Drama

1233 Words
"Lepaskan saya, Pak!" pekik Karin. Dia merasakan nyeri ketika pergelangan tangannya dicengkeram oleh guru olahraga itu. "Kamu jangan sok suci! Kalau kamu bisa sama Aldo waktu itu di kelas kenapa kamu nggak mau sama Bapak?" bentak Pak Faris. Mata Lala terbelalak. Wanita yang bersembunyi di balik semak itu menatap guru yang dikaguminya itu tak percaya. Ngomong apa barusan orang itu? Adit di samping Lala juga terpana. Dia kini mengerti kenapa waktu itu wajah Karin berubah pias saat berpapasan Pak Faris. "b******n!" umpat Adit. Dia hampir keluar dari persembunyian tapi dicegah oleh Lala. "Jangan dulu, jangan gegabah," ucap Lala. Adit menurut meski hatinya mendongkol. Lala buru-buru mengeluarkan ponsel dari sakunya dan menyalakan alat perekam. "Saya nggak cinta sama Bapak! Jangan paksa saya!" tegas Karin. Mata gadis itu sudah berkaca-kaca. Pak Faris tertawa. "Nggak penting itu rasa cinta. Yang penting kita sama-sama enjoy aja," ucapnya dengan seringaian m***m. Lala menutup mulut. Baru pertama kali dia melihat sosok lain dari guru idolanya yang ternyata menyeramkan itu. "Kamu nggak inget? Bapak masih punya foto b***l kamu. Tinggal klik aja bisa tersebar di internet. Kamu mau?" ancam Pak Faris. Adit tidak bisa menahan diri lagi. Dia sudah berdiri hendak keluar dari semak-semak, tapi muncul sosok yang lebih dulu menginterupsi Pak Faris dan Karin. Aldo yang mengenakan jaket kulit dan celana jeans belel dengan gaya ala rocker menghampiri mereka sambil berdecak-decak. "Nggak tahu malu banget sih, Pak! Nggak denger apa dia bilang nggak mau? Kalau mau hohohihe itu harusnya suka sama suka," ucap pemuda itu sambil tertawa mengejek. "Dasar, p*****l payah, nggak laku! Lepasin dia!" Aldo menunjuk Karin dengan dagunya. "Tutup mulutmu, Aldo! Kamu sendiri nggak bedanya dengan Bapak," geram Pak Faris. "Sorry, ya Pak, cewek-cewek itu yang nawarin diri. Saya nggak level ngemis-ngemis cinta macam Bapak," tegas Aldo. Pak Faris akhirnya melepaskan tangannya dari Karin lalu memberikan satu pukulan tepat di perut Aldo. Cowok itu jatuh tersungkur begitu saja. Karin menjerit ketakutan. Adit berlari keluar. Tiba-tiba saja cowok itu nimbrung mendaratkan satu pukulan di punggung Pak Faris. Cowok itu sepertinya kaget sendiri dengan tindakan refleksnya. Pak Faris menatap Adit dengan garang lalu meninju wajah pemuda itu hingga Adit terpelanting. "Stop! Stop!" teriak Lala. Wanita itu akhirnya muncul juga. Dengan tubuh gemetar dia berdiri membatasi guru gila itu dengan murid-muridnya. Pak Faris tampak terperanjat melihat kehadiran Lala di sana. "Hentikan!" Lala mengeluarkan ponselnya. Saya barusan merekam perbuatan Bapak, saya juga sudah telepon polisi!" Pak Faris membeliak. Apalagi setelah terdengar suara sirine polisi yang mendekat. Pria itu mendengus lalu berlari kabur. Lala mengelus dadanya. Dia lalu melihat kondisi kedua muridnya yang babak belur. Karin mendekati Aldo dengan prihatin. "Kamu nggak apa, Aldo?" tanyanya. Aldo mengangguk. "Kamu gimana?" Karin tak menjawab pertanyaan Aldo itu. Gadis itu berlutut dan menangis. Aldo terkesiap. Dia merengkuh Karin dan mengusap-usap rambutnya. "Maaf, aku terlambat datang." Adit dan Lala terpaku melihat adegan itu. Adit lalu merasa terganggu dengan sirine polisi yang mengaung terus. "Ini polisinya di mana sih? Berisik banget nggak datang-datang," tegurnya. "Oh, itu gantungan kunciku, lupa kumatikan," ucap Lala. Setelah dia menekan tombol di gantung kuncinya, lantas bunyi berisik itu berhenti juga. Aldo terbahak. "Jadi itu tadi cuman gantungan kuncimu, ya ampun, kirain polisi beneran." Adit melongo lalu ikut tertawa bersama Aldo. Bahkan Karin sudah menghapus air matanya dan turut tersenyum sedikit. "Yang penting kan dia pergi!" ucap Lala sambil bersedekap. Dia pun tak kuasa menahan senyum. Lala memandangi Aldo yang masih menenangkannya Karin. Hari ini mata Lala terbuka, apa yang terlihat ternyata tak seperti apa yang terjadi sesungguhnya. Pak Faris, guru yang dulu dia puja ternyata tak sebaik yang dia kira. Sementara Aldo yang dia anggap sudah rusak, ternyata tak seburuk itu. *** Lala membawa masuk ketiga muridnya itu ke ruang tamu. Ibu kosnya Aunty May, mengijinkan mereka masuk meskipun jam malam seharusnya sudah habis. Janda kembang berusia tiga puluh lima tahun itu tampaknya tak tega mengusir Aldo yang terlalu cakep. "So, they are your students?" tanya wanita dengan rambut blonde cap salon sebelah rumah itu. Netranya tak bisa berpaling dari Aldo yang memang mempesona. Cowok itu memang punyan semacam magnet yang sulit ditolak kaum hawa. "Yes, Auntie, i just want to say something important to them just a moment. May be only ten minute and the boys will go away, but, can she stay on this domitory just this night?" Lala berbahasa Inggris dengan fasih sambil memegangi pundak Karin. Ibu kosnya satu ini emang rada nyentrik. Maunya gomong pake bahasa Inggris biar kayak bule beneran. Padahal cuman bule karbitan dari Blitar, bahkan mereka dulu satu kampung. "Oke, just enjoy your time, i will go back to the upstair. Don't forget to close the door," ucap wanita itu. Dia kemudian berlalu ke kamarnya di lantai dua. Lala mempersilakan para muridnya duduk dan menawari mereka minuman yang ditolak halus oleh ketiganya. Akhirnya Lala duduk di samping Karin sambil memandangi gadis itu penasaran. Karin sudah nggak nangis, hanya sesenggukan kecil. "Jadi, apa yang sebenarnya terjadi? Bisa kamu ceritakan sama ibu?" tanya Lala hati-hati. Karin berpaling pada Aldo. Setelah melihat anggukan dari cowok itu barulah cewek itu mau bicara. "Pak Faris, dia melecehkan saya beberapa kali," aku gadis itu sambil meremas roknya. Hati Lala terasa sesak dia memeluk Karin erat-erat. "Kamu harusnya cerita kalau ada hal seperti ini, Sayang. Jangan kamu pendam sendiri," ucapnya sambil mengelus rambut muridnya itu. Lala menghapus air yang meleleh di pipi Karin. "Kamu tenang aja, besok Ibu akan adukan hal ini ke kepala sekolah dan pasti segera ditindaklanjuti." Karin mengangguk pasrah. "Hari ini kamu tidur di sini saja ya. Sudah terlalu malam untuk pulang. Aldo, Adit, kalian bisa jaga rahasia ini, kan?" pinta Lala pada dua jejaka itu. Aldo hanya mengangguk samar, sementara Adit mengucap, "Siap!" bak tentara. Ponsel Aldo berdering, cowok itu meraih benda itu dari sakunya lalu mengangkatnya. "Halo, ya, maaf aku agak telat. Ada beberapa masalah. Ya, aku ke sana sekarang," ucap Aldo pada si penelepon. Setelah panggilan berakhir dia segera berpamitan pada Lala. "Maaf saya buru-buru, boleh saya pergi dulu?" tanya Aldo. "Oh ya, silakan, sudah nggak ada yang perlu dibicarakan kok," kata Lala. Dia menduga, barusan itu pasti telepon dari manajemen Pheromones atau sejenisnya, karena seingat Lala cowok itu harusnya hari ini manggung di Kafe X yang tadi disebut-sebut Nadia. "Saya juga pamit, Bu," ucap Adit latah. Dua cowok itu menyalami Lala. Aldo sempat mengusap rambut Karin lagi sebelum dia pergi. Karin terlihat senang dengan perlakuan cowok itu sementara si Adit cuman jejeritan dalam hati. Ketika mereka melangkah ke pagar, muncullah si Nadia. Cewek itu tampak membelalak ketika melihat Aldo si vokalis Pheromones yang dinantikannya malah keluar dari kos-kosannya. Aldo hanya tersenyum ramah, tampaknya tak mengingat Nadia. Dia lalu melangkah buru-buru menuju pangkalan ojek terdekat bersama Adit yang mengikutinya. "Kok udah balik? Katanya nggak pulang?" cibir Lala melihat kehadiran sahabatnya itu. Nadia buru-buru mencubit Lala dengan kekuatan bulan yang membuat Lala memekik kesakitan. "Siapa itu tadi? Aldo? Kok bisa dia kesini ha? Kamu gerak cepet banget dan aku nggak tahu!" tanyanya antusias. "Ya! Udah sana masuk. Aku kunci pintu dulu," ketus Lala. Setelah mengunci pintu pagar, Lala masuk ke kamar bersama Nadia dan Karin. Nadia memelototinya meminta penjelasan, sementara Karin masih lesu. "Nih, muridku, Nad, dia hari ini mau nginep di sini," terang Lala. Nadia tampaknya baru menyadari keberadaan Karin dan menyapa basa-basi saja. "Kamu boleh tidur duluan, Karin," ucap Lala pada gadis itu sambil menyediakan baju ganti untuk Karin, dia masih berusaha mengabaikan Nadia yang tak henti mendera dengan tatapan matanya yang tajam menusuk. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD