Pertemuan Tak Terduga (2)

1190 Words
    “Halo ….”     “Halo, selamat pagi. Mbak Marlin, ya?” Sapa seorang wanita pengelola sebuah gedung di ujung telepon.     “Iya, selamat pagi, Mbak Ellen!”     “Eh iya, Mbak Marlin, jadi gimana?”     “Iya, Mbak. Saya mau tanya, untuk rekanan katering di gedung Granadi, ada apa aja ya, Mbak? Oh, oke. Iya, untuk sekitar bulan Juni tahun depan, apa masih ada yang kosong? Oke, Mbak Ellen. Nanti saya kabari kembali, ya. Terima kasih, Mbak.”     Aku menghubungi seorang pengelola gedung di daerah Kuningan Jakarta Selatan, aku ingin memastikan apakah di gedung tersebut bisa di sewa untuk acara pernikahanku nanti di tahun depan. Sebetulnya acaranya memang tinggal 6 bulan lagi, tetapi ayah dari kekasihku masih belum bisa menentukan ingin mengadakan acara di gedung mana.     Mulanya aku dan kekasihku telah sepakat untuk mengadakan acaranya di sekitar Jakarta Barat, namun belum menemukan gedung yang pas. Lalu akhirnya pindah haluan ke Jakarta Timur, namun semua gedung yang masuk dalam daftar sewa kami, telah penuh terisi sampai tahun depan. Hingga akhirnya kami pindah haluan lagi ke Jakarta Selatan, kemudian mendatangi satu demi satu gedung yang jadi tujuan kami. Dan dapatlah gedung yang cocok, serta waktu yang pas, sesuai dengan tanggal di mana pernikahan kami akan berlangsung.     “Mar, sudah kautanyakan semua katering yang menjadi tujuanmu?” Nenek bertanya serius.     “Belum … Nek…. Nanti … akan … kutelepon … satu … per … satu ….” Aku menjawab dengan mulutku yang terisi penuh oleh makanan.     “Jangan nanti-nanti, Marlin. Terbiasa kaumenunda tugas-tugasmu!”     “Iya, Nek. Uhuk … uhuk ….” Sambil terbatuk-batuk, kuraih gelas berisi air mineral, segera kuminum.     “Makanya, kalau sedang makan jangan sambil bicara, tak baik!”     Kesal aku. Beliau yang mengajakku bicara, kupaksa menjawab, aku pula yang kena omelannya.     Selepas makan siang, kuraih handphone-ku, kemudian ketelepon satu demi satu katering yang sudah kutulis dalam kertas. Ada sekitar 5 katering yang kuhubungi, mereka semua menyarankan untuk langsung datang ke sana guna mencicipi langsung masakan mereka, apakah cocok atau tidak dengan lidah konsumen.     “Kak Marlin, lebih baik datang langsung saja ke sini dengan calonnya, kalau perlu orang tua Kakak juga diajak, biar lebih puas tahu rasa masakan kami, biar nggak penasaran lagi.” Begitu kata pihak katering.      Jadilah aku, kekasihku, ayah dan ibunya, beserta kakek dan nenekku, pergilah kami anak beranak berkunjung ke kantor katering itu. Mulanya kami berniat untuk mengunjungi sekaligus 5 kantor katering itu, namun ternyata waktu tidak memungkinkan. Apalagi sedang weekend begini, sudah bisa dipastikan jalanan di sepanjang Kota Jakarta akan ramai, penuh, macet, padat merayap.     “Selamat siang, Mbak, Mas, Pak, Bu, mari masuk ke dalam. Silahkan!” Seorang laki-laki berumur sekitar 45 tahun menyambut kedatangan kami di muka pintu. Kelihatannya ia adalah pemilik dari katering ini.     Begitu kamu berenam masuk ke dalam, ada sebuah meja makan panjang dan 10 buah kursi yang terbuat dari kayu, berderet-deret di situ. Tak lama berselang, di atas meja makan telah dihidangkan berbagai jenis makanan. Dari mulai appetizer, main course, hingga dessert. Kami mencicipi semuanya dengan mengambil sedikit-sedikit.     “Ini, Pak, Bu, ada makanan sedikit dari kami untuk dibawa pulang!” Kata pemilik katering dengan ramah.     “Tak usah repot-repot, Pak. Kami jadi tak enak. Terima kasih banyak, ya!” Kakek menjawabnya dengan sungkan.     Itu adalah kantor katering ketiga yang kami kunjungi di hari itu. Rencananya kami akan mendatangi kantor katering yang lainnya di minggu berikutnya. Karena hari telah sore, kakek dan nenek, beserta ayah dan ibunya kekasihku, mereka ingin segera bergegas pulang. Kami memang membawa 3 mobil, kakek dengan nenek, orang tua kekasihku, dan aku bersama kekasihku. Kami berdua memutuskan untuk tidak langsung pulang, kami ingin melewati malam minggu bersama terlebih dahulu.     “Jadi kita mau nonton film dulu, nih? Okedeh, let’s go, beib!” Dengan hati yang riang gembira, kami menikmati malam itu berdua, bersama, memadu kasih.     “Waw … terima kasih, Sayang! Apa ini?” Kekasihku memberikan sebuah hadiah berupa kotak kado berwarna merah muda, dengan aksen pita di pojoknya.     “What!? Kamu serius!?” Aku kaget ketika melihat isi di dalamnya, secara mengejutkan ia memberikanku sebuah cincin emas putih yang sangat cantik.      Kekasihku memakaikan cincin itu tepat di jari manisku, di tangan kiriku. Aku memeluknya, yang ia sambut dengan senang hati. Kami berpelukan di dalam mobil, hangat, sangat dekat, indah, dan yakin. ***       “Kamu beneran nggak bisa, ya, hari Sabtu ini? Yah, terus gimana, dong? Kita kan udah atur jadwal sama pihak katering, nggak mungkin dong kita batalin begitu aja. Mereka kan udah siapin makanannya. Yaudahlah, aku pergi aja sama nenek dan kakek kalau gitu. Bye!” Kumatikan teleponku dengan rasa kesal.     “Sudahlah, Marlin. Jikalau memang dia tak bisa, ya biar kita bertiga saja yang berkunjung ke sana. Dia kan sibuk bekerja, kau harus mengerti keadaannya!” Nenek bicara padaku dan  menasehatiku demikian.     Aku cukup kesal sebenarnya dengan keadaan ini, karena sebelumnya kekasihku telah berjanji untuk pergi menonton film di bioskop bersamaku, sepulang dari kunjungan ke kantor katering. Namun apa boleh buat, kuterima saja keadaan ini dengan lapang d**a.     Aku, nenek, dan kakek pergi ke kantor katering pukul 11 siang. Seperti biasa, sesampainya di sana kami disuguhkan dengan berbagai menu makanan, lengkap, banyak, padat, beraneka ragam. Harga di katering ini sedikit lebih murah, namun kualitas makanannya tidak perlu diragukan lagi.     “Pak, Bu, ini kami berikan daftar harga dan menu makanan katering kami. Silahkan menghubungi kami kembali, ya, jika ada yang ingin ditanyakan.” Pegawai katering itu berkata dengan ramah saat kami hendak pulang.     Kami tiba di rumah sekitar pukul 4 sore. Alhamdulillah, jalanan di Kota Jakarta saat weekend ini tidak terlalu padat, mungkin karena akhir bulan, gaji belum turun, keuangan menipis, hingga warga Jakarta harus menahan diri untuk bersenang-senang di akhir pekan.     Waktu menunjukkan pukul 10 malam. Nenek dan kakek telah tidur di kamarnya, dan aku sedang menonton serial drama Korea Selatan di ruang tamu sembari menikmati secangkir kopi hitam dan kacang kulit. Sebuah suara mobil berhenti terdengar dari muka pagar rumahku.     “Tok … tok … tok ….” Suara ketukan terdengar di balik pintu rumahku. Aku segera berpikir, siapa yang hendak datang tengah malam begini. Tak tahu waktu.     Aku lekas berdiri di muka pintu dan mengintip dari balik jendela. Aih … apa aku tak salah lihat?     Seorang laki-laki sebaya denganku, berdiri seorang diri di muka pintu. Di tangan kanannya terdapat sebuah bingkisan.     “Sayang … bukannya kamu lagi di luar kota? Kok kamu udah nyampe sini aja, sih?” Aku merasa kaget namun sekaligus senang, kekasihku ternyata menyempatkan diri berkunjung ke rumahku meskipun sudah tengah malam begini.     Ia memberikanku oleh-oleh khas Kota Bandung, kota di mana ia sedang ditugaskan untuk satu bulan belakangan ini. Oleh karena sebab inilah, maka kekasihku tak dapat ikut untuk berkunjung ke kantor katering.     “Sayang, aku paham, kok, kalau sekarang kamu lagi sibuk sama kerjaan kamu. Maafin aku, ya, karena nggak mau ngertiin kamu.” Kami berpelukan erat, melepas rindu, karena sudah hampir 2 minggu ini kami tidak dapat bertemu.     Kekasihku pulang tepat pukul 11 malam. Aku sangat senang dengan kehadirannya malam itu, dengan berbagai kejutan yang ia berikan. Tak lama, aku segera masuk ke dalam kamarku, mematikan lampu, memejamkan mata untuk tidur, sambil membayangkan betapa bahagianya aku jika telah menikah nanti.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD