Bayiku

1916 Words
huuuuf. .... panas, gerah, gatal, nikmat sekali rasanya, semua rasa Nano - nano, dengan perut besar, aku menjajakan makanan di sepanjang jalan trotoar, rasa malu sudah tak ada lagi, aku lakukan semua ini demi buah hatiku. aku perlu biaya persalinan dan biaya lain -lain, aku tak bisa mengandalkan uang Ayah, atau pun kebaikan Andi. Usaha loundryku tidak berjalan dengan baik, selalu saja tambal sulam dan hasilnya pun, nihil. terpaksa aku turun kejalan berjualan kue basah keliling kampung bahkan sampai di lampu merah pula. Sebagian kue aku buat sendiri di bantu Ayah, sebagian dari tetangga yang menitipkan jualannya padaku. hasilnya alhamdulillah, aku bisa menabung untuk biaya persalinanku nanti. Pagi buta, aku berkeliling kampung, hitung-hitung olah raga sambil cari rezeki, sebenarnya Ayah sudah sangat sering melarang ku berjualan keliling, tapi aku selalu berdalih "sekalian olah raga" dan akhirnya Ayah menyerah dengan keras kepalaku. Andi pun sama dengan Ayah, tapi andi berbeda dia tak pernah menyerah, pernah sekali waktu jualanku diborong semua olehnya. "Rindu, gak usah jualan lagi, biar aku yang menanggung semua biaya hidupmu, kamu gak perlu kaya gitu, lihat perutmu semakin membesar, jangan cape - cape Ndu, aku gak selalu ada di samping kamu, kalo kamu melahirkan di jalan bagaimana? Andi mengomel tanpa jeda.di sore yang cukup panas ketika kami seperti biasa di halaman rumahku. "Tenanglah, dokter Andi, aku akan baik -baik saja kok, kamu gak perlu doain aku yang gak bagus gitu dong" aku gak mau kalah dengan omelannya itu. perutku semakin membesar, satu bulan lagi anakku lahir, aku tahu biaya melahirkan tidaklah sedikit, aku tak bisa terus menerus menerima uluran tangan Andi, sudah terlalu banyak aku menerima bantuannya, terkadang aku kesal dengan Juan, apakah dia tak pernah sekalipun ingat padaku? apakah dia memang sudah sangat membenciku sampai ke akar - akarnya? sungguh aku tak bisa berfikir jernih jika Juan mulai melintasi otakku. sedang apakah dia di sana? berbahagiakah dia bersama Meranti? i hope ... aku harap.mereka berbahagia. Sepertinya sangat sulit untukku menutup cerita tentangku dan Juan, tapi aku harus melupakannya, dia bukan hakku lagi, aku tak akan mengambil yang bukan hakku, kesalahan Juan tertutup dengan rasa cintaku padanya, dua tahun lamanya kami bersama, dan dua tahun itu pula aku tak tahu jika Juan dan Meranti belum bercerai, dua tahun bagai seribu tahun untukku, banyak cinta yang Juan berikan padaku, banyak kasih di antara kami dan anak ini adalah hasil kasih dan dosa kami, dosa yang nikmat dan indah. Ah .... bayangan itu muncul, kenikmatan itu ku rasakan di sekujur tubuhku,belaiannya, cumbuannya serasa begitu nyata, tapi .... nyatakah? atau mimpi ? jika mimpi aku tak ingin membuka mataku, jika nyata kan ku usir Juan dari hadapanku, aku tak ingin menyakiti Meranti. perlahan. ku picingkan mataku, ternyata .... ini mimpi, aku tertidur di atas sofa, ingin rasanya membenamkan mataku lagi dan melanjutkan mimpi yang tadi. ******** Sudah sejak siang aku merasakan hal yang tidak mengenakkan pada perutku, sebenarnya hal ini sudah sering terjadi namun segera hilang, kali ini sakitnya sangatlah dahsyat, Apakah sudah waktunya aku melahirkan? "jika mulasnya sering lihat jam jika masih satu jam sekali berarti masih jauh, jika sudah sering per lima menit, pergilah ke rumah sakit atau telfon aku" ujar Andi waktu itu. Aku seperti orang tak waras bolak balik di dalam kamarku, aku tak ingin Ayah ikutan panik, ku perhatikan jam dinding di kamar, masih satu jam sekali, berarti aku masih punya waktu untuk menyiapkan pakaianku. Rasa tak nyaman itu datang lagi, kali ini lebih hebat ku lihat jam dinding, sepuluh menit sekali, ku tarik nafas panjang - panjang, oke.... its time, jarak antara Rumahku dan RSIA lumayan jauh, jika jalan nanti akan terkendala di jalan, hari kerja jalanan pasti macet, ku cari Ayah di sekeliling Rumah, tapi tak ada, entah Ayah pergi kemana, aku sudah tak bisa menunggu Ayah pulang, di malam yang gerimis terpaksa aku pergi ke RSIA sendirian, hanya Allah yang setia menemaniku. Angkot sangat susah ku dapat, tukang ojek pun sama, aku berjalan pelan di udara malam dengan gerimis dan petir yang sambung menyambung, aku harus kuat, aku pasti bisa, harus bisa demi anakku. tak ada pengharapan selain Allah, ini semua keputusanku, aku yang tak ingin Juan tahu kehamilanku, tak mungkin aku menghubunginya. Andi? haruskah aku menelfonnya ? Tidak ... tidak .... kali ini aku harus benar - benar berjuang sendiri, sudah cukup aku merepotkannya. angin semakin kencang, Hujan turun dengan derasnya, dengan perut yang sudah sangat sakit, sepertinya aku tak bisa mencapai Rumah Sakit tepat waktu, aku sudah pasrah terserah Allah saja, aku sudah tak kuat lagi, hatiku sudah penuh dengan syahadat, jika habis waktuku aku sudah siap, lillahi ta'ala, terserah Allah saja, sungguh aku sudah tak kuat dengan sakit yang maha dahsyat ini. "Ampuni aku ya Allah, ampuni semua kesalahanku ya Rob, Jika masih ada waktuku di dunia bantu Aku ya Allah, Jika hari ini hari terakhirku di dunia, maka selamatkanlah anakku " ucapku dalam derasnya hujan. pandanganku mulai kabur, aku tak dapat melihat siapapun, kepalaku mulai berputar, dan akhirnya .... aku tumbang. fix aku tumbang, hari terakhirku di dunia.aku ikhlas, aku pasrah. "gak ada waktu, harus SC, minta suaminya tanda tangan" sayup - sayup ku dengar suara bising. Di mana aku? alam barzahkah? atau .... sungguh aku takut me,buka mataku, aku takut jika harus membuka mataku dan malaikat ada di hadapanku, tapi perutku sangat sakit, bahkan lebih dahsyat dari sebelumnya. "sayang, sabar nak Mamah tahu kamu mau lahir, tapi tolong, bantu Mamah nak, bantu Mamah ya sayang" ku usap perutku yang sangat kencang,seperti sedang menunggu waktu meledak saja. "Dok, pasien sadar dok, sebaiknya dokter lihat dulu" ku lihat suster tampak panik. "panggil suaminya, sudah waktunya, harus SC, pasien gak ada tenaga, berbahaya untuk keduanya" ucap sang dokter "Dok .... dokter. ..." "Tenang ya bu, gak pa-pa kita Bantu yang terbaik" ucap seorang bidan. sebenarnya aku Hanya ingin bilang, aku sendirian, aku tak punya suami, entah siapa yang menolong dan mengantarku ke klinik ini, yang pasti dia bukan suamiku, jangan biarkan dia bertanggungjawab, terlambat sosok itu sudah memasuki ruangan, entah siapa dia, aku tak terlalu jelas, pandanganku terhalang perut. "lakukan yang terbaik dok "Juan .... itu suara dia. Rasa mulasku semakin kencang, aku mulai menarik nafas panjang, posisi kepalaku mulai di naikkan ku lihat wajah Juan yang pucat pasi, tangannya menggenggam tanganku dengan erat, anak kami sepertinya tahu papahnya datang, reaksinya menjadi lebih cepat. dan akhirnya lahirlah jagoan kami dengan tangisan super kencang, alhamdulillah, puji syukur anakku lahir dengan selamat dan sehat, tak perlu SC. "adzani pak " pinta seorang bidan. Juan pun menggendong dan mengadzani anak kami, tangannya bergetar hebat, suaranya penuh keharuan, sudut matanya mulai berkaca - kaca. Selesai Tugas pertama Juan untuk anak kami. Air mataku meleleh, tak ku sangka Juan menyelamatkan aku dari hujan angin, entah bagaimana ceritanya dia sampai menolongku, aku yakin Allah yang menuntunnya. Ruang perawatan kelas tiga, tak apa lah, jadi banyak teman, Juan dengan diamnya masih setia menemaniku sampai aku masuk ruang perawatan, sebenarnya banyak rasa yang menyeruak dalam hati ini, ingin rasanya ku peluk dirinya, aroma tubuh nya begitu ku suka, tapi .... aku gak mungkin melakukan semua itu, dia milik meranti. Allah, bantu aku melupakannya? Allah mengapa kau hadirkan lagi dia di hadapanku jika hanya untuk membuka kesedihanku. aku gak boleh nangis, ayo Rindu, kamu kuat, jangan nangis, jangan baper, ingat dia bukan milikmu. "terimakasih " ucapku padanya. "minumlah biar ada tenaga" perintah juan, dia berusaha membantuku meminum teh manis hangat dengan sedotan.mata itu, mata elang yang dulu selalu menerkamku, kini tak ada cahaya lagi, badan yang dulu kekar dan d**a bidang yang dulu selalu aku mainkan saat usai bercinta, kini tubuh itu kurus , tak bahagiakah kau dan Meranti? "Pulanglah, keluargamu menunggu mu " ada sakit di d**a ini ketika mengatakan hal itu, seharusnya saat ini kami bahagia, seharusnya saat ini kami menjadi orangtua sempurna. pergilah Juan, pergilah jangan sampai kau melihat air mata dan kesedihanku. Perjuangan panjang, aku lelah, hatiku campur aduk seperti gado - gado mak iyon. ada bahagia, kesedihan semua jadi satu, aku tak pernah membayangkan melahirkan di temani Juan, ternyata Allah kirim dia padaku, bukan hanya menemaniku, tangan kekarnya dengan erat menggenggam jemariku, semula aku harus menjalani SC, ternyata Allah menggerakkan anakku dengan lincahnya di jalan lahirku, sepertinya dia tahu ada papahnya bersamanya, ada papahnya yang akan mengadzani dan membacakan iqomah di telinganya. karena rasa yang campur aduk ini, akhirnya aku terlelap, betapa lelah dan mengantuknya mata ini. **** Andi dan Ayah datang bersamaan, Ayah menangis, aku tahu Ayah terharu dengan semua ini, akhirnya Ayah punya cucu, Andi menatap tajam ke arahku, ada tatapan menuduh dan curiga. entah apa yang sedang di fikirannya. "Ndu, Ayah ke ruang bayi dulu ya, Ayah mau lihat cucu ayah" ucap Ayah. aku hanya bisa mengangguk dan tersenyum. "Kenapa gak telfon? kamu tahu hujan angin ndu, kamu ngebahayain anak kamu, dan itu dia .... kenapa dia ada di sini? Aku fikir kamu sudah tak ada urusan sama dia, ternyata dia ada di sini " benar saja Andi marah padaku. "Pelankan suaramu, banyak orang, nanti mereka berfikir yang macam - macam" ujarku. Apakah benar Juan masih ada di sini? Benarkah? dia masih menemaniku? masih ada hatikah dia padaku? Aku fikir dia sudah pulang, bohong saja jika aku tak senang. "Dia menolongku, sebenarnya aku tak tahu siapa yang menolongku, aku pingsan di jalan andi, haruskah aku memilih siapa yang berhak menolongku? sudahlah tak usah kau bahas semua ini, aku mau cepat pulang, sesak aku disini" "Baiklah akan aku urus, biar besok pagi kamu sudah bisa pulang" Andi pun berlalu dari kamar, seperti katanya dia akan mengurus kepulanganku dan bayiku. "Aduuh .... Rindu .... di mana cucu oma " suara nyaring mama seperti mengisi seluruh ruangan. Mamah, Mamah dapat kabar dari mana aku melahirkan? pasti Juan, ya pasti dia mengabarkan kelahiran anaknya pada Mamah, Mamah gak datang sendirian, ada papah, dan kedua menantunya. dengan boneka jumbo dan berbagai macam makanan di bawakan mereka. ah seandainya saja keadaanya tidak seperti ini !. " Juan, panggil Juan " perintah papah Tak lama Juan dan kedua adiknya masuk, sungguh ruangan ini penuh dengan keluarga Juan saja. "Juan, ini apa? mengapa kelas tiga? pindahkan Rindu ke VIP" "Pah .... ga perlu, besok saya akan pulang, hanya satu malam saja, saya sudah banyak merepotkan tuan Juan " ucapku. "Apa? Tuan? Rindu dia ..... " ucapan Romi terpotong dengan delikan mata Mamah. Tak lama Ayah datang dengan suster menggendong bayiku, makin ramai ruangan, sebenarnya aku gak enak hati dengan pasien lain, ruang kelas tiga dengan tiga pasien, klinik swasta yang lumayan punya nama, jadi kelas tiga pun hanya di huni tiga pasien, untung saja mereka memaklumi kehebohan kami. "Ka Juan, gendong nih jagoannya" adrian mencoba memecah kebisuan Juan. Dengan ragu -ragu Juan mengambil bayi dari gendongan suster, dia mengedongnya dengan begitu hati - hati, aku faham, Juan belum bisa terima kehadiran bayi kami, karena memang aku merahasiakan kehamilanku. Ayah, Papah dan Mamah juan, berbincang di luar, entah apa yang sedang mereka bicarakan, sepertinya penting. semoga saja Ayah tidak membicarakan kesusahanku pada mereka. Tak lama Dokter Ridwan, dokter yang menolong persalinanku datang, Andi mengekor di belakangnya, hatiku mulai was- was jangan sampe terjadi hal yang tidak aku inginkan. Juan - Andi saling bertatap tajam, hanya mereka yang tahu arti tatapan tersebut. "Wah ... rame ya, senangnya punya keluarga seperti ini, kita periksa dulu ya bu" ucap dokter Ridwan. "Bagus, besok boleh pulang" ucapnya lagi "Besok dok? Apa gak terlalu cepat? Gak bisa di tambah dok?" Juan bicara bagai dia suamiku saja. "kondisi bagus kok pak, anaknya juga sehat, lagi pula saya gak khawatir, Dokter Andi bertanggung jawab atas istrinya, oh ya maaf ya pak, saya kira tadi bapak suaminya. nanti akan saya ganti datanya" "Apa? Gak perlu dok, datanya gak perlu di ganti" ucap Ayah dan Papah secara berbarengan. Malam yang indah buatku, aku serasa memiliki keluarga utuh, berkah bayiku, dia membawa kebahagian untukku.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD