Sudah lebih dari satu jam Widuri berbincang dengan Lusi dan Soni dengan obrolan ringan. Wanita itu lalu menggiring keduanya untuk berbicara serius mengenai masa depan keduanya. Sebagai ibu, ia ingin melihat anaknya hidup bahagia, ia akan melakukan yang terbaik pada anak-anaknya.
"Apa yang akan kamu lakuin mulai sekarang? Apa kamu serius ingin menikahi Lusi?" tanya Widuri pada anak bungsunya. Lusi mendengarkan dengan seksama.
Soni mengangguk. "Tapi nggak sekarang, Ma."
"Kenapa?"
Soni mengendikkan bahunya. "Tunggu kondisi Soni lebih baik dari sekarang."
"Tadi ngajakin aku nikah," celetuk Lusi, gadis itu mencebikkan bibirnya.
Soni tersenyum. "Mana berani aku? Kondisi keuangan aku masih minus, aku mau kamu kasih makan pake apa?" Pria itu terlihat serius kali ini.
Widuri mengangguk paham. "Jadi ... kamu masih mau pacaran dulu?"
Soni menggeleng. "Soni sama Lusi kan nggak pacaran, Ma. Lusi udah mutusin Soni sebulan yang lalu." Kali ini Soni kembali melayangkan candaan lagi, Lusi menyeringai.
"Oh, jadi kamu nggak mau jadi pacar aku lagi?"
Soni tak menjawab, Lusi lalu menyipitkan matanya. "Baiklah, aku pacaran sama mama aja." Gadis itu lalu memeluk wanita yang kini duduk di sampingnya.
Widuri menikmati pelukan yang diberikan Lusi untuknya, ia tersenyum senang.
"Mama mau kamu tetep kuliah. Mau kamu nikahin Lusi sekarang, besok, lusa atau tahun depan. Mama nggak mau kalo kamu berhenti kuliah, Son." Widuri berbicara dengan suara pelan.
Soni mengangguk.
Widuri lalu menggenggam tangan sang anak. "Kamu mau usaha apa? Bilang sama mama, biar mama kasih modal buat usaha kamu itu. Asalkan kamu bisa lanjut kuliah lagi."
Soni menatap ibunya dengan perasaan bersalah.
"Jangan tolak mama kali ini. Yang pertama, mama nggak akan kasih kamu ini secara cuma-cuma. Anggep aja mama lagi investasi sama kamu, kamu harus buat mama terima keuntungan suatu saat nanti. Yang kedua, kamu juga harus pikirkan masa depan kamu sama Lusi. Mau sampe kapan kamu jadi kuli panggul? Kamu mau ninggalin Lusi lagi? Mama pernah ketemu sama mantan pacarnya yang masih suka sama dia. Kamu nggak takut ada pria lain yang deketin calon istri kamu ini?" Widuri berbicara panjang lebar.
Soni begitu terkejut ketika mendengar ibunya bertemu dengan mantan kekasih Lusi-Samuel.
"Mama ketemu sama samuel?" tanyanya dengan suara lirih. Selama ia pergi, ia memang khawatir kalau Samuel masih berusaha menemui Lusi, apalagi terakhir kali pria itu dipukulinya.
Soni kemudian menatap Lusi, tatapan yang penuh dengan tanda tanya.
Lusi menatap Soni tanpa ragu. "Samuel datang kapan hari, kebetulan mama ada di sini. Mama bilang kalo aku sama kamu mau nikah, terus ngancem dia bakalan dilaporin polisi kalo masih ke sini buat nemuin aku lagi." Gadis itu mencoba menceritakan bagaimana Widuri bisa bertemu dengan Samuel.
"Gimana? Kamu nggak akan ninggalin Lusi sendiri lagi, kan? Kemarin-kemarin ada mama yang tiap hari ke sini. Tapi, mama nggak bisa ke sini setiap hari. Papa kamu mulai ngelarang mama pergi setiap hari."
Soni mengembuskan napas panjang. Ia benar-benar dilema.
Di satu sisi ia masih ingin bekerja, mengumpulkan banyak uang, karena ia ingin segera mempersunting Lusi. Ia butuh banyak uang untuk itu, kuliahnya bukan lagi menjadi prioritasnya. Namun, di sisi lain, ia merasa khawatir jika harus meninggalkan Lusi seperti yang ia lakukan sebelumnya. Beruntung Samuel tidak menemui Lusi dan melakukan hal yang tidak-tidak pada gadis itu. Namun, ia tak bisa tenang jika memikirkan bagaimana mantan kekasih Lusi itu masih begitu terobsesi pada gadis itu.
Soni menggaruk kepalanya berkali-kali, memikirkan keputusan apa yang akan ia ambil. Ia masih tidak ingin menerima bantuan dari ibunya, tetapi ia juga tak ingin berpisah lagi dari sang kekasih.
"Terima saja uang yang akan mama kasih buat kamu. Kamu bisa balikin kapan aja, kalo kamu udah sukses nanti. Kamu bisa pake uang itu buat usaha, jadi Lusi nggak perlu kerja di restoran orang lagi. Kalian bisa kerja bareng, bisa ketemu tiap hari. Bukannya itu yang kamu mau?" Widuri berusaha keras untuk merayu anaknya agar mau menerima bantuan darinya.
Lusi hanya diam, ia tak ingin ikut campur, ia akan menerima semua keputusan sang kekasih.
Soni menatap ibunya dan kekasihnya secara bergantian, memikirkan banyak hal sampai ia harus menggaruk kepalanya beberapa kali.
"Tunggu, Mama mau pinjemin duit berapa banyak? Soni aja masih nggak tahu mau usaha apa."
"Mama akan kasih semua yang kamu minta. Kamu mau usaha apapun, mama akan kasih modalnya."
Soni dan Widuri saling tatap lagi dengan bibir yang kelu.
Hingga beberapa menit kemudian. "Soni masih nggak tahu mau usaha apa, Ma."
"Gimana kalo kalian buka restoran aja?" tanya Widuri, wanita itu lalu menatap Lusi dengan kedua alis yang terangkat.
"Ma, buka restoran itu nggak mudah." Soni mengeluh lirih.
"Kan ada Lusi."
Soni lalu menatap Lusi, gadis itu hanya tersenyum canggung. Ia sendiri tak tahu, ragu dengan kemampuannya.
"Iya kan, Lus? Kamu mau kan, buka restoran sama Soni?"
"Tapi buka restoran itu butuh modal yang nggak sedikit, Ma."
"Mama punya banyak uang." Widuri terlihat mengotot.
Lusi menggigit bibir bawahnya, ia masih merasa bingung.
"Gimana kalo kita buka warung makan kecil-kecilan dulu, aja, Ma. Atau bisa buka kafe, yang skalanya masih kecil aja. Kalau untuk restoran, Lusi masih ragu kalo harus mulai dari awal."
Widuri mengangguk. "Mama nggak masalah. Terserah kalian. Gimana, Son?"
"Soni setuju sama Lusi, Ma. Dia udah pengalaman jadi manajer restoran, dia pasti bisa ngurus usaha kami nanti dengan baik."
"Baiklah. Kalo gitu, kalian mulai siapin semuanya dari sekarang. Kalo anggaran dana udah ditentukan, bilang ke mama, mama akan kasih uangnya ke kalian."
"Tapi janji ya, Ma. Uang itu hanya untuk dipinjamkan ke Soni, Soni nggak mau terima itu sia-sia."
Widuri mengangguk.
"Iya. Masalah pekerjaan udah selesai, sekarang giliran kita mikirin kamu mau tinggal di mana. Kamu nggak mungkin mau balik ke gudang di mana kamu kerja jadi kuli panggul itu, kan?" tanya Widuri.
Soni tersenyum menyeringai. "Maunya Soni tidur di sini aja."
"Kamu mau mama pukul pake sapu, atau sepatu?"
"Nah itu, Soni tahu, mama pasti bakalan mukulin Soni."
"Jangan ngelewatin bates! Tunggu sampai kalian menikah!"
Lusi tertawa melihat Widuri meneriaki Soni, pria itu mirip anak kecil yang ketahuan mencuri makanan temannya. Ia tak menyangka, selama ini ia tak pernah berpikir bagaimana sikap Soni di rumah. Yang ia tahu, sang kekasih adalah pria tampan yang sudah mau bekerja di usia muda, walaupun itu hanya paksaan dari orang tuanya. Pria tampan yang ia pikir memiliki kehidupan sempurna, ternyata hanyalah seorang anak manja ketika di depan ibunya.
"Akankah aku sama Soni bisa berhasil dengan usaha yang akan kami bangun dari nol itu?" batin Lusi. Gadis itu merasa khawatir dan cemas pada masa depan sang kekasih. Karena sukses tidaknya Soni, maka akan berpengaruh pada nasibnya ke depan. Jika Soni sukses, maka ia juga ikut berbahagia.
Bersambung...