Fangirl

1452 Words
Lala duduk di atas ranjang sambil memandangi music video Fake Love-nya BTS dari tabletnya tanpa berkedip. Ketika satu adegan koreo Jungkook biasnya mengangkat bajunya hingga roti sobeknya terlihat membuat gadis itu jejeritan nggak jelas. "Oppaaaaa!" teriak fangirl gila itu. Nadia yang baru masuk ke kamar dengan wajah dipenuhi masker warna hijau geleng-geleng. "Siapa yang kamu panggil oppa? Inget umur, La, sudah uzur begitu sampai kapan masih mau fangirling," ejek Nadia. Lala mengerang frustrasi. Dia pengen membalas makian Nadia tapi nggak bisa. Kenyataannya emang nggak ada satupun member BTS itu yang lebih tua dari dia, bahkan Jin yang paling tua sekalipun. "Nggak ada kata uzur dalam K-POP, semua idol adalah oppa!" tegas Lala akhirnya. "Sadar, La. Daripada fangirling terus mending kamu cari pacar, kan? Ntar kamu beneran dijodohin lho sama Si Joko," nasihat Nadia. Lala mendengus. "Ah! Kenapa sih kamu ngingetin aku lagi sama si pitak itu," geramnya kesal. Sudah beberapa hari dia berusaha melupakan telepon dari ibunya yang lebih sering dari biasanya, mengabarkan sang juragan beras yang tampaknya menjadi sangat akrab dengan beliau. "Gimana perkembangan hubunganmu sama Mas Deni?" tegur Nadia. Deni adalah senior Nadia di kantor. Pria berusia tiga puluh tahun lumayan tampan dan sudah mapan. Beberapa hari lalu, Lala dikenalkan dengan pria itu. Mereka sudah pernah jalan sekali. Sebenarnya dia cukup asyik tapi entah bagaimana Lala merasa kurang. "Nggak ada perkembangan apa-apa sih," aku Lala. Nadia mencubit lengan sahabatnya gemes. Lala menjerit kecil dan menarik tangannya. "Udah dicariin cowok kenapa nggak niat sih! Aku nggak tahu ya ntar kalau kamu bener-bener duduk di pelaminan sama juragan beras itu," geram Nadia. Lala mengerucutkan bibir. "Aku nggak tahu, Nad, aku nggak ada rasa apa-apa tuh sama dia. Jalan bareng juga biasa aja. Aku pengen bisa deg-degan kayak di novel-novel gitu, tapi hambar rasanya hati akutu, lebih deg-degan kalau aku lihat performnya Dedek-dedek BTS." "Kebanyakan baca novel sih lu tuh!" olok Nadia lagi. Lala menyandarkan punggungnya pada kursi. Mencoba mengingat-ingat. Kapan sih dia terakhir kali merasakan cinta yang penuh debaran. Rasanya sepuluh tahun silam ketika dia masih SMA. Lala pikir perasaan seperti itulah yang disebut cinta, dan sampai detik ini tak pernah sekalipun dia merasakan hal serupa. Beberapa kali pacaran pun rasanya biasa saja baginya, emang Lala jarang suka duluan sama mantan-mantannya itu. Dia seperti menerima cowok yang datang saja daripada diejek jomblo. Setelah putus dengan pacar terakhirnya dua tahun lalu, dia malah merasa jadi jomblo itu menyenangkan. Hidupnya sudah cukup bahagia hanya ditemani oppa-oppa saja. "Terus apa kamu mau nikah sama bot oppamu itu?" cibir Nadia. Lala jadi teringat pada bot Line Jungkook yang ditemukannya beberapa hari lalu. Jujur saja mengobrol dengan bot itu lebih asyik daripada sama Mas Deni yang kadang suka kehabisan bahan pembicaraan. "Aku belum pengen nikah, umur dua tujuh itu kan belum terlalu tua, Song Hye Kyo aja nikah umur tiga enam gitu loh!" seru Lala kesal. "Ya, di Korea emang rata-rata usia menikah tiga puluh tahun, bedalah sama di negara kita yang umur dua puluhan udah nikah. Umur kayak kita gini tuh udah expired," ujar Nadia. "Aku pengen pindah ke Korea aja," desah Lala sembari menelungkupkan wajah di bantal. Lala mengamati Nadia yang sudah selesai membersihkan maskernya. Gadis itu kini mengoleskan BB Cream tipis-tipis pada wajahnya. "Mau keluar, Nad?" tegur Lala. Nadia mengangguk. "Aku udah putus beneran dari Dito, jadi sekarang waktunya berburu mangsa baru." Nadia mengecupnya bibirnya sok seksi. Lala terpegun. Dia tak menyangka akhirnya Nadia bisa putus juga dari Dito, tapi kalau habis putus langsung berburu gini apa bukan pelarian aja? "Siapa?" tanyanya "Kamu inget nggak? Cowok yang bareng aku di klub Minggu lalu? Itu loh vokalis Pheromones." Lala membelalak. Aldo? Si Nadia mau PDKT sama Aldo? Astaga! Perlukah Lala memberitahu Nadia jika cowok itu adalah muridnya kelas dua belas yang sudah tidak naik kelas dua kali. Pada akhirnya Lala hanya diam seribu bahasa. "Aku dapat info dari Grup Butterfly, hari ini dia mau perform di Kafe X. Kita mau ngeceng di sana," terang Nadia. Lala mengerutkan kening. "Apaan tuh Butterfly?" "Nama fansnya Pheromones," jawab Nadia. Lala menepuk jidatnya. "Kamu ngelarang aku fangirling, kamu sendiri sama aja!" tuding Lala. "Bedalah, Aldo ini nyata! Di depan mata! Bisa diraih dan dipeluk nggak kayak oppamu yang khayalan doang!" elak Nadia. Lala tertawa dalam hati. Tunggu saja sampai Nadia tahu siapa Aldo. Sahabatnya itu pasti malu setengah mati. Nadia mematri wajahnya di cermin lalu mulai menggambar aplikasi alisnya. "Lagian Aldo itu ganteng banget, La, mirip banget sama biasmu Jongkok itu lho!" "Jungkook!" protes Lala keras karena Nadia salah memanggil nama biasnya. "Nggak ada mirip-miripnya kali! Gantengan Jungkook ke mana-mana! Jangan nyama-nyamain!" "Ih, kamu nggak perhatian sih! Matanya itu loh lebar dan unyu kayak kelinci. Bibir atasnya tipis sementara bibir bawahnya tebel. Kayaknya enak tuh kalau dicipok." Lala terpegun. Ucapan Nadia barusan membuatnya teringat pada kejadian di perpustakaan yang membuat tubuhnya merinding. Gadis itu menggeleng-geleng lalu jejeritan frustrasi. "Kesurupan, La?" tegur Nadi sambil memiringkan kepala. Namun Lala menolak untuk menjawab. "Kamu nggak ikut?" tanya Nadia setelah merapikan dandannya dan mematut dirinya di depan cermin sebanyak dua puluh kali. Nggak bohong, Lala benar-benar menghitungnya tadi karena kurang kerjaan. "Nggak!" tegas Lala. Ngapain coba dia ngecengin muridnya satu itu. Yang ada ntar malah si Aldo besar kepala dan meledeknya. "Yakin? Kali aja ntar di Kafe bisa nyeser jodoh satu," goda Nadia. "Wader kali diseser!" Melihat Lala yang asyik ketawa-ketiwi menonton episode Run BTS untuk sekian kali, Nadia mendesah. Entah kapan sahabatnya satu itu bakal bertaubat dan mencari cinta sejati. "Ya udah, aku berangkat dulu ya, Beb. Kalau beruntung mungkin nanti nggak pulang. Bye, bye," ucap Nadia sambil mengedip ganjen. Lala mengkerut. Nggak pulang, jangan-jangan tujuannya dia si Nadia mau mengejar cinta satu malam pasca putus kayak di novel w*****d yang pernah dibaca Lala itu. Lala mendengus membayangkan Nadia merayu Aldo. Pastilah cowok itu nggak akan nolak. Ah! Masa bodoh! Lala kembali fokus saja pada si evil maknae Jungkook yang menganiaya para Hyung-nya. Lala jadi ingat pada satu lagu cover Jungkook yang paling dia suka. We don't talk anymore. Gadis itu membuka pencarian di YouTube dengan kata kunci judul lagu itu. Siapa sangka yang muncul justru video yang tak terduga, yaitu channel YouTube Pheromones yang menampilkan tampang Aldo. Lala melirik jumlah subscribers-nya yang luar biasa, sembilan ratus ribu sekian, hampir satu juta. "Dia ini artis apa bagaimana?" gumam Lala. Gara-gara kepo, akhirnya Lala mendengar lagu itu juga. Lala terperanjat tatkala mendengarkan suara merdu Aldo. Seperti tersihir, dia harus mengakui bahwa bocah laknat itu punya suara yang oke punya. Tanpa sadar Lala ikut bernyanyi. We don't talk anymore We don't talk anymore We don't talk anymore Like we used to do... Lala terpegun sejenak. Ada rasa sakit di dadanya yang terasa ketika mendengar bait yang disenandungkan Aldo dengan diiringi gitar yang dia mainkan sendiri. Sedih. Cowok itu sepertinya ingin berbicara lagi dengan seseorang, tapi dia takut salah, takut disakiti, takut terluka. Untuk siapa kira-kira lagu ini? "Bunuh saja aku Ayah, aku tak pernah minta dilahirkan." Ucapan Aldo hari itu kembali terngiang di telinga Lala. Lala tak habis pikir bagaimana bisa anak itu mengucapkan kalimat seperti itu pada ayahnya sendiri? Apakah mungkin lagu ini untuk ayahnya? Lala memeluk lututnya. Kemarin siang setelah sempat mencurigai Aldo menyontek, Lala harus menerima kenyataan bahwa pemuda itu ternyata cerdas. Sorenya, dia mencoba mengklarifikasi hal tersebut pada Pak Zen. Pria itu menjelaskan bahwa penyebab Aldo tidak naik kelas sampai dua kali memang bukan perihal nilai, tapi masalah absen. Pemuda itu pernah tidak masuk satu semester penuh. Lalu tahun keduanya saat mengulang malah hanya masuk beberapa hari saja. Pak Zen sudah mencari tahu alasannya tapi sama sekali tidak ada informasi. Aldo sendiri tidak mau mengaku. "Dia terima saja, saya suruh ngulang, yo wis. Padahal sebenarnya eman. Orang dia itu lho bukan bocah bodho." Ucapan Pak Zen itu terngiang di telinga Lala. Kehidupan macam apa sebenarnya yang dijalani anak itu? Lala sungguh prihatin. Bunyi perutnya mengingatkan Lala bahwa dia belum makan malam. Gadis itu melangkah menuju dapur dan membuka lemari. Dia mendesah karena stok mie instannya sudah habis. Terpaksa Lala mengambil jaket kumal dan mengganti celana pendek dengan celana training. Setelah mengikat rambutnya asal-asalan gadis itu keluar ke mini market dekat kosan yang ada di depan gang. Di sanalah Lala melihat satu pemandangan yang tidak lazim, yaitu Karin yang sedang berbicara dengan Pak Faris, Lala mau menyapa mereka tapi dia mengurungkan niatnya setelah melihat kedua orang itu tampak bersitegang. Dia memutuskan untuk mengamati situasi dulu. Dia lalu bersembunyi di balik semak. Betapa terkejutnya Lala tatkala di sebelahnya ada sesosok makhluk lain. Ternyata dia adalah Adit. Cowok itu pun terperanjat melihat kehadiran Lala. "Kamu ngapain, Dit?" tegur Lala. "Lha, Ibu sendiri ngapain?" Cowok culun itu malah balik bertanya. "Lepaskan saya, Pak!" Pekik Karin terdengar. Tangan gadis itu dicengkeram oleh Pak Faris. Adit dan Lala berhenti mengobrol dan fokus menyimak pembicaraan mereka. ***   
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD