Terjerat Tuan Muda Posesif

1022 Words
“Ini untuk berjaga-jaga kalau suatu hari nanti kau kabur dariku, aku akan mencari dan menuntutmu membayar denda 3 kali lipat dari apa yang kau dapat,” ujar Gavin. Suaranya memang tidak kencang, tetapi kalimat yang dilontarkannya itu jelas sebuah masalah besar bagi Laysa. Gavin tahu persis kelemahan gadis itu adalah keuangan yang tidak stabil, tidak ada tempat mengadu dan bergantung mencari perlindungan. Bahkan sekarang saja dia sudah dijadikan umpan oleh seorang lelaki yang baru dikenalnya. Gavin mengetahui semua informasi tentang Laysa lewat data-data yang dibawa Derry semalam, saat itu juga dia merasa cocok menjadikan Laysa sebagai calon istri bayaran baginya di antara banyak wanita yang ditawarkan Derry. Ada banyak keuntungan yang akan diperoleh Gavin jika Laysa bersedia menjadi istrinya. Laysa spontan beranjak dari kursinya, ingin menolak seluruh tawaran yang akan diberikan Gavin, apa pun itu karena pasti akan menyulitkan hidupnya satu hari nanti. Dia pun berusaha melangkah pergi, tapi lengannya sudah keburu dipegang oleh Derry yang sigap di dekatnya. “Kau mau pergi ke mana? Kau tahu tidak ada seorang pun yang akan bisa lolos jika sudah berurusan denganku,” ujar Gavin sangat tenang, sebab dia yakin Laysa tidak akan pernah bisa pergi darinya walau berusaha sekuat tenaga. Gadis itu dipaksa duduk kembali ke kursinya, sesudah itu disodorkan sebuah map berisi perjanjian pra nikahnya dengan Gavin. Apa Laysa bisa menolak ini? Tentu saja tidak, keinginan Gavin adalah sebuah keharusan baginya. “Bacalah itu secepatnya, aku tidak punya banyak waktu berada di tempat ini,” ujar Gavin. Laysa mengambil mapnya dengan ragu-ragu, dia bahkan belum membuka itu dalam waktu hampir satu menit. Menatapnya saja tanpa kelua suara atau pun gerakan sedikit pun. Sampai akhirnya Derry sendiri yang turun tangan membukakan mapnya untuk Laysa hingga gadis itu bisa membaca dengan jelas setiap poin perjanjian yang ada di hadapannya. Ada nama Gavin dan Laysa tertera jelas di sana, berikut poin-poin perjanjian mereka. Salah satu isi perjanjian itu menyebutkan bahwa Gavin berhak atas Laysa selama satu tahun pernikahan mereka, Gavin juga menuntut menginginkan seorang anak dari gadis itu, jika tidak kunjung hamil dalam batas waktu satu tahun, maka perjanjian batal dan Laysa hanya akan mendapat setengah dari harga uang yang diberikan nantinya. Keuntungan bagi Laysa adalah dia akan dibayar mahal jika berhasil melaksanakan tugasnya hingga akhir. “Aku tidak mau!” Laysa menuliskan sebuah kalimat di sebuah buku yang dibawanya. Kemudian melempar tatapan tajamnya kepada Gavin. Kalau saja dia bisa berbicara, dia pasti akan memaki lelaki itu dengan seluruh kalimat kasar. “Begitu? Lalu apa kau lebih suka tinggal di tempat hiburan malam kecil itu?” tanya Gavin bernada santai. “Aku tahu sekarang kau hanya dimanfaatkan untuk menjadi seorang pelayan di tempat itu, tapi apa kau yakin pekerjaanmu akan tetap sama ke depannya?” Laysa terdiam, sedikit pengalamannya terbongkar oleh Gavin, di mana selain pernah bekerja di sebuah kedai kopi kecil, terakhir kali dia dibawa oleh seseorang yang memperkerjakannya sebagai wanita penghibur. Laysa memang tidak melayani hubungan badan seperti yang lain, dia hanya bertugas mengantarkan minuman-minuman yang dipesan oleh tamu di tempat itu. Namun, meskipun begitu, terkadang ada saja yang berusaha menggoda Laysa dan mengajaknya masuk kamar. Laysa ketakutan setiap hari, ingin pergi dari sana tapi selalu saja ada orang yang mengamatinya dari jauh. Wajar saja, Laysa adalah sebuah aset berharga yang belum tersentuh oleh siapa pun. Harganya sangat mahal, tapi sekarang dia sudah terjebak dengan seorang pembeli yang memiliki lebih banyak uang untuk membeli seluruh kehidupannya. “Jadi bagaimana? Apa kau ingin terus menjadi seorang b***k untuk lelaki tua di luar sana, atau ikut denganku dan menjadi nyonya besar dalam istana megah milikku,” ujar Gavin. Laysa menghela napas berat, Gavin lagi-lagi menyombongkan diri dengan kalimat menyebalkan itu. Akhirnya Laysa pun memilih duduk kembali di kursinya dan meraih sebuah pulpen di atas meja. Sekali lagi dia membaca isi surat perjanjiannya, Laysa yakin kehidupannya yang sekarang akan berubah drastis. Entah bagaimana, sekarang di pikirannya adalah bagaimana cara terbebas dari lingkaran setann yang akan menjerumuskan hidupnya ke jurang lebih dalam. “Baiklah, aku menyetujui ini. Tapi kau harus menepati janjimu, atau aku akan membawa ini ke muka umum.” Gavin tersenyum miring membaca tulisan Laysa. “Aku bukan seorang yang suka mengingkari janji.” Gavin pun memberikan kode agar Laysa cepat menandatangani itu, setelah didapat. Dia pun merengkuh pinggang gadisnya, tetapi Laysa menolak keras tersentuh oleh tangan besar Gavin. Namun, bukan seorang Gavin Diamond Stewart namanya jika kalah dari seorang perempuan. Gavin pun kembali meraih pinggang Laysa, lalu menatap gadis itu cukup intens. “Kau sudah menandatanganinya, Lays. Itu artinya kau sudah menyerahkan seluruh hidupmu padaku. Jadi terimalah mulai saat ini,” ujar Gavin. Laysa hanya tertunduk diam, lalu mengikuti langkah Gavin menuju mobil yang terparkir di depan. Entah dia akan dibawa ke mana oleh lelaki ini, tapi dia sadar sudah melakukan ini dengan kesadaran penuh. *** Setelah menempuh perjalanan jauh, Gavin dan Laysa akhirnya sampai di rumah. Gadis di sebelah Gavin tersebut tampak mengedarkan pandangan ke berbagai penjuru, seakan tidak percaya ada sebuah bangunan megah berlantai 3 dengan segala fasilitas mewah yang masih bisa dikatakan rumah. Laysa sering melihat rumah-rumah semacam ini, itu pun hanya di televisi. Tidak pernah sekalipun terbayang olehnya akan dibawa langsung dan menginjakkan kaki di dalamnya. “Antar dia ke kamarnya, Derry. Masih ada yang harus kulakukan di sini,” ujar Gavin kepada Derry. “Baik, Tuan.” Sebelum pergi, Laysa meraih tangan Gavin. Menahan lelaki itu di tempat seakan ingin berbicara agar Gavin tidak meninggalkannya seorang diri. Laysa takut, untuk itu dia tidak melepaskan tangan Gavin dalam beberapa saat sampai sorot mata tajam Gavin berhasil membuat Laysa lebih takut. “Tunggulah di sini, jangan sekali-kali berpikir untuk kabur. Aku akan kembali secepatnya setelah urusanku selesai.” Usai berkata, lelaki itu pergi meninggalkan Laysa bersama Derry. Dia pun dibawa ke sebuah kamar besar yang terletak di lantai dua. “Anda bisa beristirahat di sini, Nona.” Hanya itu kalimat yang keluar dari mulut Derry sebelum menutup pintu dan pergi dari sana. “Tolonglah, apa yang harus aku lakukan di sini? Jangan tinggalkan aku!” Laysa ingin berteriak mengatakan isi hatinya, tapi tidak bisa. Ternyata dia malah terjebak di sebuah situasi yang membingungkan. Laysa takut karena hanya Gavin yang dikenalnya sekarang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD