Mobil kami berhenti tepat di hadapan sebuah halte. Sebelumnya, aku memang menyuruh sopir untuk mengemudi dan membututi pemuda itu. Aku keluar dari mobil, sambil membawa kotak P3K di tangan. Pemuda itu mengangkat kepala dan melihat ke arahku.
"Kenapa Anda ke sini?" tanya si Pemuda saat aku sampai di hadapannya.
"Sabar, jangan marah-marah. Lukamu itu harus segera dibersihkan," ucapku sembari berlutut, lalu mengikatkan sobekan kain baju di lututnya.
Dengan teliti kubersihkan, lalu mengobati dan mengikatkan perban di lukanya.
"Terima kasih," ucapnya.
"Iya, maaf, ya, udah buat kamu terluka."
"Ya-ya."
"Emangnya, kamu mau pergi kemana, sih? Bukannya angkot di sini baru ada entar siang, sekitar pukul sepuluh? Gimana kalau saya antar kamu?"
Pemuda itu tampak sedang berpikir, mungkin dalam hatinya ingin mengiyakan. Namun, dia masih terlihat sopan dan tegas.
"Gak usah, Bu. Ibu pergi saja."
"Kalau kamu gak mau, saya akan tetap di sini. Sampai kamu mau ikut sama saya."
"Hadeh, yaudah, saya ikut!"
Akhirnya, kami pun memasuki mobil. Lagipula, siapa yang tidak mau memasuki mobil semewah milikku? Hanya orang-orang tertentu yang bisa membeli mobil semewah seperti itu!
"Perkenalkan, nama saya Silvi," ucapku seraya mengajaknya berjabat tangan.
"Arvis." Pemuda itu hanya menyebutkan nama, tanpa membalas jabat tanganku.
"Namamu bagus juga, Arvis."
"Ya-ya, terima kasih."
"Ngomong-ngomong, kamu mau pergi ke mana?"
"Ke apartemen kakak perempuan saya. Di jalan Melati."
"Wah, kebetulan saya juga tadi mau lewat sana, emangnya kamu tinggal di sana juga?" tanyaku.
"Enggak. Gausah banyak tanya!"
Dalam bayanganku, seperti apa kira-kira kakak dari pemuda itu? Karena entah mengapa, saat itu rasanya benar-benar kesal. Berada di dekatnya sungguh membuatku bergejolak. Bertahun-tahun mati rasa, baru kali itu ada seorang pemuda yang membuat harat seksualku meningkat. Sampai aku menghayal, bisa berada sekamar dengannya, dibanting ke atas ranjang olehnya, dan membuatku mendesah memanggil namanya. Bagian bawah tubuhku terasa gatal, hanya karena melihat dadanya yang bidang. Padahal sehari-hari di kantor, banyak sekali karyawan pria yang lebih atletis dan bersikap menggoda. Namun, aku tak pernah berminat sama sekali. Sedangkan pemuda yang hanya memakai pakaian biasa itu, sudah hampir membuatku gila.
"Ceritalah, apa yang terjadi sama kamu sebelumnya? Daritadi saya melihat wajahmu tampak kesal. Ada masalah apa, Arvis?
Dia menoleh dan melihat mataku, keindahan duniawi benar-benar terlihat di sana. Saat pandangannya kembali ke arah depan, dia mulai membuka mulut dan bibirnya bergetar bercerita.
*****
Satu jam sebelumnya, aku—Arvis, masih berada di dalam istana keluarga. Terdengar suara pecahan kaca yang sangat nyaring, sepertinya ia berasal dari ruang tengah. Saat itu, aku baru saja pulang setelah bekerja di kafe—sebagai Barista.
Aku adalah anak kedua dari tiga bersaudara, Kakak perempuanku menjadi CEO perusahaan ayahku. Sedangkan adikku, yang juga perempuan berusia lima belas tahun, memilih untuk sekolah di rumah. Nama panjangku adalah Arvis Amerta, biasa dipanggil Arvis. Bagi keluargaku sendiri, aku seperti tidaklah ada. Walau memakai nama belakang Amerta, aku tidak mewarisi kekayaan keluarga. Berbeda dengan kakak perempuanku itu, dia berada dalam silsilah keluarga. Sedangkan aku, sejak kecil dibebaskan mau hidup seperti apa dan di mana.
"Ayah menyesal udah punya anak sepertimu, Arvis!" teriak ayah yang sedang duduk bersebelahan dengan seorang perempuan. Perempuan itu adalah ibu tiriku, dia sedang memijit bahu ayah.
"Hah, lagian siapa juga yang mau lahir dalam keluarga ini!? Aku berteriak dengan sangat kencang.
"Arvis!! Bicara sopan di depan ayahmu!" teriak ibu tiriku, ia menyandang status sebagai Nyonya Keluarga Amerta, setelah sepuluh tahun menikah dengan ayah—Amerta. Sedangkan kakak kandungku—Vissel, sangat jarang lulang ke rumah.
"Ibu diam saja. Saya gak sudi berbicara sama Ibu!" bentakku.
Plaak!
Ayah menampar keras pipiku, hingga membuatku jatuh ke lantai sebelum membentur sudut meja; bibir pun berdarah. Namun, perlakuannya tidak membuat sedikit pun air mata menetes di wajahku.
"Cih, Arvis gak akan pulang lagi! Selagi keluarga ini ada, Arvis bakal pergi dan gak akan kembali!" ucapku dengan tegas
Kemudian, kusampirkan tas di punggung kembali, mengacungkan jari tengah pada mereka, lalu pergi meninggalkan rumah.
Setelah itu, aku berjalan menyusuri rumah-rumah yang terlihat sepi. Mungkin pemiliknya sedang sibuk sibuk bekerja, atau masih tidur semua di dalamnya. Saat itu, jam yang melilit tangan kiriku menunjukkan pukul delapan pagi. Setidaknya, aku bisa naik angkot ke kota sekitar jam sembilan—saat sudah berada di halte.
Saat tengah berjalan, tiba-tiba seekor anjing berlari kearahku. Memang banyak sekali anjing liar tanpa pemilik di sana, bersembunyi dan berkeliaran di jalan, serta di balik pepohanan.
Karena liar, meski melawannya, anjing itu tetap saja mengejar. Aku pun berlari hingga hendak menyebrang jalan. Namun, aku tidak sadar bahwa ada mobil yang sedang melaju kencang. Yah, akhirnya aku tertabrak dan terjatuh di aspal. Namun, hanya kakiku yang tersentuh, karena mobil berhasil mengerem. Dengan naaps tak beraturan, aku melihat sekeliling. Tadinya, kukira hari itu aku bakal mati, tetapi sepertinya Tuhan masih ingin melihatku menderita di dunia.
Dua orang wanita pun keluar dari mobil. Dari penampilannya, wanita itu terlihat seperti seorang bawahan. Saat itu, aku benar-benar kesal. Bagaimana tidak, sudah kaki sakit, berjalan pun jadi sulit. Parahnya lagi, entah harus tinggal di mana selain menemui kakakku.
"Maafkan saya, Mas. Saya benar-benar gak liat, saya bisa ganti rugi, berapa yang Mas butuhkan buat ke rumah sakit? Tapi saya gak bisa antar," ucap wanita itu dengan suara lembut, ia memohon dengan wajah yang memelas..
Aku pun menghela napas dalam-dalam, lalu menjawabnya dengan sedikit membentak, "Lo pikir nyawa bisa di ganti dengan uang? Gak papa, saya bisa jalan sendiri!"
Setelah itu, aku melihat pintu mobil kembali terbuka. Seorang wanita cantik keluar dari sana. Aku pun beberapa saat terpukau, seakan melihat bidadari surga. Pandangan kami bertemu, matanya setengah lingkaran seperti isi jeruk, bulu-bulu mata yang lentik, pakaiannya rapi, tubuh proporsional dan sintal, benar-benar seperti bidadari yang kulihat di aplikasi t****k. Membuat pikiranku terbang ke mana-mana. Namun, aku menatap wanita itu dengan sinis.
"Maaf, Bu. Tolong kasih tau bawahan Anda, jangan pernah menyepelekan nyawa seseorang dengan uang! Terima kasih." ucapku, lalu pergi begitu saja dari hadapannya.
*****
"Hihihi. Jadi begitu, ya?" jawabku—Silvi, menghentikan ceritanya. Ternyata hatiku dan hatinya merasakan kekaguman yang sama.
Beberapa saat kemudian, mobil kami sampai di depan gedung apartemen, yang akan dikunjungi pemuda itu—Arvis. Saat dia akan turun dari mobil, aku memegang tangannya hingga berbalik melihatku.
"Kenapa?" tanya Arvis, dia tampak bingung.
"Kalau butuh sesuatu, kamiu bisa hubungi saya. Ini ... kartu nama saya." Aku memberinya kartu nama.
Dia menenerima, lalu memasukkanya ke dalam saku. Kemudian, pemuda itu pergi dan masuk kedalam gedung.
Akan tetapi, lima belas menit kemudian, dia keluar dan masih dengan wajah yang tampak kesal. Dari kejauhan, dari dalam mobil aku masih memperhatikannya. Namun, di dalam sudah ada Dialin. Sebelumnya aku memang menghubungi dia untuk datang dan mengurus pemuda itu, bahwa aku benar-benar menginginkannya.