Pertemuan Tak Terduga

1147 Words
    “Mar, lihatlah kebaya ini. Cantik sekali!” Nenek Maryam mengambil sebuah kebaya berwarna biru terang, dengan banyak payet di sekeliling kerah dan lengannya yang berwarna biru gelap.     “Ah … iya, Nek. Cantik sekali, pasti harganya mahal.”     “Coba saja dulu, Mar. Urusan harga nomor sekian, tak usah kau risau.”     “Uhhh … baiklah, Nek.”  Aku menurut saja.     “Mbak, apa kebaya ini ada ukuran lain?” Nenek bertanya kepada penjaga butik.     “Oh, tentu ada, Bu. Tunggu sebentar, ya!” Seorang gadis muda menjawab nenek dengan ramah. Ia memperhatikan ukuran tubuhku, lalu segera masuk ke dalam sebuah ruangan untuk mencari kebaya yang nenek maksud.     Tak tunggu waktu lama, ia kembali ke hadapan kami dengan membawa sebuah kebaya yang ukurannya lebih kecil.     “Ini, Bu. Sepertinya ukuran ini akan lebih pas.” Penjaga butik menyerahkan kebaya itu langsung kepadaku.     “Bisa dicoba dulu, kan, Mbak?”     “Tentu, Bu!”     Aku dan nenek segera menuju fitting room. Aku masuk sendiri ke dalam ruangan itu, dan mengganti pakaianku dengan kebaya.     “Masya Allah …. Aih … cantik nian cucuku ini!” Nenek menatapku dengan takjub, kedua telapak tangannya menyentuh pipinya.     “Terima kasih, Nek.” Aku tersipu malu. Kupandangi bayangan diriku pada pantulan cermin. Cermin dengan ukuran yang besar, persis setinggi dan sebesar ukuran tubuhku. Satu hal yang kusadari saat itu, ternyata kecantikanku memang benar adanya. Cantik tiada tanding.     “Silahkan, Bu! Terima kasih, ya, Bu. Semoga datang kembali di lain waktu!” Penjaga butik berkata dengan ramah ketika aku dan nenek hendak selesai berbelanja.     Senang sekali hatiku, akhirnya telah mendapatkan kebaya yang sesuai untukku, untuk hari yang cukup bersejarah dalam hidupku. Setelah lebih dari 2 jam aku, nenek, dan kakek berkeliling di Pasar Mayestik yang luasnya bukan main, menandingi luas Gelora Bung Karno Senayan, melihat-lihat berbagai kebaya dari satu butik ke butik lain. Sulit juga ternyata mencari kebaya yang sesuai dengan apa yang kita inginkan, ada saja kendalanya. Di butik yang satu aku menemukan kebaya yang cocok, tapi ukurannya tak ada, terlalu besar untuk tubuhku yang kurus. Pindah ke butik yang lainnya, ukurannya ada, modelnya pun cocok, tapi tak cocok untuk ukuran dompetku, terlalu mahal. Pindah lagi aku ke butik berikutnya, kutemukan model kebaya yang sangat pas, ukurannya juga pas, harganya juga pas, tapi sayang sungguh disayang aku tak suka dengan warnanya, terlalu mencolok mata. Warna kebayanya merah, benangnya berwarna emas, payetnya juga berwarna emas, terlalu meriah menurutku, persis pakaian dalam film-film Bollywood, tinggal menari-nari saja aku di bawah pohon bersama Shah Rukh Khan.     Setelah semua urusan kami di pasar itu selesai, kami pun pulang. Nenek meminta untuk berhenti sebentar di sebuah restoran, hendak memesan makanan untuk dibawa pulang katanya. Kami berhenti di sebuah restoran padang yang terkenal sangat enak rasanya, terdapat tulisan besar berwarna merah di atas toko itu: Garuda.     “Uda, ayam bakarnya ada?”     “Sudah habis, Bu.”     “Ayam goreng, ada?”     “Habis juga, Bu?”     “Ayam pop, ada?”     “Tak ada, Bu.”     “Rendang, apa masih ada, Uda?”     “Habis juga, Bu. Diborong orang tadi.”     “Bagaimana dengan udang? Apa habis juga?” Nenek terlihat agak emosi.     “Maaf, Bu. Tak ada juga.”     “Lalu adanya apa, Uda? Mengapa tak ada semua?”     “Maklumlah, Bu, hari libur ini, weekend. Pengunjung sudah pasti ramai, semua makanan hampir habis. Apalagi tadi ada perayaan ulang tahun, Bu, dadakan.”    “Ulang tahun?”     “Betul, Bu. Seorang gadis kecil bersama kawan-kawannya merayakan pesta ulang tahun di sini tadi pagi.”     “Aih … terus adanya lauk apa, Uda?”     Akhirnya nenek membeli 3 bungkus nasi beserta telur dadar dan perkedel sebagai lauknya. ***       “Halo … kamu udah di mana? Oh, yaudah, aku tunggu, ya! Aku masih masang sanggul, nih. Iya, iya, aku paham, kok. Oke, sayang. Sampai bertemu di rumah. Bye!” Aku segera mematikan teleponku.     Aku sudah terbangun sejak pukul 5 pagi. Tidurku semalam cukup pulas, dengan mimpi yang begitu indah. Setelah aku melaksanakan solat subuh, mandi, dan sarapan, nenek dengan semangat sudah menyuruhku untuk segera bersiap lebih awal. Tiga gadis muda sudah tiba di kamarku sejak pukul 6 pagi. Satu orang sebagai penata rias, satu orang sebagai penata rambut, dan satu orang lagi sebagai penata busana. Mereka bekerja dengan cukup professional, cepat, sigap, cekatan, namun sangat teliti.    “Kakak, lebih suka model sanggul yang seperti apa?” Si gadis penata rambut bertanya padaku sembari memberikan sebuah majalah yang berisikan berbagai model sanggul. Aih … cantik sekali semua model sanggul yang kulihat di situ, sibuk aku membolak-balikkan halaman demi halaman. Akhirnya pilihanku jatuh pada sebuah model sanggul yang bentuknya tidak terlampau besar, namun terlihat agak mirip dengan sarang tawon.     “Aku suka yang ini, Mbak!”     “Oke, Kak. Yang ini, ya!” Gadis itu memulai pekerjaannya.     Aku memperhatikan pekerjaan para gadis itu dengan saksama. Butuh waktu sekitar satu setengah jam untuk memoles wajahku dengan riasan, memasang sanggul di rambutku, hingga memakaikan kain batik sebagai bawahan kebayaku. Aku sangat puas dengan hasilnya, dan berterima kasih banyak pada mereka.     “Mar … Marlin … apa sudah siap?” Nenek berbicara di muka pintu kamarku.     “Sebentar lagi, Nek.”     “Jangan lama-lama, ya! Calonmu dan keluarganya sudah tiba di depan rumah.”     Seketika aku meras panik, padahal dari atas sampai bawah aku sudah siap, tinggal jalan keluar kamar dan menuju ruang tamu.     “I … i … iya, Nek!” Aku merasa salah tingkah. Jantungku berdetak agak cepat, keringat dingin keluar dari telapak tanganku. Aku menenangkan diriku sebentar dengan meminum air hangat, kemudian berdoa agar semua urusanku hari ini dimudahkan.     Tak sampai 5 menit aku sudah keluar kamar, dan berjalan menuju ruang tamu. Dari kejauhan aku sudah bisa melihat dengan jelas wajah kekasihku, pujaan hatiku, calon pengantinku, tengah terduduk di sofa cokelat, di sudut ruang tamu rumahku, bersama dengan kedua orangtuanya, kakak laki-lakinya, dan handai tolan.      “Nak Marlin, kamu cantik sekali! Lihatlah, Nak, calon menantu ibu sangat cantik.” Ibu dari kekasihku berkata dengan memujiku, seketika semua mata tertuju padaku, aku jadi malu, menunduk sembari tersenyum, pipiku memerah.     Pertemuan keluarga besar kami di hari itu tak lain dan tak bukan adalah untuk melangsungkan proses lamaran. Kekasihku hendak datang untuk melamarku sebagai calon istrinya, di depan seluruh keluarga besar kami.     Setelah kurang lebih 3 jam keluarga kami saling memperkenalkan diri, berbincang, menyantap makan pagi bersama, hingga diskusi untuk menentukan tanggal pasti kapan pernikahan kami akan digelar. Seluruh proses acara kami di hari itu berjalan dengan sangat lancar, dan telah menemukan kata sepakat.     Betapa bahagianya aku di hari itu. Kekasihku menatap wajahku sembari kami bercuri pandang, lalu kami tersenyum bersamaan di kursi masing-masing. Ada jarak antara tempat duduk kami, namun hati kami telah terikat, erat, bersatu padu.     “Allahu Akbar … Allahu Akbar …!” Adzan mulai bergema, waktu sudah menunjukkan pukul 12 siang. Keluarga besar kekasihku mohon diri, acara kami telah selesai. Kami semua tersenyum gembira, senang, bahagia.  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD