Cinta Tak Bermata 17

1108 Words
Lusi akhirnya menghubungi Widuri dan mengajak wanita itu untuk bertemu di rumahnya, tetapi ia tak langsung mengatakan kalau ada Soni di rumahnya. "Kamu telepon mama?" tanya Soni setelah menyeruput kopi panas buatan kekasihnya. Lusi mengangguk. "Iya, jangan kabur. Temuin mama dan obati kangennya." Soni menyeringai, ia merasa senang karena Lusi begitu perhatian pada ibunya. Lusi menatap Soni, memperhatikan penampilan pria itu, benar-benar berubah drastis, sangat berbeda dari Soni yang dulu ia kenal. "Kamu tinggal di mana? Kenapa tinggalin kos yang lama? Kan udah dibayar, sayang duitnya kan, kamu sampe jual hape segala." Soni menganggukkan kepalanya. "Aku lebih sayang sama kamu." Lusi menyeringai. "Gombal!" "Serius!" "Serius kalo lagi gombal?" tanya Lusi dengan mata menyipit. "Kok tahu?" Lusi kemudian mengambil bantal sofanya dan lalu melemparnya ke Soni. Keduanya lalu mengobrol dan saling bercanda sembari menunggu kedatangan Widuri. "Nikah, yuk." Soni tiba-tiba nyeletuk, mengajak Lusi untuk menikah. "Jangan gila." "Why? Kamu nggak mau punya suami kere?" "Ih, ngomongnya gitu terus. Kamu harus lulus kuliah dulu baru kita nikah." Lusi mengerutkan keningnya. "Terus, kamu mau bilang kalo aku nggak lulus kuliah, kita nggak nikah?" Lusi terdiam, matanya berkedip secara teratur. "Aku mau kita menikah. Aku kesepian, Lus." Soni berbicara lirih, ia memang tulus ingin mengajak Lusi untuk menikah. Lusi terdiam, ia masih tak tahu harus berkata apa. Suara mobil terdengar, itu adalah mobil taksi yang dikendarai oleh Widuri. Lusi langsung beranjak dan kemudian menyambut kedatangan ibunda kekasihnya itu dengan senyum lebar. "Kamu sakit?" tanya Widuri yang baru saja turun dari mobil. Lusi menghampiri Widuri dan lalu memeluknya. "Kamu mau ke rumah sakit? Sekarang?" Widuri masih tak tahu kalau ada Soni di dalam rumah. Lusi melepaskan pelukannya, dan lalu menatap Widuri dengan manja. "Ayo masuk." "Kamu sakit? Kenapa minta mama ke sini buru-buru? Kalo sakit, kita ke rumah sakit sekarang." Widuri tampak begitu perhatian dengan Lusi. Gadis itu menggeleng. "Lusi laper, pengen makan bareng mama." Sebuah pukulan keras tiba-tiba mendarat di punggung Lusi, membuat gadis itu berteriak kesakitan. Saking tak percaya dengan apa yang Widuri lakukan, gadis itu sampai tak bisa berkata apa-apa. "Mama pikir kamu sakit, makanya minta mama ke sini buru-buru. Mama sampe khawatir di sepanjang jalan. Mama pikir kamu kenapa-napa!" Widuri mengomel. Air mata Lusi lalu menetes begitu saja, gadis itu kembali memeluk ibunda kekasihnya. Ia merasa tersentuh dengan apa yang Widuri lakukan, seolah ia memiliki ibu setelah bertahan-tahun hidup sendiri. "Lusi sayang Mama." Kali itu Widuri mencubit p****t Lusi, tak terlalu keras. "Lain kali mama akan pukul pake sapu kalo kamu buat mama khawatir lagi." Lusi tersenyum, ia tak ingin melepas pelukan itu, sangat hangat dan sangat nyaman. "Mau sampe kapan kamu meluk mama seperti itu? Mama bisa sesak napas kalo kamu peluk begitu. Kalo mau peluk, peluk aku aja." Suara bariton milik Soni tiba-tiba terdengar, membuat Widuri menoleh seketika ke arah sumber suara. Perlahan Lusi melepas pelukannya, Widuri membuka mulutnya lebar-lebar, tak percaya dengan ia lihat. Kakinya melangkah pelan, menuju ke pintu rumah Lusi. Mata wanita itu berkaca-kaca, walaupun anaknya terlihat kusam dan acak-acakan, ia senang melihat anaknya baik-baik saja. Ada perasaan lega di dalam hatinya, baginya kesehatan Soni jauh lebih penting, asal anak bungsunya itu baik-baik saja, itu sudah cukup baginya. Widuri sempat merasa lelah dengan usahanya untuk menemukan anaknya yang satu itu, ia bahkan tak ingin mencarinya lagi. Namun, kini Soni lah yang datang terlebih dahulu padanya. Ibu dan anak itu berpelukan, di teras rumah Lusi, disaksikan sang pemilik rumah, keduanya berpelukan cukup lama. Widuri bahkan mencium pipi Soni berulang kali, kanan dan kiri secara bergantian, Lusi tertawa melihatnya. "Ma, Soni bukan anak kecil. Jangan ciumin begitu, Soni maunya dicium Lusi, bukan Mama." Widuri tertawa dengan air mata yang masih menetes. "Yang tegas, dong, Ma. Mau nangis apa mau ketawa? Kalo mau nangis ya nangis dulu, kalo mau ketawa ya ketawa dulu. Jangan nangis sambil ketawa," ucap Soni yang terus menggoda sang ibu. Widuri lalu mencubit perut sang anak, Soni mengaduh kesakitan, Lusi tertawa terbahak-bahak melihat pertemuan mengharukan anak dan ibu itu. Lusi lalu mengajak Widuri dan Soni masuk, lalu ia pergi ke dapur untuk membuat teh hangat untuk Widuri. Namun, sebenarnya tujuan utamanya adalah memberi waktu untuk ibu dan anaknya itu untuk saling melepas rindu. Di ruang tamu, Widuri duduk tepat di samping anaknya, sembari terus menggenggam tangan anak bungsunya itu. "Sepertinya kamu makan enak, berat badan kamu pasti nambah." Widuri berkata lirih. Soni mengangguk. "Hm! Pastinya. Aku makan banyak, karena aku kerja pake otot. Jadi aku makan yang banyak biar bisa terus kerja." Widuri mengelus punggung anaknya. "Capek? Mau mama pijitin?" Soni mengerutkan keningnya, lalu memajukan bibirnya dengan manja. "Nggak mau." "Kenapa?" "Mama mana bisa mijitin, kalo mukul, Soni percaya Mama jagonya." Widuri kemudian mencubit paha Soni dan lalu memukul lengan anaknya itu. "Sakit, Ma." Dari dapur, Lusi bisa mendengar obrolan kekasih dan ibunya, ia tersenyum senang. "Kamu tinggal di mana selama ini? Ngapain aja?" "Soni kerja jadi kuli panggul, di toko gede, lumayan jauh dari sini. Soni juga tidurnya di gudang sana, sama pekerja yang lain juga. Makanya nggak pernah pulang ke kos." Soni menjawab dengan serius. "Makannya gimana? Teratur, kan?" "Tenang aja, Ma. Soni makan yang banyak, sehari 3 kali, kadang juga 5 kali, sih." Widuri dan Soni saling bertatapan, dan lalu sama-sama melempar senyum. "Kenapa perginya lama sekali? Emang nggak takut ada cowok lain yang deketin Lusi? Nggak takut kalau Lusi punya pacar baru?" ledek Widuri. Soni menunduk malu. "Sebenernya Soni juga nggak mau pisah, tapi Lusi malah ngajakin putus." "Terus ... kamu kabur?" "Mana ada, Soni pergi kerja, biar punya duit, buat halalin Lusi!" Soni berkata lantang dan tegas. Dari dapur, Lusi segera berjalan dengan cepat, di tangannya ada secangkir teh hangat. Namun, gadis itu datang dengan mata yang melotot tajam pada sang kekasih. "Halalin Lusi? Maksudnya kamu mau nikahin Lusi?" tanya Widuri bingung. "Iya." Soni menjawab tegas, matanya menatap lurus ke Lusi tanpa ada keraguan di sana. "Yah!" teriak Lusi. "Apa?" "Lamaran macam apa itu?" "Aku nggak ngelamar kamu." "Terus?" "Entahlah." Lusi menyeringai, Widuri tersenyum melihat tingkah anak dan kekasih anaknya itu. "Duduk sini, Sayang." Widuri meminta Lusi duduk di samping kanannya, sementara Soni duduk di samping kirinya. Lalu kedua tangan itu meraih masing-masing satu tangan orang di sampingnya. "Apapun keputusan kalian, mama akan dukung. Mama ngerestuin hubungan kalian." Soni tersenyum senang. Lusi langsung memeluk wanita di sampingnya itu. "Terima kasih, Ma." "Jangan senang dulu. Ini semua nggak gratis." Lusi melonggarkan pelukannya, lalu menatap Widuri dengan tatapan penuh tanya. "Apa syaratnya?" tanyanya pelan. "Syaratnya, kamu harus bagi-bagi Soni sama mama. Awas aja kalo kamu habisin sendiri anak nakal ini, mama juga mau." Widuri kembali melempar candaan, suasana ruang tamu itu terdengar ramai, gelak tawa Lusi menggema mengisi ruangan. Rumah yang biasanya sepi, malam itu menjadi ramai, dipenuhi kebahagiaan. Bersambung...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD