Aku mencoba mengistirahatkan tubuhku yang mulai lelah, kasur bulat ini, kasur ini menyimpan banyak cerita, ada kehangatan, cinta, dosa, angan dan cifa-cita, di atas kasur ini, anakku terbentuk.
nak .... papah orang yang baik sayang, jika papah tahu kamu ada, papah gak akan membiarkan kita dalam duka, tapi Mamah juga gak bisa egois, kakak ayse lebih membutuhkan Mamah dan papah ya, di bandingkan kita, sayangnya Mamah pinter kan ? sayangnya Mamah sayang sama kakak ayse juga kan? ga pa - pa kita berkorban sedikit ya nak, ku elus dengan cinta bangku, dia bergerak cukup aktif, sepertinya baby tahu akan kesusahanku dan berusaha tuk menenangkan diriku dengan gerakannya.
assalamualaikum Juan.
Juan, aku pamit, mungkin ini yang terbaik untuk kita berdua, kamu, ayse dan meranti berhak bahagia, maafkan segala kesalahan yang pernah aku lakukan, maafkan atas semua kesalah fahaman ini. aku pun akan berusaha tuk memaafkan semuanya.
terimakasih atas cinta yang begitu besar untukku, terimakasih untuk dua tahun ini, aku pamit, berbahagialah.
ku lipat kertas yang berisi tulisan tadi, sesungguhnya aku tak setangguh tulisanku, air mataku terlalu lemah untuk ku tahan.
entah dia akan membacanya atau tidak yang aku tahu aku sudah meminta maaf padanya.
"Rindu, dengarkan Mamah sayang, please malam ini saja, izinkan Mamah bersamamu dan cucu Mamah." Mamah mencoba untuk menahanku agar aku tak pulang, sebenarnya aku bisa saja menginap, toh Ayah sedang ke Bandung.
"Maafkan Rindu mah, Rindu gak bisa, Mamah tau kan kemana mencari Rindu? Rumah rindu akan sangat terbuka lebar untuk semua orang." ucapku.
kakiku sudah lumayan penat, jarak rumah Juan ke jalan Raya memang cukup jauh, membuat betisku kram, terpaksa aku istirahat di bawah pohon cemara, angin semilir malam ini, agak sedikit membuatku menggigil. anakku begitu anteng tanpa gerakan, sepertinya dia sangat memahami kesulitanku.
sabar ya nak, ini yang terakhir, Mamah akan berjuang lebih keras lagi untukmu, kita gak akan menginjakkan kaki lagi di rumah oma, Mamah janji nak.
Avanza silver melintasiku, percikan air got yang luber mengenai wajah lelahku, hatiku berdesir hebat, kutahu dengan pasti itu mobil Juan, apakah dia akan berhenti dan menemuiku? ah sudahlah .... hal itu gak akan pernah terjadi, aku lumayan mengenal sifatnya, jika dia sudah membenci orang lain, dia tidak akan pernah mau menegurnya, sekalipun dia yang salah gengsi buatnya untuk mengatakan maaf.
***
Udara semakin dingin, hampir subuh pula, mataku masih saja belum bisa terpejam, aku membayangkan Juan membaca pesanku dan merobek - robek dengan murkanya, terbayang olehmu, mamah Juan, mencoba mendamaikan hati anaknya, mencoba menasehati sang kepala batu, namun semua ga akan berhasil, atau mungkin tadi Juan menyadari kesalahannya dan mengejar di jalanan tapi sayang aku sudah tak nampak, atau mungkin... saat ini dia ada di halaman depan, mengemis maaf padaku seperti saat itu, saat aku terluka akan kebohongan dan permainannya, dia akan menculikku kembali, dan kami bercinta lagi, dan kami saling memiliki lagi, kali ini untuk selamanya.
Huff.... ku tarik nafas panjang dan ku hempaskan dengan seribu fikiran dalam otakku. ah.. mana mungkin Juan ada di halaman, ku coba bangun dan melangkah ke ruang tamu, ku singkap tirai dan ternyata .... tak ada Juan di sana, tak ada harapan lagi, semua hanya permainan kata dalam otak dan hati, semua hanya pengecoh dan asaku saja.
Padahal aku sudah berjanji pada diriku sendiri dan anakku, aku tak akan memikirkan Juan lagi, aku tak akan menengok masa yang sudah lewat, namun tetap saja setan dalam aliran darahku menuntut kelanjutan kisah dosa kami.
tidaaaaak .... pleaseee ..... jangan ganggu aku, biarkan aku hidup dengan caraku, jangan terus bermain dan mengecoh fikiranku, stooooop ..... hentikaaaaaaan.
Ku jambak rambutku sendiri dengan sepenuh kekuatan, aku yang sudah berjanji tuk tidak menangis lagi, ternyata aku masih menangisi kekasihku, menangisi kemalanganku, menangisi dosa yang penuh kenikmatan.
Matahari begitu hangat, menembus kamarku. entah sudah pukul berapa saat ini, yang aku tahu aku tertidur setelah sholat subuh. aroma telur dadar menusuk hidungku, sebenarnya aku masih enggan bangun dari tidurku yang singkat, tetapi hatiku terus saja bertanya siapa yang memasak telur dadar itu, apakah kekasihku telah kembali padaku? apakah dia melupakan kesalah fahaman yang terjadi?
Baru saja aku pijakkan kakiku ke lantai, pintu kamar sudah di buka seseorang, sosok itu, ah ternyata bukan Juan, Sahabatku yang telah di cemburui secara membabi buta, ku lihat matanya yang bengep, sebenarnya aku iba tapi aku pun tak bisa menahan tawa, sepertinya semalam dia kalah bertarung, dan wajahnya tampak sangat lucu, penampilannya berantakan dengan celemek dan muka bengepnya. dan meledaklah tawaku di pagi itu.
"senang ? selamat pagi Moms and baby " sapanya sambil menghampiriku dan menaruh sarapanku di kasur, telur dadar plus nasi goreng dan s**u
" kamu .... "
" Sepertinya kebiasaan kamu itu memang tidak perlu di rubah, Agra aku bisa masuk ke rumah ini dengan mudah kapanpun aku mau " Andi memotong perkataanku...
"Ah ..ya .... aku lupa mengunci pintu .... dan itu...?" ujarku. aku memang punya kebiasan buruk selalu saja lupa untuk mengunci pintu.
"apa ?" Tanya Andi.
"itu .... wajahmu " ujarku sambil menunjuk wajahnya yang penuh lebam.
" Biasa ... laki ,emang harus seperti ini , sudahlah makan ya, aku suapi ya, "
"terimakasih untuk semuanya, terimakasih masih mau menemaniku " ku genggam tangannya, betapa aku sangat berterimakasih padanya, andi selalu ada di saat aku susah seperti dulu, saat Ibu meninggalkanku dengan kesedihan dan patah semangat, dia ada bersamaku menguatkanku dan kali ini pun sama, hanya saja bukan karena Ibu, tapi karena keegoisan Juan.
Andi memelukku dengan hangat, pelukan persahabatan, seharusnya Juan yang memeluk dan mengelus bayi kami, bukan Andi.
" Menikahlah denganku, aku akan menerimamu dan anakmu, izinkan aku menggantikan Posisi Juan " ucapnya lembut di telingaku.
Ku lepas pelukannya, ku tatap wajahnya, penuh ketulusan di sana, penuh cinta untukku, aku.... aku.... aku tak bisa menerima cintamu Andi, aku tak pantas menerima ketulusanmu, aku tak bisa membuatmu dalam kesusahan, aku tak ingin kau mengantikan Juan. biarkan semua rasa yang ada di antara kita hanya untuk sebuah persahabatan.
"Rindu .... aku tidak akan pernah menyerah, aku mencintaimu, apapun yang terjadi aku akan tetap menyayangimu dan mencintaimu " ucapnya.
berkali - kali jawaban akan tetap sama, aku tak bisa menikah dengannya, Andi tak pantas mendapat sisa. dia terlalu baik.
"makanlah, habiskan susunya dan minum vitaminmu " Andi ke luar kamar dengan ekspresi yang sulit aku tebak.
"Maafkan aku andi, aku hanya tak ingin kau menyesal "