Nasib yang Malang (2)

1576 Words
    Aku mencoba membuka mataku perlahan. Aku terduduk di atas kasur dengan tubuhku yang lemas.     “Marlin ….” Terdengar suara etek di muka pintu.     “Masuk, Tek.” Suaraku lemas, tak bersemangat sama sekali. Etek Marfi langsung masuk ke dalam kamarku.     “Marlin, apa kau baik-baik saja?” Etek mengamati wajahku. Telapak tangannya menghinggapi keningku. “Marlin … badanmu panas sekali! Kita harus segera ke dokter, apa kau juga meriang? Kau demam tinggi, Mar. Kenapa kau diam saja?”     Aku sama sekali tak peduli apapun yang etek katakan. Bahkan aku sudah tak peduli dengan diriku sendiri. Aku seperti orang linglung, aku diam, sorot mataku lurus ke depan, tak tahu harus bagaimana dan seperti apa, aku sudah tak punya semangat hidup.     Etek Marfi dan suaminya membawaku ke dokter. Suhu tubuhku ternyata sudah mencapai 38,8° celcius. Aku diberikan beberapa obat oleh dokter, katanya demamku ini tidaklah berbahaya, hanya saja memang aku butuh istirahat yang cukup dan makan yang teratur.     Etek dan suaminya memutuskan untuk menginap beberapa hari lagi, hingga demamku turun. Katanya mereka ingin merawatku selama aku sakit, dan ingin memastikan bahwa aku baik-baik saja. Aku sangat bersyukur ternyata masih ada yang peduli padaku, setidaknya aku tak melewati semua ini sendirian hingga keadaanku pulih. ***       “Mar, bangun dulu. Ini etek bawakan makanan dan obat untukmu.”     Ternyata etek sudah duduk di samping ranjangku ketika mataku baru terbuka, entah sejak kapan ia ada di situ. Aku berusaha bangun perlahan dan menegakkan posisi dudukku.     “Kau tak boleh telat makan, ya. Sini biar etek suapi.” Berhubung tubuhku sangat lemas, aku turuti saja apapun yang etek katakan. Etek menyuapiku pelan-pelan, dengan sabar, kemudian memberikanku obat.     “Kalau kau rutin minum obat, keadaanmu pasti segera membaik.” Aku paham etek sangat khawatir jika aku tak kunjung sembuh, tapi etek mungkin tak paham seperti apa hancurnya perasaanku saat ini.     “Marlin, kau tak usah mandi dulu, ya. Kau ganti baju saja. Sini, biar etek bersihkan badanmu dengan handuk basah. Mar, etek paham kau sangat sedih atas apa yang terjadi. Etek juga paham, bertubi-tubi semuanya harus kau alami. Tapi Mar, etek ada di sini untukmu. Etek sangat yakin, kakek juga pasti sembuh. Kita harus sama-sama yakin dan berdoa ya, Mar.”     Kata-kata etek barusan cukup membuatku sadar, bahwa aku harus yakin dalam berdoa. Yakin bahwa kakek akan sembuh, yakin bahwa semua akan baik-baik saja, dan yakin bahwa aku masih punya masa depan.     “Iya, Etek.” Jawabku lirih. ***       Etek Marfi dan suaminya bersiap untuk pulang ke rumahnya. Alhamdulillah aku sudah sembuh, dan keadaanku semakin membaik, termasuk keadaan mentalku.     “Mar, etek pamit dulu, ya. Nanti kalau ada apa-apa jangan lupa kaukabari etek, kau bisa menghubungi etek kapanpun yang kau mau.”    “Tentu, Etek. Aku pasti akan bilang apapun yang terjadi pada etek.”     “Jangan pernah sungkan jika kaubutuh bantuan, ya! Aku ini etekmu, usahlah kau ragu.”     Aku memeluk tubuh etek dengan erat, dan juga mencium tangan Paman Haikal, suaminya. Tak lama mereka masuk ke dalam taksi, mobil sedan kakek ditinggalkan di garasi rumah ini. Mereka berdua pulang, aku melambaikan tangan, pun mereka. Hingga taksi itu berlalu jauh dari pandanganku, dan tak terlihat lagi.     Aku masuk kembali ke halaman rumah, mengunci pagar, membuka pintu rumah, masuk ke dalam kamar, air mataku mulai berderai lagi.     Sepi, sendiri, sunyi, senyap, tiada berkawan. Aku tak tahu keberadaan kawan-kawanku, pun mereka. Yang mereka tahu aku batal menikah, dan aku menghilang begitu saja bagai ditelan bumi, hingga beberapa tahun, sejak aku masuk dan dirawat di panti rehabilitasi.     Pedih? Mungkin. Sedih? Bisa saja. Hancur? Barang tentu.     Yang kutahu Allah Maha Adil, aku hanya perlu berusaha terus dan untuk bisa sehat dan pulih kembali, untuk menggapai lagi mimpi-mimpiku, cita dan cintaku, hidup baruku.     Berusaha, sekali lagi. Mungkin. ***         Sudah genap seminggu lebih 4 hari aku berada di rumah sendirian. Aku sudah mulai belajar membereskan rumah seorang diri, dari mulai menyapu, mengepel, membersihkan kamar mandi, bahkan hingga memasak.     Aku masih membulak-balik buku panduan mesin cuci otomatis yang ternyata baru saja dibeli oleh almarhum nenek sebulan lalu. Sebenarnya aku ingin langsung menanyakan cara memakai mesin cuci ini kepada Etek Marfi melalui telepon, tapi aku tak enak kalau harus merepotkannya.      “Halo, Assalamu’alaikum …. Etek?”     “Wa’alaikum salam … apa kabarmu, Mar?”     “Baik, Etek ….”     Akhirnya aku menyerah juga untuk mencari tahu sendiri bagaimana cara menggunakan mesin cuci canggih ini. Setelah meneleponnya selama hampir setengah jam, akhirnya aku paham caranya. Etek Marfi juga bilang padaku, jika mau mencari tahu sesuatu, carilah di Youtube. Maklum saja, sejak aku masuk panti rehabilitasi, ingatanku jadi sedikit menurun. Agak lupa aku bagaimana cara menggunakan kawan kecil itu yang orang-orang sebut sebagai Smartphone. Entah sepandai apa benda itu, mungkin memang lebih pandai dibanding manusia.     Mesin cuci satu tabung ini memang sungguh meringankan pekerjaanku. Tak perlu bulak-balik hanya untuk mematikan keran air, ia bisa hidup dan nyala sendiri. Hebat juga, pantas harganya hampir sama dengan 10 gram emas Antam.     Jujur aku bingung mau melakukan aktifitas apa lagi di rumah. Aku duduk di kursi teras sambil berpikir. Dan setelah berpikir berkali-kali, akhirnya aku tahu harus ke mana. Aku segera memesan taksi online dari handphone-ku, handphone lamaku. Tenang, aku masih ingat sedikit cara pakainya, aku juga sudah membeli kartu baru, karena sudah tentu kartu lamaku sudah tak aktif lagi.     Dalam waktu 15 menit, taksi online yang kupesan sudah tiba di muka pagar rumahku. Aku yang memang sudah siap sejak setengah jam yang lalu, segera bergegas keluar rumah. Tak sabar aku ingin ngemal seperti beberapa tahun silam.     “Sudah siap berangkat, Kak?” Seorang laki-laki muda berkacamata bertanya padaku dengan ramah.     “Siap, Pak.”     “Oke. Bismillah ….”     Aku pergi cukup jauh rumah, memang sengaja. Aku hanya ingin berpatroli dari satu mal ke mal, memantau apakah mal zaman sekarang sudah ada kemajuan atau malah mengalami kemunduran.     Taksi online yang kunaiki mulai melewati jalan demi jalan, pertigaan demi pertigaan, perempatan demi perempatan, lampur merah demi lampu merah, menyusuri daerah Kebayoran Lama, menyusuri Jalan Sultan Iskandar Muda, hingga tiba kami di depan sebuah bangunan tinggi, besar, megah, berwarna abu-abu agak metalik, terpampang sebuah tulisan di depannya Gandaria City.     Aku turun di lobi, masuk ke dalam mal setelah sebelumnya melewati petugas keamanan, dan isi dalam tas milikku diperiksa. AC di dalam mal sungguh dingin, mengipasi wajah dan tubuhku, membelai lembut, wangi, segar, seolah mengucapkan Selamat datang kembali! padaku. Senangnya aku bukan main, merasa bebas, merasa menemukan potongan-potongan diriku yang dulu.     Berjalan aku lurus ke depan, menaiki eskalator yang letaknya tak terlampau jauh dari pintu masuk. Kujumpai lagi restoran-restoran yang dulu selalu menjadi tempat favorit untuk mengisi perut di akhir pekan bersama nenek dan kakek. Aih … jadi teringat lagi aku akan mereka, agak sedih sebenarnya, namun sebenarnya aku cukup senang juga.     “Silahkan, Kak, Pancious-nya … ada menu baru, Kak!” Seorang pramusaji yang sedang bertugas di depan sebuah restoran menyapaku.     “Nggak, Mbak.” Aku berkata sambil tersenyum ke arahnya. Sebenarnya dulu aku sangat sering makan di sana bersama teman-teman kuliahku. Sekedar membeli Green tea crepes cake, atau Blueberry pancake favoritku yang rasanya sangat sangat manis dan cukup memanjakan lidah. Namun, mengingat bahwa aku harus lebih berhati-hati dalam membelanjakan uangku saat ini, jadi lain waktu saja aku akan makan ke sana lagi.     Tak terasa perutku berbunyi, lapar rupanya. Segera aku mampir di restoran Seribu Rasa, kupesan menu favoritku, Salted egg prawn. Besar-besar kali udangnya, tersaji 3 potong di atas piring. Setelah kuisi perutku, naik aku ke lantai atas, kusambangi bioskop di situ. Ternyata tak ada perubahan yang berarti. Kemudian aku masuk ke sebuah pintu kaca yang secara otomatis terbuka saat aku hendak mendekatinya. Di sebuah meja yang tidak terlalu besar, ada 2 orang penjaga tiket, gadis muda dengan riasan agak tebal namun tetap terlihat cantik.     “Mau nonton film apa, Kak? Di Premier hanya tersedia 2 film.”     “Saya mau nonton film Bloodshot … aja, deh, Mbak.” Aku menunjuk ke sebuah layar di bawah meja, terdapat gambar laki-laki dewasa berkepala botak tengah memegangi pistol, terlihat tubuhnya yang bolong karena dipenuhi oleh bekas tembakan.     “Oke, Kak. Untuk 1 tiket aja, Kak?”     “Iya, Mbak.”     Gadis muda itu memberikan sebuah amplop berukuran kecil berbahan plastik, dengan warna abu-abu mengkilap, bertuliskan The Premier di muka amplop. Di dalamnya terdapat kertas, itulah tiket yang kubeli untuk menonton film hari itu.     Senangnya hatiku. Sudah lama aku tak menonton Vin Diesel beradu akting. Aih … masih terlihat awet muda ia rupanya. ***       Keluar dari bioskop, puas rasanya. Tapi aku agak sedikit mengantuk. Kubuka handphone-ku, segera kupesan taksi online untuk pulang ke rumah.     “Aha! Cepat juga dapat taksi.” Gumamku.     Aku turun ke lantai dasar dengan menaiki lift. Tak lama, supir taksi yang kupesan sudah mengabari bahwa ia telah tiba di lobi utama. Kupercepat langkahku.     Dari kejauhan, persis di depan sebuah toko es krim, aku melihat seseorang yang seperinya tak asing bagiku. Entah hanya dugaanku saja, atau bagaimana. Tapi aku merasa sangat kenal dan dekat dengan orang itu. Kuperlambat jalanku, makin lama makin dekat jarak antara kami. Kutatap wajahnya, pakaiannya, dari atas hingga ke bawah. Orang itu mulai sadar ada yang memperhatikan dirinya. Ia menatap balik ke arahku, kami saling beradu pandang. Wajahnya mulai terlihat serius, dahinya mengerut seperti sedang berpikir, begitu juga denganku. Semakin lama jarak kami makin dekat.      Kini wajahnya hanya berjarak 30 centi dari wajahku. Aku menatapnya lekat-lekat. Jantungku berdegup lebih cepat, mulutku terkunci, rasa takut menguasai hatiku.     Sambil menatapku, laki-laki itu berkata pelan.     “Mar … Marlin … Marlinda?”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD