Sore itu, Lusi pulang ke rumahnya dengan lesu. Ia semakin kecewa ketika sesampainya di rumah, ia tak mendapati Widuri di teras rumahnya.
"Biasanya mama ke sini tiap sore, tiap aku mau pulang kerja. Rasanya aku kehilangan ibu untuk yang kedua kalinya." Lusi melepas sabuk pengamannya dan berniat untuk keluar dari mobil. Namun, tiba-tiba saja pintu mobil di sebelah kiri terbuka dan masuklah seorang pria yang kini sudah duduk manis di sampingnya.
Pria itu terlihat sedikit kusam, wajahnya tampak menghitam dengan pakaian yang jauh dari kata rapi.
"Soni?!" Lusi memekik lantang ketika menyadari kalau pria yang duduk di sebelahnya kini adalah pria yang sudah lama ia cari.
Pria itu tersenyum, lalu ia membungkukkan badannya seolah ia akan mencium Lusi. Gadis itu terdiam, tetapi yang Soni lakukan adalah menarik pintu mobil yang sebelumnya dibuka Lusi dan menutupnya.
"Apa kabar?" tanya Soni dengan suaranya yang terdengar berat.
Lusi menatap Soni dengan tatapan tak percaya, matanya mulai berkaca-kaca dan lalu terjatuh dengan isak tangisnya yang terdengar manja.
"Kok malah nangis?" tanya Soni kebingungan.
Lusi memukuli d**a Soni, dengan pelan. Tangan pria itu lalu menangkap dan menggenggam tangan Lusi, kemudian ditariknya tangan itu sampai tubuhnya terjatuh di pelukan Soni.
"Ssssttttt. Jangan nangis. Maafin aku," ucapnya pelan.
"Kamu jahat banget, sih. Aku nyariin kamu ke mana-mana." Lusi menangis, tetapi juga menikmati pelukan dari Soni.
Soni melepas pelukannya, dan lalu menatap Lusi dengan kening berkerut. "Kamu nyari aku?"
Lusi mengangguk.
"Kenapa?" tanya Soni menggoda.
Lusi mencubit perut Soni, pria itu mengaduh kesakitan, tetapi juga tersenyum senang.
"Ya wajar kan aku tanya? Kamu yang minta putus, kenapa juga kamu nyari aku? Kenapa juga nangis-nangis begini?" Pria itu semakin bersemangat menggoda wanita di depannya.
Lusi menyeka air matanya.
"Aku takut kamu kenapa-napa."
"Terus, sekarang udah lihat aku baik-baik aja begini. Kamu nggak ada niatan buat ngajak aku balikan gitu?"
Lusi terkekeh pelan.
"Tanya aja."
"Tanya apa?" tanya Lusi bingung.
"Tanya apa aku mau jadi pacar kamu lagi. Aku akan langsung jawab 'ya'."
Lusi dan Soni kemudian tertawa terbahak-bahak bersama. Lalu keduanya saling bertatapan.
"Kamu ke mana aja selama ini?" tanya Lusi, suaranya terdengar begitu lirih.
Bermodal rasa rindu dan khawatir yang begitu menggebu di dalam d**a, Lusi tak peduli lagi dengan rasa gengsi. Yang ingin ia lakukan adalah memberikan perhatian pada pria yang kini duduk di sampingnya, ia tak ingin kehilangan pria itu lagi. Ia juga berjanji pada dirinya sendiri kalau ia tak akan mengambil keputusan sepihak lagi.
"Aku kerja," jawab Soni pelan.
Lusi kecewa mendengar jawaban Soni, tetapi ia tak bisa marah. Ia ingin menghargai pria itu.
"Kamu bener-bener mau putus kuliah?"
Soni menggeleng. "Aku akan kuliah lagi, entah semester depan atau semester depannya lagi. Tapi yang jelas, aku sekarang kerja biar aku bisa segera mantasin diri buat halalin kamu."
Lusi tersenyum, merasa tersentuh dengan ucapan Soni. Gadis itu lalu menatap wajah kusam Soni yang membuatnya merasa iba pada pria muda itu.
"Kamu kerja apa? Sekarang jelek banget."
Soni tersenyum. "Aku jadi kuli panggul selama sebulan ini. Gajinya lumayan, aku tabung selama ini. Aku niatnya mau buka usaha, tapi nggak tahu juga dengan uang yang nggak seberapa ini mau usaha apa. Mungkin aku akan kerja dulu lagi aja, buat ngumpulin modal. Aku ke sini karena aku bener-bener kangen sama kamu. Aku udah bersiap kalo kamu akan marah, aku nggak peduli, asal aku bisa ketemu sama kamu."
Lusi semakin tersentuh dengan pengakuan Soni. Gadis itu menggeleng dengan air mata yang kembali menetes.
"Aku juga kangen sama kamu, aku khawatir banget sama kamu. Aku udah nyari kamu ke mana-mana selama ini. Aku nyari kamu sama mama, tapi semalem mama minta untuk berhenti cari kamu."
"Mama? Maksud kamu mama aku?"
Lusi mengangguk. "Iya, selama ini aku sama mama cari kamu. Tapi semalem tiba-tiba mama minta buat mengakhiri usaha kami. Aku awalnya nggak mau, tapi mama bilang, kamu bukan barang. Kalo kamu ada niat buat kembali, kamu pasti kembali, nggak perlu dicari. Siapa sangka sekarang kamu nyamperin aku duluan."
Soni tersenyum ringan, tetapi hatinya tengah merasa senang, sangat senang malah. Bagaimana tidak, ia mendengar kalau wanita yang ia sayangi bisa dekat dengan ibunya. Sementara ia tahu kalau san ayah tak memberi restu, setidaknya ada seseorang yang mendukung hubungannya dengan wanita yang lebih tua 5 tahun darinya itu.
"Kamu senyum?" tanya Lusi kesal.
Soni malah tersenyum semakin lebar.
"Aku sama mama cari kamu ke mana-mana. Mama sampe sedih banget, mama kangen sama kamu, mama khawatir sama kamu. Dan sekarang kamu malah senyum begini?!"
"Aku seneng karena kamu bisa deket sama mama. Aku nggak nyangka kalau mama mau ngerestuin hubungan kita. Kamu tahu sendiri aku pergi dari rumah karena orang tuaku nggak setuju dengan hubungan kita. Seenggaknya mama udah setuju, tinggal kita cari tahu gimana caranya biar papa juga setuju."
Lusi menatap Soni dengan tatapan datar, ia memikirkan ucapan pria itu.
"Terima kasih, ya, karena kamu udah sama mama selama ini." Soni menyentuh pipi Lusi menggunakan tangan kanannya, Lusi menyadari tangan itu terasa begitu kasar.
"Ayo masuk, nanti aku telepon mama dan bilang kalo kamu ke sini."
Soni menggeleng. "Aku malu ketemu sama mama dengan kondisi begini."
"Malu? Sama ibu kamu sendiri? Kamu lebih mentingin gengsi ketimbang perasaan ibu kamu sendiri? Mama udah nyari kamu ke mana-mana, kamu nggak tahu gimana capeknya mama harus ke sana ke mari, cuma buat kamu. Dan sekarang kamu bilang kalo kamu malu?"
Lusi merasa kecewa pada Soni. Pria itu mengganti posisi duduknya, kini ia menatap lurus ke depan dengan tatapan kosong.
"Mama nemuin aku di kampus waktu aku baru pergi dari rumah." Soni mulai bercerita, Lusi mendengarkan dengan seksama.
"Mama kasih aku uang, tapi aku tolak. Aku mau buktiin sama mama sama papa kalo aku bisa bertahan tanpa uang mereka. Tapi sekarang ... aku milih nggak kuliah dan malah sibuk kerja, aku malu kalo harus ketemu sama mama dengan kondisi seperti ini."
Lusi akhirnya paham tentang apa yang Soni pikirkan saat ini. Wanita itu menghela napas panjang sebelum akhirnya meraih tangan Soni dan menggenggamnya.
"Nggak ada yang lebih penting bagi seorang ibu selain melihat anak-anaknya bahagia. Mama nggak akan tega lihat kamu kelaparan, wajar kalo mama datang nemuin kamu dan ngasih uang ke kamu. Tapi nggak seharusnya kamu ngehindarin mama begini. Mama kangen sama kamu, Son."
Soni menatap Lusi dengan tatapan nanar. "Aku juga kangen sama mama."
Bersambung...