Warnning Area! Setiap Sentuhan Gavin

1090 Words
Laysa masih menunggu kehadiran Gavin di kamar sudah hampir dua jam penuh, tidak ada seorang pun datang ke sana. Di mana lelaki itu? Laysa tidak tahu. Apa yang harus dilakukannya sekarang? Ah, dia bahkan tidak mengerti kenapa dia sampai terjebak di tempat ini, membuat sebuah perjanjian dengan orang yang baru dikenalnya sehari. Ini benar-benar menjadi keputusan terbesarnya dalam hidup. “Sepertinya yang kulakukan sekarang adalah sebuah kesalahan, tapi aku harus berbuat apa kalau tidak begini? Aku tidak mau kembali ke tempat itu, sangat menyeramkan.” Laysa membatin seraya memeluk tubuh sendiri, pikirannya melayang ke tempat biasa dirinya menyajikan minuman bagi para pengunjung yang datang. Dari laki-laki hingga perempuan, dari usia muda hingga tua. Mereka-mereka yang datang ke sana sangat menyeramkan, bukan dari segi fisik. Melainkan perilaku dan kebiasaan buruknya. Laysa sungguh takut, bahkan hanya untuk mengingat saja dia tidak mau. Klik! Saat Laysa masih bergulung dengan pemikirannya, pintu kamar mendadak terbuka oleh seseorang. Laysa pun menoleh, tapi belum beranjak dari tempat tidur dan hanya melihat siapa yang datang. Seorang lelaki muncul dari sana membawa sebuah koper besar, dari postur tubuh, rambut hingga penampilan, lelaki itu sangat mirip dengan Gavin, hingga Laysa spontan beranjak dari tempat tidur untuk menghampirinya. Lelaki jangkung itu mengernyit, sebab Laysa mendadak datang seraya menggerakkan jemari lentiknya. “Kau dari mana saja? Apa yang harus kulakukan sekarang? Aku tidak mau berada di kamar ini terus-menerus.” Begitulah arti gerakan tangan Laysa kepada lelaki tersebut. Awalnya, lelaki itu terdiam seraya memperhatikan Laysa dari atas rambut hingga kaki. Kemudian baru mengatakan sesuatu setelah mengambil napas kecil. “Ini kamarku, seharusnya aku yang bertanya apa yang sedang kau lakukan di sini?” Laysa mengernyit, Gavin mengerti bahasa isyaratnya? Bukankah sebelum ini alat komunikasi mereka hanya lewat pulpen dan kertas? Laysa bertanya-tanya dalam hati. “Apa kau mengerti bahasaku? Bagaimana bisa?” tanya Laysa. “Jelas aku tahu, aku terbiasa dengan orang-orang sepertimu.” Lelaki itu menjawab seraya melangkah dan menaruh kopernya di samping tempat tidur. Kemudian melihat kembali ke arah Laysa. “Kau belum menjawab pertanyaanku. Apa yang kau lakukan di kamar ini?” Laysa tersenyum lebar, dia senang karena akhirnya ada juga orang yang mengerti bahasa isyaratnya. “Aku menunggumu, dan aku bingung harus melakukan apa di sini,” ujarnya. Dalam pikiran Laysa sekarang, ternyata Gavin tidak seburuk kelihatannya. Sangat langka orang normal yang mengerti bahasa isyarat kecuali orang itu sangat peduli dengan sesama. “Menungguku?” Lelaki bertubuh jangkung tersebut sedikit mengernyit. Kemudian menanggalkan jas hitamnya, melipat lengan kemeja panjangnya sampai ke sikut tanpa mau berkata lebih jauh lagi. Sikap itu pun membuat Laysa heran, sebab seperti ada yang berbeda dari Gavin sebelumnya. Lelaki siang tadi cenderung agresif dan posesif. Namun, sekarang dia begitu diam dan dingin. “Aku sama sekali tidak mengenalmu, jadi pergilah dari kamarku.” “Pergi? Lalu bagaimana aku menangani ini? Aku benar-benar tidak tahu harus melakukan apa. Ini rumahmu, aku datang ke sini karena kau yang membawaku—“ “Apa kau tidak mengerti bahasaku?” Lelaki itu menatap tajam ke arah Laysa, lalu menggenggam lengannya cukup kuat untuk menyeretnya ke arah luar kamar. Laysa hanya bisa merintih kecil menahan sakit, sampai tubuhnya dihempas keluar hingga hampir tersungkur ke lantai jika tidak ada orang yang memegang tubuhnya. Laysa terkejut, sebab orang yang memeganginya sekarang adalah lelaki dengan wajah serupa Gavin. Lelaki ini mengenakan jas yang sama seperti terakhir kali Gavin meninggalkannya. “Sedang apa kau di rumahku?” tanya lelaki yang memegangi Laysa, dan ternyata itu adalah Gavin. “Hari ini aku sedang malas pulang, apa tidak boleh aku menginap di rumahmu? Ah, atau kau tidak mau terganggu saat bersenang-senang dengannya.” “Jaga ucapanmu,” ujar Gavin seraya mendekatkan Laysa padanya. Dia tidak suka ase berharganya tersentuh oleh orang lain, meskipun orang itu adalah saudara kembarnya sendiri. “Jadilah tamu yang baik di rumahku.” Gavin pun mengajak Laysa pergi dari sana menuju singga sana mereka yang terletak di lantai tiga. Sementara itu, Laysa masih tidak percaya ternyata seorang Gavin memiliki saudara kembar yang sama persis dengannya dari segi fisik. Setelah keluar dari lift, mereka langsung disuguhkan oleh pemandangan sebuah kamar yang sangat mewah. Mulai dari sofa, lemari hingga tempat tidur memiliki harga selangit yang tidak akan pernah Laysa miliki walau dia bekerja sampai puluhan tahun. Gavin pun duduk di sofanya seraya menuangkan isi botol Wine ke dalam sebuah gelas kecil. Dia memperhatikan Laysa yang masih berdiri di hadapannya, menebak apa gadisnya sudah tersentuh oleh lain. “Apa yang kau lakukan dengannya tadi?” Laysa mengernyit, lalu menggelengkan kepala pelan. “Apa dia menyentuhmu?” Laysa menggelengkan kepalanya lagi. “Baguslah,” ujar Gavin seraya beranja dari sofanya dan menghampiri Laysa. Diraihnya tengkuk gadis itu lalu mengincar bibirnya yang tipis merah menyala tersebut. Dalam beberapa detik permainan mereka, Laysa berusaha keras menolak mengikuti keinginan Gavin. Gerakan bibirnya yang terasa kaku pun malah menyadarkan Gavin bahwa dia belum pernah melakukan hal ini sebelumnya. Sampai Gavin menghentikan aktivitas mereka, Laysa tampak sedikit terengah mengatur napasnya sendiri. “Apa kau mengerti ini, Lays?” Gadis berusia 25 tahun itu menggelengkan kepala dengan kedua mata memerah basah menahan tangis dan perih di bibirnya. “Kau tidak boleh dekat dengan lelaki mana pun selama masih terikat kontrak denganku. Hanya aku yang bisa menyentuhmu, kau dengar itu?” Laysa tidak menjawab dengan sebuah gerakan apa pun. Namun, Gavin sepertinya tidak ingin menyerah begitu saja menekankan padanya kalau dia sekarang sudah menjadi boneka yang bisa dimainkan kapan saja. Kedua mata Laysa terpejam sekali lagi ketika mendapat sebuah cciuman menuntut oleh Gavin. Dia tidak terlalu menolak keras sekarang, hidupnya sejak awal menginjakkan kaki di sini adalah milik Gavin seorang. Bahkan saat tangan Gavin mulai nakal mengangkat sudut dress-nya, Laysa hanya bisa menahan rasa sakit dan perih di hatinya bersamaan dalam satu tempat. Tubuh Laysa seketika dihempas ke sebuah tempat tidur besar oleh Gavin, kemudian disusul dengan Gavin di atasnya. Dress yang dikenakannya sekarang sudah tidak berada di posisi semula, hingga menunjukkan setiap inci kulit putih bersih milik Laysa yang belum tersentuh oleh siapa pun. Sementara tubuh Gavin sudah sangat lekat dengan kulitnya di sana dan seakan tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan, tangan besarnya seakan bertindak sebagai penjajah yang ingin mengambil segalanya. “Diamlah dan nikmati ini dengan baik, Lays. Kau harus banyak belajar mulai dari sekarang,” lirih Gavin ketika dia menyentuh lembut area sensitif Laysa hingga merintih kecil di bawahnya. “Tidak semudah ini... tidak, tolong lepaskan aku.” Laysa membatin dan akhirnya menangis kecil. Namun, Gavin tidak memiliki rasa belas kasihan sama sekali. Dia terus tersiksa oleh setiap gerakan kasarnya, padahal ini adalah momen pertama kali seumur hidup baginya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD