lega jiwaku, lega pikiranku.     Satu jam aku terduduk lemas di atas tanah. Bengkak mata kiri kananku besar-besar. Hanya itu yang mampu menggambarkan kedukaanku.     “Allahu Akbar … Allahu Akbar ….” Suara adzan mulai bergema, aku, etek, dan suaminya berjalan perlahan meninggalkan makam nenek. Kami singgah sebentar ke masjid terdekat, melaksanakan sholat ashar, kemudian pulang ke rumah. [1] Etek: Panggilan untuk adik perempuan dari ayah atau ibu dalam masyarakat Minangkabau.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD